Search Results : kebijakan fiskal negara china

Strategydesk – China dan Jepang melaporkan data ekonomi yang di bawah harapan kemarin, menambah desakan ke para pemimpin kedua negara untuk menambah stimulus.

Japan EconomyDua survei manufaktur China menunjukkan angka rendah dan perusahaan memangkas tenaga kerja. Indeks PMI manufaktur versi pemerintah dan HSBC menyimpulkan aktivitas manufaktur masih lesu. Di Jepang, hasil survei Tankan dari BOJ menemukan perusahaan pesimis dengan prospek bisnis ke depan dan berencana mengurangi investasi. 2/3 dari 11 ribu perusahaan yang disurvei memperkirakan kondisi bisnis bakal memburuk.

Berkurangnya lapangan kerja di sektor manufaktur China menambah tantangan untuk para pemimpin yang ingin menggapai pertumbuhan berkesinambungan berdasarkan konsumsi domestik dan mencegah lonjakan pengangguran. Beijing sudah memangkas suku bunga dua kali sejak Nopember tahun lalu, namun masih menghindari stimulus skala besar mengingat dapat merusak upayanya mengurangi ketergantungan pada investasi.

Pertumbuhan ekonomi China melambat ke 7,3% di kuartal keempat tahun lalu, bahkan diperkirakan kuartal pertama tahun ini semakin melambat.  Perdana Menteri Li Keqiang menetapkan target pertumbuhan tahun ini hanya 7%, namun ia siap mengeluarkan stimulus bila pengangguran bertambah. Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan belum lama mengatakan pihaknya siap melonggarkan kebijakannya lagi, yang diperkirakan berbentuk pemangkasan suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM), bila inflasi terus turun.

Berbeda dengan China, para pejabat Jepang belum terlihat ada tanda-tanda mau menambah stimulus. Media setempat berspekulasi adanya friksi antara bank sentral dan pemerintahan Shinzo Abe soal stimulus. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda mengatakan ekonomi masih dalam jalur pemulihan dan inflasi bisa naik lagi ketika harga minyak stabil kembali.

Sebaliknya pemerintah mengimbau BOJ untuk mengeluarkannya stimulus  moneter lagi, mengingat ruang fiskal sudah sempit.  Bahkan Abe mempertimbangkan menaikkan pajak untuk orang kaya, sebagai kompensasi atas dibatalkannya kenaikan pajak penjualan tahap kedua.

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/data-suram-china-jepang-tegaskan-perlunya-stimulus/

Strategydesk – Pertumbuhan ekonomi China tahun depan diperkirakan semakin melambat, mencerminkan dampak kelesuan ekonomi global, menurut salah satu lembaga pemikir negara itu.

China-economy“Pertumbuhan ekonomi global mungkin sedikit membaik di 2015, tapi masih belum pulih penuh dari akibat krisis finansial global, “kata Pusat Informasi Negara dalam laporan yang dipublikasikan hari ini di China Securities Journal. “Alhasil, pertumbuhan ekonomi kita akan menunjukkan tren perlambatan, dan diperkirakan hanya tumbuh 7% di 2015,” tambahnya.

Inflasi China diperkirakan naik di bawah 2% tahun depan, lebih rendah dari proyeksi tahun ini yang di atas 2%. Perlambatan inflasi terjadi seiring ekonomi. Sedangkan pertumbuhan ekspor diprediksikan tumbuh 7% tahun depan dari proyeksi 6% tahun ini, mencerminkan lesunya permintaan luar negeri.

Para ekonom memang pesimis mengenai prospek ekonomi China. Ada istilah, ekonomi China memasuki kondisi “normal baru”. Kondisi ini tercermin dari tiga perubahan, pertama, tingkat pertumbuhan dua digit sudah menjadi masa lalu, kini pertumbuhan berkisar di 7%. Kedua, pemerintah akan menghindari penggunaan fiskal dan moneter agresif untuk merangsang pertumbuhan selama tingkat pertumbuhan stabil dekat target. Ketiga, reformasi berorientasi pasar terus dilakukan meski mengorbankan pertumbuhan.

Menurut hasil survei terbaru, sektor manufaktur China diperkirakan semakin melambat bulan ini. Hasil polling Reuters menyebutkan indeks PMI manufaktur di Desember diperkirakan turun ke 50,1 terendah sejak Juni 2013, dari 50,3 di Nopember.

Di tengah perlambatan ini, muncul desakan agar Beijing mau mengeluarkan kebijakan baru. Media setempat memberitakan bahwa bank sentral (PBOC) sedang mempertimbangkan merevisi aturan perhitungan rasio pinjaman terhadap simpanan bank (loan-to-deposit ratio), agar bank bisa menambah pinjaman. Selama ini, pinjaman bank dibatasi sampai 75% dana simpanannya.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/2015-ekonomi-china-mungkin-hanya-tumbuh-7/

Strategydesk – Kondisi ekonomi global beragam tahun ini, diwarnai dengan pesatnya pemulihan ekonomi AS yang berhasil menutupi perlambatan di Eropa, Jepang dan China. Selanjutnya, bagaimana prospek ekonomi di 2015?

Fundamental positif diperkirakan masih menyertai momentum perbaikan ekonomi global di 2015. Menurut proyeksi dari IHS, pertumbuhan global akan naik menjadi 3% dari estimasi 2,7% untuk tahun ini. Seperti dikutip oleh CNBC, berikut 10 prediksi ekonomi dari IHS

US Economy1.    Ekonomi AS masih unggul
Ekonomi terbesar dunia ini akan terus mengungguli negara maju lainnya, didukung oleh permintaan domestik, terutama pembelanjaan konsumen. Faktor yang mendukung pembelanjaan konsumen, yang merupakan 70% aktivitas ekonomi, masih positif, termasuk pertumbuhan lapangan kerja dan harga energi rendah. IHS memprediksikan ekonomi akan tumbuh antara 2,5% dan 3,0% tahun depan.

2.    Eropa masih memprihatinkan
Ekonomi Eropa masih berjuang dengan rendahnya lapangan kerja. Tapi kombinasi penurunan harga minyak, depresiasi euro dan perbaikan fiskal, dan kebijakan moneter akomodatif mungkin bisa membantu pertumbuhan. Menurut IHS, ekonomi blok mata uang itu akan tumbuh 1,4% di 2015, perkembangan dari 0,8% tahun ini.

3.    Jepang pulih dari resesi
Setelah resesi keempat dalam enam tahun, ekonomi Jepang akan bangkit di 2015, meski hanya sekitar 1%. Menurut IHS, pelonggaran dari BOJ dan stimulus pemerintah, ditambah dengan harga energi rendah akan membawa pertumbuhan kembali positif.

4.    China masih melambat
Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal kemungkinan belum cukup untuk mencegah pertumbuhan semakin melambat, dengan perkiraan HIS bisa menuju ke 6,5% tahun depan. Meski masih jauh di atas rata-rata negara dunia, tingkat pertumbuhan itu dianggap rendah dalam standar Beijing.

5.    Ekonomi Emerging Markets Variatif
Sebagian besar negara berkembang akan membaik di 2014, berkat harga minyak yang rndah, likuiditas global dan pertumbuhan di AS. Emerging market di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun khusus Rusia, ekonominya menderita karena sanksi, penurunan harga minyak dan arus modal keluar.

 

6.    Harga komoditas masih merosot
Minyak sudah anjlok 40% sejak musim panas lalu di tengah merosotnya permintaan dan berlimpahkan pasokan. Menurut HIS, China masih menjadi kunci permintaan, maksudnya bila ekonominya semakin melambat berarti harga terancam semakin turun. Lembaga itu memperkirakan harga komoditas akan turun 10% tahun depan.

7.    Ancaman disinflasi
Tekanan disinflasi lebih terlihat di negara maju, sebagai akibat penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi. Keculi di negara berkembang, seperti Rusia, yang nilai tukarnya anjlok, menyebabkan inflasi.

8.    The Fed yang pertama menaikkan suku bunga
The Fed, Bank of England (BOE) dan Bank of Canada (BOC) merupakan negara maju yang menaikkan suku bunganya di 2015. Tapi the Fed lebih dulu, dengan kemungkinan menaikkannya pada Juni.  Kemudian diikuti oleh BOE di Agustus dan BOE pada Oktober. Sebaliknya, ECB dan BOJ, PBOC justru melakukan pelonggaran lanjutan, melalui pemangkasan suku bunga atau menyediakan likuiditas melalui pembelian aset.

9.    Dollar masih raja
Dollar masih melanjutkan dominasinya yang didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga. Selain itu, antisipasi akan kemungkinan stimulus tambahan dari ECB dan BOE, berarti euro dan yen akan terus depresiasi di 2015. Menurut HIS, nilai tukar euro akan jatuh ke $1,15-1,20 pada musim gugur 2015, dengan dollar/yen diperdagangkan di kisaran 120-125.

10.    Berkurangnya risiko penurunan (downside risk)
Pemulihan ekonomi global selama ini terganggung oleh banyak kutukan, termasuk besarnya utang di sektor publik maupun swasta, yang memaksa banyak pemerintah dan perusahaan deleveraging. Tapi di beberapa negara masalah ini tidak lagi menghambat pertumbuhan, terutama di AS dan Inggris, tercermin dari angka PDB-nya.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/10-prediksi-ekonomi-2015-apa-saja/

Tanggal October 03, 2012 / 11:22 am. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk – Bank Pembangunan Asia (ADB) memangkas proyeksi pertumbuhan sebagian besar negara Asia, di tengah lesunya permintaan global yang mengguncang kemampuan ekspor raksasa China dan India.

Setelah menikmati pertumbuhan pesat selama bertahun-tahun, kini Asia menghadapi prospek suram dan harus melakukan penyesuaian dengan mengurangi ketergantungan pada ekspor. Oleh karena itu, lembaga berbasis di Manila itu mengatakan Asia harus mendiversifikasi mesin pertumbuhan dan memanfaatkan perkembangan industri jasanya, seperti di India dan Filipina, untuk menopang pertumbuhan di tengah merosotnya permintaan eksternal.

Krisis utang Eropa dan ancaman jurang fiskal AS merupakan risiko terbesar prospek pertumbuhan Asia. Negara dengan ekonomi terbukanya rentan dengan efek domino. Risiko peralihan arus modal ke Asia juga perlu diwaspadai, meski pasar modal kawasan itu belum menunjukkan volatilitas eksesif. Meski demikian, sebagian besar negara di Asia masih punya ruang untuk memanfaatkan kebijakan fiskal dabn moneter agar bisa melindungi pertumbuhan, dengan inflasi diperkirakan lebih rendah tahun ini dan depan.

“Asia harus bersiap menghadapi periode pertumbuhan moderat setelah menikmati perkembangan pesat,” kata ADB dalam laporan terbarunya. Negara berkembang Asia (developing Asia), yang terdiri dari 45 negara di Asia Tengah, Timur, Selatan dan Tenggara, serta Pasifik, diperkirakan tumbuh 6,1% tahun ini dan 6,7% tahun depan. Angka itu lebih rendah dari estimasi April yang 6,9% dan 7,3%. Tahun lalu, pertumbuhan kawasan itu mencapai 7,2%.

China, yang juga sedang mengalami perlambatan, diperkirakan tumbuh 7,7% tahun ini dan 8,1% tahun depan, di bawah proyeksi yang dibuat April lalu 8,5% dan 8,7%. Proyeksi pertumbuhan India juga direvisi turun, menjadi 5,6% untuk 2012 dan 6,7% di 2013, dari 7,0% dan 7,5%, di saat berkutat dengan inflasi tinggi, defisit anggaran dan konsumsi rendah.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/adb-pangkas-proyeksi-pdb-asia.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/adb-pangkas-proyeksi-pdb-asia.html

Tanggal September 12, 2012 / 4:25 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk – Minyak naik hari ini setelah Mahkamah Konstitusi (MK) Jerman mengizinkan negara itu meratifikasi dana talangan Eropa (ESM).

MK mengizinkan ratifikasi ESM asalkan setiap beban finansial yang harus ditanggung Jerman dalam  dana itu sesuai dengan porsinya atau hanya sebesar 190 miliar euro. Bila beban bertambah, maka hanya bisa dilakukan dengan persetujuan parlemen Jerman. Kedua,  baik majelis rendah maupun tinggi harus tetap diinformasikan mengenai perkembangan ESM.

Minyak juga menguat di tengah menguatnya ekspektasi China dan AS akan mengeluarkan stimulus untuk merangsang pertumbuhan ekonomi yang sedang melambat. Isu stimulus China semakin mencuat setelah Perdana Menteri Wen Jiabao mengatakan masih ada ruang bagi kebijakan fiskal dan moneter untuk membantu pertumbuhan ekonomi. Ia juga menyatakan pemerintah punya sekitar surplus 1 triliun yuan dalam neraca dan 100 miliar yuan dana stabilitas, yang sewaktu-waktu dapat digunakan.

Isu stimulus AS juga santer menjelang hasil rapat reguler the Fed, yang diperkirakan akan mengumumkan kebijakan baru. FOMC dijadwalkan mengumumkan keputusannya pada Kamis dini hari, yang dilanjutkan oleh pidato Bernanke dua jam kemudian. Pasar memperkirakan dua kemungkinan, memperpanjang masa berlaku suku bunga rendah sampai 2015 atau meluncurkan Quantitative Easing (QE) jilid ketiga.

Minyak juga terangkat oleh pelemahan dollar yang terjadi karena peringatan Moody’s yang berencana memangkas rating AS bila pemerintah kongres gagal mencapai kesepakatan mengurangi utang. Minyak juga naik karena data American Petroleum Institute (API) menunjukkan cadangan minyak bertambah 221.000 barel minggu lalu,tTapi stok bensin berkurang 4,2 juta barel.

Pada jam 16:22 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Oktober naik 57 sen ke $97,74 per barel.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/minyak-lanjutkan-gain-berkat-mk-jerman-isu-stimulus.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/minyak-lanjutkan-gain-berkat-mk-jerman-isu-stimulus.html

Tanggal May 08, 2012 / 7:48 am. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk
Nikkei
      Indeks Nikkei kemarin terjungkal ke level terendah dalam tiga bulan terakhir setelah pemilu di Perancis dan Yunani menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan program penghematan dan upaya pengentasan krisis utang. Sentimen pasar juga jatuh karena data ketenagakerjaan AS yang buruk. Data ini melemahkan dollar atas yen. Indeks Nikkei anjlok 261,11 poin, atau 2,78% di 9.119,14. 
      Indeks Nikkei menguat terbatas kali ini setelah jatuh pada perdagangan kemarin. Menurut analis, muncul kekhawatiran indeks Nikkei akan jatuh ke bawah 9.000. Meski sebagian besar kinerja keuangan emiten sejauh ini cukup baik, itu tidak berpengaruh saat ini, karena kondisi eksternal lebih dominan. Analis lain mengatakan aksi jual besar-besaran yang membawa indeks ke level saat ini seharusnya membuka peluang beli.

Rekomendasi

Kospi
      I
ndeks  Kospi juga jatuh ke level terendah dalam tiga bulan terakhir karena hasil pemilu di Perancis dan Yunani. Para investor cemas perubahan kepemimpinan di kedua negara menjadi awal penolakan kebijakan penghematan. Sentimen semakin jatuh dengan data payroll AS yang mengecewakan. Indeks Kospi ditutup jatuh 32,71 poin, atau 1,64% di 1.956,44.
      Bursa saham di AS yang berakhir flat semalam, berhasil mendorong indeks Kospi untuk menjauh dari level penutupan terendahnya dalam tiga bulan. Investor mulai mengabaikan kekhawatiran pemimpin baru di Perancis dan Yunani dalam melaksanakan penghematan atas krisis yang melanda di kawasan itu. Tapi data AS yang mengecewakan masih bisa menekan indeks.

Rekomendasi

Hang Seng
      I
ndeks Hang kemarin tak luput dari kejatuhan bursa regional karena hasil pemilu di Perancis dan Yunani, yang menimbulkan kecemasan mengenai prospek ekonomi dan fiskal zona euro. Hasil pemilu itu memicu keraguan akan kemampuan untuk mengatasi krisis utang, karena para pemenangnya adalah kelompok anti bailout dan program penghematan. Indeks itu juga mencatat kejatuhan terbesar dalam lima bulan terakhir. Indeks Hang Seng ditutup anjlok 549,35 poin, atau 2,61% di 20.536,65.
      Indeks Hang Seng coba bangkit dari keterpurukanya kemarin menyusul sikap investor di AS yang mengabaikan hasil pemilu Perancis dan Yunani, dimana ini bisa terlihat dari penutupan bursa saham AS yang mixed. Meski rebound itu bersifat sementara, karena diperlukan katalis yang kuat untuk menopangnya. Data trade balance dan inflasi China jadi fokus pekan ini.

Rekomendasi

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/wall-street-mixed-regional-coba-rebound.html

Tanggal April 19, 2012 / 11:39 am. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk – Meski ekspornya berhasil meningkat, Jepang mencatat defisit perdagangan terbesar dalam sejarah karena membengkaknya biaya impor energi.

Didorong oleh sektor otomotif,  ekspor naik 5,9% selama Maret dari tahun lalu, lebih besar dari prediksi 0,2%. Hal ini memperlihatkan bahwa pelemahan yen, yang terjadi setelah BOJ menambah stimulus moneternya pada Februari, berperan mendorong ekspor.

Berkat pulihnya produksi otomotif dan elektronik, Jepang mencatat surplus perdagangan pertama dalam lima bulan terakhir pada Februari. Namun perdagangan kembali merah pada Maret, kembali ke defisit. Hal ini karena Impor Jepang melonjak 10,5% selama Maret, didorong minyak dan gas,  di tengah krisis energi setelah sebagian besar pembangkit nuklirnya berhenti operasi. Hanya satu dari 54 reaktor nuklir Jepang yang beroperasi setelah krisis nuklir yang dipicu oleh gempa dan tsunami. Kondisi ini memaksa Jepang bergantung pada minyak dan gas untuk memproduksi listrik.

Jepang mengalami defisit sebesar 82,6 miliar yen selama Maret, tapi masih lebih rendah dari prediksi 223,2 miliar yen. Selama tahun fiskal 2010-2011, yang berakhir 31 Maret lalu, Jepang mencatat defisit 4,41 triliun yen.

Defisit perdagangan itu merupakan pukulan telak bagi Jepang yang selama ini dikenal sebagai negara eksportir. Seperti China, Jepang dulu juga dikritik karena mengalami surplus besar. Kementerian mengatakan data perdagangan Jepang resmi tercatat sejak 1979, tapi angka defisit perdagangan terakhir lebih besar dari periode Meiji, yang dimulai pada 1868.

Para analis memperingatkan bila impor energi mahal berlanjut, konsumen Jepang harus menanggung biaya utilitas yang lebih besar, ini tentunya bisa berdampak pada pembelanjaan, yang akhirnya menghambat pertumbuhan.

Sementara itu, Gubernur BOJ Masaaki Shirakawa mengaakan pihaknya berkomitmen penuh untuk melanjutkan pelonggaran melalui berbagai mekanisme, seperti suku bunga nol dan pembelian aset, sampai target inflasi 1% tercapai. “Bila ekonomi Jepang ingin  lepas dari deflasi dan kembali ke jalur pertumbuhan dalam koridor stabilitas harga, maka diperlukan kebijakan yang merangsang pertumbuhan dan mendukung stimulus moneter,” katanya.

BOJ akan menggelar rapat reguler pada 27 April nanti, pernyataan Shirakawa itu dianggap sebagai sinyal BOJ mempertimbangkan pelonggaran lebih lanjut.

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/ekspor-meningkat-jepang-tetap-defisit.html

Tanggal March 06, 2012 / 3:18 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk – Indeks Nikkei melanjutkan koreksinya hari ini karena masih didera aksi ambil untung yang dilakukan para investor terhadap saham unggulan, menyusul rally 10,5% selama Februari.

Saham yang sensitif dengan perkembangan China masih merana setelah negara itu menetapkan target pertumbuhan terendah dalam delapan tahun terakhir. Tapi valuasi menarik di emiten lain menarik pembeli. Investor memilih beralih ke saham defensif seperti farmasi dan utilitas.

Menurut analis, dalam beberapa hari terakhir, aksi ambil untung terjadi di blue chips terutama keuangan dan teknologi karena kedua sektor itu menjadi primadona. Aksi ambil untung juga terjadi karena banyak investor yang ingin merealisasikan keuntungan menjelang penutupan buku atau akhri tahun fiskal pada 31 Maret nanti.

Indeks Nikkei ditutup melemah 0,6% di 9.637,63. Sedangkan indeks Topix turun 0,7% ke 827,35. Indeks Nikkei telah menguat 14% selama tahun ini, diangkat oleh membaiknya prospek ekonomi AS, kebijakan akomodatif bank sentral besar yang menambah jumlah likuiditas di pasar.

Sementara itu di Seoul, indeks Kospi tergelincir karena kekhawatiran soal perlambatan China menggulung saham saham terkait pertumbuhan, dengan investor juga mengantisipasi berakhirnya masa kontrak options. Selain itu, tingginya harga minyak dan penguatan won memberi tekanan ekstra. Indeks Kospi ditutup melemah 0,78% di 2.000,36.

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/nikkei-masih-didera-profit-taking.html

Tanggal March 06, 2012 / 10:22 am. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk – Bursa regional mengalami tekanan perdagangan kali ini karena imbas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi China dan Eropa ditambah tensi politik Iran dan Barat.
Pemerintah China kemarin memangkas target pertumbuhan ekonominya ke level terendah sejak 2004, mengindikasikan para pemimpinnya bersedia mentoleransi kinerja ekonomi lebih rendah sembari mengurangi ketergantungan dengan ekspor.
Dalam pidato kenegaraannya, Perdana Menteri Wen Jiabao mengumumkan target pertumbuhan di 7,5% selama 2012. “China mentargetkan ekonominya tumbuh 7,5% tahun ini dengan mengikuti kebijakan fiskal dan moneter proaktif yang ditujukan untuk menjaga pertumbuhan dan mengendalikan inflasi,” katanya.
Estimasi pertumbuhan itu, yang diumumkan dalam pertemuan parlemen tahunan hari ini, merupakan penurunan dari target 8%, yang menjadi pedoman selama enam tahun terakhir. Namun pertumbuhan ekonomi aktual terus melampui target resmi dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, PDB tumbuh 9,2%

Upaya Yunani untuk mengurangi beban utangnya masih menjadi fokus pasar sampai minggu ini, dengan bayangan negosiasi gagal mengancam euro dan bursa saham. Menjelang tenggat waktu 20 Maret, di mana Yunani harus membayar utang jatuh tempo 14,5 miliar euro, Athena harus membujuk setidaknya 90% kreditor swasta selambatnya Jumat dalam penukaran utang (bond swap) secara sukarela. Sebagai bagian paket bantuan 130 miliar euro, kreditor swasta diminta menerima kerugian 53,5% dalam investasi merek, agar Yunani bisa terhindar dari default. 

Disamping itu, kenaikan harga minyak dunia bisa menekan sentimen pasar, karena kecemasan masalah gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah yang disebabkan oleh ketegangan antara Barat dan Iran terkait program nuklir.
Selain mewaspadai perkembangan soal Yunani, pasar juga akan mencermati serangkaian even penting minggu ini, di antaranya rapat reguler RBA, BOE dan ECB.  Ketiga bank sentral itu diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan, tapi bila ada sinyal pelonggaran lebih lanjut dapat menekan mata uang masing-masing.

Pada jam 10.00 WIB, indeks Nikkei bergerak turun 0,44% di 9.656,37, indeks Kospi jatuh 1,0% di 1.994,21, New Zealand Index naik 0,35% di 3.399,84. Sementara itu, Dow Jones future turun 21 poin di 12.940.

Saham-saham yang mengalami kejatuhan tajam karena imbas dari China, seperti Posco telah turun 2,3% dan Hyundai Steel jatuh 2,2% di Seoul, sedangkan Fanuc kehilangan 2,4% dan Komatsu turun 1,7% di Jepan. Saham komoditias di Sidney juga tertekan karena China merivisi pertumbuhannya, dimana China sebagai mitra dagang terbesar dengan Australia. Rio Tinto jatuh 2,0%, BHP Billiton merosot 2,3%.

Pasar kini menantikan keputusan Bank Sentral Australia (RBA)  pada 10.30 WIB. RBA akan mempertahankannya di 4,25%. Keputusan yang sesuai prediksi takkan mempengaruhi aussie. Bila terjadi pemangkasan, aussie bisa terkoreksi. Apalagi bila Gubernur Glenn Stevens memberi sinyal pelonggaran lanjutan.

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/regional-di-zona-negatif-rba-di-nanti.html

Tanggal March 05, 2012 / 10:53 am. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk – Pemerintah China memangkas target pertumbuhan ekonominya ke level terendah sejak 2004, mengindikasikan para pemimpinnya bersedia mentoleransi kinerja ekonomi lebih rendah sembari mengurangi ketergantungan dengan ekspor.

Dalam pidato kenegaraannya, Perdana Menteri Wen Jiabao mengumumkan target pertumbuhan di 7,5% selama 2012. “China mentargetkan ekonominya tumbuh 7,5% tahun ini dengan mengikuti kebijakan fiskal dan moneter proaktif yang ditujukan untuk menjaga pertumbuhan dan mengendalikan inflasi,” katanya.

Estimasi pertumbuhan itu, yang diumumkan dalam pertemuan parlemen tahunan hari ini, merupakan penurunan dari target 8%, yang menjadi pedoman selama enam tahun terakhir. Namun pertumbuhan ekonomi aktual terus melampui target resmi dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, PDB tumbuh 9,2%.

Dengan memangkas target, Wen mengindikasikan Partai Komunis berniat mengalihkan sumber pertumbuhan ke konsumsi dan mengurangi ketergantungan dengan ekspor dan investasi. Selain restrukturisasi ekonomi, langkah itu juga mencerminkan perhatian pemerintah ke isu kualitas hidup seperti lingkungan dan kesenjangan pendapatan.

“Kami bertujuan meraih perkembangan ekonomi yang stabil dan pesat, mengendalikan harga dan menjaga stabilitas finansial melalui pengaturan jumlah uang dan kredit, sembari mengambil pendekatan fleksibel dan hati-hati,” kata Wen ketika menyampaikan laporan tahunannya dalam Kongres Nasional Rakyat (NPC).

Selain target pertumbuhan, Wen juga mengumumkan target inflasi di 4% tahun ini, sama seperti tahun lalu. Target defisit tahun ini ditetapkan pada 1,5% PDB, atau 800 miliar yuan. Angka itu dibandingkan target tahun lalu yangt 2% PDB, atau 900 miliar yuan, dan defisit aktual 850 miliar yuan.

Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/china-pangkas-target-pertumbuhan-ekonomi.html

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha