Search Results : prediksi kenaikan emas

Strategydesk – Dollar rebound atas yen namun masih terjebak di level terendah dalam dua bulan atas yen dalam perdagangan di Asia hari ini.
Dollar menguat tipis atas yen setelah data Jepang keluar mengecewakan. Output industri Jepang turun 1% selama Nopember, lebih besar dari prediksi 0,6%, mengindikasikan lesunya permintaan ekspor. Data lainnya menunjukkan penjualan ritel juga turun 1% di bulan yang sama, melebihi prediksi 0,6%. Kedua data itu menambah spekulasi BOJ suatu saat harus menambah stimulusnya.
Namun dollar masih berada dekat level terendah dalam dua bulan atas mata uang Jepang itu. Pada dasarnya, dollar masih dalam fase koreksi akibat aksi ambil untung pasca penguatan tajam akibat kenaikan suku bunga the Fed. Sepanjang Desember, indeks dollar sudah melemah 2%, tapi masih naik 8% sepanjang tahun ini, didorong oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed.
Tanpa didukung oleh prospek kenaikan lanjutan, dollar diperkirakan kesulitan mempertahankan tren penguatannya. Menurut proyeksi, the Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunganya sebanyak 3-4 kali tahun depan, dengan kenaikan selanjutnya diproyeksikan pada Maret.
Menjelang musim liburan, di mana sebagian besar pasar keuangan dunia ditutup, transaksi nilai tukar berkurang membuat pergerakan mata uang terbatas.Beberapa pasar, termasuk di Australia dan sebagian di Eropa, masih ditutup hari ini setelah liburan Natal. Ditambah lagi tidak ada even penting terjadwal untuk hari ini. Memasuki akhir tahun, pergerakan mata uang kemungkinan terbatas atau ranging.

USD index 28 Des

EUR-USD
Buy: $1.0890-1.0925 Stop Loss $1.0870 Take Profit $1.0980
Sell: $1.1020-1.1000 Stop Loss $1.1050 Take Profit $1.0950

USD-JPY
Buy: 119.90-120.00 Stop Loss 119.70 Take Profit 120.50
Sell: 120.90-120.70 Stop Loss 121.00 Take Profit 120.30
GBP-USD
Buy: $1.4860-1.4890 Stop Loss $1.4830 Take Profit $1.4950
Sell: $1.4980-1.4960 Stop Loss $1.5000 Take Profit $1.4930

USD-CHF
Buy: 0.9820-0.9850 Stop Loss 0.9800 Take Profit 0.9880
Sell: 0.9950-0.9920 Stop Loss 0.9990 Take Profit 0.9870

AUD-USD
Buy: $0.7230-0.7250 Stop Loss $0.7200 Take Profit $0.7280
Sel: $0.7300-0.7290 Stop Loss $0.7320 Take Profit $0.7260

http://www.strategydesk.co.id/2015/12/dollar-rebound-tipis-atas-yen/

Jakarta, Strategydesk – Emas terjungkal ke level terendah dalam dua minggu dan hampir mencatat minggu terburuknya dalam dua bulan. Kejatuhan ini terjadi meski di saat dollar terkoreksi.
Dollar terkoreksi menyusul data yang menunjukkan PDB AS selama kuartal ketiga hanya tumbuh 1,5%, lebih rendah dari prediksi 1,6% dan kuartal sebelumnya 3,9%. Namun data ini sepertinya belum menyebabkan perubahan pandangan di pasar atau menimbulkan sentimen negatif. Dollar terkoreksi setelah menyentuh level tertinggi dalam dua bulan atas beberapa rivalnya.
Emas mengalami tekanan besar setelah the Fed pasca rapatnya menyebut adanya peluang kenaikan suku bunga dalam rapat Desember. Meski mengatakan keputusan bergantung pada perkembangan data inflasi dan ketenagakerjaan, the Fed menghilangkan referensi soal kondisi global mempengaruhi ekonomi AS. Pasar melihat the Fed tidak lagi sekhawatir sebelumnya soal perlambatan China dan gejolak global.
Menurut CME Group FedWatch, indikator untuk melihat pandangan pasar soal kebijakan the Fed, pelaku pasar menempatkan probabilitas 47% ada kenaikan pada Desember. Angka itu naik 35% sebelumnya. The Fed akan menggelar rapat tersisa tahun ini pada 15-16 Desember.
Emas terpantau berada di $1.146,65 setelah jatuh 0,8% kemarin. Harga sedang menuju kejatuhan 1,4% minggu ini, terbesar dalam dua bulan.
Dari sisi teknikal, pola long black candlestick menunjukkan tekanan jual yang kuat, indikasi bearish continuation. Meski begitu, indikator stochastic mulai oversold, pertanda penurunan mungkin mulai terbatas. Harga pun kini mulai mendeakti support MA 55 di kisaran $1140. Jika support bertahan, berpeluang rebound ke area $1152 – $1156.
Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/10/emas-terus-jatuh-meski-dollar-koreksi/

Jakarta, Strategydesk – Emas stabil hari ini setelah mencatat kenaikan tipis kemarin menyusul data ekonomi AS yang keluar di bawah prediksi. Namun pergerakan harga terbatas menjelang hasil rapat the Fed.
Data semalam menunjukkan durable goods orders turun 1,2% selama September, lebih kecil dari prediksi 1,5%. Orders di luar transportai turun 0,4% dan order barang modal di luar pesawat turun 0,3%. Data lainnya menunjukkan sentimen konsumen turun ke 97,6 di Oktober dari 103,0 di September, lebih buruk dari prediksi 102,9. Data yang kurang menggembirakan ini tidak membantu prospek kenaikan suku bunga. Di sisi lain, hal ini dimanfaatkan untuk mendorong harga emas.
Namun banyak investor menahan diri menjelang hasil rapat the Fed. Hal yang paling dinantikan dari rapat ini adalah keputusan suku bunga. Pasar ingin mengetahui apakah the Fed menaikkan suku bunganya untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Kenaikan suku bunga tentu bisa mengurangi daya tarik emas.
Sebaliknya, bila the Fed mempertahankan kebijakannya lagi, pasar ingin melihat isi pernyataannya apakah tetap membuka peluang kenaikan tahun ini. Setelah ini, the Fed hanya punya satu kali rapat lagi, yaitu Desember. Bila the Fed menyampaikan pernyataan yang dovish dan mengindikasikan kekhawatiran soal kondisi eksternal, maka bisa mengangkat harga emas. Dari sisi teknikal, Candlestick mulai membentuk sinyal reversal, namun indikator stochastic terlihat masih dead cross. Harga juga masih tertahan di resistance MA 10, indikasi bahwa trend jangka pendek bearish. Trend bearish jangka pendek ini bisa berakhir jika resistance MA 10, yang berada di kisaran 1169 ditembus, dengan potensi bullish selanjutnya berada di kisaran $1175 – $1179.
Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/10/emas-stabil-mendekati-keputusan-the-fed/

Strategydesk – Minyak terus merosot hari ini ke level terendah dalam 1,5 bulan di tengah kekhawatiran pasokan global terus berlimpah dan permintaan tetap lesu.

Oilfield 3Proyeksi beberapa lembaga menyebutkan prospek yang suram bagi harga minyak ke depan. Lembaga riset Energy Aspects menyebutkan outlook per kuartal mengindikasikan perlambatan tajam permintaan minyak global sebesar 0,8 juta barel per hari unuk kuartal keempat. Hal ini berarti merupakan kuartal paling lesu dalam lima kuartal terakhir.

Goldman Sachs mengatakan harga bisa semakin jatuh lagi karena bertumpuknya cadangan. Memprediksikanm pasra minyak tidak akan mencapai keseimbangan tahun depan, hedge fund itu juga melihat adanya risiko harga semakin menukik. Fasilitas penyimpanan BBM di AS dan Eropa mencapai tertinggi historis, menyusul produksi besar-besaran.

Memang, banyak pemain yang mengambil piosisi beli dengan harapan pasar akan seimbang tahun depan dan harga naik lagi. Tapi kondisi oversupply mulai memupuskan harapan itu. ANZ mengatakan dalam laporanya bahaa spekulan mengurangi posisi belinya sebesar 13.841 kontrak pada minggu yang berakhir 20 Oktober. Bank itu menyarankan tetap hati-hati dengan harga komoditas memasuki akhir tahun mengingat lesunya kondisi permintaan.

Fokus pasar kini tertuju ke data cadangab minyak AS. Untuk nanti malam ada versi American Petroleum Institute (API) dan keesokannya diumumkan versi Energy Information Administration (EIA). Selain itu, pasar juga sedang menunggu hasil rapat the Fed.

Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Desember turun 24 sen ke $43,47 per barel setelah anjlok 2% kemarin. Harga semakin mendekati 61,8% Fibonacci retracement dari kenaikan 24 Agustus-9 Oktober di $42,80.

http://www.strategydesk.co.id/2015/10/isu-supply-tekan-minyak-jelang-data-stok/

Jakarta, Strtegydesk – Emas naik dalam perdagangan di Asia hari ini setelah mampu stabilisasi dari kejatuhan meski di tengah penguatan dollar. Emas terlihat sedang pulih, setelah jatuh ke level terendah dalam seminggu akibat membaiknya sentimen pasar di tengah meredanya kekhawatiran mengenai ekonomi China. Seiring bangkitnya saham global, emas terkoreksi setelah reli di tengah permintaan akan safe haven.
Belum ada faktor jelas yang mengangkat harga hari ini, namun ini terjadi di saat dollar menguat berkat data ekonomi AS. Data semalam memperlihatkan PD AS selama kuartal kedua direvisi naik menjadi 3,7%, lebih baik dari prediksi 3,2%.
Meski menguat, patut dipertanyakan apakah penguatan ini bisa bertahan dan berlanjut. Tanpa ada faktor safe haven, emas harus bisa mendapat dorongan lain untuk bisa melanjutkan kenaikan, seperti katakanlah koreksi dollar dan berkurangnya prospek kenaikan suku bunga the Fed. Presiden the Fed distrik Kansas Esther George semalam mengatakan sebaiknya perlu menerapkan sikap wait and see dulu sebelum menyesuaikan kebijakan mengingat terjadi gejolak pasar dan perlambatan China.
Pasar menunggu pertemuan Jackson Hole, diharapkan sang ketua Janet Yellen dapat memberi kejelasan soal langkah selanjutnya. Tertundanya kenaikan suku bunga bisa mendukung laju emas.
Dari sisi teknikal, harga bergerak di bawah MA 10 dan 55, indikasi trend masih bearish untuk jangka menengah dan pendek. Namun candlestick yang membentuk pola doji, bisa menjadi sinyal reversal, setelah hari ini resistance dari pola doji, yang berada di $1129 ditembus. Jika mampu bertahan di atas resistance tersebut, potensi rebound akan terbuka untuk menguji resistance selanjutnya di $1136 – $114.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/08/emas-pulih-saat-dollar-menguat/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas terjebak pada kisaran sempit hari ini menjelang testimoni ketua the Fed, Janet Yellen di hadapan kongres pada dua hari mendatang. Minggu lalu, Yellen mengatakan bahwa the Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga di tahun ini. Namun, dengan buruknya data penjaulan retail semalam telah menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi AS akan kembali melambat. Data semalam menunjukkan penjualan ritel AS turun 0,3% bulan lalu, terendah sejak Februari, karena konsumen mengurangi pembelian otomotif dan barang lainnya. Data ritel ini mengindikasikan ekonomi AS belumlah sekuat perkiraan di kuartal kedua setelah lesu di kuartal sebelumnya.
Data tersebut dirilis menjelang testimoni Yellen di hadapan kongres, yang diperkirakan akan menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed di tahun ini, pernyataan yang dilontakan minggu lalu.
Sebelum testimony Yellen tersebut, juga telah dirils data PDB China, yang merupakan Negara konsumen emas terbesar dunia. Selama kuartal kedua, PDB tumbuh 7,0%, menurut laporan Biro Statistik China (NBS) hari ini. Angka itu lebih tinggi dari prediksi 6,8% dan sama dengan kuartal pertama.
Bagaimana pun pasar akan mencermati testimoni Yellen tersebut. Pernyataan hawkish dari sang ketua tersebut, bisa menekan sentimen buat emas.
Dari sisi teknikal, trend masih bearish, dan belum terlihat sinyal reversal. Harga sepertinya masih berpeluang menguji support $1147. Jika ditembus, koreksi selanjutnya akan fokus menuju kisaran $1132 – $1147. sementara sinyal positif akan muncul jika harga mampu bergerak di atas resistance terdekatnya di $1165.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/jelang-testimoni-yellen-emas-flat/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas jatuh ke bawah $1170 hari ini karena penguatan dollar setelah krisis utang Yunani menekan euro. Fokus pasar tertuju pada serangkaian data ekonomi AS, yang akan memberi arahan pergerakan harga selanjutnya.
Harga emas bergerak di kisaran $1168, setelah anjlok sekitar 1% dalam dua sesi perdagangan terakhirnya. Emas tertekan karena penguatan dollar, yang kini diperdagangkan dekat level tertinggi tiga minggunya. Dollar menguat kemarin berkat data yang menunjukkan solidnya pertumbuhan lapangan kerja swasta. Data dari ADP Employment Change semalam memperlihatkan lapangan kerja swasta tumbuh 237.000 selama Juni, di atas prediksi 218.000 dan yang tertinggi sejak Desember. Sementara mata uang euro terus tertekan setelah Yunani dinyatakan default karena tidak bisa melunasi utangnya kepada IMF.
Setelah Yunani, fokus pasar selanjutnya adalah data-data ekonomi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, dinataranya nonfarm payroll dan durable goods. Data-data tersebut akan memberi petunjuk mengenai sejauh mana kekuatan ekonomi AS dan dampaknya pada prospek kebijakan moneter the Fed. Data ekonomi AS yang kuat akan semakin mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed. Harga emas tertekan karena adanya prospek kenaikan suku bunga AS, bahkan krisis utang Yunani gagal mengangkat perannya sebagai safe haven.
Dari sisi teknikal, harga bergerak bearish dan mulai mendekati kisaran support-nya di $1162. Indikator stochastic juga mulai menunjukkan sinyal oversold, indikasi penurunan selanjutnya mulai terbatas. Jika support bertahan, berpeluang rebound untuk menguji area MA 10 di kisaran $1177. Trend bearish jangka pendek bisa berakhir jika harga mampu bertahan di atas resistance tersebut.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/dollar-menguat-emas-jatuh-ke-bawah-1170/

Strategydesk – Minyak tertahan hari ini setelah reli kemarin yang didorong oleh laporan yang memperlihat penurunan stok di AS. Laju harga tertahan dekat level tertinggi tahun ini.

Oil-FieldMinyak naik semalam setelah data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan cadangan minyak AS turun 6,8 juta barel minggu lalu, jauh di atas prediksi 1,5 juta barel. Cadangan bensin berkurang 2,9 juta barel, lebih besar dari prediksi 700.000 barel. AS sedang memasuki musim panas, masa permintaan energi mencapai puncaknya.

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) hari ini mengatakan permintaan minyak global tahun ini akan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya karena pertumbuhan ekonomi dan cuaca dingin di banyak negara, serta harga yang rendah mendorong konsumsi. Dalam laporan terbarunya, IEA memperkirakan permintaan akan meningkat sebesar 1,4 juta barel per hari menjadi rata-rata 94 juta barel per hari di semester pertama tahun ini. Pertumbuhan itu jauh lebih besar dari proyeksi sebelumnya 300.000 barel per hari. Untuk semester kedua, pertumbuhan encapai 1,2 juta barel per hari.

Namun, harga masih kesulitan melanjutkan kenaikannya. Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Juli turun 38 sen ke $60,76 per barel, setelah menyentuh $61,81 kemarin, tertinggi sejak 12 Mei. Harga mendekati peak tahun ini $62,56, yang kini menjadi resistance. Bila harga jatuh ke bawah $60,00 ada support lagi di $59,40.

http://www.strategydesk.co.id/2015/06/minyak-tertahan-setelah-reli/

Strategydesk – Meski dollar terkoreksi atas mata uang utama dunia, hal itu tidak membantu rupiah yang masih terus tertekan.

RupiahSempat menguat tipis, rupiah tak mampu mempertahankan posisinya di tengah minimnya sentimen baru yang dapat dijadikan alasan untuk mengangkatnya. Hal ini mencerminkan tren bearish rupiah di tengah persepsi negatif mengenai performa ekonomi RI. Sebenarnya, ekonomi domestik tidaklah terlalu buruk, namun juga tidak mengesankan. Tren rupiah hanya bisa berubah bila pemerintah berhasil memangkas defisit transaksi berjalan, mengurangi impor dan menarik investasi asing.

Tekanan atas rupiah datang meski di saat dollar koreksi. Dollar anjlok 1% setelah data menunjukkan factory orders merosot untuk enam bulan berturut-turut, menimbulkan kecemasan soal ekonomi. Dollar tertekan setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan factory orders turun 0,4% selama April, melawan prediksi naik 0,2%. Secara tahunan, orders anjlok 6,4%. Data ini menimbulkan kekhawatiran akan prospek ekonomi AS di kuartal kedua, setelah di kuartal sebelumnya kontraksi.

Pergerakan dollar selanjutnya ditentukan oleh data ketenagakerjaan AS, yang merupakan menu utama pasar minggu ini. Data ini merupakan indikator penting yang dapat mengukur prospek kebijakan moneter the Fed. Prospek kenaikan suku bunga menjadi faktor yang menjaga tren dollar.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 16 poin ke Rp13.214 per dollar, setelah bergerak dalam range Rp13.180-13.250. Untuk Kamis, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam range Rp13.150-13.250.

http://www.strategydesk.co.id/2015/06/koreksi-dollar-tak-bantu-rupiah/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan dekat level tertinggi tiga bulan hari ini, seiring dengan meredanya kekhawtiran kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.
Saat ini emas diperdagangkan di kisaran $1219, setelah kemarin naik 0,5%, kenaikan terbesar sejak 17 Februari. Selama sepekan, harga telah mengalami kenaikan sekitar 3%, kenaikan terbesar sejak pertengahan Januari.
Kenaikan emas ini didorong oleh lemahnya data-data ekonomi AS yang terakhir dirilis. Data–data terakhir telah mendukung pandangan pasar bahwa ekonomi AS belum terlalu kuat bagi the Fed untuk menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat.
Emas naik tajam Rabu lalu setelah data yang menunjukkan retail sales AS flat di bulan april, lebih rendah dari perkiraan yang sebesar 0,3%. Data ini semakin menambah kekhawatiran bahwa pertumbuhan di kuartal kedua juga akan melambat, setelah data nonfarm payroll minggu lalu yang kurang mengesankan. Sementara itu, data semalam menunjukkan initial jobless claims di level terendah dalam 15 tahun, pertanda lapangan kerja masih sehat. Tapi indeks harga produsen (PPI) selama April turun 0,4% per bulan, melawan prediksi naik 0,1%. Data PPI itu mengindikasikan tekanan inflasi masih rendah, kondisi yang mengurangi urgensi kenaikan suku bunga.
Dari sisi teknikal, trend bullish, namun indikator stochastic mulai overbought, harga pun masih ditutup dibawah resistance $1224. Jika gagal bertahan di atas resistance tersebut, ada potensi koreksi ke area support di kisaran $1200 – $1207. Namun selama support tersebut bertahan, potensi kenaikan masih bisa berlanjut, untuk menguji area Fibonacci retracement 61.8% di kisaran $1245.

Rekomendasi

rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/kekhawatiran-kenaikan-rate-mereda-emas-melonjak/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha