Search Results : prediksi kenaikan emas

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan dekat level tertinggi tiga bulan hari ini, seiring dengan meredanya kekhawtiran kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.
Saat ini emas diperdagangkan di kisaran $1219, setelah kemarin naik 0,5%, kenaikan terbesar sejak 17 Februari. Selama sepekan, harga telah mengalami kenaikan sekitar 3%, kenaikan terbesar sejak pertengahan Januari.
Kenaikan emas ini didorong oleh lemahnya data-data ekonomi AS yang terakhir dirilis. Data–data terakhir telah mendukung pandangan pasar bahwa ekonomi AS belum terlalu kuat bagi the Fed untuk menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat.
Emas naik tajam Rabu lalu setelah data yang menunjukkan retail sales AS flat di bulan april, lebih rendah dari perkiraan yang sebesar 0,3%. Data ini semakin menambah kekhawatiran bahwa pertumbuhan di kuartal kedua juga akan melambat, setelah data nonfarm payroll minggu lalu yang kurang mengesankan. Sementara itu, data semalam menunjukkan initial jobless claims di level terendah dalam 15 tahun, pertanda lapangan kerja masih sehat. Tapi indeks harga produsen (PPI) selama April turun 0,4% per bulan, melawan prediksi naik 0,1%. Data PPI itu mengindikasikan tekanan inflasi masih rendah, kondisi yang mengurangi urgensi kenaikan suku bunga.
Dari sisi teknikal, trend bullish, namun indikator stochastic mulai overbought, harga pun masih ditutup dibawah resistance $1224. Jika gagal bertahan di atas resistance tersebut, ada potensi koreksi ke area support di kisaran $1200 – $1207. Namun selama support tersebut bertahan, potensi kenaikan masih bisa berlanjut, untuk menguji area Fibonacci retracement 61.8% di kisaran $1245.

Rekomendasi

rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/kekhawatiran-kenaikan-rate-mereda-emas-melonjak/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan dekat level tertinggi tiga bulan hari ini, seiring dengan meredanya kekhawtiran kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.
Saat ini emas diperdagangkan di kisaran $1219, setelah kemarin naik 0,5%, kenaikan terbesar sejak 17 Februari. Selama sepekan, harga telah mengalami kenaikan sekitar 3%, kenaikan terbesar sejak pertengahan Januari.
Kenaikan emas ini didorong oleh lemahnya data-data ekonomi AS yang terakhir dirilis. Data–data terakhir telah mendukung pandangan pasar bahwa ekonomi AS belum terlalu kuat bagi the Fed untuk menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat.
Emas naik tajam Rabu lalu setelah data yang menunjukkan retail sales AS flat di bulan april, lebih rendah dari perkiraan yang sebesar 0,3%. Data ini semakin menambah kekhawatiran bahwa pertumbuhan di kuartal kedua juga akan melambat, setelah data nonfarm payroll minggu lalu yang kurang mengesankan. Sementara itu, data semalam menunjukkan initial jobless claims di level terendah dalam 15 tahun, pertanda lapangan kerja masih sehat. Tapi indeks harga produsen (PPI) selama April turun 0,4% per bulan, melawan prediksi naik 0,1%. Data PPI itu mengindikasikan tekanan inflasi masih rendah, kondisi yang mengurangi urgensi kenaikan suku bunga.
Dari sisi teknikal, trend bullish, namun indikator stochastic mulai overbought, harga pun masih ditutup dibawah resistance $1224. Jika gagal bertahan di atas resistance tersebut, ada potensi koreksi ke area support di kisaran $1200 – $1207. Namun selama support tersebut bertahan, potensi kenaikan masih bisa berlanjut, untuk menguji area Fibonacci retracement 61.8% di kisaran $1245.

Rekomendasi

rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/kekhawatiran-kenaikan-rate-mereda-emas-melonjak/

Strategydesk – Rupiah berakhir melemah hari ini setelah data perdagangan yang menunjukkan penurunan surplus. Rupiah kembali tidak mampu memanfaatkan momentum kejatuhan dollar.

Rupiah 2Data terbaru menunjukkan suprlus perdagangan RI hanya $454,4 juta selama April, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang $1,13 miliar. Selama Januari-April, suprlus perdagangan mencapai $2,77 miliar. Menurut BPS, berkurangnya surplus perdagangan ini terjadi akibat kenaikan harga minyak.

Padahal dollar melemah akibat data semalam menunjukkan indeks harga produsen (PPI) AS selama April turun 0,4% per bulan, melawan prediksi naik 0,1%. Secara tahunan,  PPI turun 1,3%, lebih besar dari prediksi 0,8%. Sedangkan indeks PPI inti, yang tidak memasukkan energi, hanya naik 0,7%, di bawah prediksi 0,8%. Data PPI itu mengindikasikan tekanan inflasi masih rendah, kondisi yang mengurangi urgensi kenaikan suku bunga.

Terhadap major currencies, dollar memang sedang dalam fase koreksi setelah mencatat reli tajam sejak pertengahan tahun lalu sampai puncaknya di Maret, ketika menyentuh level tertinggi dalam 13 tahun. Seiring buruknya data ekonomi AS dan berkurangnya kemungkinan kenaikan rate the Fed,  dollar tumbang.

Sayangnya, kondisi ini tidak banyak memberi manfaat ke rupiah, yang terus mengalami tekanan akibat fundamental ekonomi RI yang mengecewakan. Tekanan atas rupiah semakin besar ketika angka PDB RI kuartal pertama hanya 4,7% atau terendah sejak 2009.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,22% ke Rp.13.084 per dollar setelah bergerak dalam rentang Rp.13.033-13.094. Untuk Senin, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp13.050-13.150 per dollar.

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/dollar-jatuh-rupiah-tetap-loyo/

Strategydesk – Minyak melanjutkan kenaikannya hari ini setelah reli kemarin yang membawanya ke level tertinggi baru tahun ini berkat data cadangan yang ternyata tidak seburuk perkiraan. Selain itu, koreksi dollar juga turut membantu.

Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan cadangan minyak hanya bertambah 1,9 juta barel minggu lalu, lebih rendah dari proyeksi 3,3 juta barel. Lebih rendahnya pertumbuhan cadangan ini dianggap sebagai indikasi perlambatan tingkat produksi shale gas di AS. Selain itu, EIA juga melaporan cadangan di Cushing Oklahoma, turun 500.000 barel, penurunan pertama dalam 7 bulan.

Harga juga terangkat oleh koreksi dollar akibat data PDB AS yang buruk. PDB hanya tumbuh 0,2% selama kuartal pertama, lebih rendah dari prediksi 1% dan yang terendah dalam setahun. Rendahnya pertumbuhan ini terjadi akibat cuaca dingin ekstrim.  Pernyataan the Fed yang mengindikasikan kenaikan suku bunga tertunda turut menekan dollar.

Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah mengalami konsolidasi selama dua pekan. Konsolidasi itu mencerminkan sama kuatnya buyer dan seller di tengah faktor bullish maupun bearish. Selain dollar, faktor bullish juga datang dari isu geopolitik di Timur Tengah. Koalisi pimpinan Arab Saudi masih membombardir pemberontak Houti di Yaman.

Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Juni naik 77 sen ke $59,30 per barel, dengan sempat menyentuh high $59,40, semakin mendekati level $60. Penutupan di atas level $60 membuka peluang menuju 60,50-61,00. Namun, harga sudah memasuki kenaikan tujuh minggu berturut-turut, melonjak harga 40% sejak pertengahan Maret. Alhasil, perlu diwaspadai adanya profit taking.

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/minyak-dekati-60/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas masih bertahan di atas $1200 pada perdagangan hari ini di Asia, setelah semalam menguat tajam sebesar 1,8% menyusul data-data ekonomi AS mengecewakan.
Data dari ADP semalam menunjukkan penyerapan tenaga kerja sektor swasta hanya mencapai 189.000 selama Maret, jauh di bawah prediksi 225.000. Data ini membuat pasar bertanya apakah data payroll besok juga lebih rendah. Semakin menekan sentimen, indeks manufaktur dari ISM turun ke 51,5 di Maret dari 52,9 di Februari, pertanda perlambatan ekonomi di kuartal pertama.
Lemahnya data AS tersebut membuat dollar koreksi, mengangkat pamor emas sebgai investasi alternatif. Namun, kenaikan emas diperkirakan akan terbatas, dengan fokus selanjutnya ke data non farm payroll. Menurut konsensus, lapangan kerja tumbuh 245.000, lebih rendah dari Februari yang 295.000. Tapi selama angkanya di atas 200 ribu, maka tetap dianggap sehat. Sebagai acuan ke sana, pasar akan melihat data initial jobless claims, bila tetap di bawah 300 ribu, maka ada indikasi payroll tetap sehat. Data payroll biasanya digunankan untuk mengukur sejauh mana kekuatan ekonomi AS serta prospek kebijakan moneter the Fed.
Sementara dari sisi teknikal, harga kembali bergerak di atas MA 10, indikasi trend jangka pendek mulai bullish. Candlestick membentuk long white candlestick mengkonfirmasi validnya pola morning star, sebuah sinyal reversal. Indikator stochastic golden cross, mendukung kenaikan lanjutnan. Selama bertahan di atas support $1190,66 trend bullish jangka pendek emas masih terjaga, dengan potensi kenaikan berikuntnya kembali menguji resistance $1219.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/data-as-mengecewakan-emas-bertahan-di-atas-1200/

Jakarta, Strategydesk – Emas mencoba bangkit hari ini dari kejatuhan tertajamnya dalam seminggu kemarin, terbantu oleh koreksi saham. Namun sepertinya masih rentan di tengah penguatan dollar.

Emas sedikit rebound setelah saham regional tertekan oleh ketidakpastian politik di Yunani yang membuat investor enggan mengambil risiko menjelang perdagangan terakhir tahun ini. Volume perdagangan terus rendah sejak Natal dan memasuki pergantian tahun, kondisi juga sepertinya sama.

Penuruan saham memang mendorong permintaan emas, tapi pengaruh besar masih di dollar. Apresiasi dollar ke level tertinggi dalam 9 tahun dapat menghambat laju emas. Selain itu, secara fundamental belum ada perubahan, minat investasi di logam mulia itu masih rendah karena investor lebih tertarik ke saham dan obligasi, yang menjanjikan return lebih tinggi.

Selama 2014, emas turun 1,5%, tertekan oleh apresiasi dollar dan ekspektasi the Fed bisa menaikkan suku bunga pertengahan tahun depan. Penurunan harga minyak juga mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Banyak analis memprediksikan harga emas masih bisa jatuh tahun depan. Mencerminkan rendahnya minat investasi, cadangan emas di SDPR Gold Trust masih berada di level terendah dalam enam tahun.

Emas menguat 0,2% ke $1187,60 setelah jatuh 0,5% kemarin. Selama beberapa minggu terakhir, harga konsolidasi di kisaran $1.140-1.240. Kenaikan sepertinya selalu tertahan di $1.250, namun harga masih mampu bertahan di atas $1.125.  Tapi penutupan di bawah support itu, membuka potensi harga menuju $1100.

Rekomendasi
XAU SIGNAL 30-12-14

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/emas-coba-bangkit-tren-masih-bearish/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan dekat level terendah tiga minggunya pada perdagangan hari ini di Asia di tengah solidnya pertumbuhan ekonomi AS, mendorong kenaikan saham dan dollar, namun mengikis permintaan safe haven atas logam mulia tersebut.
Hari ini emas rebound pada kisran $1.177, namun masih diperdagangkan dekat level terendah tiga minggunya, yang diraih Senin. Solidnya pertumbuhan ekonomi AS menjadi salah satu penyebab yang mengurangi daya tarik emas.
Data semalam menunjukkan angka PDB AS periode Juli-September direvisi naik menjadi 5,0% dari 3,9%. Angka terbaru itu lebih tinggi dari prediksi 4,3% dan yang tertinggi dalam 11 tahun. Data ini menegaskan pandangan bahwa the Fed bakal menjadi bank sentral negara maju pertama yang menaikkan rate, faktor yang mengurangi daya tarik emas sebagai investasi alternatif. Data PDB AS yang mengesankan tersebut berhasil mendorong kenaikan bursa saham dan dollar. Indeks S$P 500 dan Dow Jones kembali mencatat rekor, sementara dollar diperdagangkan dekat level tertinggi sembilan tahun.
Dari sisi teknikal, trend bearish, namun indikator stochastic mulai oversold, mendukung potensi rebound. Harga juga sudah berada di kisaran support $1.170. Jika support bertahan, berpeluang rebound untuk menguji resistance $1.185. Trend bearish jangka pendek berakhir jika harga bertahan di atas resistance tersebut. Namun jika support ditembus, penurunan bisa berlanjut untuk menguji kembali area di $1.142 – $1.154.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/pdb-as-solid-pesona-emas-pudar/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas terkoreksi hari ini setelah dollar dan saham kembali rebound, namun masih mencatatkan penguatan mingguan terbesarnya sejak Juni, didorong oleh permintaan safe haven yang sebelumnya muncul.
Di minggu ini, emas telah mengalami kenaikan sekitar 2,9, kenaikan terbesar sejak 20 Juni. Penguatan tersebut muncul setelah melonjaknya permintaan safe haven menyusul isu perlambatan ekonomi global serta ketidakpastian politik di Yunani, menyebabkan koreksi di bursa saham.
Namun, penguatan ini mulai terkikis setelah dollar dan saham kembali rebound setelah data retail sales AS yang tumbuh 0,7% selama Nopember, lebih besar dari prediksi 0,4%. Data tersebut kembali menegaskan solidnya ekonomi AS, mengurangi daya tarik emas sebagai sarana lindung nilai.
Selain itu, turunnya harga minyak juga menekan harga. Penurunan harga minyak mengindikasikan rendahnya tekanan inflasi. Selama ini emas dipandang sebagai sarana lindung terhadap inflasi.
Sementara itu, cadangan emas di SPDR Gold Trust mengalami kenaikan 0,13% menjadi 725,75 ton. Ini merupakan kenaikan dalam tiga hari  berturut-turut.
Dari sisi teknikal, belum terlihat adanya perubahan trend, harga masih bergerak di atas MA 10, pertanda trend jangka pendek masih bulllish. Namun indikator stochastic overbouhght dan berpeluang dead cross, mengindikasikan reversal. Harga juga terlihat masih sulit menembus resistance $1.238,18. Untuk itu, kami melihat potensi koreksi emas untuk kembali menguji area support di kisaran $1.214 – $1.218. Trend bullish jangka pendek berakhir jika kemudian support tersebut ditembus.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/sudah-overbought-emas-berpotensi-koreksi/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan di bawah level $1.200 hari ini di tengah penantian pasar terhadap referendum Swiss.
Logam mulia tersebut terkoreksi sebesar 0,3% semalam, meski dollar melemah menyusul data-data ekonomi AS yang kurang mengesankan. Data semalam menunjukkan klaim tunjangan pengangguran naik sebesar 11.000 minggu lalu menjadi 313.000. Durable goods orders tumbuh 0,4% selama Oktober, lebih baik dari prediksi turun 0,6%. Tapi orders di luar transportasi turun 0,4%, melawan prediksi naik 0,5%. New home sales hanya naik 0,7%, di bawah prediksi 0,8%.
Fokus utama pasar tertuju pada referendum soal cadangan emas bank sentral di Swiss Minggu nanti. Di bawah proposal “Save Our Swiss Gold, Swiss National Bank (SNB) dilarang menjual cadangan emasnya dan harus menahan sedikitnya 20% asset dalam bentuk logam mulia. Poling terbaru menunjukkan dukungan atas proposal tersebut merosot jadi hanya 38%.
Mencerminkan minat beli investor, cadangan emas di SPDR Gold Trust mengalami penurunan sebesar 0,29% menjadi 718,82 kemarin.
Sementara dari sisi teknikal, harga emas kembali gagal bertahan di atas resistance $1.204, dengan membentuk pola reversal di candlestick. Indikator stochastic juga terlihat overbought dan berpeluang dead cross. Selain itu, harga juga kini mulai bergerak di bawah MA 10, sinyal trend bullish jangka pendek berakhir. Harga juga sepertinya akan menguji support terdekatnya di $1.187, Jika ditembus, maka koreksi berikutnya akan fokus menuju kisaran $1.171 – $1.180. Hanya kenaikan di atas $1204 yang akan membuat trend bullish jangka pendek berlanjut.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/11/jelang-referendum-swiss-emas-stagnan-di-bawah-1200/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas jatuh ke bawah level psikologi $1200, dan sedang menuju penurunan mingguan terbesarnya pada perdagangan hari ini di Asia, dipicu oleh solidnya data ekonomi AS serta kekhawatiran kenaikan rate.
Data semalam menunjukkan PDB AS  selama kuartal ketiga tumbuh 3,5%, di atas prediksi 3,0%, meski melambat dari kuartal kedua 4,6%. Pertumbuhan itu didukung oleh investasi, ekspor dan pembelanjaan militer. Angka itu tidak hanya menunjukkan bahwa ekonomi AS semakin pulih dari Resesi Besar, tapi juga memperlihatkan performa yang masih lebih unggul dari negara maju lainnya. Solidnya data ekonomi AS tersebut menguatkan spekulasi kenaikan suku bunga the Fed yang lebih cepat dari perkiraan Kenaikan suku bunga bisa mengurangi permintaan emas sebagai investasi alternatif.
Mencerminkan minat beli investor terhadap, cadangan di SPDR Gold Trust, reksadana berbasis emas terbesar dunia, mengatakan bahwa cadangannya kembali mengalami penurunan 0,16% menjadi 741.20 ton kemarin, terendah dalam enam tahun.
Dari sisi teknikal. trend masih bearish, dan belum terlihat adanya sinyal reversal. Indikator stochastic masih dead cross, mendukung penurunan lanjutan. Pola long black candletick menunjukkan bahwa seller masih dominan, indikasi bearish continuation. Harga juga sudah menembus support sebelumnya di $1203. Untuk itu, kami masih melihat potensi penurunan lanjutan untuk menguji support kuatnya di $1.180. Sedangkan sinyal positif baru akan muncul jika harga mampu bertahan di resistance terdekatnya di $1203 (sebelumnya support).

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/10/isu-rate-tekan-emas-ke-bawah-1200/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha