Search Results : mata uang negara maju dan berkembang

Tanggal November 14, 2012 / 4:21 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – Era pertumbuhan ekonomi pesat yang selama ini dipegang oleh China, India, dan Brazil mulai berakhir yang kemudian diikuti dengan perlambatan selama satu dekade ke depan, menurut proyeksi salah satu lembaga ternama AS.

Prospek ekonomi global hasil karya Conference Board itu mempertanyakan keajaiban BRIC (Brazil, Rusia, India, China), dengan berargumen “buah” dari buruh murah dan alih teknologi sudah habis dipetik.Pertumbuhan ekonomi dua digit China akan segera menjadi kenangan. Pertumbuhan ekonomi terbesar kedua dunia itu akan melambat ke 6,9% tahun depan, kemudian 5,5% selama 2014-2018, dan ke 3,7% pada 2019-2025, seiring menuanya populasi dan investasi merosot tajam.

Pertumbuhan India, di mana agenda tak berjalan mulus, akan melambat ke 4,7% pada 2018 kemudian ke 3,9% di 2025. Ekonomi Brazil  tumbuh 3% dan 2,7%. Tingkat pertumbuhan yang rendah akan membuat semua negara itu terjebak dalam middle income trap, situasi yang bisa mengubur harapan menjadi negara maju. “Ketika China, India, Brazil dan lainnya jenuh dari pertumbuhan pesat dan padat investasi, batas kecepatan ekonomi mereka akan turun,” kata Board.

Kondisi emerging markets yang melempem adalah penyebab utama Barat kambuh lagi tahun ini. Dunia kini menghadapi penurunan dari semua front, dengan sempitnya ruang untuk stimulus fiskal dan moneter. “Ekonomi maju masih menyembuhkan diri dari krisis 2008. Tapi tidak seperti 2010 dan 2011, negara berkembang tidak banyak membantu tahun ini, begitupun tahun depan,” katanya.

Prospek Eropa jauh lebih buruk, karena krisis demografi dan rendahnya produktivitas. Perancis terjerumus ke dalam depresi dengan pertumbuhan hampir stagnan sampai 2025 dan Inggris terjebak dalam pertumbuhan lesu 1% untuk tiga parlemen berikutnya. Masalah Perancis timbul dari investasi rendah serta penundaan penghematan dan reformasi.

Proyeksi Conference Board ini bertolak belakang dengan laporan OECD minggu lalu yang memyebutkan China akan tetap tumbuh 6,6% sampai 2030 dan India 6,7%, yang membuat keduanya muncul sebagai dua kekuatan ekonomi dominan.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/era-keemasan-bric-berakhir.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/era-keemasan-bric-berakhir.html

Tanggal September 23, 2011 / 2:59 pm. Oleh: Alwy M. Assegaf

Jakarta, Strategydesk – Emas kembali turun dalam tiga hari berturut-turut karena aksi jual investor meyusul dengan anjloknya busa saham global dan komoditas lainnya, yang dipicu oleh kekhawatiran resesi global.
Bursa saham dunia saat ini telah memasuki fase bearish untuk pertama kalinya dalam  dua tahun terakhir. Sementara itu, harga minyak menyentuh level terendah enam minggunya, kemudian harga tembaga jatuh menuju level terendah dalam setahun. Kesemuanya itu disebabkan oleh kekhawatiran bahwa krisis di Eropa dan yang kemudian meluas ke AS akan memunculkan resesi baru.
The Fed dalam pertemuannya pada 21 September lalu menyampaikan pernyataan yang pesimis soal ekonomi, dengan adanya risiko besar terhadap prospeknya, termasuk di pasar keuangan global.
Selain itu, Menurutnya, pertumbuhan tetap lesu, dengan indikator terakhir memperlihatkan masih rendahnya kondisi lapangan kerja dan tingkat pengangguran tetap tinggi.
Pernyataan The Fed tersebut telah mendorong investor untuk mengoleksi dollar, di mata mata uang Paman Sam tersebut mengalami kenaikan tajam menuju level tertinggi tujuh bulan atas mata uang utama dunia.
Kenaikan dollar, yang saat ini dipandang sebagai safe haven, memicu turunnya harga emas saat ini karena arah pergerakannnya cenderung berlawanan.
Sementara itu, ditengah berjalannya pertemuan G 20, Moody’s Investors Service justru menurunkan 8 bank di Yunani. Negara maju dan berkembang yang tergabung dalam G-20 menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah dalam rangka menjaga stabilitas finansial dan ekonomi dunia.

Rekomendasi

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/dollar-sedang-menekan-emas.html

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha