Search Results : prediksi kenaikan emas

Jakarta, Strategydesk – Harga emas terjebak pada kisaran sempit hari ini menjelang testimoni ketua the Fed, Janet Yellen di hadapan kongres pada dua hari mendatang. Minggu lalu, Yellen mengatakan bahwa the Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga di tahun ini. Namun, dengan buruknya data penjaulan retail semalam telah menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi AS akan kembali melambat. Data semalam menunjukkan penjualan ritel AS turun 0,3% bulan lalu, terendah sejak Februari, karena konsumen mengurangi pembelian otomotif dan barang lainnya. Data ritel ini mengindikasikan ekonomi AS belumlah sekuat perkiraan di kuartal kedua setelah lesu di kuartal sebelumnya.
Data tersebut dirilis menjelang testimoni Yellen di hadapan kongres, yang diperkirakan akan menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed di tahun ini, pernyataan yang dilontakan minggu lalu.
Sebelum testimony Yellen tersebut, juga telah dirils data PDB China, yang merupakan Negara konsumen emas terbesar dunia. Selama kuartal kedua, PDB tumbuh 7,0%, menurut laporan Biro Statistik China (NBS) hari ini. Angka itu lebih tinggi dari prediksi 6,8% dan sama dengan kuartal pertama.
Bagaimana pun pasar akan mencermati testimoni Yellen tersebut. Pernyataan hawkish dari sang ketua tersebut, bisa menekan sentimen buat emas.
Dari sisi teknikal, trend masih bearish, dan belum terlihat sinyal reversal. Harga sepertinya masih berpeluang menguji support $1147. Jika ditembus, koreksi selanjutnya akan fokus menuju kisaran $1132 – $1147. sementara sinyal positif akan muncul jika harga mampu bergerak di atas resistance terdekatnya di $1165.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/jelang-testimoni-yellen-emas-flat/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas jatuh ke bawah $1170 hari ini karena penguatan dollar setelah krisis utang Yunani menekan euro. Fokus pasar tertuju pada serangkaian data ekonomi AS, yang akan memberi arahan pergerakan harga selanjutnya.
Harga emas bergerak di kisaran $1168, setelah anjlok sekitar 1% dalam dua sesi perdagangan terakhirnya. Emas tertekan karena penguatan dollar, yang kini diperdagangkan dekat level tertinggi tiga minggunya. Dollar menguat kemarin berkat data yang menunjukkan solidnya pertumbuhan lapangan kerja swasta. Data dari ADP Employment Change semalam memperlihatkan lapangan kerja swasta tumbuh 237.000 selama Juni, di atas prediksi 218.000 dan yang tertinggi sejak Desember. Sementara mata uang euro terus tertekan setelah Yunani dinyatakan default karena tidak bisa melunasi utangnya kepada IMF.
Setelah Yunani, fokus pasar selanjutnya adalah data-data ekonomi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, dinataranya nonfarm payroll dan durable goods. Data-data tersebut akan memberi petunjuk mengenai sejauh mana kekuatan ekonomi AS dan dampaknya pada prospek kebijakan moneter the Fed. Data ekonomi AS yang kuat akan semakin mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed. Harga emas tertekan karena adanya prospek kenaikan suku bunga AS, bahkan krisis utang Yunani gagal mengangkat perannya sebagai safe haven.
Dari sisi teknikal, harga bergerak bearish dan mulai mendekati kisaran support-nya di $1162. Indikator stochastic juga mulai menunjukkan sinyal oversold, indikasi penurunan selanjutnya mulai terbatas. Jika support bertahan, berpeluang rebound untuk menguji area MA 10 di kisaran $1177. Trend bearish jangka pendek bisa berakhir jika harga mampu bertahan di atas resistance tersebut.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/dollar-menguat-emas-jatuh-ke-bawah-1170/

Strategydesk – Minyak tertahan hari ini setelah reli kemarin yang didorong oleh laporan yang memperlihat penurunan stok di AS. Laju harga tertahan dekat level tertinggi tahun ini.

Oil-FieldMinyak naik semalam setelah data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan cadangan minyak AS turun 6,8 juta barel minggu lalu, jauh di atas prediksi 1,5 juta barel. Cadangan bensin berkurang 2,9 juta barel, lebih besar dari prediksi 700.000 barel. AS sedang memasuki musim panas, masa permintaan energi mencapai puncaknya.

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) hari ini mengatakan permintaan minyak global tahun ini akan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya karena pertumbuhan ekonomi dan cuaca dingin di banyak negara, serta harga yang rendah mendorong konsumsi. Dalam laporan terbarunya, IEA memperkirakan permintaan akan meningkat sebesar 1,4 juta barel per hari menjadi rata-rata 94 juta barel per hari di semester pertama tahun ini. Pertumbuhan itu jauh lebih besar dari proyeksi sebelumnya 300.000 barel per hari. Untuk semester kedua, pertumbuhan encapai 1,2 juta barel per hari.

Namun, harga masih kesulitan melanjutkan kenaikannya. Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Juli turun 38 sen ke $60,76 per barel, setelah menyentuh $61,81 kemarin, tertinggi sejak 12 Mei. Harga mendekati peak tahun ini $62,56, yang kini menjadi resistance. Bila harga jatuh ke bawah $60,00 ada support lagi di $59,40.

http://www.strategydesk.co.id/2015/06/minyak-tertahan-setelah-reli/

Strategydesk – Meski dollar terkoreksi atas mata uang utama dunia, hal itu tidak membantu rupiah yang masih terus tertekan.

RupiahSempat menguat tipis, rupiah tak mampu mempertahankan posisinya di tengah minimnya sentimen baru yang dapat dijadikan alasan untuk mengangkatnya. Hal ini mencerminkan tren bearish rupiah di tengah persepsi negatif mengenai performa ekonomi RI. Sebenarnya, ekonomi domestik tidaklah terlalu buruk, namun juga tidak mengesankan. Tren rupiah hanya bisa berubah bila pemerintah berhasil memangkas defisit transaksi berjalan, mengurangi impor dan menarik investasi asing.

Tekanan atas rupiah datang meski di saat dollar koreksi. Dollar anjlok 1% setelah data menunjukkan factory orders merosot untuk enam bulan berturut-turut, menimbulkan kecemasan soal ekonomi. Dollar tertekan setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan factory orders turun 0,4% selama April, melawan prediksi naik 0,2%. Secara tahunan, orders anjlok 6,4%. Data ini menimbulkan kekhawatiran akan prospek ekonomi AS di kuartal kedua, setelah di kuartal sebelumnya kontraksi.

Pergerakan dollar selanjutnya ditentukan oleh data ketenagakerjaan AS, yang merupakan menu utama pasar minggu ini. Data ini merupakan indikator penting yang dapat mengukur prospek kebijakan moneter the Fed. Prospek kenaikan suku bunga menjadi faktor yang menjaga tren dollar.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 16 poin ke Rp13.214 per dollar, setelah bergerak dalam range Rp13.180-13.250. Untuk Kamis, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam range Rp13.150-13.250.

http://www.strategydesk.co.id/2015/06/koreksi-dollar-tak-bantu-rupiah/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan dekat level tertinggi tiga bulan hari ini, seiring dengan meredanya kekhawtiran kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.
Saat ini emas diperdagangkan di kisaran $1219, setelah kemarin naik 0,5%, kenaikan terbesar sejak 17 Februari. Selama sepekan, harga telah mengalami kenaikan sekitar 3%, kenaikan terbesar sejak pertengahan Januari.
Kenaikan emas ini didorong oleh lemahnya data-data ekonomi AS yang terakhir dirilis. Data–data terakhir telah mendukung pandangan pasar bahwa ekonomi AS belum terlalu kuat bagi the Fed untuk menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat.
Emas naik tajam Rabu lalu setelah data yang menunjukkan retail sales AS flat di bulan april, lebih rendah dari perkiraan yang sebesar 0,3%. Data ini semakin menambah kekhawatiran bahwa pertumbuhan di kuartal kedua juga akan melambat, setelah data nonfarm payroll minggu lalu yang kurang mengesankan. Sementara itu, data semalam menunjukkan initial jobless claims di level terendah dalam 15 tahun, pertanda lapangan kerja masih sehat. Tapi indeks harga produsen (PPI) selama April turun 0,4% per bulan, melawan prediksi naik 0,1%. Data PPI itu mengindikasikan tekanan inflasi masih rendah, kondisi yang mengurangi urgensi kenaikan suku bunga.
Dari sisi teknikal, trend bullish, namun indikator stochastic mulai overbought, harga pun masih ditutup dibawah resistance $1224. Jika gagal bertahan di atas resistance tersebut, ada potensi koreksi ke area support di kisaran $1200 – $1207. Namun selama support tersebut bertahan, potensi kenaikan masih bisa berlanjut, untuk menguji area Fibonacci retracement 61.8% di kisaran $1245.

Rekomendasi

rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/kekhawatiran-kenaikan-rate-mereda-emas-melonjak/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan dekat level tertinggi tiga bulan hari ini, seiring dengan meredanya kekhawtiran kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.
Saat ini emas diperdagangkan di kisaran $1219, setelah kemarin naik 0,5%, kenaikan terbesar sejak 17 Februari. Selama sepekan, harga telah mengalami kenaikan sekitar 3%, kenaikan terbesar sejak pertengahan Januari.
Kenaikan emas ini didorong oleh lemahnya data-data ekonomi AS yang terakhir dirilis. Data–data terakhir telah mendukung pandangan pasar bahwa ekonomi AS belum terlalu kuat bagi the Fed untuk menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat.
Emas naik tajam Rabu lalu setelah data yang menunjukkan retail sales AS flat di bulan april, lebih rendah dari perkiraan yang sebesar 0,3%. Data ini semakin menambah kekhawatiran bahwa pertumbuhan di kuartal kedua juga akan melambat, setelah data nonfarm payroll minggu lalu yang kurang mengesankan. Sementara itu, data semalam menunjukkan initial jobless claims di level terendah dalam 15 tahun, pertanda lapangan kerja masih sehat. Tapi indeks harga produsen (PPI) selama April turun 0,4% per bulan, melawan prediksi naik 0,1%. Data PPI itu mengindikasikan tekanan inflasi masih rendah, kondisi yang mengurangi urgensi kenaikan suku bunga.
Dari sisi teknikal, trend bullish, namun indikator stochastic mulai overbought, harga pun masih ditutup dibawah resistance $1224. Jika gagal bertahan di atas resistance tersebut, ada potensi koreksi ke area support di kisaran $1200 – $1207. Namun selama support tersebut bertahan, potensi kenaikan masih bisa berlanjut, untuk menguji area Fibonacci retracement 61.8% di kisaran $1245.

Rekomendasi

rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/kekhawatiran-kenaikan-rate-mereda-emas-melonjak/

Strategydesk – Rupiah berakhir melemah hari ini setelah data perdagangan yang menunjukkan penurunan surplus. Rupiah kembali tidak mampu memanfaatkan momentum kejatuhan dollar.

Rupiah 2Data terbaru menunjukkan suprlus perdagangan RI hanya $454,4 juta selama April, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang $1,13 miliar. Selama Januari-April, suprlus perdagangan mencapai $2,77 miliar. Menurut BPS, berkurangnya surplus perdagangan ini terjadi akibat kenaikan harga minyak.

Padahal dollar melemah akibat data semalam menunjukkan indeks harga produsen (PPI) AS selama April turun 0,4% per bulan, melawan prediksi naik 0,1%. Secara tahunan,  PPI turun 1,3%, lebih besar dari prediksi 0,8%. Sedangkan indeks PPI inti, yang tidak memasukkan energi, hanya naik 0,7%, di bawah prediksi 0,8%. Data PPI itu mengindikasikan tekanan inflasi masih rendah, kondisi yang mengurangi urgensi kenaikan suku bunga.

Terhadap major currencies, dollar memang sedang dalam fase koreksi setelah mencatat reli tajam sejak pertengahan tahun lalu sampai puncaknya di Maret, ketika menyentuh level tertinggi dalam 13 tahun. Seiring buruknya data ekonomi AS dan berkurangnya kemungkinan kenaikan rate the Fed,  dollar tumbang.

Sayangnya, kondisi ini tidak banyak memberi manfaat ke rupiah, yang terus mengalami tekanan akibat fundamental ekonomi RI yang mengecewakan. Tekanan atas rupiah semakin besar ketika angka PDB RI kuartal pertama hanya 4,7% atau terendah sejak 2009.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,22% ke Rp.13.084 per dollar setelah bergerak dalam rentang Rp.13.033-13.094. Untuk Senin, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp13.050-13.150 per dollar.

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/dollar-jatuh-rupiah-tetap-loyo/

Strategydesk – Minyak melanjutkan kenaikannya hari ini setelah reli kemarin yang membawanya ke level tertinggi baru tahun ini berkat data cadangan yang ternyata tidak seburuk perkiraan. Selain itu, koreksi dollar juga turut membantu.

Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan cadangan minyak hanya bertambah 1,9 juta barel minggu lalu, lebih rendah dari proyeksi 3,3 juta barel. Lebih rendahnya pertumbuhan cadangan ini dianggap sebagai indikasi perlambatan tingkat produksi shale gas di AS. Selain itu, EIA juga melaporan cadangan di Cushing Oklahoma, turun 500.000 barel, penurunan pertama dalam 7 bulan.

Harga juga terangkat oleh koreksi dollar akibat data PDB AS yang buruk. PDB hanya tumbuh 0,2% selama kuartal pertama, lebih rendah dari prediksi 1% dan yang terendah dalam setahun. Rendahnya pertumbuhan ini terjadi akibat cuaca dingin ekstrim.  Pernyataan the Fed yang mengindikasikan kenaikan suku bunga tertunda turut menekan dollar.

Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah mengalami konsolidasi selama dua pekan. Konsolidasi itu mencerminkan sama kuatnya buyer dan seller di tengah faktor bullish maupun bearish. Selain dollar, faktor bullish juga datang dari isu geopolitik di Timur Tengah. Koalisi pimpinan Arab Saudi masih membombardir pemberontak Houti di Yaman.

Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Juni naik 77 sen ke $59,30 per barel, dengan sempat menyentuh high $59,40, semakin mendekati level $60. Penutupan di atas level $60 membuka peluang menuju 60,50-61,00. Namun, harga sudah memasuki kenaikan tujuh minggu berturut-turut, melonjak harga 40% sejak pertengahan Maret. Alhasil, perlu diwaspadai adanya profit taking.

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/minyak-dekati-60/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas masih bertahan di atas $1200 pada perdagangan hari ini di Asia, setelah semalam menguat tajam sebesar 1,8% menyusul data-data ekonomi AS mengecewakan.
Data dari ADP semalam menunjukkan penyerapan tenaga kerja sektor swasta hanya mencapai 189.000 selama Maret, jauh di bawah prediksi 225.000. Data ini membuat pasar bertanya apakah data payroll besok juga lebih rendah. Semakin menekan sentimen, indeks manufaktur dari ISM turun ke 51,5 di Maret dari 52,9 di Februari, pertanda perlambatan ekonomi di kuartal pertama.
Lemahnya data AS tersebut membuat dollar koreksi, mengangkat pamor emas sebgai investasi alternatif. Namun, kenaikan emas diperkirakan akan terbatas, dengan fokus selanjutnya ke data non farm payroll. Menurut konsensus, lapangan kerja tumbuh 245.000, lebih rendah dari Februari yang 295.000. Tapi selama angkanya di atas 200 ribu, maka tetap dianggap sehat. Sebagai acuan ke sana, pasar akan melihat data initial jobless claims, bila tetap di bawah 300 ribu, maka ada indikasi payroll tetap sehat. Data payroll biasanya digunankan untuk mengukur sejauh mana kekuatan ekonomi AS serta prospek kebijakan moneter the Fed.
Sementara dari sisi teknikal, harga kembali bergerak di atas MA 10, indikasi trend jangka pendek mulai bullish. Candlestick membentuk long white candlestick mengkonfirmasi validnya pola morning star, sebuah sinyal reversal. Indikator stochastic golden cross, mendukung kenaikan lanjutnan. Selama bertahan di atas support $1190,66 trend bullish jangka pendek emas masih terjaga, dengan potensi kenaikan berikuntnya kembali menguji resistance $1219.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/data-as-mengecewakan-emas-bertahan-di-atas-1200/

Jakarta, Strategydesk – Emas mencoba bangkit hari ini dari kejatuhan tertajamnya dalam seminggu kemarin, terbantu oleh koreksi saham. Namun sepertinya masih rentan di tengah penguatan dollar.

Emas sedikit rebound setelah saham regional tertekan oleh ketidakpastian politik di Yunani yang membuat investor enggan mengambil risiko menjelang perdagangan terakhir tahun ini. Volume perdagangan terus rendah sejak Natal dan memasuki pergantian tahun, kondisi juga sepertinya sama.

Penuruan saham memang mendorong permintaan emas, tapi pengaruh besar masih di dollar. Apresiasi dollar ke level tertinggi dalam 9 tahun dapat menghambat laju emas. Selain itu, secara fundamental belum ada perubahan, minat investasi di logam mulia itu masih rendah karena investor lebih tertarik ke saham dan obligasi, yang menjanjikan return lebih tinggi.

Selama 2014, emas turun 1,5%, tertekan oleh apresiasi dollar dan ekspektasi the Fed bisa menaikkan suku bunga pertengahan tahun depan. Penurunan harga minyak juga mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Banyak analis memprediksikan harga emas masih bisa jatuh tahun depan. Mencerminkan rendahnya minat investasi, cadangan emas di SDPR Gold Trust masih berada di level terendah dalam enam tahun.

Emas menguat 0,2% ke $1187,60 setelah jatuh 0,5% kemarin. Selama beberapa minggu terakhir, harga konsolidasi di kisaran $1.140-1.240. Kenaikan sepertinya selalu tertahan di $1.250, namun harga masih mampu bertahan di atas $1.125.  Tapi penutupan di bawah support itu, membuka potensi harga menuju $1100.

Rekomendasi
XAU SIGNAL 30-12-14

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/emas-coba-bangkit-tren-masih-bearish/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha