Search Results : ekonomi negara jepang

baruMorgan Stanley keluarkan laporan riset terbarunya. Laporan riset Morgan Stanley tersebut mengomentari mengenai rencana merger perusahaan-perusahaan minyak BUMN China yang sedang dikaji oleh pemerintah China.

Dalam laporan tersebut, Morgan Stanley menilai akan adanya potensi positip dari merger perusahaan-perusahaan BUMN China terhadap bisnis “down stream” minyak. Sehingga dengan demikian maka SINOPEC  Corp (386.HK) oleh Morgan Stanley di jadikan sebagai saham pilihan, walaupun PetroChina (857.HK) dan CNOOC (883.HK) juga akan menjadi perusahaan-perusahaan yang diuntungkan apabila merger tersebut jadi dilaksanakan.

Laporan riset Morgan Stanley tersebut di keluarkan setelah sebelumnya pada minggu lalu berkembang rumor akan adanya keputusan merger antara PetroChina dan Sinopec atau antara SNOOC dan Sinochem. Rumor tersebut belum mendapatkan tanggapan apapun dari pihak pemerintah China saat di konfirmasi.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/m-stanley-merger-perusahaan-minyak-akan-untungkan-bisnis-down-stream/

Strategydesk – Secara teori, harga energi yang rendah bagus untuk pertumbuhan ekonomi karena bisa mengalihkan konsumsi ke barang lain. Namun, menurut Moody’s, penurunan harga minyak akan gagal memberi dorongan signifikan pada pertumbuhan selama dua tahun ke depan.

Oilfield 2Moody’s mengatakan dorongan yang datang dari harga minyak murah akan tertutupi oleh krisis ekonomi di Eropa dan perlambatan di China, Jepang dan Rusia. Alhasil, lembaga rating itu tidak akan merevisi proyeksi pertumbuhan negara G-20. Untuk ekonomi G-20, diperkirakan PDB tumbuh di bawah 3% baik di 2015 maupun di 2016,” katanya.

Marie Diron, Wakil Presiden Moody’s, yang juga penulis laporan itu, mengatakan penurunan harga minyak seharusnya memberi dorongan yang besar untuk pertumbuhan global. Namun, beragam faktor akan menutupi dampak positif yang didapat dari harga energi murah. ”Di zona euro, penurunan harga minyak datang di saat iklim ekonomi yang tidak kondusif, yaitu tingkat pengangguran yang tinggi, inflasi rendah atau negatif, dan ketidakpastian politik,” ujarnya.

Sedangkan di China, harga minyak murah tidak akan dapat menghentikan perlambatan ekonomi yang berjalan perlahan tapi semakin terlihat. Akibat penurunan harga minyak yang tajam, Moody’s memperkirakan Rusia, yang merupakan negara produsen, akan terus resesi sampai 2017.

Menurut Moody’s, satu-satunya negara yang mendapat dorongan besar dari penurunan harga minyak adalah AS. Harga energi yang murah benar-benar dirasakan baik oleh konsumen maupun bisnis, yang dapat meningkatkan belanja.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/minyak-murah-belum-tentu-bagus-untuk-pertumbuhan/

Strategydesk – Saham Asia berakhir variatif hari ini akibat masalah bailout Yunani dan data inflasi China yang menimbulkan kekhawatiran akan ancaman perlambatan.

Asian stocks 2Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengatakan pemerintah tidak akan meminta perpanjangan program bailout dan berencana membatalkan program penghematan. Di China, Inflasi naik 0,8% selama Januari dari tahun lalu, terendah dalam lima tahun, mengindikasikan ekonomi sedang melambat.

Dj Jepang, indeks Nikkei berakhir di zona merah hari ini di tengah mencuatnya kekhawatiran soal Yunani, yang menolak memperpanjang program bailout. Tapi Nissan berhasil menarik minat beli dengan proyeksinya yang cerah. Indeks Nikkei ditutup melemah 0,3% ke 17.652,68.

Di Korsel, indeks Kospi juga tertekan oleh isu Yunani, yang menggerus. Kekisruhan soal program bailout-nya menimbulkan kecemasan akan keluarnya negara itu dari zona euro. Selain itu,  data inflasi China turut menekan sentimen. Dua saham unggulan, yaitu Samsung Electronics dan Hyundai Motor tergelincir. Indeks Kospi melemah 0,57% ke 1.935,86.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng berhasil menghapus kejatuhan dan berakhir flat hari ini, berkat penguatan saham China. Bursa sahm daratan terangkat oleh ekspektasi Beijing akan meluncurkan stimulus baru untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Menurut analis, data ekonomi buruk selama dua hari terakhir menambah prospek tambahan  stimulus moneter dari bank sentral. Indeks Hang Seng ditutup flat di 24.528,10.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/saham-asia-tertekan-yunani-data-china/

Strategydesk – ECB kemungkinan besar akan meluncurkan stimulus paling agresifnya demi mengentaskan deflasi dan menggairahkan pertumbuhan ekonomi, membuka lembaran baru dalam sejarah kebijakan moneternya.

ECB 2Para pejabatnya memang sudah memberi sinyalemen siap menerapkan langkah non konvensional bila diperlukan di tengah semakin rendahnya inflasi. Dengan suku bunga yang sudah amat rendah, sang presiden Mario Daghi memang mengindikasikan sudah hampir tidak punya ruang lagi melalui kebijakan konvensional.

Bisa dikatakan, ECB sudah hampir kehabisan amunisi untuk menjaga stabilitas harga. Satu-satunya opsi yang tersedia adalah program pembelian obligasi, atau Quantitative Easing (QE)  Pasar keuangan hampir yakin ECB akan mengumumkan program QE yang juga mencakup pembelian obligasi pemerintah.

Ada laporan yang menyebutkan ECB akan mengumumkan pembelian sebesar 50 miliar euro per bulan yang dimulai Maret nanti sampai akhir 2016. Tapi para pengamat mewaspadai kemungkinan jumlahnya lebih rendah. Mereka juga tidak yakin QE ini dapat menyelamatkan ekonomi zona euro.  Bagaimanapun, QE  merupakan bentuk gebrakan penting yang dapat menjaga kredibilitas ECB.

Dalam rangka menjaga dukungan rencana itu dalam internal ECB, para pengamat meyakini Draghi nantinya akan menuntut bank sentral nasional untuk mengambil alih risiko setiap pembelian obligasi yang dilakukan ECB. Konsesi ini akan mengurangi kritikan dari Jerman, yang selama ini menentang QE.

ECB memang terbilang tertinggal dalam menerapkan QE, karena bank sentral lainnya sudah menjalankannya lebih dulu. Berbeda dengan AS atau Jepang, zona euro terdiri dari berbagai negara dengan tingkat aset yang beragam. Ini yang mempersulit wacana QE. Selain itu, ada hambatan politik, di mana Jerman menentang pembelian obligasi karena khawatir harus menanggung sebagian besar bebannya.

http://www.strategydesk.co.id/2015/01/ecb-siap-cetak-sejarah-baru/

Strategydesk – ECB sudah berulang kali menegaskan siap melakukan kebijakan agresif kalau memang diperlukan, termasuk pembelian obligasi pemerintah atau Quantitative Easing (QE).
Draghi

Meski kondisi ekonomi terus memburuk yang membuat zona euro diambang resesi,  dan desakan semakin besar agar ada tindakan, sejauh ini ECB hanya mengulang kata-kata yang sama.  Dalam surat untuk anggota Parlemen Eropa, Presiden Mario Draghi menegaskan komitmen menerapkan kebijakan non konvensional.

Seperti yang pernah diterapkan di AS, dan kini masih dilakukan oleh Jepang, pada prinsipnya bank sentral mencetak uang yang digunakan untuk membeli obligasi, pemerintah atau swasta, supaya menambah likuiditas dalam sistem keuangan. Berlimpahnya likuiditas diharapkan dapat menekan bunga dan mendorong perkreditan, yang kemudian menggerakkan roda perekonomian.

The Fed beberapa kali melakukan QE, yaitu sampai tiga kali, berakhir pada Oktober lalu. Bila mengacu pada kinerja ekonomi AS, di mana tumbuh 5% di kuartal ketiga, QE yang membuat neraca the Fed mencapai $4 triliun itu sepertinya membuahkan hasil. Tidak sampai di sana, lapangan kerja tumbuh 200 ribu selama 10 bulan berturut-turut.

Pertanyaannya, kenapa baru sekarang ECB mau QE? Kalau memang ekonominya sudah sejak lama diterpa krisis, mengapa tidak dari dulu saja langkah itu ditempuh? Bahkan QE sempat diharamkan oleh pejabat ECB, karena dianggap tidak sesuai mandatnya. Kini para pejabatnya mulai terbuka soal itu, meski masih sebatas retorika.

Rupanya, salah satu hambatan utama bagi ECB untuk menerapkan kebijakan non konvensional itu, lebih bersifat politis. Jerman merupakan negara yang paling vokal menentang QE, karena dianggap bisa membuatnya tekor. Kanselir Jerman Angela Merkel dkk khawatir merekalah yang harus menanggung beban terbesar pembiayaan QE.

Hambatan lainnya adalah karakteristik zona euro yang berbeda dengan AS. Zona euro adalah blok mata uang yang terdiri dari beberapa negara. Meski menjalin kesatuan finansial dan moneter, pemerintah tetap berjalan sendiri-sendiri. Alhasil, mereka menerbitkan obligasi masing-masing, yang kualitasnya juga berbeda. Contohnya obligasi Jerman tentu lebih tinggi dibanding obligasi Yunani atau Portugal, dua negara yang dilanda krisis berat.

Dalam laporan Bloomberg Kamis lalu, ECB disebutkan punya beberapa alternatif stimulus, salah satunya membeli hingga 500 miliar euro aset berperingkat investment grade. Saham Eropa sering kali naik ketika ada berita soal QE dari ECB. Ada harapan ECB akan mengumumkannya pada 22 Januari nanti, tapi penantian yang berlarut-larut bisa menambah ketidakpastian.

Bisa terlihat apa yang terjadi pada saham AS ketika the Fed mengumumkan QE jilid ketiga pada 2012, dan menambahnya jadi $85 miliar per bulan pada Desember 2012. Begitu juga setelah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meluncurkan stimulus fiskal dan moneter besar yang dikenal dengan Abenomics.

Jadi, tidak mengherankan pasar dunia menunggu pengumumkan dari ECB dengan ekspektasi tinggi. Keputusan positif dari ECB pada 22 Januari nanti bisa berdampak sama seperti pengumuman stimulus di AS dan Jepang. Namun, rapat tanpa menghasilkan keputusan, dan hanya mengulang janji “bila diperlukan”, bisa menghancurkan karena pasar sudah kehilangan kesabaran.

http://www.strategydesk.co.id/2015/01/tarik-ulur-qe-ecb/

Strategydesk – Di saat banyak negara didera perlambatan dan kelesuan, ekonomi AS justru bangkit dari krisis dan siap memandu pertumbuhan global tahun depan.

US Economy 2Setelah didera Resesi Besar, ekonomi AS kini sudah pulih dan tumbuh pesat. Enam tahun setelah sistem finansialnya lumpuh, yang turut memicu krisis global 2009, AS diperkirakan tumbuh tahun depan dengan tingkat terpesat dalam satu dekade.  Selama kuartal ketiga 2014, PDB tumbuh 5%, tertinggi sejak 2003.

Ekonomi terbesar dunia itu diperkirakan tumbuh 3,1% tahun depan, menurut National Association for Busines Economics (NABE), lembaga kredibel yang mengukur performa ekonomi AS. Bila benar, maka itu merupakan pertumbuhan 3% pertama sejak 2005. Pertumbuhan pesat AS merupakan kunci ekonomi global bisa tumbuh sekitar 3% tahun depan, naik dari 2,5% tahun ini, menurut ekonom dari JPMorgan Chase dan IHS Global Insight.  Pertumbuhan global sangat bergantung pada asumsi ekonomi AS terus membaik.

Tapi kondisi tidaklah cerah di beberapa negara besar lainnya. Emerging markets, yang sempat menjadi primadona di saat AS dilanda krisis, tahun depan bakal merana. Brazil, Rusia, India dan China, atau yang disebut dengan BRIC, kemungkinan tahun depan tumbuh dalam tingkat terendah dalam enam tahun, menurut Oxford Economics. Penurunan harga minyak benar-benar menghantam Brazil dan Rusia. Sedangkan China melambat akibat transisi ekonomi dari orientasi ekspor dan investasi beralih ke konsumsi.

Di sisi lain, beberapa ekonomi negara maju masih suram tahun depan. Jepang, yang kembali diterpa resesi, dan Eropa, yang terancam deflasi, bisa tumbuh 1% saja sudah beruntung sekali. Sebagian pengamat berharap penurunan harga minyak bisa membantu ekonomi China, Jepang dan Eropa yang selama ini mengimpor. Selain itu, ada harapan ECB bersedia mengeluarkan stimulus dengan membeli obligasi pemerintah.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/ekonomi-as-pandu-global-di-2015/

Jakarta, Strategydesk – Rapat the Fed menjadi fokus pasar mata uang minggu ini, dengan isu utama prospek kenaikan suku bunga. Satu hal yang ingin diketahui apa yang akan disampaikan the Fed terkait prospek itu. Sebelum ke sana, perhatian pasar menuju data inflasi Inggris, yang dapat mempengaruhi persepsi pasar pada prospek kebijakan BOE. JPY 16-12-14

Performa ekonomi AS yang gemilang, mendukung pandangan the Fed bakal menjadi bank sentral negara maju pertama yang bisa menaikkan suku bunga. Dengan tingkat pertumbuhan lapangan kerja yang pesat, memperkuat harapan the Fed bakal menegaskan peluang kenaikan suku bunga di pertengahan tahun depan.

The Fed kemungkinan akan mengakui perkembangan ekonomi yang terlihat sejauh ini, seperti penciptaan lapangan kerja, aktivitas pembelanjaan konsumen atau  kondisi bisnis.. Kondisi ini diperkirakan banyak kalangan akan membuat the Fed menyesuaikan gaya bahasanya, dengan cenderung hawkish. The Fed diperkirakan bakal menghilangkan kalimat considerable time yang biasa digunakan untuk menggambarkan penerapan kebijakan akomodatif.

Namun, patut diwaspadai pandangan the Fed soal perlambatan global dan prospek inflasi. Ekonomi Eropa, Jepang dan China berpotensi menghambat pertumbuhan dunia. Dengan penurunan harga minyak yang tajam, berarti berkurangnya tekanan inflasi.  Situasi ini dapat menghalangi the Fed menyampaikan pernyataan soal opsi kenaikan suku bunga.

Untuk hari ini, pasar akan disuguhi data inflasi Inggris, yang diperkirakan semakin melambat. Inflasi tahunan selama Nopember diperkirakan melambat ke 1,2% dari 1,3%. Perlambatan inflasi bisa menambah keraguan BOE bisa menaikkan suku bunganya pertengahan  tahun depan. Di Eropa, ada data sentimen investor Jerman hasil survei ZEW, yang diperkirakan naik ke 20 di Desember dari 11,5 di Nopember.

EUR-USD
Masih bergerak di atas MA 25, EUR-USD rebound setelah jatuh kemarin. Pair ini berusaha menembus kejatuhan kemarin, peluang bullish terjaga bila berhasil ditutup di atas $1,2480. Bila akhirnya ditutup di bawah MA 25, pair ini terancam menuju ke $1,2360.

Rekomendasi harian
Dorongan buy masih bisa terjadi pada EUR-USD, dimana target buy di 1.2390 dengan target take profit 1.2451, dimana stop loss 1.2359. Buy break bisa dilakukan bila terjadi penembusan 1.2477 dengan target take profit 1.2522, dimana stop loss 1.2447.

Sementara itu, untuk sell ada 1.2527 dengan target take profit 1.2477, dimana stop loss 1.2557. Sedangkan posisi sell break bisa dilakukan di 1.2359 dengan peluang take profit di 1.2329 dan 1.2313, dimana stop loss ada penembusan kembali 1.2390.

USD-JPY
Semakin dalam kontraksi USD-JPY, kini melemah 0,2% ke 117,18. Menggunakan Fibonacci retracement, posisi pair ini sudah menembus 23,6% dari penguatan 15 Oktober-8 Desember, kini sedang menuju 38,2%. Penutupan di bawah 116,00 semakin memperbesar peluang ke sana.

Rekomendasi harian
Peluang buy USD-JPY di 116.02 dengan target take profit 116.79, dimana stop loss 115.72. Buy break-nya 117.96  dengan target take profit 118.35, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali ke 117.66.

Sedangkan posisi sell di area 118.47 dengan target take profit 117.97 dan 117.76, dimana stop loss 118.77. Sell break bila terjadi penembusan 116.97, dimana target take profit 116.40 dan 116.21 dengan area stop loss 117.27.

GBP-USD
Belum ada pergerakan besar pada GBP-USD setelah jatuh 0,4% kemarin. Bila jatuh ke bawah $1,5600, pair ini membentuk bearish continuation dengan target $1,5500. Ke atas, ada resistance di $1,5740, bila ditembus, pair ini mencoba bergerak ke $1,5800.

Rekomendasi harian
Pergerakan GBP-USD yang tertahan di resisten 1.5717, membuat GBP masih terus mencobanya. Bila terjadi penembusan area tersebut menjadi ruang untuk sell di 1.5747 dengan target take profit 1.5711 dan 1.5693, dimana stop loss 1.5777. Sedangkan sell break di 1.5594 dengan target take profit 1.5564 dan 1.5549, dimana stop loss bila ada pembalikan harga kembali ke 1.5629.

Buy 1.5533 dengan target take profit 1.5579, dimana stop loss 1.5503.

USD-CHF
Mengalami koreksi, USD-CHF sepertinya mulai menghapus penguatan kemarin. Masih bergerak di bawah MA 25, kondisi pair ini masih bearish. Penutupan di atas 0,9680 membuka peluang bullish dengan target selanjutnya di 0,9730-0,9750. Tapi bila terpuruk di bawah 0,9600, pair ini semakin bearish dengan target 0,9550.

Rekomendasi harian
Untuk USD-CHF buy 0.9597 dengan target take profit 0.9643, dimana stop loss 0.9567. Buy break 0.9658 dengan target take profit 0.9689 dan 0.9704, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali ke 0.9628.

Sell 0.9704 dengan target take profit 0.9666, dimana stop loss 0.9734. Sell break 0.9582 dengan target take profit 0.9567 dan 0.9552, dimana stop loss ada penembusan kembali 0.9613.

AUD-USD
Tak banyak gerak, AUD-USD masih terjebak dekat level terendah dalam 4 tahun. Diperdagangkan di $0,8222, pair ini sempat ke low $0,8200. Bila ditutup di bawah $0,8170, pair ini terancam menuju 0,8100-0,8050. Ke atas, kalaupun berhasil menembus resistance $0,8300, pair ini masih sulit melampaui $0,8400.

Rekomendasi harian
Area 0.8255 menjadi target sell untuk AUD-USD, dengan take profit 0.8209, dimana stop loss 0.8285. Sell break ada penembusan kembali 0.8209 dengan target take profit 0.8179 dan 0.8163 , dimana stop loss 0.8239.

Buy 0.8148 dengan target take profit 0.8194, dimana stop loss 0.8118.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/rekomendasi-forex-sesi-eropa-as-16-desember-2014/

Strategydesk – Kondisi ekonomi global beragam tahun ini, diwarnai dengan pesatnya pemulihan ekonomi AS yang berhasil menutupi perlambatan di Eropa, Jepang dan China. Selanjutnya, bagaimana prospek ekonomi di 2015?

Fundamental positif diperkirakan masih menyertai momentum perbaikan ekonomi global di 2015. Menurut proyeksi dari IHS, pertumbuhan global akan naik menjadi 3% dari estimasi 2,7% untuk tahun ini. Seperti dikutip oleh CNBC, berikut 10 prediksi ekonomi dari IHS

US Economy1.    Ekonomi AS masih unggul
Ekonomi terbesar dunia ini akan terus mengungguli negara maju lainnya, didukung oleh permintaan domestik, terutama pembelanjaan konsumen. Faktor yang mendukung pembelanjaan konsumen, yang merupakan 70% aktivitas ekonomi, masih positif, termasuk pertumbuhan lapangan kerja dan harga energi rendah. IHS memprediksikan ekonomi akan tumbuh antara 2,5% dan 3,0% tahun depan.

2.    Eropa masih memprihatinkan
Ekonomi Eropa masih berjuang dengan rendahnya lapangan kerja. Tapi kombinasi penurunan harga minyak, depresiasi euro dan perbaikan fiskal, dan kebijakan moneter akomodatif mungkin bisa membantu pertumbuhan. Menurut IHS, ekonomi blok mata uang itu akan tumbuh 1,4% di 2015, perkembangan dari 0,8% tahun ini.

3.    Jepang pulih dari resesi
Setelah resesi keempat dalam enam tahun, ekonomi Jepang akan bangkit di 2015, meski hanya sekitar 1%. Menurut IHS, pelonggaran dari BOJ dan stimulus pemerintah, ditambah dengan harga energi rendah akan membawa pertumbuhan kembali positif.

4.    China masih melambat
Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal kemungkinan belum cukup untuk mencegah pertumbuhan semakin melambat, dengan perkiraan HIS bisa menuju ke 6,5% tahun depan. Meski masih jauh di atas rata-rata negara dunia, tingkat pertumbuhan itu dianggap rendah dalam standar Beijing.

5.    Ekonomi Emerging Markets Variatif
Sebagian besar negara berkembang akan membaik di 2014, berkat harga minyak yang rndah, likuiditas global dan pertumbuhan di AS. Emerging market di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun khusus Rusia, ekonominya menderita karena sanksi, penurunan harga minyak dan arus modal keluar.

 

6.    Harga komoditas masih merosot
Minyak sudah anjlok 40% sejak musim panas lalu di tengah merosotnya permintaan dan berlimpahkan pasokan. Menurut HIS, China masih menjadi kunci permintaan, maksudnya bila ekonominya semakin melambat berarti harga terancam semakin turun. Lembaga itu memperkirakan harga komoditas akan turun 10% tahun depan.

7.    Ancaman disinflasi
Tekanan disinflasi lebih terlihat di negara maju, sebagai akibat penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi. Keculi di negara berkembang, seperti Rusia, yang nilai tukarnya anjlok, menyebabkan inflasi.

8.    The Fed yang pertama menaikkan suku bunga
The Fed, Bank of England (BOE) dan Bank of Canada (BOC) merupakan negara maju yang menaikkan suku bunganya di 2015. Tapi the Fed lebih dulu, dengan kemungkinan menaikkannya pada Juni.  Kemudian diikuti oleh BOE di Agustus dan BOE pada Oktober. Sebaliknya, ECB dan BOJ, PBOC justru melakukan pelonggaran lanjutan, melalui pemangkasan suku bunga atau menyediakan likuiditas melalui pembelian aset.

9.    Dollar masih raja
Dollar masih melanjutkan dominasinya yang didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga. Selain itu, antisipasi akan kemungkinan stimulus tambahan dari ECB dan BOE, berarti euro dan yen akan terus depresiasi di 2015. Menurut HIS, nilai tukar euro akan jatuh ke $1,15-1,20 pada musim gugur 2015, dengan dollar/yen diperdagangkan di kisaran 120-125.

10.    Berkurangnya risiko penurunan (downside risk)
Pemulihan ekonomi global selama ini terganggung oleh banyak kutukan, termasuk besarnya utang di sektor publik maupun swasta, yang memaksa banyak pemerintah dan perusahaan deleveraging. Tapi di beberapa negara masalah ini tidak lagi menghambat pertumbuhan, terutama di AS dan Inggris, tercermin dari angka PDB-nya.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/10-prediksi-ekonomi-2015-apa-saja/

Tanggal April 15, 2013 / 5:06 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – EUR/JPY terus melemah hari ini, sampai ke bawah level psikologis 128 menyusul serangkaian data ekonomi dunia yang buruk.

Mata uang Jepang itu, yang dianggap safe haven dan cenderung menguat ketika ada gejolak ekonomi global meski kini semakin likuid, terangkat oleh data PDB China yang mengecewakan. Ekonomi terbesar kedua dunia itu tumbuh 7,7% di kuartal pertama dari periode sama tahun lalu, di bawah periode sebelumnya 7,9% dan prediksi 8,0%. Data itu menyusul data penjualan ritel dan sentimen konsumen AS yang juga buruk.

Yen juga menguat karena laporan Departemen Keuangan AS yang menyebutkan pihaknya akan mengawasi kebijakan Jepang untuk memastikan mereka tidak mendevaluasi mata uang untuk mengangkat daya saing. Pernyataan eksplisit AS itu datang menjelang pertemuan G-20 Kamis nanti. Pasa mulai khawatir negara lain juga akan mengeluh atau mengkritik kebijakan moneter Jepang.

Pada jam 17:00 WIB, EUR/JPY diperdagangkan di 128,00, setelah sempat jatuh ke low di 127,53. Dengan itu, pair ini suda di bawah 23,6% retracement penguatan 4-11 April di 128,12. Bila ditutup di bawah itu akan mencoba bergerak ke 38,2% di 126,54, kalau lanjut,  menuju 50% di 125,00.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/eurjpy-ke-bawah-128.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/eurjpy-ke-bawah-128.html

Tanggal February 21, 2013 / 4:06 pm. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk

•     Emas adalah komoditas yang selalu menarik perhatian siapapun juga.  Menarik untuk dibicarakan, menarik untuk dibeli.
•     Karena kebutuhan untuk emas lebih kerena konsumsi, kebutuhan emas lebih di dorong oleh kondisi ekonomi Dunia dan (terutama) negara-negara utama konsumen emas.

Konsumsi emas terbesar dilakukan oleh  India dan China. Konsumsi emas dari kedua negara ini  dalam beberapa tahun terakhir ini melemah akibat menurunnya pertumbuhan ekonomi dari negara-negara tersebut.
•     Data dari Bank Dunia dan IMF menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2013 bakal lebih baik dari 2012.  Konsumsi dari emas diharapkan meningkat seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dunia.
•     Pertumbuhan ekonomi ini, membuat sebagian besar analis masih bullish terhadap harga emas.  Dari pantauan kami di Bloomberg, rata-rata harga konsensus untuk emas ada di level US$1822 dan akan tercapai pada 4Q2013.
•     Akan tetapi, untuk jangka pendek, harga emas terlihat terus menurun semenjak awal tahun.  Koreksi ini sepertinya disebabkan oleh berkurangnya demand akan emas dari produk ETF Emas.  Beberapa investor besar seperti Soros Fund Manageent dan Moore Capital bahkan dikabarkan mengurangi posisinya pada ETF berbasis emas.
•     Untuk trend jangka pendek, harga emas diperkirakan masih akan melakukan pengujian atas suport dari trend flat jangka menengah di kisaran US$1520 – US$1580 per troy ounces.  Posisi harga emas yang berada di kisaran suport jangka panjang ini membuat kami memberikan rekomendasi BELI untuk komoditas ini dengan potensi kenaikan hingga US$ 1750 – US$1810 untuk jangka panjang. Stoploss jika supor US$1500 gagal bertahan.

Emas : Daya tarik ‘kilauan’ yang tidak pernah pudar
Emas. Siapa yang tidak kenal komoditas
ini.  Wikipedia mendefinisikannya sebagai a dense, soft, shiny, malleable
and ductile metal. Logam yang padat,
lembut, mengkilat, mudah ditempa, dan ulet.  Wikipedia mungkin lupa bahwa warna kuning berkilau, serta nilainya yang selalu terasa ‘mahal’ pada jaman apapun juga, adalah daya tarik logam bagi ini bagi
semua orang. Terutama dalam millennium
ini, dimana harga emas, cenderung terus bergerak naik semenjak tahun 2000 silam. Harga emas yang di awal tahun 2000
hanya berada di level US$289 per troy ounce, pada tahun 2010 lalu sudah sempat mencapai level tertingi di US$1,921.27.  Banyak alasan yang telah
mendorong kenaikan harga emas tersebut. Mulia dari permintaan emas untuk dibuat perhisan, fungsinya sebagai safe heaven/asset class, lindung nilai terhadap inflasi, lindung nilai terhadap melemahnya mata uang, permintaan untuk investasi, supply yang terbatas, permintaan dari bank sentral, kebijakan Pemerintah China yang menyarankan warga negaranya untuk membeli emas.

Akan tetapi, harga emas tidak selamanya menguat. Sejak puncak harga emas yang terjadi pada tahun 2010 di US$1921.27 per troy ounce, harga emas terlihat selalu gagal dalam usahanya untuk kembali mendekati level psikologis US$2,000.  Sejak tahun 2010, harga emas terlihat hanya bergerak flat pada kisaran lebar US$1535—US$1790.  Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti krisis di Eropa dan perlambatan pertumbuhan dari China dan India yang merupakan konsumen terbesar dari Emas, serta masih banyak lagi faktor yang lain.

Di awal tahun 2013 ini, harga emas terihat masih cenderung merosot seiring dengan berkurangnya minat dari pelaku pasar terhadap ETF berbasis emas.  Dari Total of
Gold ETF, dapat kita lihat bahwa sejak awal tahun 2013 tidak terdapat lagi pembelian yang signifikan terhadap Gold ETF.  Berita terahir dari www.mineweb.com pada tanggal 15 Februari 2013 lalu menyebutkan bahkan Soros Fund Management dan Moore Capital telah melakukan penjualan atas ETF berbasis emas
pada jumlah yang signifikan selama 4Q2012.  Soros Fund Management adalah perusahaan yang dimiliki oleh
George Soros, sedangkan Moore Capital adalah perusahaan investasi milik milyarder Louis Moore Bacon.

Emas dalam Currency War
Currency war dikenal pula dengan nama persaingan devaluasi, yaitu kondisi suatu hubungan internasional dimana negara saling bersaing satu sama lain untuk merendahkan atau melemahkan nilai tukar mata uang mereka.  Pelemahan nilai tukar ini, tujuanya untuk menaikkan daya saing ekspor, sehingga ekonomi dari negara yang melakukan pelemahan mata uang, diharapkan bisa tumbuh. Currency war mulai didengungkan oleh menteri keuangan Brazil pada 27 September 2010. Isu ini kembali mencuat setelah Jepang dituding melakukan currency war untuk melemahkan mata uangnya. Untuk mengatasi deflasi, pemerintah baru Jepang Shinzo Abe menerapkan kebijakan stimulus secara agresif melalui BoJ. Hingga Januari 2013, Bank Sentral Jepang tersebut telah melakukan pembelian asset sebesar 101 triliun yen. Usaha pemerintah Jepang untuk mengatasi deflasi tersebut ternyata berdampak pada pelemahan yen, yang kemudian memicu protes negara lain karena kalah bersaing ekspor. Memanasnya isu currecy war ini kemudian dibawa dalam pertemuan G-20 minggu lalu. Dalam pertemuan tersebut Jepang akhirnya terbebas dari tudingan currency war terseut. Pada dasarnya, devaluasi mata uang yang tidak terkontrol dan terukur pada akhirnya bisa
memicu currency war.  Emas cenderung bergerak naik dengan adanya currency war ini. Rendahnya nilai tukar mata uang membuat investor melirik emas sebagai investasi alternatif. Ketika bank-bank sentral mendevaluasi mata uangnya dengan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah, maka nilai tukar mata uang tersebut akan jatuh. Untuk itu, investor akan  mencari investasi alternatif, salah satunya emas.

Membaiknya prospek Pertumbuhan Ekonomi Dunia di tahun 2013 membuat harga emas masih bakal terus meningkat
Permintaan akan emas untuk perhiasan, sangat di tentukan oleh pertumbuhan ekonomi dunia, terutama dari dua negara  terbesar konsumen emas, yaitu China dan India.  Data dari Bank Dunia yang dipublikasikan oleh
Bank Dunia pada bulan Januari 2013 kemarin menunjukkan bahwa secara rata-rata ekonomi dunia masih bakal tumbuh 2,4 persen pada tahun 2013 dan 3,2 persen untuk tahun 2014. Data dari IMF yang dipublikasikan sebelumnya pada bulan Oktober 2012 juga menunjukkan bahwa ekonomi China dan India yang pada tahun 2012 hanya tumbuh 7,8 persen dan 4,9 persen, masing-masing masih akan tumbuh  8,2 persen dan 6,2 persen di tahun 2013. Artinya: pertumbuhan ekonomi Dunia untuk tahun 2013 dan 2014 diperkirakan masih akan terus membaik.  Dan, kondisi perekonomian dunia di tahun 2013, bakal lebih baik dibandingkan dengan 2012.
Membaiknya kondisi perekonomian dunia, dan terutama kedua negara konsumen emas terbesar ini, membuat konsensus analis yang kami pantau dari Bloomberg terlihat masih tetap bullish terhadap outlook harga emas di tahun 2013 ini.  Dari 26 analis yang dipantau oleh Bloomberg, rata-rata masih memprediksikan harga emas bakal berada di level US$1734 untuk 1Q2013, US$1774 untuk 2Q2013, US$1799 untuk 3Q2013 dan US$1822 untuk 4Q2014.  Rata-rata analis masih memprediksikan bahwa harga emas masih bisa mencapai lebih dari US$1800 untuk tahun 2013 ini.

Technically Speaking :
Saatnya mencari peluang ketika harga di kisaran suport

Setelah bergerak turun dari rekor tertinggi US$1921,17 per troy ounces yang tercatat pada tanggal 9 Juni 2011, trend jangka panjang untuk harga emas adalah sebuah trend mendatar (flat) pada sebuah kisaran yang lebar, diantara suport di 1535 dan resisten di 1790. Setidaknya, sudah tiga kali harga emas mencoba melakukan penembusan atas kisran suport dan resisten tersebut, tapi terlihat gagal untuk dilakukan.  Usaha penembusan resisten pernah dilakukan pada bulan November 2011, Februari 2012, dan Oktober 2012.  Disisi lain, suport di level 1535 telah menahan penurunan harga di bulan
September 2011, Desember 2011, dan Mei – Juni 2012.

Gambar di bawah ini juga menunjukkan trend jangka menengah dari komoditas ini berupa trend turun. Sejauh ini, suport dari trend jangka panjang di 1535 diperkirakan bakal menahan potensi koreksi lanjutan dari trend jangka menengah ini.

Untuk jangka pendek, pergerakan harga emas terlihat tengah mengalami perubahan trend, dari sebuah trend flat yang terjadi pada periode Desember 2012 – Februari
2013, menjadi trend turun yang cukup dahsyat.  Dengan
kisaran flat diantara suport 1635 dan resisten di 1695, penembusan atas suport di 1635 bakal membuka potensi koreksi menuju kisaran 1575 – 1585.  Pada hari Jumat, 15 Februari 2013 kemarin, level ini sudah hampir tercapai.  Kisaran suport tersebut diperkirakan bakal tercapai pada minggu ketiga di bulan Februari ini.

Rekomendasi Strategi :
Dalam sebuah trend flat, strategi yang bisa dilakukan oleh seorang trader adalah melakukan posisi beli ketika harga memasuki kisaran suport, dan melakukan posisi jual ketika harga memasuki kisaran resisten.  Dengan adanya trend jangka panjang dari emas yang merupakan trend flat, posisi beli bisa dilakukan ketika harga mencapai kisaran 1520 – 1580, yang merupakan kisaran suport, dan posisi jual bisa dilakukan ketika harga berada di kisaran 1750 – 1810, yang merupakan kisaran resisten.  Adanya potensi koreksi dari trend turun jangka pendek dari komoditas ini, memberikan pemodal kesempatan untuk melakukan akumulasi ketika harga berada dekat di kisaran suport, 1520 – 1580.

Pembatasan resiko :
Ketika melakukan pembasan arah pergerakan harga emas untuk trend jangka pendek, kita bisa melihat bahwa dalam sebuah trend harga yang flat, jika suport dar kisaran flat itu ditembus, maka potensi koreksi yang ada adalah sebesar lebar dari trend yang terjadi sebelumnya.  Trend flat kisaran 1635 – 1695, ketika suport di 1635 ditembus, berarti potensi koreksinya adalah sebesar US$60 jika dihitung dari suport 1635, atau 1635 – 60 = 1575. Jika anda melakukan posisi beli pada kisaran 1520 – 1580, posisi stoploss sebaiknya dilakukan jika suport psikologis 1500 gagal bertahan karena potensi koreksi penembusan atas suport ini, bisa mencapai kisaran US$1250 – US$1300.

 

 

Disclaimer :
Informasi yang terkandung dalam laporan ini telah disusun dari sumber-sumber yang menurut kami terbaik dan dapat diandalkan.  Website www.strategydesk.co.id dan/atau perusahaan afiliasinya dan/atau masing-masing karyawan dan/atau agen penjual tidak menjamin keakurasian dan kelengkapan informasi. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil dari transaksi yang dilakukan dengan berdasarkan atas informasi yang ada pada laporan ini. Semua pendapat, prediksi, perkiraan, dan proyeksi yang ada pada laporan ini adalah merupakan pendapat terbaik yang kami buat, berdasarkan informasi yang kami miliki, pada tanggal laporan ini dibuat, dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan tidak mengikat.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/summary-for-gold.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/summary-for-gold.html

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha