Search Results : isu isu moneter

Jakarta, Strategydesk – Dollar melanjutkan koreksi atas major currencies karena investor melakukan aksi ambil untung dari penguatannya. Tapi dalam jangka menengah sampai panjang dianggap masih bullish karena didukung oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed.
Koreksi dollar datang setelah Ketua the Fed Janet Yellen tidak menyinggung soal ekonomi atau arah kebijakan moneter. Ia hanya berbicara soal dampak implementasi kebijakan moneter dalam dunia pasca krisis. Dalam pidatonya, Yellen seperti menghindari isu opsi kebijakan. Ia tidak mengatakan apapun soal wacana kenaikan suku bunga.
Padahal beberapa pejabat lain mendukung kenaikan suku bunga bulan depan. Presiden the Fed distrik New York Wiliam Dudley mengatakan mungkin sekali normalisasi kebijakan dilakukan segera. Presiden distrik Richmond Jeffrey Lacker menegaskan adanya ruang untuk penyesuaian kebijakan. Presiden distrik  Chicago Charles Evans mengindikasikan pentingnya kenaikan dilakukan secara bertahap.
Koreksi dollar terjadi hanya karena Yellen tidak memberi petunjuk soal kenaikan suku bunga. Namun pengamat melihat hal ini hanyalah sekedar koreksi dari rentetan penguatan di minggu-minggu sebelumnya. Satu hal yang patut dicatat adalah tren dollar masih terjaga selama prospek kenaikan suku bunga masih ada. Untuk nanti malam, ada beberapa data ekonomi AS yang layak disimak, antara lain, penjualan ritel dan sentimen konsumen.
Indeks dollar terpantau rebound 0,1% ke 98,62 setelah jatuh 0,7% kemarin. Penutupan di bawah 98,40 membuka jalan menuju 98,00. Dari sana, indeks terancam menuju 97,60. Ke atas, sepertinya indeks masih tertahan di bawah 99,20. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 122,62 setelah melemah 0,2% kemarin. Setelah mencatat penguatan minggu terbesar dalam tujuh bulan terakhir minggu lalu, dollar koreksi sepanjang minggu ini. Penutupan di bawah 122,20, membuka jalan menuju 121,80.
Sementara itu, euro gagal melanjutkan penguatannya yang diraih kemarin. Penguatan euro lebih disebabkan oleh kejatuhan dollar. Pasalnya kemarin Presiden ECB Mario Draghi mengatakan siap menambah stimulus bila diperlukan, membuka opsi pelonggaran lanjutan di masa mendatang. Hari ini, ada data PDB Jerman dan zona euro. Data yang menunjukkan perbaikan pertumbuhan mungkin bisa menjaga penguatan euro. Euro terpantau melemah 0,1% ke $1,0790 setelah menguat 0,6% kemarin.
Rekomendasi
EUR
Eur
JPY
JPY
GBP
GBP
CHF
CHF
AUD
AUD

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/meski-koreksi-dollar-masih-bullish/

Jakarta, Strategydesk – Dollar sedang dalam fase koreksi akibat aksi ambil untung yang memafaatkan penguatannya. Namun hal itu tidak melepaskan tekanan dari emas, yang masih dekat level terendah dalam empat bulan.
Koreksi dollar datang setelah Ketua the Fed Janet Yellen tidak menyinggung soal ekonomi atau arah kebijakan moneter. Ia hanya berbicara soal dampak implementasi kebijakan moneter dalam dunia pasca krisis. Dalam pidatonya, Yellen seperti menghindari isu opsi kebijakan. Ia tidak mengatakan apapun soal wacana kenaikan suku bunga.
Namun beberapa pejabat lainnya tetap mendukung prospek kenaikan suku bunga bulan depan. Salah satunya William Dudley, yang mengatakan Tren dollar terjaga selama prospek kenaikan suku bunga the Fed masih ada. Banyak kalangan yang masih meyakini the Fed akan menaikkan suku bunganya dalam rapat 16-17 Desember.
Harga emas tetap tertekan meski di saat yang sama saham bertumbangan. Harga emas terus tertekan di tengah prospek kenaikan suku bunga the Fed. Emas adalah instrumen yang berperan sebagai lindung nilai (inflation hedge), safe haven dan anti mata uang. Kenaikan suku bunga menjadi momok bagi logam mulia itu.
Tapi permintaan fisik terus membaik di tengah penurunan harga. Dewan Emas Dunia (WGC) mengatakan permintaan emas di AS melonjak 200% di kuartal ketiga tahun ini. Lembaga itu mengatakan kenaikan sebesar itu belum pernah terjadi sejak krisis 2008.
Dari sisi teknikal, belum terlihat adanya perubahan trend secara signifikan. Namun saat ini harga sedang bergerak di atas support $1077, low yang terbentuk tiga bulan lalu. Indikator stochastic oversold, berpeluang terjadi rebound. Namun selama di bawah resistance $1093, trend masih bearish.
Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/emas-tetap-tertekan-meski-dollar-jatuh/

Jakarta, Strategydesk – Emas sedikit rebound hari ini namun masih dekat level terendah dalam tiga bulan di tengah prospek kenaikan suku bunga the Fed.
Koreksi dollar ternyata tidak mampu memberi dorongan ke emas, bahkan jatuh ke level terendah dalam tiga bulan. Meski terkoreksi, tren dollar masih terjaga oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed. Selain didukung oleh data payroll, prospek itu diperkuat oleh pernyataan pejabat the Fed. Belum lama, Presiden the Fed distrik New York John Williams mengatakan ada kemungkinan kenaikan terjadi bulan depa bila didukung data.
Malam nanti, beberapa pejabat the Fed akan berbicara termasuk sang ketua Janet Yellen dan wakil Stanley Fisher. Keduanya menghadiri acara konferensi soal kebijakan moneter. Selain itu, pejabat lain yang juga tampil di publik antara lain Charles Evans, Jeffrey Lacker dan William Dudley. Pasar akan mencermati apa yang disampaikan mereka terkait arah kebijakan, apakah ada penegasan soal kenaikan suku bunga pada Desember.
Sejak mencuatnya kembali prospek kenaikan suklu bunga the Fed, emas terus terpuruk. Emas adalah instrumen yang berperan sebagai lindung nilai, safe haven dan anti mata uang. Kenaikan suku bunga menjadi momok bagi logam mulia itu. Alhasil, dengan semakin kuatnya prospek kenaikan suku bunga, harga terus jatuh. Faktor lain yang mengurangi minat pada emas, terutama di AS, adalah fakta yield obligasi di sana masih lebih tinggi dari inflasi. Yield obligasi tenor 10 tahun berada di 2,22%, sedangkan tingkat inflasi AS masih 1,9%.
Dari sisi teknikal, indikator stochastic memang sudah oversold, memungkinkan adanya rebound. Namun, selama harga gagal bertahan di atas resistance $1093, trend masih bearish dan berpeluang untuk turun lebih jauh menuju support $1077.
Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/dibayangi-isu-rate-emas-ke-terendah-3-bulan/

Strategydesk – Meski tema diskusi resmi pertemuan Jackson Hole tahun ini adalah Dinamika Inflasi dan Kebijakan Moneter, ketika beberapa pejabat top bank sentral dari seluruh dunia berkumpul di sana, isu ekonomi China sepertinya tidak akan luput dari pembahasan.

FederalReservePerlambatan ekonomi dan gejolak bursa saham China menimbulkan kepanikan di pasar keuangan dunia karena dianggap berpotensi menyeret pertumbuhan global. Jadi, simposium tahunan ini, di mana pejabat bank sentral, ekonom, akedemisi dan praktisi keuangan berkumpul, merupakan momen yang tepat untuk membahas respon kebijakan moneter yang tepat. Itupun kalau bank sentral belum kehabisan amunisi.

Tapi acara tahun ini dianggap kurang berbobot karena absennya dua yaitu Ketua the Fed Janet Yellen dan Presiden ECB Mario Draghi. Para pendahulu Yellen, yaitu Alan Greenspan dan Ben Bernanke, selalu menggunakan acara ini untuk memberi sinyal perubahan arah kebijakan. Jajaran pejabat yang hadir nantinya di antaranya Wakil Ketua the Fed Stanley Fisher, Gubernur BOE Mark Carney dan Ketua SNB Thomas Jordan.

Meski demikian, pertemuan ini tetap dianggap penting, terutama karena hanya dua minggu menjelang rapat reguler the Fed. Rapat 17-18 September menjadi krusial karena momen penentuan apakah the Fed menaikkan suku bunga atau tidak. Salah satu hal yang dibenak investor adalah apakah gejolak pasar global akan menyebabkan the Fed menunda kenaikan rate pertamanya dalam satu dekade.

Setiap petunjuk dari Fisher dalam pidato terjadwalnya besok bisa memberikan gambaran, termasuk komentar dari para pejabat the Fed lainnya di sela-sela pertemuan. Ia diharapkan juga menjabarkan pandangan the Fed mengenai kondisi ekonomi dan inflasi AS.

http://www.strategydesk.co.id/2015/08/hal-hal-yang-jadi-perhatian-di-jackson-hole/

Strategydesk – Rupiah melemah hari ini menyusul apresiasi dollar yang dipicu oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed. Rupiah juga melemah pasca keputusan BI mempertahankan suku bunganya di 7,5%.

Rupiah 2Dollar menguat terhadap major currencies setelah kesepakatan Yunani mengurangi kekhawatiran pasar akan ancaman Grexit. Perkembangan ini membuat pasar lega karena mengurangi kemungkinan Yunani harus keluar dari zona euro, prospek yang dapat menimbulkan ketidakpastian tinggi. Dengan berkurangnya Grexit, pasar kini kembali terfokus ke isu ekonomi dan kebijakan moneter.

Membaiknya sentimen menyusul kesepakatan menyebabkan perhatian pasar kembali ke perbedaan kinerja ekonomi dan prospek kebijakan moneter antara AS dan Eropa. Pernyataan dua pejabat the Fed, yaitu Janet Yellen dan Eric Rosengren, menjaga ekspektasi bakal ada kenaikan suku bunga September nanti. Yellen mengatakan pihaknya masih berpeluang menaikkan rate tahun ini. Sedangkan Rosengren mengatakan September adalah waktu yang tepat untuk menaikkan rate bila ekonomi AS terus membaik.

Rupiah juga melemah setelah BI mempertahankan suku bunganya di 7,5%. Dalam catatan BI, rupiah melemah 1,28% selama Juni. Menurutnya, ada berbagai faktor yang menyebabkan depresiasi rupiah, baik dari luar maupun dari dalam. Faktor eksternal adalah isu kenaikan suku bunga the Fed dan kekhawatiran soal Yunani. Dari dalam adalah permintaan valuta asing yang tinggi untuk pembayaran utang dan dividen di kuartal kedua.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,31% ke Rp13.339 per dollar, setelah bergerak dalam range Rp13.305-13.351. Untuk besok, rupiah kemungkinan masih bergerak dalam kisaran Rp13.300-13.400.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/isu-rate-the-fed-tekan-rupiah/

Strategydesk – Rupiah berhasil mencatat penguatan hari ini didukung oleh lelang Surat Utang Negara (SUN) yang kembali mendapat animo besar dari investor. Namun, tren rupiah tetap sama karena belum ada perubahan fundamental.

Rupiah 2Dalam lelang hari ini, pemerintah menjual obligasi hingga Rp15 triliun, di atas target Rp10 triliun. SUN dengan tenor 11 tahun dijual dengan imbal hasil rata-rata 8,118%. Sedangkan surat utang jangka pendek, yaitu tenor 3 bulan, ber-yield rata-rata 6,202%. Total penawaran atau bid mencapai Rp26,42 triliun, lebih rendah dari lelang sebelumnya pada 23 Juni yang mencapai Rp40 triliun.

Pemerintah RI telah melelang obligasi rupiah konvensional dan sukuk dengan total nilai Rp181,135 triliun selama kuartal pertama dan kedua. Sejauh ini, hasil lelang obligasi RI cukup memuaskan dan masalah Yunani belum mempengaruhi permintaan. Untuk lelang di kuartal ketiga, pemerintah mentargetkan Rp63 triliun.

Namun efek lelang SUN biasanya tidak lama, karena pasar masih terfokus dengan isu yang lebih mengkhawatirkan. Masalah Yunani masih membayangi sentimen pasar. Meski belum ada kejadian mengguncangkan lagi selain hasil referendum, pasar diliputi ketidakpastian, yang biasa memicu permintaan safe haven. Dalam kondisi risk aversion, mata uang seperti rupiah biasanya menjadi korban. Apalagi kondisi fundamental ekonomi RI belum menunjukkan perkembangan berarti. Dengan ruang kebijakan moneter yang sudah sangat sempit, kebijakan fiskal menjadi andalan untuk bisa mengubah keadaan. Pasar menunggu realisasi program pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,13% ke Rp13.330 per dollar, dengan sempat menyentuh Rp13.281 dan melemah sampai Rp13.332. Untuk besok, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang Rp13.300-13.400.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/berkat-sun-rupiah-berhasil-rebound/

Jakarta, Strategydesk – Dollar mencatat penguatan kemarin didorong oleh data penjualan ritel AS yang mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed. Sedangkan euro jatuh karena kandasnya lagi negosiasi utang Yunani.

Pembelanjaan ritel tumbuh 1,2% selama Mei, data dari Departemen Perdagangan semalam. Selain itu, angka April direvisi jadi naik 0,2% setelah sebelummnya dilaporkan stagnan. Angka terbaru itu sedikit di atas prediksi 1,1%. Data ini menyusul laporan ketenagakerjaan AS yang menambah kepercayaan mengenai prospek ekonomi dan kebijakan moneter the Fed.

Data itu memberi dorongan ke dollar, yang sempat tertekan minggu ini. Data lainnya semalam adalah initial jobless claims, yang memperlihatkan kenaikan tapi masih tetap berada di zona  terkait dengan sehatnya pertumbuhan lapangan kerja. Untuk nanti malam, ada data sentimen konsumen AS yang diperkirakan naik ke 91,4 di Juni dari 90,7 di Mei.

Setelah reli lebih dari 25% sejak awal Juli 2014, momentum penguatan dollar terhenti di Maret. Setelah itu pergerakannya lebih cenderung fluktuatif, di saat pasar mengevaluasi kinerja ekonomi AS dan prospek kebijakan moneter the Fed. Untuk sisa minggu ini, dollar kemungkinan masih fluktuatif menjelang rapat reguler the Fed minggu depan.

Indeks dollar berada di 95,00 dalam perdagangan di Asia hari ini setelah menguat 0,4% kemarin. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 123,45 setelah reli 1% kemarin. Dollar mencatat kejatuhan harian terbesarnya dalam enam bulan atas yen Rabu lalu.

Sementar itu, euro tertekan akibat pembicaraan antara Yunani dan kreditor kembali tak menghasilkan apapun. Pejabat IMF mengakhiri negosiasi karena kurangnya progress. Jubir IMF Gerry Rice mengatakan ada beberapa masalah soal pension, pajak dan pembiayaan. Yunani mengakui memang masih ada perselisihan dengan kreditor mengenai beberapa isu penting. Masalahnya, program bailout Yunani habis masa berlakunya akhir bulan ini dan Athena tidak akan bisa membayar utang jatuh tempo bulan ini tanpa ada kucuran dana dari kreditor.

Euro diperdagangkan di $1,1246 setelah melemah 0,3% kemarin. Posisi ini semakin mendekati support $1,1230, bila ditembus membuka jalan menuju $1,1200-1,1170. Ke atas, bila berhasil ditutup di atas $1,1350, target selanjutnya adalah $1,1400-1,1450.

Rekomendasi
EUR-USD
EUR SIGNAL 12-06-15

USD-JPY
JPY SIGNAL 12-06-15

GBP-USD
GBP SIGNAL 12-06-15

USD-CHF
CHF SIGNAL 12-06-15

AUD-USD
AUD SIGNAL 12-06-15

 

 

 

 

http://www.strategydesk.co.id/2015/06/dollar-melaju-berkat-data-ritel-as/

Strategydesk – Rupiah berhasil rebound hari ini meski terjadi penguatan dollar terhadap beberapa mata uang dunia dan data cadangan devisa RI yang memperlihatkan penurunan.

RupiahDollar berhasil meraih kembali level sebelum payroll meski tanpa dukungan data, pertanda posisi dollar masih didukung oleh keunggulan prospek kebijakan moneter the Fed. Dollar juga menguat menjelang FOMC Minutes, yang diharapkan dapat memberi gambaran mengenai prospek kebijakan the Fed.

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa cadangan devisa sampai Maret 2015 sebesar $111,6 miliar pada akhir Maret 2015, turun $3,9 miliar dari akhir Februari.  Berkurangnya cadangan ini karena BI melakukan intervensi untuk mengendalikan  nilai tukar rupiah dan digunakan untuk membayar utang luar negeri pemerintah.

Meski turun, cadangan devisa RI masih dianggap sehat, bisa untuk membiayai impor selama 7 bulan. Selain itu, invertensi dianggap sebagai bentuk bahwa BI tetap menjaga nilai tukar, memberi sentimen positif untuk rupiah. Ditambah lagi dengan masih mengalirnya dana asing ke pasar obligasi, mencerminkan kepercayaan pada prospek ekonomi RI.

Dalam perdagangan Rabu, rupiah menguat 34 poin menjadi Rp12.953 per dollar.  Rupiah masih punya ruang untuk melanjutkan penguatannya, tapi sulit bila dollar terangkat kembali oleh isu rate. Untuk perdagangan Kamis, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp12.900-13.000.

Sementara itu, IHSG terkoreksi hari ini menyusul aksi ambil untung dari penguatan tajam kemarin. IHSG ditutup melemah 36,70 poin, atau 0,66%, di 5.486,58. Namun, pemain asing masih melakukan pembelian aktif, mencapai Rp258 miliar. Total pembelian asing selama tahun ini sudah mencapai Rp7,4 triliun, bukti bursa saham RI masih menjadi primadona.

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/giliran-rupiah-menguat-ihsg-koreksi/

Strategydesk – China dan Jepang melaporkan data ekonomi yang di bawah harapan kemarin, menambah desakan ke para pemimpin kedua negara untuk menambah stimulus.

Japan EconomyDua survei manufaktur China menunjukkan angka rendah dan perusahaan memangkas tenaga kerja. Indeks PMI manufaktur versi pemerintah dan HSBC menyimpulkan aktivitas manufaktur masih lesu. Di Jepang, hasil survei Tankan dari BOJ menemukan perusahaan pesimis dengan prospek bisnis ke depan dan berencana mengurangi investasi. 2/3 dari 11 ribu perusahaan yang disurvei memperkirakan kondisi bisnis bakal memburuk.

Berkurangnya lapangan kerja di sektor manufaktur China menambah tantangan untuk para pemimpin yang ingin menggapai pertumbuhan berkesinambungan berdasarkan konsumsi domestik dan mencegah lonjakan pengangguran. Beijing sudah memangkas suku bunga dua kali sejak Nopember tahun lalu, namun masih menghindari stimulus skala besar mengingat dapat merusak upayanya mengurangi ketergantungan pada investasi.

Pertumbuhan ekonomi China melambat ke 7,3% di kuartal keempat tahun lalu, bahkan diperkirakan kuartal pertama tahun ini semakin melambat.  Perdana Menteri Li Keqiang menetapkan target pertumbuhan tahun ini hanya 7%, namun ia siap mengeluarkan stimulus bila pengangguran bertambah. Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan belum lama mengatakan pihaknya siap melonggarkan kebijakannya lagi, yang diperkirakan berbentuk pemangkasan suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM), bila inflasi terus turun.

Berbeda dengan China, para pejabat Jepang belum terlihat ada tanda-tanda mau menambah stimulus. Media setempat berspekulasi adanya friksi antara bank sentral dan pemerintahan Shinzo Abe soal stimulus. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda mengatakan ekonomi masih dalam jalur pemulihan dan inflasi bisa naik lagi ketika harga minyak stabil kembali.

Sebaliknya pemerintah mengimbau BOJ untuk mengeluarkannya stimulus  moneter lagi, mengingat ruang fiskal sudah sempit.  Bahkan Abe mempertimbangkan menaikkan pajak untuk orang kaya, sebagai kompensasi atas dibatalkannya kenaikan pajak penjualan tahap kedua.

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/data-suram-china-jepang-tegaskan-perlunya-stimulus/

Strategydesk – Saham Asia berakhir variatif hari ini akibat masalah bailout Yunani dan data inflasi China yang menimbulkan kekhawatiran akan ancaman perlambatan.

Asian stocks 2Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengatakan pemerintah tidak akan meminta perpanjangan program bailout dan berencana membatalkan program penghematan. Di China, Inflasi naik 0,8% selama Januari dari tahun lalu, terendah dalam lima tahun, mengindikasikan ekonomi sedang melambat.

Dj Jepang, indeks Nikkei berakhir di zona merah hari ini di tengah mencuatnya kekhawatiran soal Yunani, yang menolak memperpanjang program bailout. Tapi Nissan berhasil menarik minat beli dengan proyeksinya yang cerah. Indeks Nikkei ditutup melemah 0,3% ke 17.652,68.

Di Korsel, indeks Kospi juga tertekan oleh isu Yunani, yang menggerus. Kekisruhan soal program bailout-nya menimbulkan kecemasan akan keluarnya negara itu dari zona euro. Selain itu,  data inflasi China turut menekan sentimen. Dua saham unggulan, yaitu Samsung Electronics dan Hyundai Motor tergelincir. Indeks Kospi melemah 0,57% ke 1.935,86.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng berhasil menghapus kejatuhan dan berakhir flat hari ini, berkat penguatan saham China. Bursa sahm daratan terangkat oleh ekspektasi Beijing akan meluncurkan stimulus baru untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Menurut analis, data ekonomi buruk selama dua hari terakhir menambah prospek tambahan  stimulus moneter dari bank sentral. Indeks Hang Seng ditutup flat di 24.528,10.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/saham-asia-tertekan-yunani-data-china/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha