Search Results : ekonomi negara jepang

Strategydesk – Ekonomi global tidak sedang terancam resesi meski terjadi gejolak di pasar keuangan dunia dan adanya potensi perlambatan ekonomi China, menurut Goldman Sachs. Tapi hedge fund itu memangkas outlook saham global.

Goldman Sachs“Kejatuhan harga komoditas selama setahun terakhir dan gejolak pasar di China dan emerging markets lainnya tidak akan menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi,” analis dari bank investasi itu mengatakan dalam catatannya untuk klien, yang dikutip oleh Reuters.

Bank tersebut memangkas outlook jangka pendek bursa saham ke netral, tapi tetap overweight untuk enam sampai 12 bulan ke depan. Goldman Sachs menaikkan outlook jangka pendek saham AS menjadi netral dan menurunkan saham Eropa menjadi netral.

Goldman juga mempertahankan pandangannya bahwa komoditas tetap underperform. “Kami melihat pasar misiterpretasi kejatuhan harga minyak sebagai sinyal pertumbuhan negatif,” katanya. Menurutnya, kejatuhan harga minyak dan komoditas lainnya hanya mencerminkan pasokan berlebihan bukannya permintaan rendah.

Saham global sudah kehilangan $5 triliun nilainya sejak China mendevaluasi yuan, langkah yang memicu spekulasi perlambatan di negara itu lebih buruk dari yang diduga. Gejolak ini menimbulkan keraguan akan prospek ekonomi global ke depan. Bank itu memangkas target harga indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang sebesar 18% karena kekhawatiran soal pertumbuhan global.

“Guncangan pada ekspektasi pertumbuhan dan jatuhnya kepercayaan merupakan inti penyebab kandasnya saham regional. Secara hitoris pergerakan harga, masih ada penurunan 15% lagi. Katalis untuk rebound adalah data ekonomi yang bagus, terutama di China, yang baru keluar enam minggu lagi.

http://www.strategydesk.co.id/2015/08/goldman-tak-ada-ancaman-resesi-global/

premarket 3Indek acuan saham berjangka alami penurunan pada sore hari Kamis ini, mengikuti penurunan yang terjadi pada bursa saham mancanegara.

Musim earning Amerika akan kembali sampaikan berita-berita laporan earning pada malam hari ini. Dimana sebelum bursa saham di Amerika di buka akan ada laporan earning dari Time Warner Cable (TWC) dan Exxon Mobil. Sedangkan setelah pasar tutup pada esok pagi, akan ada laporan earning dari Expedia (EXPE), Linkedln (LNKD), dan Visa (V).

Untuk data ekonominya, pada malam hari ini pemerintah Amerika akan sampaikan laporan data tenaga kerja mingguan, yaitu Jobless Claims yang rilis pada pukul 19:30 WIB. Pemerintah Amerika pada malam hari ini juga akan sampaikan laporan data personal income dan spending yang rilis pada pukul 19:30 WIB.

Harga kontrak minyak mentah berjangka alami kenaikan sebesar 1 persen pada perdagangan elektronik dan berada pada harga diatas $59 per barrel. Harga acuan minyak mentah diperdagangkan pada level tertingginya untuk tahun ini, didukung oleh laporan inventori minyak Amerika yang rilis pada Rabu kemarin, dimana data tersebut tunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraannya.

Bursa saham di Eropa pada sore hari ini alami penurunan, dengan Indek CAC Prancis alami penurunan sebesar 0,8 persen. Harga saham perusahaan raksasa Minyak Shell alami kenaikan sebesar 1,7 persen di London didukung oleh laporan laba perusahaan untuk kuartal pertama yang berhasil lampaui perkiraan analis. Perusahaan peralatan telekomunikasi Nokia (NOK) sampaikan laporan keuangan yang mengecewakan para pelaku pasar, sehingga membuat harga sahamnya alami penurunan sebesar 9 persen.

Bursa saham di Asia, pada hari ini ditutup dengan alami penurunan. Nikkei Jepang alami penurunan sebesar 2,7 persen setelah Bank Sentral tidak keluarkan kebijakan apapun.

Bursa saham di Amerika pada hari Rabu kemarin alami pergerakan yang kurang menarik. Dow Jones industrial average turun 75 poin, sedangkan SP 500 turun 0,4 persen dan Nasdaq ditutup dengan penurunan sebesar 0,6 persen.

Walaupun demikian, kemungkinan besar indek-indek acuan saham Amerika untuk keseluruhan bulan April ditutup positip, walaupun dengan kenaikan kecil.

 

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/premarket-us-wall-street-berpeluang-ditutup-dengan-kenaikan-kecil-untuk-keseluruhan-april/

Strategydesk – China dan Jepang melaporkan data ekonomi yang di bawah harapan kemarin, menambah desakan ke para pemimpin kedua negara untuk menambah stimulus.

Japan EconomyDua survei manufaktur China menunjukkan angka rendah dan perusahaan memangkas tenaga kerja. Indeks PMI manufaktur versi pemerintah dan HSBC menyimpulkan aktivitas manufaktur masih lesu. Di Jepang, hasil survei Tankan dari BOJ menemukan perusahaan pesimis dengan prospek bisnis ke depan dan berencana mengurangi investasi. 2/3 dari 11 ribu perusahaan yang disurvei memperkirakan kondisi bisnis bakal memburuk.

Berkurangnya lapangan kerja di sektor manufaktur China menambah tantangan untuk para pemimpin yang ingin menggapai pertumbuhan berkesinambungan berdasarkan konsumsi domestik dan mencegah lonjakan pengangguran. Beijing sudah memangkas suku bunga dua kali sejak Nopember tahun lalu, namun masih menghindari stimulus skala besar mengingat dapat merusak upayanya mengurangi ketergantungan pada investasi.

Pertumbuhan ekonomi China melambat ke 7,3% di kuartal keempat tahun lalu, bahkan diperkirakan kuartal pertama tahun ini semakin melambat.  Perdana Menteri Li Keqiang menetapkan target pertumbuhan tahun ini hanya 7%, namun ia siap mengeluarkan stimulus bila pengangguran bertambah. Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan belum lama mengatakan pihaknya siap melonggarkan kebijakannya lagi, yang diperkirakan berbentuk pemangkasan suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM), bila inflasi terus turun.

Berbeda dengan China, para pejabat Jepang belum terlihat ada tanda-tanda mau menambah stimulus. Media setempat berspekulasi adanya friksi antara bank sentral dan pemerintahan Shinzo Abe soal stimulus. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda mengatakan ekonomi masih dalam jalur pemulihan dan inflasi bisa naik lagi ketika harga minyak stabil kembali.

Sebaliknya pemerintah mengimbau BOJ untuk mengeluarkannya stimulus  moneter lagi, mengingat ruang fiskal sudah sempit.  Bahkan Abe mempertimbangkan menaikkan pajak untuk orang kaya, sebagai kompensasi atas dibatalkannya kenaikan pajak penjualan tahap kedua.

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/data-suram-china-jepang-tegaskan-perlunya-stimulus/

Strategydesk – Akibat perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas, bank sentral di kawasan Asia akan terus terpaksa untuk melonggarkan kebijakan demi mendorong pertumbuhan dan inflasi, menurut para analis.

interest-rate-cut“Bila kondisi permintaan eksternal tetap lesu, maka semakin besar urgensi untuk bertindak mencegah ancaman deflasi dan mendorong permintaan domestik,” kata ekonom Morgan Stanley Asia Derrick Kam kepada CNBC lewat surel. “Kami memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut ke depan,” ujarnya.

Ekspor merupakan urat nadi ekonomi Asia namun pertumbuhan melambat akhir-akhir ini. Dalam catatan yang dipublikasikan kemarin, Morgan Stanley mensurvei  delapan negara, China, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Korsel, Taiwan dan Thailand, dan menemukan bahwa ekspor hanya tumbuh rata-rata 3,8% selama 2012-2015, rendah sekali dibandingkan 12,8% antara 1992 dan 2007.

Dalam rangka mendorong pembelanjaan konsumen dan bisnis dan menutupi dampak penurunan ekspor, bank sentral India memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Bulan lalu, Indonesia dan China memangkas suku bunga sebesar 25 bps. Kemarin, bank sentral Thailand ikut melonggarkan kebijakan moneternya, memangkas rate 25 bps ke 1,75%. Hari ini, bank sentral Korsel (BOK) memotong rate 25 bps ke 1,75%.

Bank sentral Asia diperkirakan bakal melonggarkan kebijakan beberapa kali karena perlambatan ekonomi global yang mengurangi permintaan. Memang ekonomi AS tumbuh pesat akhir-akhir ini, namun para analis memandang hal itu tidak mampu menutupi kelesuan permintaan di Jepang dan Eropa. ”Disinflasi dan kejutan dovish oleh bank sentral masih berlanjut di Asia,” kata Credit Suisse.

Salah satu pejabat bank sentral China tidak menutup kemungkinan melonggarkan kebijakannya lagi bila inflasi semakin turun. Qian Yingyi, anggota komite PBOC mengatakan pihaknya bisa saja memangkas suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM) bila inflasi turun ke bawah 1%.

http://www.strategydesk.co.id/2015/03/pelonggaran-kebijakan-di-asia-bakal-berlanjut/

Strategydesk – Akibat perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas, bank sentral di kawasan Asia akan terus terpaksa untuk melonggarkan kebijakan demi mendorong pertumbuhan dan inflasi, menurut para analis.

interest-rate-cut“Bila kondisi permintaan eksternal tetap lesu, maka semakin besar urgensi untuk bertindak mencegah ancaman deflasi dan mendorong permintaan domestik,” kata ekonom Morgan Stanley Asia Derrick Kam kepada CNBC lewat surel. “Kami memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut ke depan,” ujarnya.

Ekspor merupakan urat nadi ekonomi Asia namun pertumbuhan melambat akhir-akhir ini. Dalam catatan yang dipublikasikan kemarin, Morgan Stanley mensurvei  delapan negara, China, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Korsel, Taiwan dan Thailand, dan menemukan bahwa ekspor hanya tumbuh rata-rata 3,8% selama 2012-2015, rendah sekali dibandingkan 12,8% antara 1992 dan 2007.

Dalam rangka mendorong pembelanjaan konsumen dan bisnis dan menutupi dampak penurunan ekspor, bank sentral India memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Bulan lalu, Indonesia dan China memangkas suku bunga sebesar 25 bps. Kemarin, bank sentral Thailand ikut melonggarkan kebijakan moneternya, memangkas rate 25 bps ke 1,75%. Hari ini, bank sentral Korsel (BOK) memotong rate 25 bps ke 1,75%.

Bank sentral Asia diperkirakan bakal melonggarkan kebijakan beberapa kali karena perlambatan ekonomi global yang mengurangi permintaan. Memang ekonomi AS tumbuh pesat akhir-akhir ini, namun para analis memandang hal itu tidak mampu menutupi kelesuan permintaan di Jepang dan Eropa. ”Disinflasi dan kejutan dovish oleh bank sentral masih berlanjut di Asia,” kata Credit Suisse.

Salah satu pejabat bank sentral China tidak menutup kemungkinan melonggarkan kebijakannya lagi bila inflasi semakin turun. Qian Yingyi, anggota komite PBOC mengatakan pihaknya bisa saja memangkas suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM) bila inflasi turun ke bawah 1%.

http://www.strategydesk.co.id/2015/03/pelonggaran-kebijakan-di-asia-bakal-berlanjut/

Strategydesk – Ekonomi global, yang sempat ditakutkan bakal semakin lesu tahun ini, mulai terlihat membaik dengan dukungan minyak murah dan bunga rendah.

Itulah pandangan optimis para ekonom dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Associated Press. Dalam survei itu, mereka tidak lagi melihat krisis finansial Eropa, sektor perumahan AS dan  kebuntuan kongres sebagai ancaman seperti tahun lalu. AP melakukan survei terhadap hampir tiga lusin perusahaan dan ekonom selama periode 19-25 Februari. Sebagian besar dari mereka mengatakan ekonomi Eropa dan Jepang akan diuntungkan oleh penurunan harga energi dan kebijakan moneter akomodatif.

” Ekonomi AS semakin bagus, dan kita mendapat banyak berita positif dari Eropa,” kata Nariman Behravesh, ekonom utama di IHS Global Insight. Menurutnya, ekonomi global mulai bangkit. Konsumen AS dianggap sebagai mesin penggerak, berkat penurunan harga BBM, pertumbuhan lapangan kerja yang pesat dan kenaikan upah. Pembelanjaan mereka diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan tahun ini, baik AS maupun global. Behravesh memproyeksikan peningkatan pembelanjaan di AS dapat membantu pertumbuhan gloobal.

Menurutnya pembelanjaan kolektif AS lebih besar dari ekonomi negara manapun. Peningkatan belanja ini tidak lepas dari penyerapan tenaga kerja AS yang tinggi. Selama tiga bulan terakhir, sebanyak 1 juta lapangan kerja baru tercipta. Selain itu, lebih dari 3,2 juta orang mendapat kenaikan upah bulan lalu.

Prospek yang lebih cerah ini dipandang sebagai titik balik dari awal tahun lalu, ketika ekonomi global dibayangi oleh konflik Ukraina, munculnya kelompok teroris ISIS. Keengganan ECB mengeluarkan stimulus turut menghambat pertumbuhan di Eropa.

Para ekonom memang tidak menampik adanya perlambatan ekonomi di China, yang  berdampak pada negara eksportir mulai dari Amerika Selatan sampai Australia. Namun mereka optimis China bisa menghindari hard landing. Dengan pemangkasan suku bunga dua kali berturut-turut dalam tiga bulan terakhir oleh bank sentralnya, diharapkan dapat menjaga pertumbuhan.

Di Eropa, Data minggu lalu menunjukkan optimisme mengenai prospek ekonomi. Penjualan ritel di zona euro selama Januari mengalami pertumbuhan terpesat dalam 1,5 tahun. Laporan terpisah dari Markit Economis menunjukkan aktivitas bisnis mencatat pertumbuhan terpesar dalam tujuh bulan.

http://www.strategydesk.co.id/2015/03/prospek-ekonomi-global-mulai-membaik/

baruMorgan Stanley keluarkan laporan riset terbarunya. Laporan riset Morgan Stanley tersebut mengomentari mengenai rencana merger perusahaan-perusahaan minyak BUMN China yang sedang dikaji oleh pemerintah China.

Dalam laporan tersebut, Morgan Stanley menilai akan adanya potensi positip dari merger perusahaan-perusahaan BUMN China terhadap bisnis “down stream” minyak. Sehingga dengan demikian maka SINOPEC  Corp (386.HK) oleh Morgan Stanley di jadikan sebagai saham pilihan, walaupun PetroChina (857.HK) dan CNOOC (883.HK) juga akan menjadi perusahaan-perusahaan yang diuntungkan apabila merger tersebut jadi dilaksanakan.

Laporan riset Morgan Stanley tersebut di keluarkan setelah sebelumnya pada minggu lalu berkembang rumor akan adanya keputusan merger antara PetroChina dan Sinopec atau antara SNOOC dan Sinochem. Rumor tersebut belum mendapatkan tanggapan apapun dari pihak pemerintah China saat di konfirmasi.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/m-stanley-merger-perusahaan-minyak-akan-untungkan-bisnis-down-stream/

Strategydesk – Secara teori, harga energi yang rendah bagus untuk pertumbuhan ekonomi karena bisa mengalihkan konsumsi ke barang lain. Namun, menurut Moody’s, penurunan harga minyak akan gagal memberi dorongan signifikan pada pertumbuhan selama dua tahun ke depan.

Oilfield 2Moody’s mengatakan dorongan yang datang dari harga minyak murah akan tertutupi oleh krisis ekonomi di Eropa dan perlambatan di China, Jepang dan Rusia. Alhasil, lembaga rating itu tidak akan merevisi proyeksi pertumbuhan negara G-20. Untuk ekonomi G-20, diperkirakan PDB tumbuh di bawah 3% baik di 2015 maupun di 2016,” katanya.

Marie Diron, Wakil Presiden Moody’s, yang juga penulis laporan itu, mengatakan penurunan harga minyak seharusnya memberi dorongan yang besar untuk pertumbuhan global. Namun, beragam faktor akan menutupi dampak positif yang didapat dari harga energi murah. ”Di zona euro, penurunan harga minyak datang di saat iklim ekonomi yang tidak kondusif, yaitu tingkat pengangguran yang tinggi, inflasi rendah atau negatif, dan ketidakpastian politik,” ujarnya.

Sedangkan di China, harga minyak murah tidak akan dapat menghentikan perlambatan ekonomi yang berjalan perlahan tapi semakin terlihat. Akibat penurunan harga minyak yang tajam, Moody’s memperkirakan Rusia, yang merupakan negara produsen, akan terus resesi sampai 2017.

Menurut Moody’s, satu-satunya negara yang mendapat dorongan besar dari penurunan harga minyak adalah AS. Harga energi yang murah benar-benar dirasakan baik oleh konsumen maupun bisnis, yang dapat meningkatkan belanja.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/minyak-murah-belum-tentu-bagus-untuk-pertumbuhan/

Strategydesk – Saham Asia berakhir variatif hari ini akibat masalah bailout Yunani dan data inflasi China yang menimbulkan kekhawatiran akan ancaman perlambatan.

Asian stocks 2Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengatakan pemerintah tidak akan meminta perpanjangan program bailout dan berencana membatalkan program penghematan. Di China, Inflasi naik 0,8% selama Januari dari tahun lalu, terendah dalam lima tahun, mengindikasikan ekonomi sedang melambat.

Dj Jepang, indeks Nikkei berakhir di zona merah hari ini di tengah mencuatnya kekhawatiran soal Yunani, yang menolak memperpanjang program bailout. Tapi Nissan berhasil menarik minat beli dengan proyeksinya yang cerah. Indeks Nikkei ditutup melemah 0,3% ke 17.652,68.

Di Korsel, indeks Kospi juga tertekan oleh isu Yunani, yang menggerus. Kekisruhan soal program bailout-nya menimbulkan kecemasan akan keluarnya negara itu dari zona euro. Selain itu,  data inflasi China turut menekan sentimen. Dua saham unggulan, yaitu Samsung Electronics dan Hyundai Motor tergelincir. Indeks Kospi melemah 0,57% ke 1.935,86.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng berhasil menghapus kejatuhan dan berakhir flat hari ini, berkat penguatan saham China. Bursa sahm daratan terangkat oleh ekspektasi Beijing akan meluncurkan stimulus baru untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Menurut analis, data ekonomi buruk selama dua hari terakhir menambah prospek tambahan  stimulus moneter dari bank sentral. Indeks Hang Seng ditutup flat di 24.528,10.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/saham-asia-tertekan-yunani-data-china/

Strategydesk – ECB kemungkinan besar akan meluncurkan stimulus paling agresifnya demi mengentaskan deflasi dan menggairahkan pertumbuhan ekonomi, membuka lembaran baru dalam sejarah kebijakan moneternya.

ECB 2Para pejabatnya memang sudah memberi sinyalemen siap menerapkan langkah non konvensional bila diperlukan di tengah semakin rendahnya inflasi. Dengan suku bunga yang sudah amat rendah, sang presiden Mario Daghi memang mengindikasikan sudah hampir tidak punya ruang lagi melalui kebijakan konvensional.

Bisa dikatakan, ECB sudah hampir kehabisan amunisi untuk menjaga stabilitas harga. Satu-satunya opsi yang tersedia adalah program pembelian obligasi, atau Quantitative Easing (QE)  Pasar keuangan hampir yakin ECB akan mengumumkan program QE yang juga mencakup pembelian obligasi pemerintah.

Ada laporan yang menyebutkan ECB akan mengumumkan pembelian sebesar 50 miliar euro per bulan yang dimulai Maret nanti sampai akhir 2016. Tapi para pengamat mewaspadai kemungkinan jumlahnya lebih rendah. Mereka juga tidak yakin QE ini dapat menyelamatkan ekonomi zona euro.  Bagaimanapun, QE  merupakan bentuk gebrakan penting yang dapat menjaga kredibilitas ECB.

Dalam rangka menjaga dukungan rencana itu dalam internal ECB, para pengamat meyakini Draghi nantinya akan menuntut bank sentral nasional untuk mengambil alih risiko setiap pembelian obligasi yang dilakukan ECB. Konsesi ini akan mengurangi kritikan dari Jerman, yang selama ini menentang QE.

ECB memang terbilang tertinggal dalam menerapkan QE, karena bank sentral lainnya sudah menjalankannya lebih dulu. Berbeda dengan AS atau Jepang, zona euro terdiri dari berbagai negara dengan tingkat aset yang beragam. Ini yang mempersulit wacana QE. Selain itu, ada hambatan politik, di mana Jerman menentang pembelian obligasi karena khawatir harus menanggung sebagian besar bebannya.

http://www.strategydesk.co.id/2015/01/ecb-siap-cetak-sejarah-baru/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha