Search Results : ekonomi negara jepang

Strategydesk – Akibat perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas, bank sentral di kawasan Asia akan terus terpaksa untuk melonggarkan kebijakan demi mendorong pertumbuhan dan inflasi, menurut para analis.

interest-rate-cut“Bila kondisi permintaan eksternal tetap lesu, maka semakin besar urgensi untuk bertindak mencegah ancaman deflasi dan mendorong permintaan domestik,” kata ekonom Morgan Stanley Asia Derrick Kam kepada CNBC lewat surel. “Kami memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut ke depan,” ujarnya.

Ekspor merupakan urat nadi ekonomi Asia namun pertumbuhan melambat akhir-akhir ini. Dalam catatan yang dipublikasikan kemarin, Morgan Stanley mensurvei  delapan negara, China, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Korsel, Taiwan dan Thailand, dan menemukan bahwa ekspor hanya tumbuh rata-rata 3,8% selama 2012-2015, rendah sekali dibandingkan 12,8% antara 1992 dan 2007.

Dalam rangka mendorong pembelanjaan konsumen dan bisnis dan menutupi dampak penurunan ekspor, bank sentral India memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Bulan lalu, Indonesia dan China memangkas suku bunga sebesar 25 bps. Kemarin, bank sentral Thailand ikut melonggarkan kebijakan moneternya, memangkas rate 25 bps ke 1,75%. Hari ini, bank sentral Korsel (BOK) memotong rate 25 bps ke 1,75%.

Bank sentral Asia diperkirakan bakal melonggarkan kebijakan beberapa kali karena perlambatan ekonomi global yang mengurangi permintaan. Memang ekonomi AS tumbuh pesat akhir-akhir ini, namun para analis memandang hal itu tidak mampu menutupi kelesuan permintaan di Jepang dan Eropa. ”Disinflasi dan kejutan dovish oleh bank sentral masih berlanjut di Asia,” kata Credit Suisse.

Salah satu pejabat bank sentral China tidak menutup kemungkinan melonggarkan kebijakannya lagi bila inflasi semakin turun. Qian Yingyi, anggota komite PBOC mengatakan pihaknya bisa saja memangkas suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM) bila inflasi turun ke bawah 1%.

http://www.strategydesk.co.id/2015/03/pelonggaran-kebijakan-di-asia-bakal-berlanjut/

Strategydesk – Akibat perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas, bank sentral di kawasan Asia akan terus terpaksa untuk melonggarkan kebijakan demi mendorong pertumbuhan dan inflasi, menurut para analis.

interest-rate-cut“Bila kondisi permintaan eksternal tetap lesu, maka semakin besar urgensi untuk bertindak mencegah ancaman deflasi dan mendorong permintaan domestik,” kata ekonom Morgan Stanley Asia Derrick Kam kepada CNBC lewat surel. “Kami memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut ke depan,” ujarnya.

Ekspor merupakan urat nadi ekonomi Asia namun pertumbuhan melambat akhir-akhir ini. Dalam catatan yang dipublikasikan kemarin, Morgan Stanley mensurvei  delapan negara, China, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Korsel, Taiwan dan Thailand, dan menemukan bahwa ekspor hanya tumbuh rata-rata 3,8% selama 2012-2015, rendah sekali dibandingkan 12,8% antara 1992 dan 2007.

Dalam rangka mendorong pembelanjaan konsumen dan bisnis dan menutupi dampak penurunan ekspor, bank sentral India memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Bulan lalu, Indonesia dan China memangkas suku bunga sebesar 25 bps. Kemarin, bank sentral Thailand ikut melonggarkan kebijakan moneternya, memangkas rate 25 bps ke 1,75%. Hari ini, bank sentral Korsel (BOK) memotong rate 25 bps ke 1,75%.

Bank sentral Asia diperkirakan bakal melonggarkan kebijakan beberapa kali karena perlambatan ekonomi global yang mengurangi permintaan. Memang ekonomi AS tumbuh pesat akhir-akhir ini, namun para analis memandang hal itu tidak mampu menutupi kelesuan permintaan di Jepang dan Eropa. ”Disinflasi dan kejutan dovish oleh bank sentral masih berlanjut di Asia,” kata Credit Suisse.

Salah satu pejabat bank sentral China tidak menutup kemungkinan melonggarkan kebijakannya lagi bila inflasi semakin turun. Qian Yingyi, anggota komite PBOC mengatakan pihaknya bisa saja memangkas suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM) bila inflasi turun ke bawah 1%.

http://www.strategydesk.co.id/2015/03/pelonggaran-kebijakan-di-asia-bakal-berlanjut/

Strategydesk – Ekonomi global, yang sempat ditakutkan bakal semakin lesu tahun ini, mulai terlihat membaik dengan dukungan minyak murah dan bunga rendah.

Itulah pandangan optimis para ekonom dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Associated Press. Dalam survei itu, mereka tidak lagi melihat krisis finansial Eropa, sektor perumahan AS dan  kebuntuan kongres sebagai ancaman seperti tahun lalu. AP melakukan survei terhadap hampir tiga lusin perusahaan dan ekonom selama periode 19-25 Februari. Sebagian besar dari mereka mengatakan ekonomi Eropa dan Jepang akan diuntungkan oleh penurunan harga energi dan kebijakan moneter akomodatif.

” Ekonomi AS semakin bagus, dan kita mendapat banyak berita positif dari Eropa,” kata Nariman Behravesh, ekonom utama di IHS Global Insight. Menurutnya, ekonomi global mulai bangkit. Konsumen AS dianggap sebagai mesin penggerak, berkat penurunan harga BBM, pertumbuhan lapangan kerja yang pesat dan kenaikan upah. Pembelanjaan mereka diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan tahun ini, baik AS maupun global. Behravesh memproyeksikan peningkatan pembelanjaan di AS dapat membantu pertumbuhan gloobal.

Menurutnya pembelanjaan kolektif AS lebih besar dari ekonomi negara manapun. Peningkatan belanja ini tidak lepas dari penyerapan tenaga kerja AS yang tinggi. Selama tiga bulan terakhir, sebanyak 1 juta lapangan kerja baru tercipta. Selain itu, lebih dari 3,2 juta orang mendapat kenaikan upah bulan lalu.

Prospek yang lebih cerah ini dipandang sebagai titik balik dari awal tahun lalu, ketika ekonomi global dibayangi oleh konflik Ukraina, munculnya kelompok teroris ISIS. Keengganan ECB mengeluarkan stimulus turut menghambat pertumbuhan di Eropa.

Para ekonom memang tidak menampik adanya perlambatan ekonomi di China, yang  berdampak pada negara eksportir mulai dari Amerika Selatan sampai Australia. Namun mereka optimis China bisa menghindari hard landing. Dengan pemangkasan suku bunga dua kali berturut-turut dalam tiga bulan terakhir oleh bank sentralnya, diharapkan dapat menjaga pertumbuhan.

Di Eropa, Data minggu lalu menunjukkan optimisme mengenai prospek ekonomi. Penjualan ritel di zona euro selama Januari mengalami pertumbuhan terpesat dalam 1,5 tahun. Laporan terpisah dari Markit Economis menunjukkan aktivitas bisnis mencatat pertumbuhan terpesar dalam tujuh bulan.

http://www.strategydesk.co.id/2015/03/prospek-ekonomi-global-mulai-membaik/

baruMorgan Stanley keluarkan laporan riset terbarunya. Laporan riset Morgan Stanley tersebut mengomentari mengenai rencana merger perusahaan-perusahaan minyak BUMN China yang sedang dikaji oleh pemerintah China.

Dalam laporan tersebut, Morgan Stanley menilai akan adanya potensi positip dari merger perusahaan-perusahaan BUMN China terhadap bisnis “down stream” minyak. Sehingga dengan demikian maka SINOPEC  Corp (386.HK) oleh Morgan Stanley di jadikan sebagai saham pilihan, walaupun PetroChina (857.HK) dan CNOOC (883.HK) juga akan menjadi perusahaan-perusahaan yang diuntungkan apabila merger tersebut jadi dilaksanakan.

Laporan riset Morgan Stanley tersebut di keluarkan setelah sebelumnya pada minggu lalu berkembang rumor akan adanya keputusan merger antara PetroChina dan Sinopec atau antara SNOOC dan Sinochem. Rumor tersebut belum mendapatkan tanggapan apapun dari pihak pemerintah China saat di konfirmasi.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/m-stanley-merger-perusahaan-minyak-akan-untungkan-bisnis-down-stream/

Strategydesk – Secara teori, harga energi yang rendah bagus untuk pertumbuhan ekonomi karena bisa mengalihkan konsumsi ke barang lain. Namun, menurut Moody’s, penurunan harga minyak akan gagal memberi dorongan signifikan pada pertumbuhan selama dua tahun ke depan.

Oilfield 2Moody’s mengatakan dorongan yang datang dari harga minyak murah akan tertutupi oleh krisis ekonomi di Eropa dan perlambatan di China, Jepang dan Rusia. Alhasil, lembaga rating itu tidak akan merevisi proyeksi pertumbuhan negara G-20. Untuk ekonomi G-20, diperkirakan PDB tumbuh di bawah 3% baik di 2015 maupun di 2016,” katanya.

Marie Diron, Wakil Presiden Moody’s, yang juga penulis laporan itu, mengatakan penurunan harga minyak seharusnya memberi dorongan yang besar untuk pertumbuhan global. Namun, beragam faktor akan menutupi dampak positif yang didapat dari harga energi murah. ”Di zona euro, penurunan harga minyak datang di saat iklim ekonomi yang tidak kondusif, yaitu tingkat pengangguran yang tinggi, inflasi rendah atau negatif, dan ketidakpastian politik,” ujarnya.

Sedangkan di China, harga minyak murah tidak akan dapat menghentikan perlambatan ekonomi yang berjalan perlahan tapi semakin terlihat. Akibat penurunan harga minyak yang tajam, Moody’s memperkirakan Rusia, yang merupakan negara produsen, akan terus resesi sampai 2017.

Menurut Moody’s, satu-satunya negara yang mendapat dorongan besar dari penurunan harga minyak adalah AS. Harga energi yang murah benar-benar dirasakan baik oleh konsumen maupun bisnis, yang dapat meningkatkan belanja.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/minyak-murah-belum-tentu-bagus-untuk-pertumbuhan/

Strategydesk – Saham Asia berakhir variatif hari ini akibat masalah bailout Yunani dan data inflasi China yang menimbulkan kekhawatiran akan ancaman perlambatan.

Asian stocks 2Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengatakan pemerintah tidak akan meminta perpanjangan program bailout dan berencana membatalkan program penghematan. Di China, Inflasi naik 0,8% selama Januari dari tahun lalu, terendah dalam lima tahun, mengindikasikan ekonomi sedang melambat.

Dj Jepang, indeks Nikkei berakhir di zona merah hari ini di tengah mencuatnya kekhawatiran soal Yunani, yang menolak memperpanjang program bailout. Tapi Nissan berhasil menarik minat beli dengan proyeksinya yang cerah. Indeks Nikkei ditutup melemah 0,3% ke 17.652,68.

Di Korsel, indeks Kospi juga tertekan oleh isu Yunani, yang menggerus. Kekisruhan soal program bailout-nya menimbulkan kecemasan akan keluarnya negara itu dari zona euro. Selain itu,  data inflasi China turut menekan sentimen. Dua saham unggulan, yaitu Samsung Electronics dan Hyundai Motor tergelincir. Indeks Kospi melemah 0,57% ke 1.935,86.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng berhasil menghapus kejatuhan dan berakhir flat hari ini, berkat penguatan saham China. Bursa sahm daratan terangkat oleh ekspektasi Beijing akan meluncurkan stimulus baru untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Menurut analis, data ekonomi buruk selama dua hari terakhir menambah prospek tambahan  stimulus moneter dari bank sentral. Indeks Hang Seng ditutup flat di 24.528,10.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/saham-asia-tertekan-yunani-data-china/

Strategydesk – ECB kemungkinan besar akan meluncurkan stimulus paling agresifnya demi mengentaskan deflasi dan menggairahkan pertumbuhan ekonomi, membuka lembaran baru dalam sejarah kebijakan moneternya.

ECB 2Para pejabatnya memang sudah memberi sinyalemen siap menerapkan langkah non konvensional bila diperlukan di tengah semakin rendahnya inflasi. Dengan suku bunga yang sudah amat rendah, sang presiden Mario Daghi memang mengindikasikan sudah hampir tidak punya ruang lagi melalui kebijakan konvensional.

Bisa dikatakan, ECB sudah hampir kehabisan amunisi untuk menjaga stabilitas harga. Satu-satunya opsi yang tersedia adalah program pembelian obligasi, atau Quantitative Easing (QE)  Pasar keuangan hampir yakin ECB akan mengumumkan program QE yang juga mencakup pembelian obligasi pemerintah.

Ada laporan yang menyebutkan ECB akan mengumumkan pembelian sebesar 50 miliar euro per bulan yang dimulai Maret nanti sampai akhir 2016. Tapi para pengamat mewaspadai kemungkinan jumlahnya lebih rendah. Mereka juga tidak yakin QE ini dapat menyelamatkan ekonomi zona euro.  Bagaimanapun, QE  merupakan bentuk gebrakan penting yang dapat menjaga kredibilitas ECB.

Dalam rangka menjaga dukungan rencana itu dalam internal ECB, para pengamat meyakini Draghi nantinya akan menuntut bank sentral nasional untuk mengambil alih risiko setiap pembelian obligasi yang dilakukan ECB. Konsesi ini akan mengurangi kritikan dari Jerman, yang selama ini menentang QE.

ECB memang terbilang tertinggal dalam menerapkan QE, karena bank sentral lainnya sudah menjalankannya lebih dulu. Berbeda dengan AS atau Jepang, zona euro terdiri dari berbagai negara dengan tingkat aset yang beragam. Ini yang mempersulit wacana QE. Selain itu, ada hambatan politik, di mana Jerman menentang pembelian obligasi karena khawatir harus menanggung sebagian besar bebannya.

http://www.strategydesk.co.id/2015/01/ecb-siap-cetak-sejarah-baru/

Strategydesk – ECB sudah berulang kali menegaskan siap melakukan kebijakan agresif kalau memang diperlukan, termasuk pembelian obligasi pemerintah atau Quantitative Easing (QE).
Draghi

Meski kondisi ekonomi terus memburuk yang membuat zona euro diambang resesi,  dan desakan semakin besar agar ada tindakan, sejauh ini ECB hanya mengulang kata-kata yang sama.  Dalam surat untuk anggota Parlemen Eropa, Presiden Mario Draghi menegaskan komitmen menerapkan kebijakan non konvensional.

Seperti yang pernah diterapkan di AS, dan kini masih dilakukan oleh Jepang, pada prinsipnya bank sentral mencetak uang yang digunakan untuk membeli obligasi, pemerintah atau swasta, supaya menambah likuiditas dalam sistem keuangan. Berlimpahnya likuiditas diharapkan dapat menekan bunga dan mendorong perkreditan, yang kemudian menggerakkan roda perekonomian.

The Fed beberapa kali melakukan QE, yaitu sampai tiga kali, berakhir pada Oktober lalu. Bila mengacu pada kinerja ekonomi AS, di mana tumbuh 5% di kuartal ketiga, QE yang membuat neraca the Fed mencapai $4 triliun itu sepertinya membuahkan hasil. Tidak sampai di sana, lapangan kerja tumbuh 200 ribu selama 10 bulan berturut-turut.

Pertanyaannya, kenapa baru sekarang ECB mau QE? Kalau memang ekonominya sudah sejak lama diterpa krisis, mengapa tidak dari dulu saja langkah itu ditempuh? Bahkan QE sempat diharamkan oleh pejabat ECB, karena dianggap tidak sesuai mandatnya. Kini para pejabatnya mulai terbuka soal itu, meski masih sebatas retorika.

Rupanya, salah satu hambatan utama bagi ECB untuk menerapkan kebijakan non konvensional itu, lebih bersifat politis. Jerman merupakan negara yang paling vokal menentang QE, karena dianggap bisa membuatnya tekor. Kanselir Jerman Angela Merkel dkk khawatir merekalah yang harus menanggung beban terbesar pembiayaan QE.

Hambatan lainnya adalah karakteristik zona euro yang berbeda dengan AS. Zona euro adalah blok mata uang yang terdiri dari beberapa negara. Meski menjalin kesatuan finansial dan moneter, pemerintah tetap berjalan sendiri-sendiri. Alhasil, mereka menerbitkan obligasi masing-masing, yang kualitasnya juga berbeda. Contohnya obligasi Jerman tentu lebih tinggi dibanding obligasi Yunani atau Portugal, dua negara yang dilanda krisis berat.

Dalam laporan Bloomberg Kamis lalu, ECB disebutkan punya beberapa alternatif stimulus, salah satunya membeli hingga 500 miliar euro aset berperingkat investment grade. Saham Eropa sering kali naik ketika ada berita soal QE dari ECB. Ada harapan ECB akan mengumumkannya pada 22 Januari nanti, tapi penantian yang berlarut-larut bisa menambah ketidakpastian.

Bisa terlihat apa yang terjadi pada saham AS ketika the Fed mengumumkan QE jilid ketiga pada 2012, dan menambahnya jadi $85 miliar per bulan pada Desember 2012. Begitu juga setelah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe meluncurkan stimulus fiskal dan moneter besar yang dikenal dengan Abenomics.

Jadi, tidak mengherankan pasar dunia menunggu pengumumkan dari ECB dengan ekspektasi tinggi. Keputusan positif dari ECB pada 22 Januari nanti bisa berdampak sama seperti pengumuman stimulus di AS dan Jepang. Namun, rapat tanpa menghasilkan keputusan, dan hanya mengulang janji “bila diperlukan”, bisa menghancurkan karena pasar sudah kehilangan kesabaran.

http://www.strategydesk.co.id/2015/01/tarik-ulur-qe-ecb/

Strategydesk – Di saat banyak negara didera perlambatan dan kelesuan, ekonomi AS justru bangkit dari krisis dan siap memandu pertumbuhan global tahun depan.

US Economy 2Setelah didera Resesi Besar, ekonomi AS kini sudah pulih dan tumbuh pesat. Enam tahun setelah sistem finansialnya lumpuh, yang turut memicu krisis global 2009, AS diperkirakan tumbuh tahun depan dengan tingkat terpesat dalam satu dekade.  Selama kuartal ketiga 2014, PDB tumbuh 5%, tertinggi sejak 2003.

Ekonomi terbesar dunia itu diperkirakan tumbuh 3,1% tahun depan, menurut National Association for Busines Economics (NABE), lembaga kredibel yang mengukur performa ekonomi AS. Bila benar, maka itu merupakan pertumbuhan 3% pertama sejak 2005. Pertumbuhan pesat AS merupakan kunci ekonomi global bisa tumbuh sekitar 3% tahun depan, naik dari 2,5% tahun ini, menurut ekonom dari JPMorgan Chase dan IHS Global Insight.  Pertumbuhan global sangat bergantung pada asumsi ekonomi AS terus membaik.

Tapi kondisi tidaklah cerah di beberapa negara besar lainnya. Emerging markets, yang sempat menjadi primadona di saat AS dilanda krisis, tahun depan bakal merana. Brazil, Rusia, India dan China, atau yang disebut dengan BRIC, kemungkinan tahun depan tumbuh dalam tingkat terendah dalam enam tahun, menurut Oxford Economics. Penurunan harga minyak benar-benar menghantam Brazil dan Rusia. Sedangkan China melambat akibat transisi ekonomi dari orientasi ekspor dan investasi beralih ke konsumsi.

Di sisi lain, beberapa ekonomi negara maju masih suram tahun depan. Jepang, yang kembali diterpa resesi, dan Eropa, yang terancam deflasi, bisa tumbuh 1% saja sudah beruntung sekali. Sebagian pengamat berharap penurunan harga minyak bisa membantu ekonomi China, Jepang dan Eropa yang selama ini mengimpor. Selain itu, ada harapan ECB bersedia mengeluarkan stimulus dengan membeli obligasi pemerintah.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/ekonomi-as-pandu-global-di-2015/

Jakarta, Strategydesk – Rapat the Fed menjadi fokus pasar mata uang minggu ini, dengan isu utama prospek kenaikan suku bunga. Satu hal yang ingin diketahui apa yang akan disampaikan the Fed terkait prospek itu. Sebelum ke sana, perhatian pasar menuju data inflasi Inggris, yang dapat mempengaruhi persepsi pasar pada prospek kebijakan BOE. JPY 16-12-14

Performa ekonomi AS yang gemilang, mendukung pandangan the Fed bakal menjadi bank sentral negara maju pertama yang bisa menaikkan suku bunga. Dengan tingkat pertumbuhan lapangan kerja yang pesat, memperkuat harapan the Fed bakal menegaskan peluang kenaikan suku bunga di pertengahan tahun depan.

The Fed kemungkinan akan mengakui perkembangan ekonomi yang terlihat sejauh ini, seperti penciptaan lapangan kerja, aktivitas pembelanjaan konsumen atau  kondisi bisnis.. Kondisi ini diperkirakan banyak kalangan akan membuat the Fed menyesuaikan gaya bahasanya, dengan cenderung hawkish. The Fed diperkirakan bakal menghilangkan kalimat considerable time yang biasa digunakan untuk menggambarkan penerapan kebijakan akomodatif.

Namun, patut diwaspadai pandangan the Fed soal perlambatan global dan prospek inflasi. Ekonomi Eropa, Jepang dan China berpotensi menghambat pertumbuhan dunia. Dengan penurunan harga minyak yang tajam, berarti berkurangnya tekanan inflasi.  Situasi ini dapat menghalangi the Fed menyampaikan pernyataan soal opsi kenaikan suku bunga.

Untuk hari ini, pasar akan disuguhi data inflasi Inggris, yang diperkirakan semakin melambat. Inflasi tahunan selama Nopember diperkirakan melambat ke 1,2% dari 1,3%. Perlambatan inflasi bisa menambah keraguan BOE bisa menaikkan suku bunganya pertengahan  tahun depan. Di Eropa, ada data sentimen investor Jerman hasil survei ZEW, yang diperkirakan naik ke 20 di Desember dari 11,5 di Nopember.

EUR-USD
Masih bergerak di atas MA 25, EUR-USD rebound setelah jatuh kemarin. Pair ini berusaha menembus kejatuhan kemarin, peluang bullish terjaga bila berhasil ditutup di atas $1,2480. Bila akhirnya ditutup di bawah MA 25, pair ini terancam menuju ke $1,2360.

Rekomendasi harian
Dorongan buy masih bisa terjadi pada EUR-USD, dimana target buy di 1.2390 dengan target take profit 1.2451, dimana stop loss 1.2359. Buy break bisa dilakukan bila terjadi penembusan 1.2477 dengan target take profit 1.2522, dimana stop loss 1.2447.

Sementara itu, untuk sell ada 1.2527 dengan target take profit 1.2477, dimana stop loss 1.2557. Sedangkan posisi sell break bisa dilakukan di 1.2359 dengan peluang take profit di 1.2329 dan 1.2313, dimana stop loss ada penembusan kembali 1.2390.

USD-JPY
Semakin dalam kontraksi USD-JPY, kini melemah 0,2% ke 117,18. Menggunakan Fibonacci retracement, posisi pair ini sudah menembus 23,6% dari penguatan 15 Oktober-8 Desember, kini sedang menuju 38,2%. Penutupan di bawah 116,00 semakin memperbesar peluang ke sana.

Rekomendasi harian
Peluang buy USD-JPY di 116.02 dengan target take profit 116.79, dimana stop loss 115.72. Buy break-nya 117.96  dengan target take profit 118.35, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali ke 117.66.

Sedangkan posisi sell di area 118.47 dengan target take profit 117.97 dan 117.76, dimana stop loss 118.77. Sell break bila terjadi penembusan 116.97, dimana target take profit 116.40 dan 116.21 dengan area stop loss 117.27.

GBP-USD
Belum ada pergerakan besar pada GBP-USD setelah jatuh 0,4% kemarin. Bila jatuh ke bawah $1,5600, pair ini membentuk bearish continuation dengan target $1,5500. Ke atas, ada resistance di $1,5740, bila ditembus, pair ini mencoba bergerak ke $1,5800.

Rekomendasi harian
Pergerakan GBP-USD yang tertahan di resisten 1.5717, membuat GBP masih terus mencobanya. Bila terjadi penembusan area tersebut menjadi ruang untuk sell di 1.5747 dengan target take profit 1.5711 dan 1.5693, dimana stop loss 1.5777. Sedangkan sell break di 1.5594 dengan target take profit 1.5564 dan 1.5549, dimana stop loss bila ada pembalikan harga kembali ke 1.5629.

Buy 1.5533 dengan target take profit 1.5579, dimana stop loss 1.5503.

USD-CHF
Mengalami koreksi, USD-CHF sepertinya mulai menghapus penguatan kemarin. Masih bergerak di bawah MA 25, kondisi pair ini masih bearish. Penutupan di atas 0,9680 membuka peluang bullish dengan target selanjutnya di 0,9730-0,9750. Tapi bila terpuruk di bawah 0,9600, pair ini semakin bearish dengan target 0,9550.

Rekomendasi harian
Untuk USD-CHF buy 0.9597 dengan target take profit 0.9643, dimana stop loss 0.9567. Buy break 0.9658 dengan target take profit 0.9689 dan 0.9704, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali ke 0.9628.

Sell 0.9704 dengan target take profit 0.9666, dimana stop loss 0.9734. Sell break 0.9582 dengan target take profit 0.9567 dan 0.9552, dimana stop loss ada penembusan kembali 0.9613.

AUD-USD
Tak banyak gerak, AUD-USD masih terjebak dekat level terendah dalam 4 tahun. Diperdagangkan di $0,8222, pair ini sempat ke low $0,8200. Bila ditutup di bawah $0,8170, pair ini terancam menuju 0,8100-0,8050. Ke atas, kalaupun berhasil menembus resistance $0,8300, pair ini masih sulit melampaui $0,8400.

Rekomendasi harian
Area 0.8255 menjadi target sell untuk AUD-USD, dengan take profit 0.8209, dimana stop loss 0.8285. Sell break ada penembusan kembali 0.8209 dengan target take profit 0.8179 dan 0.8163 , dimana stop loss 0.8239.

Buy 0.8148 dengan target take profit 0.8194, dimana stop loss 0.8118.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/rekomendasi-forex-sesi-eropa-as-16-desember-2014/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha