Search Results : perkembangan mata uang dollar

Strategydesk – Rupiah berhasil menguat hari ini setelah hasil rapat the Fed yang mempertahankan kebijakannya dan serangkaian faktor dari dalam negeri.

Rupiah 2Dalam rapat semalam, the Fed tidak mengubah suku bunganya di 0,5%. Menyikapi kondisi terkini, the Fed mengatakan akan terus mengamati perkembangan ekonomi dan finansial global untuk menilai dampaknya pada ekonomi AS. Hal ini mengindikasikan the Fed mengakui gejolak global yang terjadi akhir-akhir ini dan ini menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan.

Meski demikian, the Fed tidak sepenuhnya menutup kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Intinya, pernyataan the Fed itu mencerminkan kehati-hatian di tengah kondisi global yang masih rawan guncangan. Sikap itulah yang dianggap pasar the Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunganya lagi.

Penguatan rupiah juga datang berkat pernyataan Gubernur BI Agus Marto, dimana ia optimis nilai tukar akan terus menguat tahun ini meski Bank Dunia menurunkan proyeksi harga minyak. Menurutnya, kondisi fundamental akan membaik di semester kedua dan itu akan tercermin dari mata uang. Ia optimis rupiah bisa menguat karena adanya peningkatan kepercayaan pasar terhadap Indonesia dan membaiknya harga komoditas.

Rupiah juga terangkat setelah pemerintah mengumumkan paket kebijakan IX kemarin, di mana salah satu poinnya adalah mewajibkan penggunaan rupiah dalam transaksi di kegiatan transportasi. Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution aturan itu bertujuan agar ada kepastian tarif dalam bentuk rupiah.

Untuk besok ada data PDB AS, yang diperkirakan akan menunjukkan bahwa ekonomi melambat di kuartal keempat. Perlambatan PDB AS berpotensi mengurangi prospek kenaikan suku bunga, yang kemudian mengangkat rupiah. Tapi, kalaupun datanya bagus, rupiah sepertinya masih mampu bertahan di bawah 14.000. Meski demikian, dalam jangka pendek ini, rupiah sepertinya masih belum mampu melewati ke bawah 13.700.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,02% ke Rp13.873 per dollar, setelah bergerak dalam rentang Rp13.839-13.915. Besok, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp13830-13900

http://www.strategydesk.co.id/2016/01/sempat-tertekan-rupiah-berakhir-di-rp13870/

Jakarta, Strategydesk – Dollar sedang menuju koreksi bulanan pertama dalam lima bulan terakhir setelah reli dalam bulan-bulan sebelumnya karena prospek kenaikan suku bunga. Dengan lewatnya kenaikan itu, dollar sedang mengalami penyesuaian posisi.
Secara harian, dollar terkoreksi selama tiga sesi berturut-turut. Kemarin, koreksi terjadi menyusul data ekonomi AS yang mengecewakan. Angka PDB AS kuartal ketiga direvisi turun menjadi 2,0% dari sebelumnya 2,1%. Ini menegaskan perlambatan ekonomi AS karena di kuartal kedua ekonomi tumbuh 3,9%. Data lainnya semalam menunjukkan existing home sales atau penjualan rumah bekas anjlok 10,5% selama Nopember, jauh lebih besar dari prediksi 0,4%.
Kedua data dijadikan alasan bagi pasar untuk terus mengkoreksi dollar yang sempat menyentuh level tertinggi dalam 12 tahun awal bulan ini. Sepanjang Desember, dollar sudah melemah 2%. Para trader juga menutup posisi menjelang Natal dan tahun baru, menambah penurunan dollar.
Sebagian besar kalangan meyakini the Fed akan menaikkan suku bunganya tahun depan. Namun karena penguatan sudah tajam, didukung oleh prospek kenaikan suku bunga pertama dalam satu dekade di saat bank sentral lain masih menjalankan kebijakan longgar, dollar sedang mengalami penyesuaian.
Untuk nanti malam, ada durable goods orders dan Personal Consumption Expenditure (PCE). Indeks dollar bertengger di 98,30 setelah turun 0,3% kemarin. Sepanjang minggu ini, indeks tersebut sudah jatuh 1%. Untuk hari ini, indeks diperkirakan bergerak dalam range 97,80-98,50.
Bagaimanapun, aktivitas perdagangan menurun jelang liburan Natal dan Tahun Baru. Menjelang musim liburan, di mana sebagian besar pasar keuangan dunia ditutup, transaksi nilai tukar berkurang membuat pergerakan mata uang terbatas. Menurut Barlcays, volume transaksi euro/dollar merosot 40% selama periode liburan. Kondisi ini membatasi pergerakan mata uang.
Sementara itu, aussie mendulang penguatan tajam berkat prospek stimulus China. Dalam pertemuan Partai Komunis China Senin, para pemimpin sepakat untuk menggunakan kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebagai mitra dagang terbesar Australia, perkembangan ekonomi China sering mempengaruhi pergerakan aussie. Aussie sudah menguat selama tiga sesi, namun secara tren belum berubah mengingat bekum ada perkembangan berarti dari sisi fundamental.
Rekomendasi
EUR
Eur
JPY
JPY
GBP
GBP
CHF
CHF
AUD
AUD

http://www.strategydesk.co.id/2015/12/dollar-menuju-koreksi-bulanan/

Jakarta, Strategydesk – Dollar stabil hari ini setelah rebound kemarin berka data inflasi yang memperlihatkan kenaikan. Sedangkan euro terjungkal setelah pejabat ECB membuka kemungkinan menambahkan stimulus moneter.
Data semalam menunjukkan inflasi inti, yang tidak mencakup harga pangan dan energi, naik 1,9% selama September dari tahun lalu, mendekati target 2% the Fed. Para pejabat memang mengatakan waktu kenaikan bergantung pada data ekonomi terkini. Para pejabat sepakat mereka ingin yakin dulu inflasi menuju target sebelum mulai menaikkan suku bunga.
Namun di luar itu, ternyata masih ada hal yang menjadi pertimbangan, yaitu faktor eksternal. Timbul pertanyaan di pasar bagaimana mungkin the Fed menaikkan suku bunganya di saat kondisi global masih lesu, di mana banyak negara yang ekonominya melambat bahkan resesi. The Fed hanya punya dua rapat tersisa tahun ini, akhir Oktober dan pertengahan Desember.
Alhasil, data ini sebenarnya tidak serta merta mengembalikan optimisme pasar akan terjadi kenaikan suku bunga tahun ini. Apalagi pejabat the Fed semalam masih menyampaikan hal yang agak dovish. Presiden distrik New York William Dudley mengatakan kenaikan rate tahun ini masih terbuka, tapi perkembangan global tetap diwaspadai.
Namun data itu cukup untuk mengangkat dollar dari kejatuhan di level terendah dalam tiga minggu. Untuk nanti malam, ada data sentimen konsumen versi University of Michigan. Indeks dollar berada di 94,48 setelah naik 0,7% kemarin. Penutupan di atas 94,50 mungkin bisa menjaga penguatan dengan target selanjutnya di 95,00. Terhadap yen, dollar menguat 0,3% ke 119,20 setelah sempat jatuh sampai 118,00 kemarin.
Beralih ke euro, mata uang tunggal Eropa itu sedang stabil setelah jatuh akibat pernyataan pejabat ECB. Anggota dewan Ewald Nowotny mengatakan diperlukan instrumen baru untuk mendorong pertumbuhan dan inflasi di zona euro. Menurutnya, inflasi masih jauh di bawah target, oleh karena itu instrumen baru penting.
Untuk hari ini, ada data inflasi final zona euro untuk September dan diperkirakan tidak akan ada perubahan. Inflasi inti tahunan naik 0,9% selama bulan itu. Euro stabil di $1,1375 setelah jatuh 0,8% kemarin. Euro sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan kemarin.
Rekomendasi
EUR
Eur
JPY
JPY
GBP
GBP
CHF
CHF
AUD
AUD

http://www.strategydesk.co.id/2015/10/dollar-rebound-berkat-data-inflasi-as/

Jakarta, Strategydesk – Dollar rebound hari ini setelah bangkit dari kejatuhan di sesi sebelumnya, terangkat oleh pernyataan Ketua the Fed Janet Yellen yang tetap membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini.
Dalam pidatonya semalam, Yellen mengatakan suku bunga mungkin bisa naik di akhir tahun. Ia memperkirakan kenaikan bisa terjadi selama inflasi stabil dan lapangan kerja tetap tumbuh pesat. Ia memandang inflasi nantinya tetap mencapai target 2% karena faktor harga minyak rendah hanya sementara.
Menurutnya, perlambatan global tidak akan cukup signifikan untuk menghalangi the Fed menaikkan suku bunga. Meski menegaskan pihaknya terus memantau perkembangan eksternal, hal itu tidak akan terus-terusan menjadi alasan penundaan kenaikan. Pernyataan optimis ini mengejutkan bagi investor yang menganggap keputusan minggu lalu sebagai tanda bahwa pengetatan masih sulit dilakukan dalam kondisi global yang belum kondusif.
Untuk melihat kinerja ekonomi AS, pasar menantikan angka final PDB kuartal kedua nanti malam. Diperkirakan tidak akan ada perubahan, PDB tetap tumbuh 3,7% di periode tersebut. Revisi turun tentunya bisa mengurangi sentimen bullish pada dollar. Selain itu, pasar juga akan mencermati pidato pejabat the Fed James Bullard, yang akan berbicara soal kebijakan moneter.
Indeks dollar menguat 0,3% ke 96,22 setelah menyentuh high 96,45. Indeks ini sempat jatuh sampai 95,45 kemarin, menyentuh MA 25 namun ditutup di atasnya. Tapi bila indeks gagal bertahan di atas 96,00 sampai penutupan, potensi bullish semakin berkurang. Penutupan di atas 96,50 membuka jalan untuk ke 96,80-97,00. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 120,13 dan penutupan di atas 120,30 lah yang menjaga momentum bullish untuk bisa ke 120,70-121,00.
Sementara itu, sterling melanjutkan kejatuhannya di tengah ketidakpastian prospek kenaikan suku bunga BOE mengingat perkembangan di pasar global. Selain itu, sebagian data ekonomi Inggris keluar buruk, menambah keraguan akan prospek tersebut. Pound sedang menuju predikat mata uang performa terburuk minggu ini. Sterling melemah 0,2% ke $1,5211, maka minggu ini sudah anjlok 2%.
Rekomendasi
EUR
Eur
JPY
JPY
GBP
GBP
CHF
CHF
AUD
AUD

http://www.strategydesk.co.id/2015/09/dollar-rebound-berkat-yellen/

Strategdesk – Rupiah melanjutkan penguatannya hari ini, meski masih tipis, berkat perkembangan terkait Yunani. Namun

Rupiah 3Yunani mengajukan proposal ke kreditor kemarin dalam upayanya mendapat bailout dan mencegah malapetaka ekonomi menjelang tenggat waktu Minggu. Sebagai imbalannya, Yunani ingin mendapatkan bailout sebesar 53 miliar euro selama tiga tahun. Zona euro akan mempertimbangan proposal ini dalam pertemuan besok dan Minggu. Pasar kini menunggu resolusi untuk mengatasi krisis Yunani, yang mungkin dapat menghilangkan ketidakpastian yang menyelimuti ekonomi global.

Rupiah masih dibayangi oleh persepsi buruknya kondisi ekonomi RI. Agar rupiah bisa mengubah tren penurunannya diperlukan perbaikan kondisi fundamental. Pemulihan rupiah jangka panjang bergantung pada upaya pemerintah memperbaiki kondisi ekonomi, termasuk mengurangi defisit transaksi berjalan, menjalankan proyek infrastrukturnya dan meningkatkan investasi.

Gubernur BI Agus Martowardjojo hari ini mengatakan permintaan dollar ternyata masih tinggi sampai bulan ini. Menurutnya, periode permintaan tinggi itu biasanya terjadi pada Mei-Juni. Ternyata sampai Juli pun permintaan masih tinggi, terutama untuk keperluan domestik. Oleh karena itu, ia menegaskan kebijakan BI kewajiban penggunaan rupiah perlu diterapkan untuk menjaga stabilitas mata uang RI.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,16% ke 13.312,50 per dollar, setelah bergerak dalam range Rp13.294-13.327. Untuk Senin, rupiha diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp13.280-13.380.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/isu-proposal-yunani-bantu-rupiah/

Strategdesk – Rupiah melanjutkan penguatannya hari ini, meski masih tipis, berkat perkembangan terkait Yunani. Namun

Rupiah 3Yunani mengajukan proposal ke kreditor kemarin dalam upayanya mendapat bailout dan mencegah malapetaka ekonomi menjelang tenggat waktu Minggu. Sebagai imbalannya, Yunani ingin mendapatkan bailout sebesar 53 miliar euro selama tiga tahun. Zona euro akan mempertimbangan proposal ini dalam pertemuan besok dan Minggu. Pasar kini menunggu resolusi untuk mengatasi krisis Yunani, yang mungkin dapat menghilangkan ketidakpastian yang menyelimuti ekonomi global.

Rupiah masih dibayangi oleh persepsi buruknya kondisi ekonomi RI. Agar rupiah bisa mengubah tren penurunannya diperlukan perbaikan kondisi fundamental. Pemulihan rupiah jangka panjang bergantung pada upaya pemerintah memperbaiki kondisi ekonomi, termasuk mengurangi defisit transaksi berjalan, menjalankan proyek infrastrukturnya dan meningkatkan investasi.

Gubernur BI Agus Martowardjojo hari ini mengatakan permintaan dollar ternyata masih tinggi sampai bulan ini. Menurutnya, periode permintaan tinggi itu biasanya terjadi pada Mei-Juni. Ternyata sampai Juli pun permintaan masih tinggi, terutama untuk keperluan domestik. Oleh karena itu, ia menegaskan kebijakan BI kewajiban penggunaan rupiah perlu diterapkan untuk menjaga stabilitas mata uang RI.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,16% ke 13.312,50 per dollar, setelah bergerak dalam range Rp13.294-13.327. Untuk Senin, rupiha diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp13.280-13.380.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/isu-proposal-yunani-bantu-rupiah/

Strategydesk – Rupiah berhasil mencatat penguatan hari ini didukung oleh lelang Surat Utang Negara (SUN) yang kembali mendapat animo besar dari investor. Namun, tren rupiah tetap sama karena belum ada perubahan fundamental.

Rupiah 2Dalam lelang hari ini, pemerintah menjual obligasi hingga Rp15 triliun, di atas target Rp10 triliun. SUN dengan tenor 11 tahun dijual dengan imbal hasil rata-rata 8,118%. Sedangkan surat utang jangka pendek, yaitu tenor 3 bulan, ber-yield rata-rata 6,202%. Total penawaran atau bid mencapai Rp26,42 triliun, lebih rendah dari lelang sebelumnya pada 23 Juni yang mencapai Rp40 triliun.

Pemerintah RI telah melelang obligasi rupiah konvensional dan sukuk dengan total nilai Rp181,135 triliun selama kuartal pertama dan kedua. Sejauh ini, hasil lelang obligasi RI cukup memuaskan dan masalah Yunani belum mempengaruhi permintaan. Untuk lelang di kuartal ketiga, pemerintah mentargetkan Rp63 triliun.

Namun efek lelang SUN biasanya tidak lama, karena pasar masih terfokus dengan isu yang lebih mengkhawatirkan. Masalah Yunani masih membayangi sentimen pasar. Meski belum ada kejadian mengguncangkan lagi selain hasil referendum, pasar diliputi ketidakpastian, yang biasa memicu permintaan safe haven. Dalam kondisi risk aversion, mata uang seperti rupiah biasanya menjadi korban. Apalagi kondisi fundamental ekonomi RI belum menunjukkan perkembangan berarti. Dengan ruang kebijakan moneter yang sudah sangat sempit, kebijakan fiskal menjadi andalan untuk bisa mengubah keadaan. Pasar menunggu realisasi program pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,13% ke Rp13.330 per dollar, dengan sempat menyentuh Rp13.281 dan melemah sampai Rp13.332. Untuk besok, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang Rp13.300-13.400.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/berkat-sun-rupiah-berhasil-rebound/

Jakarta, Strategydesk – Sepanjang tujuh bulan terakhir, dollar menikmati reli yang membawanya sampai ke level tertinggi dalam 11 tahun. Meski sudah mencapai posisi yang begitu tinggi, mata uang AS itu belum menunjukkan tanda-tanda perubahan arah. Bahkan dengan keunggulan fundamental AS, tren dollar diperkirakan masih berlanjut.  EUR 30-01-15

Performa yang terlihat pada dollar merupakan cerminan akan prestasi ekonomi yang diraih AS. Hingga saat ini, pertumbuhan AS masih di atas negara maju lainnya, dengan angka 5%, yang merupakan terpesat dalam satu dekade. Pertumbuhan lapangan kerja juga mengesankan, dengan bertambah hampir 3 juta sepanjang tahun lalu, terbesar dalam 15 tahun.

Namun pasar ingin mengetahui bagaimana performa ekonomi AS di akhir tahun lalu, atau tepatnya kuartal keempat. Menurut konsensus, PDB selama periode itu diperkirakan tumbuh 3%, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang 5% itu. Bagaimana reaksi pasar bila angkanya ternyata lebih rendah dari prediksi? Apakah langsung menyesuaikan posisi dollar yang sudah tinggi?

Kalaupun data PDB itu nantinya memicu koreksi pada dollar, patut dipertanyakan seberapa jauh koreksi itu bisa berjalan mengingat kondisi bearish masih menghinggapi mata uang lain. Contohnya, euro yang masih dibayangi oleh ketidakpastian di Yunani. Agar fase rebound euro berjalan lebih lama, kalau itu terjadi, harus ada perkembangan positif di Yunani.

EUR-USD
Tak banyak perubahan terlihat pada EUR-USD, yang masih flat di $1,1330. Selama empat sesi terakhir, pair ini bergerak dalam range $1,1230 dan $1,1450, membentuk pola konsolidasi. Harga masih belum menembus MA 10 yang saat ini ada di $1,1390. Penutupan di atas itu bisa membuka peluang menuju $1,1475-1,150.

Rekomendasi harian
Untuk EUR-USD diperkirakan mengalami penguatan untuk kali kedua nya hari ini. Dengan begitu, peluang untuk buy ada di 1.1291 dengan target take profit 1.1366 dan 1.1383, dimana stop loss 1.1260. Sedangkan peluang buy break ada penembusan kembali 1.1352 dengan target take profit 1.1372 dan 1.1383, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali 1.1322.

Sell break 1.1260 dengan target take profit 1.1230, dimana stop loss 1.1290. Sell 1.1419 dengan target take profit 1.1383 dan 1.1368, dimana stop loss 1.1449.

USD-JPY
Pola konsolidasi juga terlihat pada USD-JPY, yang bergerak dalam range 117-119 selama sembila sesi terakhir. Ini mencerminkan kesamaan kekuatan beli dan jual. Mungkinkah data PDB yang buruk bisa memicu koreksi? Bila ditutup di bawah 117,00, target selanjutnya adalah 116-115,50.

Rekomendasi harian
Terlihat USD-JPY terjebak dalam range 117.19 dan 118.45, sinyal kenaikan lebih lanjut USD-JPY tengah berlangsung bila menembus resisten yang terbentuk dari posisi tertinggi minggu ini sebelumnya 118.75. Dengan begitu peluang untuk buy terbuka di area 117.19 dengan target take profit 117.77 dan 118.05, dimana stop loss 116.89. Sedangkan buy break ada pembalikan harga kembali di 118.40 dengan target take profit 118.75 dan 118.84, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali 118.10.

Sementara itu, sell bisa dilakukan 118.95 dengan target take profit 118.45, dimana stop loss 119.25.

GBP-USD
Pergerakan GBP-USD selama beberapa sesi terakhir cukup fluktuatif. Sempat menyentuh level terendah dalam 1,5 tahun di $1,4950 minggu lalu, kemudian menyentuh high di $1,5223 awal pekan ini. Kini posisinya di $1,5053 dan bila ditutup di bawah low itu, pair ini terancam menuju $1,4890. Ke atas, peluang rebound terbuka bila ditutup di atas $1,5150.

Rekomendasi harian
Sinyal support GBP-USD berada di 1.5033, dan diperkirakan masih akan terjaga. Namun bila gagal dipertahankan ruang penurunan jangka pendek terjadi dimana target 1.4953. Peluang buy di 1.5033 dengan target profit taking 1.5075 dan 1.5105, dimana stop loss 1.4996. Penembusan area 1.5136 buy break dan pada penutupan di atas area tersebut dapat hold/tahan buy dengan target 1.5197, dimana stop loss bila ada pembalikan harga 1.5101.

Sell 1.5197 dengan target take profit 1.5151, dimana stop loss 1.5227. Sell break 1.5014 dengan target take profit 1.4989 dan 1.4968, dimana stop loss 1.5048.

USD-CHF
Mencoba pulih dari kejatuhan dua minggu lalu, USD-CHF terus menanjak, dengan penguatan signifikan terlihat sepekan ini. Posisinya kini di 0,9247, dengan bergerak menuju 0,9300. Bullísh continuation terbentuk bila ditutup di atas itu dengan target selanjutnya 0,9400-0,9500.

Rekomendasi harian
Peluang untuk USD-CHF buy 0.9155 dengan target take profit 0.9216 dan 0.9231, dimana stop loss 0.9123. Area 0.9094 kembali di tembus, dapat dilakukan aksi buy dengan target 0.9125 dan 0.9140, dimana stop loss 0.9064.

Untuk sell-nya 0.9338 dengan target take profit 0.9277, dimana stop loss 0.9268. Sell selanjutnya 0.9399 dengan target take profit 0.9338, dimana stop loss 0.9429. Perlu di waspadai penutupan di atas 0.9399 membuka ruang ke depan untuk menguji 0.9521.

AUD-USD
Kejatuhan dalam yang dicatat kemarin membawa AUD-USD ke level terendah dalam 5 tahun di $0,7720. Posisinya kini di $0,7785, bila ditutup di bawah low itu, pair ini terancam bergerak menuju $0,7700-0,7600. Kalaupun berhasil ditutup di atas $0,7900, ada hambatan yang cukup kuat di  $0,8000

Rekomendasi harian
Buy 0.7751 dapat dilakukan AUD-USD dengan target take profit 0.7812, dimana stop loss 0.7720. Buy break 0.7812 dengan target take profit 0.7843 dan 0.7856, dimana stop loss 0.7782.

Sell 0.7873 dengan target take profit 0.7835, dimana stop loss 0.7903. Sell break 0.7720 dengan target take profit 0.7690 dan 0.7675, dimana stop loss 0.7750.

http://www.strategydesk.co.id/2015/01/rekomendasi-trading-forex-sesi-eropa-as-30-januari-2015/

Strategydesk – Kondisi ekonomi global beragam tahun ini, diwarnai dengan pesatnya pemulihan ekonomi AS yang berhasil menutupi perlambatan di Eropa, Jepang dan China. Selanjutnya, bagaimana prospek ekonomi di 2015?

Fundamental positif diperkirakan masih menyertai momentum perbaikan ekonomi global di 2015. Menurut proyeksi dari IHS, pertumbuhan global akan naik menjadi 3% dari estimasi 2,7% untuk tahun ini. Seperti dikutip oleh CNBC, berikut 10 prediksi ekonomi dari IHS

US Economy1.    Ekonomi AS masih unggul
Ekonomi terbesar dunia ini akan terus mengungguli negara maju lainnya, didukung oleh permintaan domestik, terutama pembelanjaan konsumen. Faktor yang mendukung pembelanjaan konsumen, yang merupakan 70% aktivitas ekonomi, masih positif, termasuk pertumbuhan lapangan kerja dan harga energi rendah. IHS memprediksikan ekonomi akan tumbuh antara 2,5% dan 3,0% tahun depan.

2.    Eropa masih memprihatinkan
Ekonomi Eropa masih berjuang dengan rendahnya lapangan kerja. Tapi kombinasi penurunan harga minyak, depresiasi euro dan perbaikan fiskal, dan kebijakan moneter akomodatif mungkin bisa membantu pertumbuhan. Menurut IHS, ekonomi blok mata uang itu akan tumbuh 1,4% di 2015, perkembangan dari 0,8% tahun ini.

3.    Jepang pulih dari resesi
Setelah resesi keempat dalam enam tahun, ekonomi Jepang akan bangkit di 2015, meski hanya sekitar 1%. Menurut IHS, pelonggaran dari BOJ dan stimulus pemerintah, ditambah dengan harga energi rendah akan membawa pertumbuhan kembali positif.

4.    China masih melambat
Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal kemungkinan belum cukup untuk mencegah pertumbuhan semakin melambat, dengan perkiraan HIS bisa menuju ke 6,5% tahun depan. Meski masih jauh di atas rata-rata negara dunia, tingkat pertumbuhan itu dianggap rendah dalam standar Beijing.

5.    Ekonomi Emerging Markets Variatif
Sebagian besar negara berkembang akan membaik di 2014, berkat harga minyak yang rndah, likuiditas global dan pertumbuhan di AS. Emerging market di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun khusus Rusia, ekonominya menderita karena sanksi, penurunan harga minyak dan arus modal keluar.

 

6.    Harga komoditas masih merosot
Minyak sudah anjlok 40% sejak musim panas lalu di tengah merosotnya permintaan dan berlimpahkan pasokan. Menurut HIS, China masih menjadi kunci permintaan, maksudnya bila ekonominya semakin melambat berarti harga terancam semakin turun. Lembaga itu memperkirakan harga komoditas akan turun 10% tahun depan.

7.    Ancaman disinflasi
Tekanan disinflasi lebih terlihat di negara maju, sebagai akibat penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi. Keculi di negara berkembang, seperti Rusia, yang nilai tukarnya anjlok, menyebabkan inflasi.

8.    The Fed yang pertama menaikkan suku bunga
The Fed, Bank of England (BOE) dan Bank of Canada (BOC) merupakan negara maju yang menaikkan suku bunganya di 2015. Tapi the Fed lebih dulu, dengan kemungkinan menaikkannya pada Juni.  Kemudian diikuti oleh BOE di Agustus dan BOE pada Oktober. Sebaliknya, ECB dan BOJ, PBOC justru melakukan pelonggaran lanjutan, melalui pemangkasan suku bunga atau menyediakan likuiditas melalui pembelian aset.

9.    Dollar masih raja
Dollar masih melanjutkan dominasinya yang didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga. Selain itu, antisipasi akan kemungkinan stimulus tambahan dari ECB dan BOE, berarti euro dan yen akan terus depresiasi di 2015. Menurut HIS, nilai tukar euro akan jatuh ke $1,15-1,20 pada musim gugur 2015, dengan dollar/yen diperdagangkan di kisaran 120-125.

10.    Berkurangnya risiko penurunan (downside risk)
Pemulihan ekonomi global selama ini terganggung oleh banyak kutukan, termasuk besarnya utang di sektor publik maupun swasta, yang memaksa banyak pemerintah dan perusahaan deleveraging. Tapi di beberapa negara masalah ini tidak lagi menghambat pertumbuhan, terutama di AS dan Inggris, tercermin dari angka PDB-nya.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/10-prediksi-ekonomi-2015-apa-saja/

Jakarta, Strategydesk – Dollar terkoreksi kemarin setelah berhasil menyentuh level tertinggi dalam empat tahun atas rivalnya karena data ketenagakerjaan AS yang gemilang. Namun hal ini tidak mengubah posisi dollar, yang masih merajai pasar mata uang dengan keunggulan prospek kebijakan moneter the Fed.

Data payroll Jumat lalu menunjukkan pertumbuhan 321.000, terbesar sejak Januari 2012. Dengan ini, maka sudah sepuluh bulan berturut-turut lapangan kerja tumbuh di atas 200 ribu, terpanjang sejak 1994. Bahkan data Nopember dan Oktober direvisi naik, mengindikasikan pesatnya pertumbuhan lapangan kerja.

Karena data ini, dollar langsung reli yang membawanya ke level tertinggi dalam beberapa tahun terhadap mata uang lain. Prospek dollar masih bullish meski koreksi kemarin, di tengah ekspektasi the Fed bisa menjadi bank sentral negara maju pertama yang menaikkan suku bunga. Investor sudah menunggu rapat the Fed minggu depan, berharap adanya perubahan gaya bahasa. Dalam rapat terakhirnya tahun ini, ada harapan the Fed lebih condong hawkish dalam pernyataannya, sembari mengakui perkembangan ekonomi yang terlihat.

Untuk saat ini, dollar lebih cenderung konsolidasi. Indeks dollar berada di 89,18 setelah melemah 0,2% kemarin. Indeks masih berpeluang untuk meraih level psikologis 90. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 120,86 setelah koreksi 0,3% kemarin. Support terdekat ada di 118,75 dan kondisi bullish terjaga selama tidak jatuh ke bawah 118,00. Atas franc, dollar berada di 0,9772 setelah menyentuh 0,9818 kemarin.

Beralih ke euro, mata uang tunggal Eropa itu rebound tipis setelah sempat jatuh ke level terendah dalam 2,5 tahun. Di tengah prospek ECB harus mengeluarkan stimulus, euro diperkirakan masih bearish, dengan target jangka menengah $1,20. Untuk saat ini, euro diperdagangkan di $1,2300, dengan support $1,2200.

Sterling juga berhasil rebound kemarin, namun tren sepertinya belum berubah. Meski kondisi ekonomi dan kebijakan moneter Inggris tidaklah buruk, masih kalah dibandingkan AS. Dengan prospek seperti itu, target jangka menengah sterling adalah $1,5300. Hari ini, pound diperdagangkan di $1,5630 setelah menguat 0,4% kemarin.

Rekomendasi
EUR-USD
EUR SIGNAL 09-12-14

USD-JPY
JPY SIGNAL 09-12-14

GBP-USD
GBP SIGNAL 09-12-14

USD-CHF
CHF SIGNAL 09-12-14

AUD-USD
AUD SIGNAL 09-12-14

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/meski-koreksi-dollar-masih-merajai/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha