Search Results : pdb dan inflasi negara jepang

Strategydesk – Kondisi ekonomi global beragam tahun ini, diwarnai dengan pesatnya pemulihan ekonomi AS yang berhasil menutupi perlambatan di Eropa, Jepang dan China. Selanjutnya, bagaimana prospek ekonomi di 2015?

Fundamental positif diperkirakan masih menyertai momentum perbaikan ekonomi global di 2015. Menurut proyeksi dari IHS, pertumbuhan global akan naik menjadi 3% dari estimasi 2,7% untuk tahun ini. Seperti dikutip oleh CNBC, berikut 10 prediksi ekonomi dari IHS

US Economy1.    Ekonomi AS masih unggul
Ekonomi terbesar dunia ini akan terus mengungguli negara maju lainnya, didukung oleh permintaan domestik, terutama pembelanjaan konsumen. Faktor yang mendukung pembelanjaan konsumen, yang merupakan 70% aktivitas ekonomi, masih positif, termasuk pertumbuhan lapangan kerja dan harga energi rendah. IHS memprediksikan ekonomi akan tumbuh antara 2,5% dan 3,0% tahun depan.

2.    Eropa masih memprihatinkan
Ekonomi Eropa masih berjuang dengan rendahnya lapangan kerja. Tapi kombinasi penurunan harga minyak, depresiasi euro dan perbaikan fiskal, dan kebijakan moneter akomodatif mungkin bisa membantu pertumbuhan. Menurut IHS, ekonomi blok mata uang itu akan tumbuh 1,4% di 2015, perkembangan dari 0,8% tahun ini.

3.    Jepang pulih dari resesi
Setelah resesi keempat dalam enam tahun, ekonomi Jepang akan bangkit di 2015, meski hanya sekitar 1%. Menurut IHS, pelonggaran dari BOJ dan stimulus pemerintah, ditambah dengan harga energi rendah akan membawa pertumbuhan kembali positif.

4.    China masih melambat
Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal kemungkinan belum cukup untuk mencegah pertumbuhan semakin melambat, dengan perkiraan HIS bisa menuju ke 6,5% tahun depan. Meski masih jauh di atas rata-rata negara dunia, tingkat pertumbuhan itu dianggap rendah dalam standar Beijing.

5.    Ekonomi Emerging Markets Variatif
Sebagian besar negara berkembang akan membaik di 2014, berkat harga minyak yang rndah, likuiditas global dan pertumbuhan di AS. Emerging market di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun khusus Rusia, ekonominya menderita karena sanksi, penurunan harga minyak dan arus modal keluar.

 

6.    Harga komoditas masih merosot
Minyak sudah anjlok 40% sejak musim panas lalu di tengah merosotnya permintaan dan berlimpahkan pasokan. Menurut HIS, China masih menjadi kunci permintaan, maksudnya bila ekonominya semakin melambat berarti harga terancam semakin turun. Lembaga itu memperkirakan harga komoditas akan turun 10% tahun depan.

7.    Ancaman disinflasi
Tekanan disinflasi lebih terlihat di negara maju, sebagai akibat penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi. Keculi di negara berkembang, seperti Rusia, yang nilai tukarnya anjlok, menyebabkan inflasi.

8.    The Fed yang pertama menaikkan suku bunga
The Fed, Bank of England (BOE) dan Bank of Canada (BOC) merupakan negara maju yang menaikkan suku bunganya di 2015. Tapi the Fed lebih dulu, dengan kemungkinan menaikkannya pada Juni.  Kemudian diikuti oleh BOE di Agustus dan BOE pada Oktober. Sebaliknya, ECB dan BOJ, PBOC justru melakukan pelonggaran lanjutan, melalui pemangkasan suku bunga atau menyediakan likuiditas melalui pembelian aset.

9.    Dollar masih raja
Dollar masih melanjutkan dominasinya yang didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga. Selain itu, antisipasi akan kemungkinan stimulus tambahan dari ECB dan BOE, berarti euro dan yen akan terus depresiasi di 2015. Menurut HIS, nilai tukar euro akan jatuh ke $1,15-1,20 pada musim gugur 2015, dengan dollar/yen diperdagangkan di kisaran 120-125.

10.    Berkurangnya risiko penurunan (downside risk)
Pemulihan ekonomi global selama ini terganggung oleh banyak kutukan, termasuk besarnya utang di sektor publik maupun swasta, yang memaksa banyak pemerintah dan perusahaan deleveraging. Tapi di beberapa negara masalah ini tidak lagi menghambat pertumbuhan, terutama di AS dan Inggris, tercermin dari angka PDB-nya.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/10-prediksi-ekonomi-2015-apa-saja/

Tanggal September 24, 2012 / 11:22 am. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk – Perlambatan pertumbuhan ekonomi China akan berkurang di kuartal keempat tahun ini seiring dengan kebijakan yang diambil pemerintah. Tapi ketidakpastian masih menyelimuti perkembangan di masa depan, menurut lembaga pemikir negara itu kemarin.

Ekonomi diperkirakan tumbuh 7,7% di sembilan bulan pertama 2012, sedangkan untuk satu tahun penuh, tingkat pertumbuhan kemungkinan bisa 7,8%, Center for China in the World Economy (CCWE) menyebutkan dalam laporannya.
Ekonomi China melambat ke 7,6% di kuartal kedua, terendah dalam tiga tahun terakhir. CCWE mengatakan perlambatan pertumbuhan di tiga kuartal pertama tahun ini akibat merosotnya investasi aset tetap, terutama di properti, yang bisa menggeliat kembali setelah pemerintah mempercepat persetujuan proyek infrastruktur.

National Development and Reform Commission (NDRC) menyetujui serangkaian proyek infrastruktur yang bernilai total lebih dari 1 triliun yuan, untuk membangun jalan, pelabuhan, rel,  dan fasilitas publik lainnya seperti saluran pembuangan dan pengelolaan limbah di seluruh negeri.

Menurut CCWE, China masih punya potensi untuk tumbuh pesat dalam jangka menengah dan panjang, urbanisasi akan menjadi salah satu kunci pembangunan di masa depan. Lembaga di bawah naungan Tsinghua University itu memproyeksikan PDB China akan tumbuh 8,2% di kuartal pertama tahun depan, sedangkan selama 2013 bisa mencapai 8%.

Namun CCWE mengatakan ekonomi China juga menghadapi risiko besar, termasuk gejolak politik global dan terbatasnya pilihan dalam kebijakan moneter. CCWE menyebut masa depan hubungan China-Jepang menjadi salah satu elemen krusial yang dapat mempengaruhi ekonomi China. Sementara itu, para pembuat kebijakan punya ruang terbatas untuk melakukan penyesuaian kebijakan moneter, karena potensi tekanan inflasi yang meningkat karena program stimulus moneter di negara maju.

Selain itu, rencana stimulus domestik dan kenaikan harga pangan juga dapat mendorong inflasi.  Kenaikan harga properti juga menyulitkan pemerintah mengambil kebijakan baru di bidang moneter.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/ekonomi-china-akan-stabil-di-q4.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/ekonomi-china-akan-stabil-di-q4.html

Tanggal May 31, 2012 / 9:16 am. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk – Gelombang risk aversion, yang dipicu oleh kekhawatiran mengenai krisis utang dan perbankan di Eropa, mengangkat permintaan akan safe haven, yang membuat dollar dan yen perkasa.
Dollar dan yen rally atas rivalnya setelah aksi lepas aset berisiko menyusul kenaikan yield obligasi Spanyol dan Italia ke level bahaya, yang ditakutkan semakin mengancam kondisi financial kedua negara itu. Lelang obligasi di Italia kemarin mengecewakan, yang mendorong biaya pinjaman. Pemerintah terpaksa memberikan imbalan lebih dari 6%. Yield obligasi tenor 10 tahun Italia naik hingga 6,15% karena kekhawatiran potensi penyebaran krisis.
Yield obligasi Spanyol juga merangkak naik, ke level 6,67%,  semakin mendekati 7%, level yang membawa Yunani, Portugal dan Irlandia bertekuk lutut dan minta bailout. Kenaikan ini disebabkan oleh pernyataan pejabat bank sentral Spanyol bahwa semakin sulit mencapai target defisit tahun ini.
Spanyol tidak hanya dirundung krisis utang, tapi juga krisis perbankan. Di sasat kondisi keuangannya amburadul, pemerintah Spanyol harus menyelamatkan sektor perbankannya, dengan menyuntikkan dana ke Bankia, bank terbesar keempat negara itu yang hampir kolaps karena penggelembungan di sektor properti.
Di tengah banyaknya berita negatif, dollar menjadi primadona. Perkembangan saat ini membuat pasar melihat kondisi di AS masih lebih baik disbanding Eropa. Alhasil, pamor dollar terangkat. Indeks dollar melonjak ke hingga 83,17 hari ini, tertinggi sejak September 2011. Permintaan dollar yang tinggi membuat yield obligasi AS turun ke 1,62%, level terendah dalam 66 tahun terakhir. 
Euro semakin dijauhi, tergrelincir sampai $1,2358, terendah dalam dua tahun terakhir. Mata uang seperti sterling dan aussie juga merana. Dollar juga menguat terhadap franc, ke level tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Tapi greenback melemah terhadap yen sampai ke 78,77, terendah dalam 3,5 bulan terakhir, membawa yield obligasi tenor 5 tahun Jepang ke level terendah sejak Oktober 2010. Dollar melemah 0,3% ke 78,80, terendah sejak pertengahan Februari. Mata uang Jepang itu turut menguat atas euro, sterling dan aussie.
Data terjadwal hari ini di antaranya PDB Swiss, data pengangguran dan penjualan ritel Jerman, serta inflasi zona euro. Di AS, ada data PDB dan ADP Employment Change. PDB AS kuartal pertama kemungkinan direvisi turun menjadi 1,9% dari 2,2%. Ini bisa menjadi faktor yang menggerus laju dollar karena semakin membuka peluang perlunya stimulus moneter.  Apalagi kalau data ADP lebih rendah dari prediksi.

Rekomendasi
EUR-USD

USD-JPY

GBP-USD

USD-CHF

AUD-USD

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/risk-aversion-dollar-yen-perkasa.html

Tanggal November 15, 2011 / 7:32 am. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk
Nikkei
      I
ndeks Nikkei berlabuh di zona hijau kemarin berkat data yang menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh pesat. Selain itu, saham juga terangkat karena berkurangnya kecemasan soal krisis utang Eropa, menyusul terpilihnya pemimpin baru di Yunani dan Italia. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 6% selama kuartal ketiga dari tahun lalu, terpesat dalam 3,5 tahun terakhir. Indeks Nikkei ditutup menguat 89,23 poin, atau 1,05% di 8.603,70.
      Lagi-lagi permasalahan utang Eropa masih menjadi pemicu pelemahan indeks regional, khususnya indeks Nikkei kali ini. Meningkatnya yield obligasi tenor 5 tahunan Italia membuat investor cemas akan dampaknya ke kawasan Eropa. Sementara itu, saham keuangan jadi pemicu kejatuhan bursa saham AS dan Eropa.

Rekomendasi

Kospi
      I
ndeks Kospi  mencatat penguatan signifikan kemarin, menyusul berkurangnya kekhawatiran mengenai Eropa setelah munculnya pemimpin baru di Italia dan Yunan, yang diharapkan mampu mengatasi krisis di kedua negara.  Tapi investor masih enggan mendorong saham lebih jauh menjelang lelang obligasi Italia. Hasil lelang ini akan menjadi ujian pertama bagi Monti. Indeks Kospi ditutup menguat 39,36 poin, atau 2,11% di 1.902,81.
      Indeks Kospi terancam turun hari ini menyusul kecemasan investor terhadap meningkatnya yield obligasi Italia. Kalangan analis mengatakan, situasi kini belum sepenuhnya dikatakan baik. Ekonomi global masih melambat, penguatan kini dapat adanya kembali aksi ambil untung. Saham bank dan teknologi kemungkinan tertekan mengikuti saham sejenis di AS.

Rekomendasi

Hang Seng
      I
ndeks Hang Seng menguat kemarin setelah Deputi Direktur Pelaksana IMF Zhu Min dan Direktur Institut Riset Ekonomi Nasional China Fan Gang kemarin mengatakan bahwa ekonom sedang menuju soft landing seiring perlambatan pertumbuhan inflasi menurun. Selain itu, muncul optimisme soal Eropa menyusul terpilihnya pemimpin baru di Yunani dan Italia.  Indeks Hang Seng ditutup menguat 371,01 poin, atau 1,94%, di 19.508,18.
      Mampukah indeks Hang Seng mempertahankan tren positifnya kali ini?. Dengan kembali jatuhnya bursa saham AS dan kekhawatiran investor terhadap tingginya biaya pinjaman Italia dalam lelang yang diselenggarakan kemarin. Kabar ini sontak kembali mencemaskan investor terhadap krisis utang Eropa.

Rekomendasi

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/yield-obligasi-italia-naik-bursa-regional-tertekan.html

Tanggal September 14, 2011 / 5:38 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk – Rupiah terjungkal ke level terendah dalam 19 bulan terakhir karena meningkatnya keresahan pasar soal krisis utang Eropa akan memburuk, mengurangi permintaan mata uang emerging markets.

Defisit anggaran Yunani membengkak jadi 22% selama delapan bulan pertama tahun ini, meningkatkan spekyasi negara itu akan gagal memenuhi persyaratan yang dituntut untuk mendapat bailout.  Berita ini menambah kekhawatiran pasar yang sudah cemas dengan ancaman default di negara itu.

Rupiah juga tertekan setelah Bank Pembangunan Asia (ADB) menurunkan proyeksi pertumbuhan Asia. Menurut lembaga itu, PDB Asia di luar Jepang tumbuh masing 7,5%  di 2011 dan 2012 , lebih rendah dari proyeksi sebelumnya di April yaitu 7,8% dan 7,7%. Penurunan proyeksi ini mencerminkan dampak kelesuan ekonomi AS dan Eropa terhadap kawasan Asia.

Menambah tekanan ke rupiah, Bank Indonesia (BI) hari ini memberikan sinyal kemungkinan menurunkan suku bunganya karena ancaman perlambatan ekonomi dunia. Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warijiwo mengatakan pihaknya siap menyesuaikan suku bunga dan kebijakan moneter ke arah pelonggaran bila inflasi melambat dan ekonomi tumbuh lebih rendah dari proyeksi karena perlambatan global.

BI melakukan intervensi di pasar uang dan obligasi hari ini untuk meredam kejatuhan rupiah yang mencapai 2,6%. Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono mengakui intervensi itu agar rupiah tidak jatuh lebih dalam lagi. 
Dalam perdagangan hari ini, rupiah ditutup di Rp. 8.725 per dollar AS, melemah dari level penutupan kemarin Rp. 8.638.

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/rupiah-pun-terkena-imbas-eropa.html

Incoming search terms:

  • uang rupiah
  • rupiah
© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha