Search Results : prediksi kenaikan emas

Strategydesk – Minyak melanjutkan kenaikannya hari ini setelah reli kemarin yang membawanya ke level tertinggi baru tahun ini berkat data cadangan yang ternyata tidak seburuk perkiraan. Selain itu, koreksi dollar juga turut membantu.

Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan cadangan minyak hanya bertambah 1,9 juta barel minggu lalu, lebih rendah dari proyeksi 3,3 juta barel. Lebih rendahnya pertumbuhan cadangan ini dianggap sebagai indikasi perlambatan tingkat produksi shale gas di AS. Selain itu, EIA juga melaporan cadangan di Cushing Oklahoma, turun 500.000 barel, penurunan pertama dalam 7 bulan.

Harga juga terangkat oleh koreksi dollar akibat data PDB AS yang buruk. PDB hanya tumbuh 0,2% selama kuartal pertama, lebih rendah dari prediksi 1% dan yang terendah dalam setahun. Rendahnya pertumbuhan ini terjadi akibat cuaca dingin ekstrim.  Pernyataan the Fed yang mengindikasikan kenaikan suku bunga tertunda turut menekan dollar.

Kenaikan harga minyak ini terjadi setelah mengalami konsolidasi selama dua pekan. Konsolidasi itu mencerminkan sama kuatnya buyer dan seller di tengah faktor bullish maupun bearish. Selain dollar, faktor bullish juga datang dari isu geopolitik di Timur Tengah. Koalisi pimpinan Arab Saudi masih membombardir pemberontak Houti di Yaman.

Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Juni naik 77 sen ke $59,30 per barel, dengan sempat menyentuh high $59,40, semakin mendekati level $60. Penutupan di atas level $60 membuka peluang menuju 60,50-61,00. Namun, harga sudah memasuki kenaikan tujuh minggu berturut-turut, melonjak harga 40% sejak pertengahan Maret. Alhasil, perlu diwaspadai adanya profit taking.

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/minyak-dekati-60/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas masih bertahan di atas $1200 pada perdagangan hari ini di Asia, setelah semalam menguat tajam sebesar 1,8% menyusul data-data ekonomi AS mengecewakan.
Data dari ADP semalam menunjukkan penyerapan tenaga kerja sektor swasta hanya mencapai 189.000 selama Maret, jauh di bawah prediksi 225.000. Data ini membuat pasar bertanya apakah data payroll besok juga lebih rendah. Semakin menekan sentimen, indeks manufaktur dari ISM turun ke 51,5 di Maret dari 52,9 di Februari, pertanda perlambatan ekonomi di kuartal pertama.
Lemahnya data AS tersebut membuat dollar koreksi, mengangkat pamor emas sebgai investasi alternatif. Namun, kenaikan emas diperkirakan akan terbatas, dengan fokus selanjutnya ke data non farm payroll. Menurut konsensus, lapangan kerja tumbuh 245.000, lebih rendah dari Februari yang 295.000. Tapi selama angkanya di atas 200 ribu, maka tetap dianggap sehat. Sebagai acuan ke sana, pasar akan melihat data initial jobless claims, bila tetap di bawah 300 ribu, maka ada indikasi payroll tetap sehat. Data payroll biasanya digunankan untuk mengukur sejauh mana kekuatan ekonomi AS serta prospek kebijakan moneter the Fed.
Sementara dari sisi teknikal, harga kembali bergerak di atas MA 10, indikasi trend jangka pendek mulai bullish. Candlestick membentuk long white candlestick mengkonfirmasi validnya pola morning star, sebuah sinyal reversal. Indikator stochastic golden cross, mendukung kenaikan lanjutnan. Selama bertahan di atas support $1190,66 trend bullish jangka pendek emas masih terjaga, dengan potensi kenaikan berikuntnya kembali menguji resistance $1219.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/data-as-mengecewakan-emas-bertahan-di-atas-1200/

Jakarta, Strategydesk – Emas mencoba bangkit hari ini dari kejatuhan tertajamnya dalam seminggu kemarin, terbantu oleh koreksi saham. Namun sepertinya masih rentan di tengah penguatan dollar.

Emas sedikit rebound setelah saham regional tertekan oleh ketidakpastian politik di Yunani yang membuat investor enggan mengambil risiko menjelang perdagangan terakhir tahun ini. Volume perdagangan terus rendah sejak Natal dan memasuki pergantian tahun, kondisi juga sepertinya sama.

Penuruan saham memang mendorong permintaan emas, tapi pengaruh besar masih di dollar. Apresiasi dollar ke level tertinggi dalam 9 tahun dapat menghambat laju emas. Selain itu, secara fundamental belum ada perubahan, minat investasi di logam mulia itu masih rendah karena investor lebih tertarik ke saham dan obligasi, yang menjanjikan return lebih tinggi.

Selama 2014, emas turun 1,5%, tertekan oleh apresiasi dollar dan ekspektasi the Fed bisa menaikkan suku bunga pertengahan tahun depan. Penurunan harga minyak juga mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Banyak analis memprediksikan harga emas masih bisa jatuh tahun depan. Mencerminkan rendahnya minat investasi, cadangan emas di SDPR Gold Trust masih berada di level terendah dalam enam tahun.

Emas menguat 0,2% ke $1187,60 setelah jatuh 0,5% kemarin. Selama beberapa minggu terakhir, harga konsolidasi di kisaran $1.140-1.240. Kenaikan sepertinya selalu tertahan di $1.250, namun harga masih mampu bertahan di atas $1.125.  Tapi penutupan di bawah support itu, membuka potensi harga menuju $1100.

Rekomendasi
XAU SIGNAL 30-12-14

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/emas-coba-bangkit-tren-masih-bearish/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan dekat level terendah tiga minggunya pada perdagangan hari ini di Asia di tengah solidnya pertumbuhan ekonomi AS, mendorong kenaikan saham dan dollar, namun mengikis permintaan safe haven atas logam mulia tersebut.
Hari ini emas rebound pada kisran $1.177, namun masih diperdagangkan dekat level terendah tiga minggunya, yang diraih Senin. Solidnya pertumbuhan ekonomi AS menjadi salah satu penyebab yang mengurangi daya tarik emas.
Data semalam menunjukkan angka PDB AS periode Juli-September direvisi naik menjadi 5,0% dari 3,9%. Angka terbaru itu lebih tinggi dari prediksi 4,3% dan yang tertinggi dalam 11 tahun. Data ini menegaskan pandangan bahwa the Fed bakal menjadi bank sentral negara maju pertama yang menaikkan rate, faktor yang mengurangi daya tarik emas sebagai investasi alternatif. Data PDB AS yang mengesankan tersebut berhasil mendorong kenaikan bursa saham dan dollar. Indeks S$P 500 dan Dow Jones kembali mencatat rekor, sementara dollar diperdagangkan dekat level tertinggi sembilan tahun.
Dari sisi teknikal, trend bearish, namun indikator stochastic mulai oversold, mendukung potensi rebound. Harga juga sudah berada di kisaran support $1.170. Jika support bertahan, berpeluang rebound untuk menguji resistance $1.185. Trend bearish jangka pendek berakhir jika harga bertahan di atas resistance tersebut. Namun jika support ditembus, penurunan bisa berlanjut untuk menguji kembali area di $1.142 – $1.154.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/pdb-as-solid-pesona-emas-pudar/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas terkoreksi hari ini setelah dollar dan saham kembali rebound, namun masih mencatatkan penguatan mingguan terbesarnya sejak Juni, didorong oleh permintaan safe haven yang sebelumnya muncul.
Di minggu ini, emas telah mengalami kenaikan sekitar 2,9, kenaikan terbesar sejak 20 Juni. Penguatan tersebut muncul setelah melonjaknya permintaan safe haven menyusul isu perlambatan ekonomi global serta ketidakpastian politik di Yunani, menyebabkan koreksi di bursa saham.
Namun, penguatan ini mulai terkikis setelah dollar dan saham kembali rebound setelah data retail sales AS yang tumbuh 0,7% selama Nopember, lebih besar dari prediksi 0,4%. Data tersebut kembali menegaskan solidnya ekonomi AS, mengurangi daya tarik emas sebagai sarana lindung nilai.
Selain itu, turunnya harga minyak juga menekan harga. Penurunan harga minyak mengindikasikan rendahnya tekanan inflasi. Selama ini emas dipandang sebagai sarana lindung terhadap inflasi.
Sementara itu, cadangan emas di SPDR Gold Trust mengalami kenaikan 0,13% menjadi 725,75 ton. Ini merupakan kenaikan dalam tiga hari  berturut-turut.
Dari sisi teknikal, belum terlihat adanya perubahan trend, harga masih bergerak di atas MA 10, pertanda trend jangka pendek masih bulllish. Namun indikator stochastic overbouhght dan berpeluang dead cross, mengindikasikan reversal. Harga juga terlihat masih sulit menembus resistance $1.238,18. Untuk itu, kami melihat potensi koreksi emas untuk kembali menguji area support di kisaran $1.214 – $1.218. Trend bullish jangka pendek berakhir jika kemudian support tersebut ditembus.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/sudah-overbought-emas-berpotensi-koreksi/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas diperdagangkan di bawah level $1.200 hari ini di tengah penantian pasar terhadap referendum Swiss.
Logam mulia tersebut terkoreksi sebesar 0,3% semalam, meski dollar melemah menyusul data-data ekonomi AS yang kurang mengesankan. Data semalam menunjukkan klaim tunjangan pengangguran naik sebesar 11.000 minggu lalu menjadi 313.000. Durable goods orders tumbuh 0,4% selama Oktober, lebih baik dari prediksi turun 0,6%. Tapi orders di luar transportasi turun 0,4%, melawan prediksi naik 0,5%. New home sales hanya naik 0,7%, di bawah prediksi 0,8%.
Fokus utama pasar tertuju pada referendum soal cadangan emas bank sentral di Swiss Minggu nanti. Di bawah proposal “Save Our Swiss Gold, Swiss National Bank (SNB) dilarang menjual cadangan emasnya dan harus menahan sedikitnya 20% asset dalam bentuk logam mulia. Poling terbaru menunjukkan dukungan atas proposal tersebut merosot jadi hanya 38%.
Mencerminkan minat beli investor, cadangan emas di SPDR Gold Trust mengalami penurunan sebesar 0,29% menjadi 718,82 kemarin.
Sementara dari sisi teknikal, harga emas kembali gagal bertahan di atas resistance $1.204, dengan membentuk pola reversal di candlestick. Indikator stochastic juga terlihat overbought dan berpeluang dead cross. Selain itu, harga juga kini mulai bergerak di bawah MA 10, sinyal trend bullish jangka pendek berakhir. Harga juga sepertinya akan menguji support terdekatnya di $1.187, Jika ditembus, maka koreksi berikutnya akan fokus menuju kisaran $1.171 – $1.180. Hanya kenaikan di atas $1204 yang akan membuat trend bullish jangka pendek berlanjut.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/11/jelang-referendum-swiss-emas-stagnan-di-bawah-1200/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas jatuh ke bawah level psikologi $1200, dan sedang menuju penurunan mingguan terbesarnya pada perdagangan hari ini di Asia, dipicu oleh solidnya data ekonomi AS serta kekhawatiran kenaikan rate.
Data semalam menunjukkan PDB AS  selama kuartal ketiga tumbuh 3,5%, di atas prediksi 3,0%, meski melambat dari kuartal kedua 4,6%. Pertumbuhan itu didukung oleh investasi, ekspor dan pembelanjaan militer. Angka itu tidak hanya menunjukkan bahwa ekonomi AS semakin pulih dari Resesi Besar, tapi juga memperlihatkan performa yang masih lebih unggul dari negara maju lainnya. Solidnya data ekonomi AS tersebut menguatkan spekulasi kenaikan suku bunga the Fed yang lebih cepat dari perkiraan Kenaikan suku bunga bisa mengurangi permintaan emas sebagai investasi alternatif.
Mencerminkan minat beli investor terhadap, cadangan di SPDR Gold Trust, reksadana berbasis emas terbesar dunia, mengatakan bahwa cadangannya kembali mengalami penurunan 0,16% menjadi 741.20 ton kemarin, terendah dalam enam tahun.
Dari sisi teknikal. trend masih bearish, dan belum terlihat adanya sinyal reversal. Indikator stochastic masih dead cross, mendukung penurunan lanjutan. Pola long black candletick menunjukkan bahwa seller masih dominan, indikasi bearish continuation. Harga juga sudah menembus support sebelumnya di $1203. Untuk itu, kami masih melihat potensi penurunan lanjutan untuk menguji support kuatnya di $1.180. Sedangkan sinyal positif baru akan muncul jika harga mampu bertahan di resistance terdekatnya di $1203 (sebelumnya support).

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/10/isu-rate-tekan-emas-ke-bawah-1200/

Tanggal February 21, 2013 / 4:06 pm. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk

•     Emas adalah komoditas yang selalu menarik perhatian siapapun juga.  Menarik untuk dibicarakan, menarik untuk dibeli.
•     Karena kebutuhan untuk emas lebih kerena konsumsi, kebutuhan emas lebih di dorong oleh kondisi ekonomi Dunia dan (terutama) negara-negara utama konsumen emas.

Konsumsi emas terbesar dilakukan oleh  India dan China. Konsumsi emas dari kedua negara ini  dalam beberapa tahun terakhir ini melemah akibat menurunnya pertumbuhan ekonomi dari negara-negara tersebut.
•     Data dari Bank Dunia dan IMF menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2013 bakal lebih baik dari 2012.  Konsumsi dari emas diharapkan meningkat seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dunia.
•     Pertumbuhan ekonomi ini, membuat sebagian besar analis masih bullish terhadap harga emas.  Dari pantauan kami di Bloomberg, rata-rata harga konsensus untuk emas ada di level US$1822 dan akan tercapai pada 4Q2013.
•     Akan tetapi, untuk jangka pendek, harga emas terlihat terus menurun semenjak awal tahun.  Koreksi ini sepertinya disebabkan oleh berkurangnya demand akan emas dari produk ETF Emas.  Beberapa investor besar seperti Soros Fund Manageent dan Moore Capital bahkan dikabarkan mengurangi posisinya pada ETF berbasis emas.
•     Untuk trend jangka pendek, harga emas diperkirakan masih akan melakukan pengujian atas suport dari trend flat jangka menengah di kisaran US$1520 – US$1580 per troy ounces.  Posisi harga emas yang berada di kisaran suport jangka panjang ini membuat kami memberikan rekomendasi BELI untuk komoditas ini dengan potensi kenaikan hingga US$ 1750 – US$1810 untuk jangka panjang. Stoploss jika supor US$1500 gagal bertahan.

Emas : Daya tarik ‘kilauan’ yang tidak pernah pudar
Emas. Siapa yang tidak kenal komoditas
ini.  Wikipedia mendefinisikannya sebagai a dense, soft, shiny, malleable
and ductile metal. Logam yang padat,
lembut, mengkilat, mudah ditempa, dan ulet.  Wikipedia mungkin lupa bahwa warna kuning berkilau, serta nilainya yang selalu terasa ‘mahal’ pada jaman apapun juga, adalah daya tarik logam bagi ini bagi
semua orang. Terutama dalam millennium
ini, dimana harga emas, cenderung terus bergerak naik semenjak tahun 2000 silam. Harga emas yang di awal tahun 2000
hanya berada di level US$289 per troy ounce, pada tahun 2010 lalu sudah sempat mencapai level tertingi di US$1,921.27.  Banyak alasan yang telah
mendorong kenaikan harga emas tersebut. Mulia dari permintaan emas untuk dibuat perhisan, fungsinya sebagai safe heaven/asset class, lindung nilai terhadap inflasi, lindung nilai terhadap melemahnya mata uang, permintaan untuk investasi, supply yang terbatas, permintaan dari bank sentral, kebijakan Pemerintah China yang menyarankan warga negaranya untuk membeli emas.

Akan tetapi, harga emas tidak selamanya menguat. Sejak puncak harga emas yang terjadi pada tahun 2010 di US$1921.27 per troy ounce, harga emas terlihat selalu gagal dalam usahanya untuk kembali mendekati level psikologis US$2,000.  Sejak tahun 2010, harga emas terlihat hanya bergerak flat pada kisaran lebar US$1535—US$1790.  Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti krisis di Eropa dan perlambatan pertumbuhan dari China dan India yang merupakan konsumen terbesar dari Emas, serta masih banyak lagi faktor yang lain.

Di awal tahun 2013 ini, harga emas terihat masih cenderung merosot seiring dengan berkurangnya minat dari pelaku pasar terhadap ETF berbasis emas.  Dari Total of
Gold ETF, dapat kita lihat bahwa sejak awal tahun 2013 tidak terdapat lagi pembelian yang signifikan terhadap Gold ETF.  Berita terahir dari www.mineweb.com pada tanggal 15 Februari 2013 lalu menyebutkan bahkan Soros Fund Management dan Moore Capital telah melakukan penjualan atas ETF berbasis emas
pada jumlah yang signifikan selama 4Q2012.  Soros Fund Management adalah perusahaan yang dimiliki oleh
George Soros, sedangkan Moore Capital adalah perusahaan investasi milik milyarder Louis Moore Bacon.

Emas dalam Currency War
Currency war dikenal pula dengan nama persaingan devaluasi, yaitu kondisi suatu hubungan internasional dimana negara saling bersaing satu sama lain untuk merendahkan atau melemahkan nilai tukar mata uang mereka.  Pelemahan nilai tukar ini, tujuanya untuk menaikkan daya saing ekspor, sehingga ekonomi dari negara yang melakukan pelemahan mata uang, diharapkan bisa tumbuh. Currency war mulai didengungkan oleh menteri keuangan Brazil pada 27 September 2010. Isu ini kembali mencuat setelah Jepang dituding melakukan currency war untuk melemahkan mata uangnya. Untuk mengatasi deflasi, pemerintah baru Jepang Shinzo Abe menerapkan kebijakan stimulus secara agresif melalui BoJ. Hingga Januari 2013, Bank Sentral Jepang tersebut telah melakukan pembelian asset sebesar 101 triliun yen. Usaha pemerintah Jepang untuk mengatasi deflasi tersebut ternyata berdampak pada pelemahan yen, yang kemudian memicu protes negara lain karena kalah bersaing ekspor. Memanasnya isu currecy war ini kemudian dibawa dalam pertemuan G-20 minggu lalu. Dalam pertemuan tersebut Jepang akhirnya terbebas dari tudingan currency war terseut. Pada dasarnya, devaluasi mata uang yang tidak terkontrol dan terukur pada akhirnya bisa
memicu currency war.  Emas cenderung bergerak naik dengan adanya currency war ini. Rendahnya nilai tukar mata uang membuat investor melirik emas sebagai investasi alternatif. Ketika bank-bank sentral mendevaluasi mata uangnya dengan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah, maka nilai tukar mata uang tersebut akan jatuh. Untuk itu, investor akan  mencari investasi alternatif, salah satunya emas.

Membaiknya prospek Pertumbuhan Ekonomi Dunia di tahun 2013 membuat harga emas masih bakal terus meningkat
Permintaan akan emas untuk perhiasan, sangat di tentukan oleh pertumbuhan ekonomi dunia, terutama dari dua negara  terbesar konsumen emas, yaitu China dan India.  Data dari Bank Dunia yang dipublikasikan oleh
Bank Dunia pada bulan Januari 2013 kemarin menunjukkan bahwa secara rata-rata ekonomi dunia masih bakal tumbuh 2,4 persen pada tahun 2013 dan 3,2 persen untuk tahun 2014. Data dari IMF yang dipublikasikan sebelumnya pada bulan Oktober 2012 juga menunjukkan bahwa ekonomi China dan India yang pada tahun 2012 hanya tumbuh 7,8 persen dan 4,9 persen, masing-masing masih akan tumbuh  8,2 persen dan 6,2 persen di tahun 2013. Artinya: pertumbuhan ekonomi Dunia untuk tahun 2013 dan 2014 diperkirakan masih akan terus membaik.  Dan, kondisi perekonomian dunia di tahun 2013, bakal lebih baik dibandingkan dengan 2012.
Membaiknya kondisi perekonomian dunia, dan terutama kedua negara konsumen emas terbesar ini, membuat konsensus analis yang kami pantau dari Bloomberg terlihat masih tetap bullish terhadap outlook harga emas di tahun 2013 ini.  Dari 26 analis yang dipantau oleh Bloomberg, rata-rata masih memprediksikan harga emas bakal berada di level US$1734 untuk 1Q2013, US$1774 untuk 2Q2013, US$1799 untuk 3Q2013 dan US$1822 untuk 4Q2014.  Rata-rata analis masih memprediksikan bahwa harga emas masih bisa mencapai lebih dari US$1800 untuk tahun 2013 ini.

Technically Speaking :
Saatnya mencari peluang ketika harga di kisaran suport

Setelah bergerak turun dari rekor tertinggi US$1921,17 per troy ounces yang tercatat pada tanggal 9 Juni 2011, trend jangka panjang untuk harga emas adalah sebuah trend mendatar (flat) pada sebuah kisaran yang lebar, diantara suport di 1535 dan resisten di 1790. Setidaknya, sudah tiga kali harga emas mencoba melakukan penembusan atas kisran suport dan resisten tersebut, tapi terlihat gagal untuk dilakukan.  Usaha penembusan resisten pernah dilakukan pada bulan November 2011, Februari 2012, dan Oktober 2012.  Disisi lain, suport di level 1535 telah menahan penurunan harga di bulan
September 2011, Desember 2011, dan Mei – Juni 2012.

Gambar di bawah ini juga menunjukkan trend jangka menengah dari komoditas ini berupa trend turun. Sejauh ini, suport dari trend jangka panjang di 1535 diperkirakan bakal menahan potensi koreksi lanjutan dari trend jangka menengah ini.

Untuk jangka pendek, pergerakan harga emas terlihat tengah mengalami perubahan trend, dari sebuah trend flat yang terjadi pada periode Desember 2012 – Februari
2013, menjadi trend turun yang cukup dahsyat.  Dengan
kisaran flat diantara suport 1635 dan resisten di 1695, penembusan atas suport di 1635 bakal membuka potensi koreksi menuju kisaran 1575 – 1585.  Pada hari Jumat, 15 Februari 2013 kemarin, level ini sudah hampir tercapai.  Kisaran suport tersebut diperkirakan bakal tercapai pada minggu ketiga di bulan Februari ini.

Rekomendasi Strategi :
Dalam sebuah trend flat, strategi yang bisa dilakukan oleh seorang trader adalah melakukan posisi beli ketika harga memasuki kisaran suport, dan melakukan posisi jual ketika harga memasuki kisaran resisten.  Dengan adanya trend jangka panjang dari emas yang merupakan trend flat, posisi beli bisa dilakukan ketika harga mencapai kisaran 1520 – 1580, yang merupakan kisaran suport, dan posisi jual bisa dilakukan ketika harga berada di kisaran 1750 – 1810, yang merupakan kisaran resisten.  Adanya potensi koreksi dari trend turun jangka pendek dari komoditas ini, memberikan pemodal kesempatan untuk melakukan akumulasi ketika harga berada dekat di kisaran suport, 1520 – 1580.

Pembatasan resiko :
Ketika melakukan pembasan arah pergerakan harga emas untuk trend jangka pendek, kita bisa melihat bahwa dalam sebuah trend harga yang flat, jika suport dar kisaran flat itu ditembus, maka potensi koreksi yang ada adalah sebesar lebar dari trend yang terjadi sebelumnya.  Trend flat kisaran 1635 – 1695, ketika suport di 1635 ditembus, berarti potensi koreksinya adalah sebesar US$60 jika dihitung dari suport 1635, atau 1635 – 60 = 1575. Jika anda melakukan posisi beli pada kisaran 1520 – 1580, posisi stoploss sebaiknya dilakukan jika suport psikologis 1500 gagal bertahan karena potensi koreksi penembusan atas suport ini, bisa mencapai kisaran US$1250 – US$1300.

 

 

Disclaimer :
Informasi yang terkandung dalam laporan ini telah disusun dari sumber-sumber yang menurut kami terbaik dan dapat diandalkan.  Website www.strategydesk.co.id dan/atau perusahaan afiliasinya dan/atau masing-masing karyawan dan/atau agen penjual tidak menjamin keakurasian dan kelengkapan informasi. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil dari transaksi yang dilakukan dengan berdasarkan atas informasi yang ada pada laporan ini. Semua pendapat, prediksi, perkiraan, dan proyeksi yang ada pada laporan ini adalah merupakan pendapat terbaik yang kami buat, berdasarkan informasi yang kami miliki, pada tanggal laporan ini dibuat, dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan tidak mengikat.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/summary-for-gold.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/summary-for-gold.html

Tanggal December 20, 2012 / 5:42 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – Yen menguat atas rivalnya setelah BOJ melonggarkan kebijakannya, namun hanya sebesar 10 triliun yen, sesuai prediksi. Karena tidak adanya kejutan, yen menjalani penyesuaian posisi.

BOJ menambah program pembelian aset dan pinjamannya sebesar 10 triliun yen menjadi 101 triliun yen, melalui suara bulat. Ini merupakan penambahan untuk ketiga kalinya dalam empat bulan terakhir. Namun langkah itu tidaklah mengejutkan karena sudah diperkirakan, dan pasar melihatnya sebagai respon atas tekanan para politisi.

Juga secara bulat, suku bunga dipertahankan di 0,1%. Dalam langkah yang dilihat untuk menenangkan kandidat perdana menteri Shinzo Abe, yang mendesak stimulus agresif dan kenaikan target inflasi ke 2%, BOJ juga mengatakan akan mengevaluasi pedoman stabilitas harganya dalam rapat bulan depan. Untuk saat ini, BOJ masih menetapkan target di 1%.

Meski aksi ambil untung menjelang liburan tahun baru menjadi peluang bagi yen untuk menyesuaikan posisi dari kejatuhan, trennya belum berubah karena ekspektasi BOJ akan didesak untuk melonggarkan kebijakannya lagi awal tahun depan. Para pengamat memperkirakan dukungan untuk stimulus agresif akan semakin besar ketika kabinet baru sudah terbentuk. Abe juga akan punya peluang lebih besar untuk mempengaruhi kebijakan BOJ tahun depan ketika masa jabatan gubernur dan dua deputinya berakhir.

USD/JPY terkoreksi hari ini setelah menyentuh level tertingginya sejak April kemarin. USD/JPY berada di level 84,00 dan menyentuh low di 83,87. Koreksi pair ini, yang dipicu oleh hasil rapat reguler BOJ, semakin dalam memasuki sesi perdagangan Eropa.  USD/JPY akhirnya koreksi ke bawah level psikologis 84,00 setelah gagal menembus ke atas 84,60. Bila ditutup di bawah level 84, koreksi akan menguji level 83,60, kemudian bila lanjut akan mencoba ke 83,40 dan 83,20. Sebaliknya, bila mampu bertahan di atas 84,00,  hambatan selanjutnya ada di 84,40 dan 84,60.

GBP/JPY juga mengalami koreksi setelah menguat sampai ke level tertinggi sejak April. GBP/JPY berada di 136,62, setelah menyentuh 137,84 kemarin. Bila gagal bertahan di level 136,00, koreksi akan membawa pair ini menuju 135,40 dan 135,00. Bila mampu ditutup dekat 137,00, maka pair ini akan mencoba ke 137,50 dan 137,90.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/yen-rebound-pasca-boj.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/yen-rebound-pasca-boj.html

Tanggal December 14, 2012 / 8:33 am. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk – Perundingan fiskal yang lambat antara Presiden Obama dengan wakil dari Partai Republik, telah membuat indeks Dow Jones Industrial turun 0,54 persen dan ditutup signal bearish, dibawah suport pertama di 13200.
Kondisi ini sangatlah tidak menguntungkan karena kemarin, IHSG juga ditutup dengan signal bearish, setelah gagal bertahan diatas suport 4232 – 4333.  Meskipun semenjak pagi aliran dana asing yang masuk ke bursa terlihat sedemikian kuat, melanjutkan aksi beli yang sudah mulai dilakukan pada hari Rabu, akan tetapi, tekanan jual yang sangat kuat pada saham UNVR, telah berhasil memancing pemodal untuk melakukan aksi profit taking pada counter-counter saham yang lain, sehingga IHSG akhirnya ditutup dibawah suport tersebut.  
IHSG hari ini diperkirakan masih akan bergerak flat-turun dengan kisaran utama diantara level 4300-4340.  Jika suport di 4300 gagal bertahan, kisaran suport 4250 – 4275 akan menjadi suport kedua.  Potensi koreksi hingga kisaran gap 4103 – 4126 hanya terbuka jika suport 4250 gagal bertahan.
Sentimen negatif dari kenaikan setoran royalti pada perusahaan induk yang dilakukan oleh manajemen UNVR, telah membuat harga saham ini tertekan hebat.  Dalam dua hari terakhir (Rabu-Kamis), kami juga mengamati data pada konsensus analis di Bloomberg, dimana terdapat setidaknya 5 sekuritas yang menerbitkan laporan baru tentang emiten ini, dengan target rata-rata di sekitar level 19250.  Melihat koreksi yang terjadi, posisi-posisi spekulatif memang menarik dilakukan ketika harga sudah mencapai suport di 19500, dengan mengharapkan adanya dead cat bounce dalam waktu dekat.  Akan tetapi, pemodal juga sebaiknya extra hati-hati jika ternyata tekanan jual pemodal asing masih terjadi dengan hebat.

Global Outlook
S
aham Asia terkoreksi hari ini, mengikuti arah global, karena kecemasan para politisi AS masih belum mencapai kesepakatan untuk mencegah jurang fiskal, padahal mendekati akhir tahun.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang koreksi 0,2% setelah menyentuh level tertinggi dalam 16 bulan terakhir sejak 5 Desember sampai kemarin. Rally tujuh hari saham global terhenti dan harga komoditas berjatuhan kemarin setelah negosiasi anggaran AS menemui jalan buntu lagi.  Wall Street tumbang, dengan indeks Dow Jones melemah 0,54%, karena kekhawatiran soal jurang fiskal, meski ada data ekonomi AS yang bagus.
Presiden Obama dan Ketua Kongres John Boehner bertemu semalam untuk membicarakan masalah jurang fiskal, namun masih belum ada titik temu. Minimnya perkembangan berarti dalam negosiasi mencegah jurang fiskal membuat pasar semakin resah karena tenggat waktu akhir tahun semakin dekat. Bila gagal dicegah, kenaikan pajak dan pemotongan anggaran otomatis akan diberlakukan pada 1 Januari nanti.
Efek stimulus the Fed ke sentimen pasar ternyata tidak lama, karena fokus langsung tertuju kembali ke isu jurang fiskal. Apalagi Ketua the Fed Ben Bernanke mengatakan kebijakan moneter belum tentu cukup untuk memitigasi dampak jurang fiskal ke ekonomi.  Isu jurang fiskal akan terus membayangi pasar kecuali kesepakatan tercapai, tapi banyak kalangan masih ragu itu bisa terjadi sebelum Natal.
Selain itu, beberapa indeks sudah mencapai titik jenuh beli, dan berita negatif berpotensi dijadikan alas an untuk profit taking.  Di Jepang, indeks Nikkei, yang menyentuh level tertinggi dalam delapan bulan terakhir, dibuka negatif menyusul hasil survei Tankan yang lebih buruk dari prediksi. Indeks sentimen perusahaan besar Jepang itu turun ke -10 di kuartal keempat dari -3 di kuartal sebelumnya, prediksi -9. Tapi data ini dapat memperkuat ekspektasi BOJ harus melonggarkan kebijakannya dalam pertemuan minggu depan.
Sembari menantikan perkembangan soal negosiasi anggaran AS, pasar akan disuguhi beberapa data, seperti inflasi dan ketenagakerjaan dari Eropa, serta inflasi dan produksi industrial di AS. 


Review IHSG
S
etelah  menguat dalam empat  hari berturut-turut , Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi. Pada penutupan perdagangan, Kamis (13/12/2012), IHSG melemah 17,339 poin (0,40%) ke level 4.320,189.
Kenaikan Indeks yang terjadi dalam emapt hari berturut-turut itu membuat investor tergiur untuk melakukan aksi profit taking. Adapun saham-saham blue chip, khususnya di sektor konsumer masih menjadi target profit taking tersebut. Saham Unilver (UNVR)menjadi bulan-bulanan aksi jual menyusul berita yang menyebutkan bahwa induk perusahaan ini menginginkan adanya penambahan royalty. Saham tersebut anjlok hingga 12% lebih.
Meski marak dengan aksi jual, posisi investor asing justru mencatakan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 648,62 miliar di seluruh pasar. Sebanyak enam sektor memerah, dipimpin oleh sektor konsumer yang turun sebesar 3,97%. Sedangkan sektor pertambangan menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikannya sebesar 1,90%.
Saham-saham yang diantaranya Delta Jakarta (DLTA), Indocement (INTP), United Tractor (UNTR), dan Harum Energy (HRUM).
Sementara saham-saham yang turun antara lain Unilever (UNVR), Bukit Asam (PTBA), Mayora (MYOR), dan Gudang Garam (GGRM).

Ulasan Teknikal
IHSG

C
andlestick mulai menunjukkan sinyal negatif, namun beberapa indikator lainnya masih mendukung pola uptrend. Hal ini terlihat dari MA 10 yang bergerak uptrend serta stochastic yang masih bullish cross over. Untuk itu, kami masih melihat adanya potensi penguatan bagi untuk kembali menguji resistance di  4.337, dimana jika kembali ditembus, penguatan bisa berlanjut menuju area 4.366 – 4.381. Sedangkan sinyal bearish bisa didapat jika IHSG ditutup di bawah 4.300. Untuk hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 4.300 – 4.337.
R3    4374
R2    4355
R1    4338
    
Pivot    4319
    
S1    4301
S2    4282
S3    4265

Stock Pick
HRUM

H
RUM telah mengakhiri trend bearish jangka pendeknya dengan ditembusnya resistance 5.550. Kondisi ini kemudian didukung pula oleh MA 10 yang mulai bergerak uptrend. Candlestick yang membentuk pola white opening marubozu turut mengkonfirmasih pola reversal tersebut. Namun, penguatan tajam yang sudah berlangsung dalam 2 hari terakhir  ini membuat indikator RSI dan stochastic memasuki area overbought. Hal ini kemungkinan akan membatasi kenaikan HRUM, terlebih harga kini mulai mendekati resistance di 6.000.
Rekomendasi     : Trading Buy@5.700, stop loss 5.500, target 6.000
Support                : 5.700, 5.550
Resistance          : 6.000, 6.350

ADRO

T
rend bearish jangka pendek ADRO telah berakhir ketika terjadi penembusan resistance 1.430. Hal ini kemudian dikonfirmasi oleh MA 10 yang juga sudah bergerak uptrend. Namun, saat ini ini harga masih tertahan di area reistance 1.610. Beberapa indikator pun mulai menunjukkan sinyal overbought. Untuk itu, koreksi kemungkinan bisa terjadi sebelum ADRO melanjutkan  penguatannya. Adapun target jika harga mampu bertahan di atas resistance 1.610 berada di area 1.800 – 1.900.
Rekomendasi     : Hold
Support                : 1.560, 1.500
Resistance          : 1.720, 1.800

Rekomendasi
Stock Screener

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/ihsg-akhir-pekan-flat-turun-di-kisaran-4300-4340.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/ihsg-akhir-pekan-flat-turun-di-kisaran-4300-4340.html

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha