Search Results : data pdb dunia 5 tahun terakhir

Strategydesk – GBP/USD stabil hari ini, tak banyak bergerak setelah tenggelam ke level terendah dalam lima tahun di tengah gejolak pasar global. Aksi risk aversion berimbas pada performa pair ini.
Dalam beberapa sesi terakhir, pair ini mengalami tekanan di saat bursa saham dunia bertumbangan akibat kekhawatiran mengenai ekonomi China. Pound turut menjadi sasaran aksi jual di saat pasar resah perlambatan ekonomi China dapat berdampak besar pada ekonomi global. Meski masalah ekonomi China belum tentu sampai menyebabkan
Tekanan atas pound sudah datang sejak pertengahan bulan lalu setelah Gubernur BOE Mark Carney mengindikasikan tidak akan ada kenaikan suku bunga mengikuti the Fed. Ia mengatakan kenaikan suku bunga the Fed bukan berarti BOE harus mengikuti. Padahal, sejak pertengahan tahun lalu, ada ekspektasi BOE bakal menjadi bank sentral negara maju kedua setelah the Fed yang menaikkan suku bunga.
Hal ini berdasar pada performa ekonomi Inggris yang cukup memuaskan sepanjang semester pertama 2015. Di kuartal kedua, PDB tumbuh di atas 3%. Inflasi menunjukkan tren kenaikan. BOE juga sudah menyelesaikan program pembelian obligasinya. Memasuki akhir tahun lalu, kondisi ternyata tidak secerah harapan. Inflasi hanya naik 1,2% , masih di bawah target 2%.
Namun memasuki akhir tahun lalu, kinerja ekonomi melambat dan inflasi masih jauh dari target. Kondisi menimbulkan keraguan di kalangan pasar bahwa BOE bisa menaikkan suku bunganya di awal tahun. Prospek itu semakin meredup setelah para pejabatnya menyampaikan pernyataan yang dovish.
Faktor lain yang menjadi tantangan ekonomi Inggris antara lain, penghematan fiskal dan ketidakpastian masa depan di Uni Eropa. Tahun ini Inggris berencana menggelar referendum untuk menentukan apakah keluar dari Uni Eropa. Sebelum awal tahun, BOE memperkirakan inflasi bisa naik di 2016 seiring membaiknya harga minyak. Namun harga komoditas tetap rendah dan meski ada pertumbuhan lapangan kerja dan kredit, inflasi inti tetap rendah.
Even dari Inggris baru datang besok, di mana ada data output industri dan pidato Gubernur BOE Mark Carney. Pasar ingin mendengar petunjuk terkait arah kebijakan BOE dan komentar soal gejolak pasar keuangan akhir-akhir ini serta pengaruhnya pada ekonomi.
Pada jam 15:20 WIB, GBP/USD rebound 0,1% ke $1,4557 setelah sempat ke low $1,4495 atau terendah sejak Juni 2010. Sebelum rebound ini, pair tersebut sudah jatuh selama enam sesi. Peluang rebound terbuka, namun itu diperkirakan hanya sekedar penyesuaian. Pada dasarnya, tren belum berubah. Penutupan di bawah $1,4465 membuka jalan menuju $1,4400. Bila berhasil di atas $1,4580, ada peluang untuk melanjutkan ke $1,4620-1,4650. Namun dibutuhkan dorongan kuat untuk bisa melampaui itu.

GBPUSD 11 Jan

http://www.strategydesk.co.id/2016/01/terendah-5-tahun-gbpusd-sudah-bottom/

Strategydesk – Rupiah mencatat performa yang gemilang dalam seminggu terakhir, menyentuh level tertinggi dalam sebulan atas dollar dalam penguatan empat sesi berturut-turut.

RupiahRupiah pulih dari level terendah dalam dua bulan di Rp14.123 per dollar yang dicapai minggu lalu sampai ke Rp.13550, atau penguatan sebesar 3,2% dalam hanya seminggu.Ada beberapa faktor yang menyebabkan rupiah menguat begitu tajam, pertama adanya dollar memang sedang terkoreksi atas mata uang dunia. Dollar sempat terangkat setelah the Fed menaikkan suku bunganya dan menyampaikan pernyataan yang hawkish. Namun sejak kemarin, dollar mengalami koreksi, yang sepertinya merupakan penyesuaian posisi setelah kenaikan tajam karena prospek kenaikan suku bunga.

Kedua adalah pernyataan Bank Indonesia (BI) kemarin bahwa rupiah kemungkinan terus menguat tahun depan. Deputi Gubernur BI Perry Warijo mengatakan dengan semakin jelasnya arah kebijakan the Fed, yang memberi kepastian ke pasar, akan mendorong rupiah ke arah positif. BI juga mengatakan inflasi diperkirakan semakin terkendali di kisaran 4,4% dan defisit transaksi berjalan di kisaran 2,6% PDB.

Selain itu, BI disinyalir melakukan intervensi dalam beberapa hari terakhir, mungkin untuk memanfaatkan momentum penguatan ini agar rupiah bisa mencapai target Rp13.000-13.200. Ketiga, pemerintah baru saja mengumumkan paket kebijakan kedelapan yang memberi sentimen positif.

Kenaikan suku bunga the Fed dinilai menghilangkan ketidakpastian yang menghinggapi pasar selama ini. Alhasil, ini memberi ruang bagi rupiah untuk menguat. The Fed diperkirakan bisa menaikkan suku bunganya lagi tahun depan, Namun bukan berarti rupiah tidak punya harapan. Selama kondisi fundamental RI terjaga, dalam arti iklim investasi tetap kondusif, inflasi terkendali dan defisit diredam, rupiah bisa memasuki tren penguatan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 1% ke Rp13.671,00, dengan sempat menyentuh Rp13.565 atau tertinggi sejak 11 Nopember. Untuk besok, rupiah diperkirakan bergerakan dalam kisaran Rp13.500-13.700

http://www.strategydesk.co.id/2015/12/seminggu-rupiah-reli-32/

Jakarta, Strategydesk – Dollar sedang menuju koreksi bulanan pertama dalam lima bulan terakhir setelah reli dalam bulan-bulan sebelumnya karena prospek kenaikan suku bunga. Dengan lewatnya kenaikan itu, dollar sedang mengalami penyesuaian posisi.
Secara harian, dollar terkoreksi selama tiga sesi berturut-turut. Kemarin, koreksi terjadi menyusul data ekonomi AS yang mengecewakan. Angka PDB AS kuartal ketiga direvisi turun menjadi 2,0% dari sebelumnya 2,1%. Ini menegaskan perlambatan ekonomi AS karena di kuartal kedua ekonomi tumbuh 3,9%. Data lainnya semalam menunjukkan existing home sales atau penjualan rumah bekas anjlok 10,5% selama Nopember, jauh lebih besar dari prediksi 0,4%.
Kedua data dijadikan alasan bagi pasar untuk terus mengkoreksi dollar yang sempat menyentuh level tertinggi dalam 12 tahun awal bulan ini. Sepanjang Desember, dollar sudah melemah 2%. Para trader juga menutup posisi menjelang Natal dan tahun baru, menambah penurunan dollar.
Sebagian besar kalangan meyakini the Fed akan menaikkan suku bunganya tahun depan. Namun karena penguatan sudah tajam, didukung oleh prospek kenaikan suku bunga pertama dalam satu dekade di saat bank sentral lain masih menjalankan kebijakan longgar, dollar sedang mengalami penyesuaian.
Untuk nanti malam, ada durable goods orders dan Personal Consumption Expenditure (PCE). Indeks dollar bertengger di 98,30 setelah turun 0,3% kemarin. Sepanjang minggu ini, indeks tersebut sudah jatuh 1%. Untuk hari ini, indeks diperkirakan bergerak dalam range 97,80-98,50.
Bagaimanapun, aktivitas perdagangan menurun jelang liburan Natal dan Tahun Baru. Menjelang musim liburan, di mana sebagian besar pasar keuangan dunia ditutup, transaksi nilai tukar berkurang membuat pergerakan mata uang terbatas. Menurut Barlcays, volume transaksi euro/dollar merosot 40% selama periode liburan. Kondisi ini membatasi pergerakan mata uang.
Sementara itu, aussie mendulang penguatan tajam berkat prospek stimulus China. Dalam pertemuan Partai Komunis China Senin, para pemimpin sepakat untuk menggunakan kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebagai mitra dagang terbesar Australia, perkembangan ekonomi China sering mempengaruhi pergerakan aussie. Aussie sudah menguat selama tiga sesi, namun secara tren belum berubah mengingat bekum ada perkembangan berarti dari sisi fundamental.
Rekomendasi
EUR
Eur
JPY
JPY
GBP
GBP
CHF
CHF
AUD
AUD

http://www.strategydesk.co.id/2015/12/dollar-menuju-koreksi-bulanan/

Strategydesk – Aktivitas perdagangan internasional China memburuk bulan lalu, karena baik ekspor maupun impor mengalami penurunan tajam. Kondisi ini menambah keraguan adanya pemulihan pesat di ekonomi kedua terbesar dunia itu di sisa tahun ini.

China PortImpor turun 13,8% selama Agustus dari tahun lalu, menurut laporan Bea Cukai China. Angka itu jauh lebih besar dari prediksi 7,9% dan yang terbesar sejak Mei. Sedangkan ekspor merosot 5,5%, di bawah prediksi 6,6%. Dengan ini, maka surplus perdagangan menjadi $60,24 miliar, lebih besar dari prediksi $48 miliar.

Kinerja perdagangan yang buruk ini dapat menambah keraguan mengenai kondisi ekonomi China, yang sedang berjuang mencapai target 7%. Aktivitas perdagangan internasional China terus anjlok dalam beberapa bulan terakhir. Ekspor terpukul oleh lesunya permintaan global, sedangkan impor berkurang akibat perlambatan ekonomi domestik.

Data perdagangan ini diperkirakan bisa menambah tekanan ke pemimpin China untuk mencegah hard landing. Data perdagangan merupakan data pertama dari rangkaian indikator ekonomi yang bakal keluar minggu ini. China akan mengumumkan data inflasi pada Kamis, dilanjutkan dengan data penjualan ritel, output industri dan investasi aset tetap di Minggu, semuanya diperkirakan tidak akan mengurangi kekhawatiran soal ekonomi China.

Beberapa ekonom memperkirakan PDB terancam jatuh ke bawah 7% di kuartal kedua, setelah mencapai angka itu di dua kuartal sebelumnya. Beijing sudah memangkas suku bunga lima kali sejak Nopember untuk merangsang pertumbuhan, dan beberapa pengamat memperkirakan pemangkasan suku bunga dan Giro Wajib Minimum (GWM) lanjutan terbuka.

http://www.strategydesk.co.id/2015/09/perdagangan-memburuk-pertanda-ekonomi-china-makin-suram/

Strategydesk – Aktivitas manufaktur China semakin buruk, di mana salah satu indeksnya jatuh ke level terendah dalam 15 bulan. Hal ini menjadi bukti bahwa ekonomi terbesar kedua dunia itu masih dalam fase perlambatan.

China manufacturingIndeks PMI manufaktur dari Caixin/Markit turun ke 48,2 di Juli dari 49,4 di Juni. Angka itu lebih rendah dari prediksi 49,7 dan yang terendah dalam 15 bulan terakhir. Angka di bawah 50 menandakan kontraksi, di atas itu barulah dianggap pertumbuhan. Dengan ini, berarti sudah lima bulan berturut-turut indeks tersebut mengalami kontraksi.

Data ini mengindikasikan bahwa perbaikan ekonomi terganggu oleh rendahnya permintaan luar negeri. Namun, kejatuhan saham dianggap juga berperan. ”Karena indeks ini dihasilkan dari survei, maka tidak bisa dipungkiri angka terbaru terpengaruh oleh sentimen negatif yang dipicu oleh kejatuhan saham,” kata Qu Hongbin, ekonom dari HSBC.

Data buruk ini kontras dengan data Juni, yang mengalami kenaikan dan mengindikasikan ekonomi mulai stabilisasi. Selama kuartal kedua, PDB tumbuh 7,0%, sedikit di atas prediksi. Namun, ada keraguan apakah pemulihan ini bisa bertahan. Pertama, indikator Juni mencerminkan kondisi ekonomi sebelum kejatuhan bursa saham yang menghapus triliunan dollar kapitalisasi pasar, memaksa bank sentral bertindak.

Kontraksi sektor manufaktur yang terlihat dari survei terbaru ini kemungkinan menambah spekulasi bank sentral bakal melonggarkan kebijakan lagi. Para ekonom yang disurvei Reuters bulan ini mengatakan PBOC bakal memangkas suku bunganya minimal 25 bps sebelum akhir tahun. Giro Wajib Minimum (GWM) diperkirakan juga dipotong lagi untuk merangsang pertumbuhan.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/data-manufaktur-hempaskan-harapan-pemulihan-cepat-ekonomi-china/

Strategydesk – Rupiah berakhir flat hari ini, tak mampu memanfaatkan koreksi dollar atas mata uang utama dunia. Rupiah masih terjebak dalam range yang sama di tengah lesunya ekonomi RI.

RupiahTidak ada alasan jelas penyebab dollar koreksi yang terjadi bersamaan dengan penurunan yield obligasi AS dan saham. Namun, koreksi ini datang setelah reli selama empat minggu terakhir, kondisi yang mengundang aksi ambil untung. Meski demikian, para analis melihat kondisi fundamental mendukung tren dollar mengingat masih ada prospek kenaikan suku bunga the Fed tahun ini.

Dollar melambung setelah Ketua the Fed Janet Yellen minggu lalu mengatakan kenaikan bisa terjadi sebelum 2016. Reli semakin tajam setelah Presiden the Fed distrik St. Louis James Bullard mengatakan pihaknya kemungkinan menaikkan suku bunga di September nanti bila inflasi mendekati target dan tingkat pengangguran ke bawah 5%. Hal ini menunjukkan prospek kenaikan September tetap ada meski terjadi krisis Yunani.

Gubernur BI Agus Martowardjojo mengatakan rupiah berada di bawah nilai standarnya, sudah undervalue dibanding dengan mata uang negara lain. Menurutnya, berdasarkan Real Effective Exchange Rate (REER), rupiah sudah berada di bawah 100. Di saat yang sama, Deputi Gubernur Mirza Adityaswara rupiah sudah undervalue sejak 2013 dan agar tidak semakin liar, pihaknya siap melakukan intervensi.

Di tengah bayang-bayang kenaikan suku bunga the Fed, rupiah sulit lepas dari range-nya. Ditambah dengan kondisi fundamental yang kurang menggembirakan. Jatuhnya harga beberapa komoditas penting menekan perekonomian Indonesia. Di saat yang sama, pemerintah memberlakukan larangan ekspor bahan mentah (raw material). Kondisi ini memaksa BI memangks proyeksi PDB RI tahun ini. Untuk semester kedua, PDB berkisar di 5,0-5,2%, turun dari 5,3-5,4%.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,01% ke Rp13.375 per dollar, dengan range pergerakan Rp13.351-13.392,50. Untuk besok, rupiah masih bergerak dalam range Rp13.300-13.400.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/koreksi-dollar-tak-angkat-rupiah/

Jakarta, Strategydesk
Nikkei
Indeks Nikkei catat kenaikan keempat kalinya secara beruntun Senin kemarin. Saham-saham energi jadi penyumbang kenaikan indeks menyusul kenaikan harga minyak mentah dunia 1,4% menjadi $57,88/barel. Showa Shell Sekiyu melonjak 27,7% karena pemberitaan adanya pembicaraan akuisisi oleh Idemitsu Kosan Co Ltd senilai 500 miliar yen. Indeks Nikkei ditutup menguat 13,74 poin, atau 0,08%, ke posisi 17.635,14.

Bursa Jepang yang kembali dibuka hari ini berhasil menguat, dimana indeks mengapai level tertingginya dalam dua minggu. Kenaikan indeks tidak lepas dari membaiknya ekonomi AS, dimana kuartal ketiga PDB AS tumbh 5,0%.  Sementara itu, kembali menurunnya harga minyak mentah dunia diharapkan mampu mengangkat daya beli konsumen. Sentimen positif ini diperkirakan berlangsung hingga besok, kendati sebagian bursa global tutup.

Rekomendasi
NKI SIGNAL 24-12-14

Kospi
Indeks Kospi sedikit terkoreksi setelah menyentuh level tertingginya dalam dua minggu terakhir. Meski melemah sentiment global masih positif seiring dengan serangkaian data ekonomi AS yang menandakan proses pemulihan terus membaik. Namun pergerakan cenderung berkurang karena pasar yang mulai mengurangi posisi jelang musim liburan.  Indeks Kospi ditutup turun 4,10 poin, atau 0,21%, ke posisi 1.939,02.

Indeks Kospi bergerak positif hari ini menyusul penguatan Wall Street dalam tiga sesi beruntun minggu ini. Laju indeks Kospi dapat tersendat karena cemaskan pelemahan yen dan juga jelang libur Natal. Rencana kenaikan suku bunga Fed dan prospek kebijakan bank sentral Eropa yang semakin longgar menjadi pemicu sentimen pasar di sisa tahun ini.

Rekomendasi
KSI SIGNAL 24-12-14

Hang Seng
Indeks Hang Seng akhirnya melemah kemarin meski sempat menguat pada awal pembukaan. Jatuhnya sektor keuangan jadi pemicunya. Kendati terkoreksi, sentiment dari Wall Street yang terus menorehkan penguatan masih menjadi penopang sentimen, karena ekspektasi bank sentral tetap menjalankan kebijakan akomodatif untuk waktu yang masih lama. Indeks Hang Seng ditutup turun 74,88 poin, atau 0,32%, ke posisi 23.333,69.

Indeks Hang Seng diperkirakan bergerak flat karena minimnya partisipan pasar menjelang libur Natal. Hal ini yang membuat saham Asia bergerak variatif hari ini, kehilangan daya dorongnya menjelang liburan akhir tahun, meski setelah Wall Street mencetak rekor baru. Bursa Hong Kong dibuka hanya satu sesi hari ini, dan dua hari ke depan tutup , semakin mengurangi aktivitas perdagangan. Dan kembali dibuka Senin minggu depan.

Rekomendasi
HSI SIGNAL 24-12-14

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/besok-natal-asia-mixed/

Tanggal February 22, 2013 / 5:28 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – 2012 tentu bukanlah tahun yang baik bagi ekonomi Eropa, dan sepertinya di awal 2013 kondisinya juga belum banyak berubah.

2012 merupakan tahun pertama sejak 1995, di mana  PDB zona euro tidak mengalami pertumbuhan di setiap kuartalnya. Selama 2012, PDB berakhir kontraksi 0,5%. Jadi selama tahun ini, ekonomi zona euro dirundung resesi.  Data ekonomi terakhir juga tidak menggembirakan, seperti indeks PMI yang menunjukkan aktivitas manufaktur dan jasa zona euro merosot. Data ini mengindikasikan ekonomi bakal kontraksi lagi di kuartal pertama 2013.

Jerman dan Perancis, dua ekonomi terbesar Eropa, mengalami kontraksi di kuartal terakhir 2012, dan ternyata perkembangan berjalan lebih lambat dari perkiraan. Ekonomi Jerman kontraksi 0,6% di periode itu, performa terburuk sejak 2009 ketika dunia dilanda krisis finansial. Ekspor, mesin pertumbuhan Jerman, ternyata lebih rendah dari impor.Sedangkan Perancis kontraksi 0,3%, meski lebih kecil dari Jerman, tetap menimbulkan kecemasan.

Selain ekonomi, ada masalah lain di zona euro yang juga mencemaskan, yaitu politik. Di Spanyol misalnya, Perdana Menteri Mariano Rajoy dituduh menerima dana gelap dan didesak untuk mundur. Di Italia, mantan perdana menteri Silvio Berlusconi menjadi favorit dalam polling menjelang pemilu. Ketidakpastian politik di kedua negara menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan upaya pengentasan krisis.

Dalam pidatonya di hadapan Parlemen, Presiden ECB Mario Draghi mengatakan ekonomi kemungkinan  tetap lemah di awal tahun tapi bisa pulih secara bertahap seiring berjalannya tahun. Pernyataan itu menyebabkan pasar keuangan bergolak. ECB berjanji melakukan apapun untuk menyelamatkan euro. Meski pesimis dengan kondisi di awal tahun, Draghi optimis zona euro bisa keluar dari resesi pertengahan 2013.

Ekspektasi mengenai titik balik ekonomi zona euro didasarkan pada fakta ketakutan euro bakal pecah tidak sebesar tahun lalu. Titik balik diperkirakan datang dari anggota terbesar blok itu Jerman, yang diikuti oleh Perancis. Menurut prediksi ECB, ekonomi zona euro bisa menggeliat kembali menuju pertengahan tahun. Meski terlalu dini untuk menyimpulkan, Jerman diperkirakan bisa tumbuh lagi di kuartal pertama, sebagian karena peningkatan order pabrik di Desember lalu.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/ekonomi-eropa-di-2013-kapan-titik-balik.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/ekonomi-eropa-di-2013-kapan-titik-balik.html

Tanggal January 28, 2013 / 3:52 pm. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk – Belum terlihat adanya pergerakan seragam di pasar mata uang, meski di saat situasi mendukung dengan datangnya berita-berita positif yang menimbulkan optimisme pada prospek ekonomi global.
Mulai dari data sampai pembayaran kembali pinjaman ECB menimbulkan harapan tahun ini akan lebih baik dari tahun lalu. Jumat lalu, bank Eropa membayar sebagian pinjaman dari ECB dalam program Long-Term Refinancing Operation (LTRO) 1 triliun euro. Jumlah yang terbayar cukup melegakan yaitu 132 miliar euro, lebih besar dari prediksi 100 miliar euro.
Pasar melihat pembayaran kembali pinjaman itu sebagai bentuk stabilisasi perbankan Eropa. Pasar juga melihat pembayaran ini sebagai bentuk pengetatan dan penyerapan likuiditas yang dilakukan oleh ECB. Hal ini berbeda dengan bank sentral lain seperti the Fed dan BOJ, yang justru menjalankan  kebijakan moneter longgar dengan meluncurkan stimulus yang menambah likuiditas di pasar.
Serangkaian data dan kinerja keuangan korporat dunia turut mengangkat optimisme mengenai prospek ekonomi global. Data ekonomi, termasuk indeks manufaktur, mengindikasikan adanya perbaikan kondisi.  Semua data itu menjadi bukti kondisi terburuk krisis sudah terlewati, dan ini mengangkat saham global. Namun pernyataannya, mengapa semua faktor itu tidak menimbulkan risk appetite yang menggerakkan mata uang berisiko dalam satu arah.
Sejak awal tahun, pasar mata uang terlihat bergerak variatif, dengan masing-masing punya faktor yang menggerakkannya. Sepertinya, pasar tidak lagi terpaku pada satu berita untuk dijadikan acuan.  pasar mempertimbangkan kondisi yang berlaku di suatu negara untuk menggerakan mata uang bersangkutan. Contohnya, perbaikan kondisi di Eropa memang memangkat euro, tapi tidak sterling karena pasar bearish terhadap Inggris, dengan ekonominya yang terancam resesi. Namun masih perlu dibuktikan apakah kondisi ini berlanjut atau hanya sementara.

EUR-USD
S
empat menyentuh $1,3470 di sesi Asia, tertinggi dalam 11 bulan terakhir, EUR-USD kini sedikit terkoreksi sampai pembukaaan sesi Eropa. Pasar kini bernyata seberapa jauh pair ini bisa menanjak. Dari sisi teknikal, level $1,35 menjadi target berikutnya dan bila tidak ada berita buruk, pair ini berpeluang besar ke sana. Dari sisi fundamental, pejabat ECB Luc Coene mengatakan level EUR tidaklah masalah dan belum perlu pelonggaran.

Rekomendasi harian :
Sell break pada EUR-USD di 1.3428 dengan target take profit 1.3375, dimana stop loss 1.3458. Sell 1.3489 dengan target take profit 1.3413, dimana stop loss 1.3519.

Buy 1.3367 dengan target take profit 1.3420, dimana stop loss 1.3336.


USD-JPY
M
elanjutkan tren penguatannya, USD-JPY berhasil menyentuh 91,25, atau tertinggi sejak Juni 2010. Penguatan ini tidak lepas dari ekspektasi BOJ bakal melonggarkan kebijakannya lagi. Tapi dalam jangka pendek, pasar kemungkinan akan menggunakan data ekonomi AS sebagai faktor penggerak, mulai durable goods orders malam nanti, rapat reguler the Fed pada Rabu dan payroll Jumat nanti. Kecuali data buruk dan ada pernyataan dovish dari the Fed, pair ini tetap bullish, kalaupun koreksi mungkin terbatas.

Rekomendasi harian :
Peluang USD-JPY melakukan sell break di 90.63 dengan target take profit 90.23-90.04, dimana stop loss 90.92. Sell 91.45 dengan target take profit 90.73, dimana stop loss bila penutupan di atas 91.22.

Buy 90.00 dengan target take profit 90.86, dimana stop loss 89.84.

GBP-USD
T
ekanan jual terus mendera GBP-USD yang hari jatuh ke low di $1,5716, terendah sejak Agustus 2012 dan menguji level psikologis $1,5700. Pasar masih bearish terhadap GBP setelah data PDB yang mengecewakan, kontraksi ekonomi menimbulkan spekulasi BOE harus turun tangan lagi dengan stimulusnya. Apalagi muncul  wacana soal referendum keanggotaan Inggris dalam Uni Eropa. Dengan masih bearish-nya pasar, pair ini terancam jatuh ke bawah $1,57.

Rekomendasi harian :
Penembusan 1.5717 pada GBP-USD menjadi sinyal sell break untuk kembali bearish dengan target take profit ke 1.5656, dimana stop loss bila kembali bergerak dan tutup di atas 1.5747. Sell 1.5808 dengan target take profi 1.5747, dimana stop loss 1.5839.

Buy 1.5656 dengan target take profit 1.5Buy break di 1.5747 setelah .5625.

USD-CHF
T
ertekan ke bawah 0,9300 akhir pekan lalu, USD-CHF menembus low 0,9222 namun mendapat dorongan beli dan berhasil ke 0,9280. Ada penguatan hari ini, meski masih terbatas. Dengan minimnya even penting dari Eropa, pair ini masih konsolidasi, dan pasar menggunakan menggunakan data durable goods sebagai acuan. Agar tetap kembali bullish pair ini harus menembus ke atas Moving Average 100 di 0,9306.

Rekomendasi harian :
Buy break pada USD-CHF berada di 0.9293 dengan target take profit 0.9323-0.9338, dimana stop loss 0.9277. Sedangkan 0.9247 jadi buy berikutnya bilamana ada penurunan lebih lanjut, dengan target take profit 0.9283-0.9293, dimana stop loss penutupan hari ini di bawah 0.9247.

Sell 0.9338 dengan target take profit 0.9297, dimana stop loss 0.9354.

AUD-USD
D
ata ekonomi China yang bagus dan kenaikan harga komoditas ternyata tidak membantu AUD-USD, yang kini jatuh ke bawah $1,04. Tekanan besar datang setelah data inflasi Australia yang menimbulkan ekspektasi RBA bakal pangkas rate lagi bulan depan. Selain itu, kejatuhan tajam ini datang setelah pair ini gagal menembus $1,06. Kondisi bearish akan berlanjut bila pair ini gagal ditutup di atas $1,04.

Rekomendasi harian :
Buy pada AUD-USD 1.0376 dengan target take profit 1.0437, dimana stop loss penutupan hari ini dibawah 1.0376. Buy break 1.0437 dengan target profit 1.0483, dimana stop loss penutupan di bawah 1.0437.

1.0483 jadi ruang melakukan sell pada AUD-USD dengan target take profit 1.0437, dimana stop loss 1.0498.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/rekomendasi-trading-forex-sesi-eropa-as-28-januari-2013.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/rekomendasi-trading-forex-sesi-eropa-as-28-januari-2013.html

Tanggal January 18, 2013 / 1:58 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – Pertumbuhan ekonomi China meningkat di akhir 2012, pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, setelah pemerintah mengimplementasikan serangkaian kebijakan.

PDB tumbuh 7,9% di kuartal empat dari tahun sebelumnya, menurut laporan Biro Statistik (NBS) hari ini. Angka itu lebih baik dari prediksi 7,8% dan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang 7,4%. Secara per kuartal, PDB tumbuh 2,0%, lebih rendah dari prediksi 2,2%. Tapi selama 2012, ekonomi terbesar kedua dunia itu tumbuh 7,8%,  meski merupakan yang terendah sejak 1999, angka itu lebih tinggi dari proyeksi 7,7% dan target pemerintah 7,5%.

Peningkatan pertumbuhan ini tidak lepas dari upaya Beijing menstimulasinya dengan serangkaian insentif dan stimulus, termasuk pemangkasan suku bunga dan Giro Wajib Minimum (GWM). Upaya itu membuahkan hasil, tercermin dari membaiknya investasi, properti dan pembelanjaan konsumen. Data lainnya menunjukkan penjualan ritel tumbuh 15,2% selama Desember, lebih baik dari prediksi 15,1%.

Produksi industrial naik 10,3% dan investasi aset tetap meningkat 20,6%.  Di sektor properti, data memperlihatkan harga rumah naik di 54 dari 70 kota besar. Pemulihan ekonomi akan semakin terlihat di semester pertama tahun ini seiring dengan dimulainya proyeksi infrastruktur dan menggelianya kembali sektor properti.

Reaksi pasar positif, dengan saham Asia menguat yang turut diikuti oleh komoditas. Menurut pengamat, apa yang diinginkan pasar adalah pertumbuhan yang cukup kuat untuk memberi ketegangan bahwa pendapatan akan meningkat dan tidak ada risiko hard landing, tapi mereka juga tidak mau angka eksesif yang dapat memicu inflasi.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/pdb-china-tumbuh-79.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/pdb-china-tumbuh-79.html

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha