Search Results : data inflasi negara ero

Strategydesk – GBP/USD stabil hari ini, tak banyak bergerak setelah tenggelam ke level terendah dalam lima tahun di tengah gejolak pasar global. Aksi risk aversion berimbas pada performa pair ini.
Dalam beberapa sesi terakhir, pair ini mengalami tekanan di saat bursa saham dunia bertumbangan akibat kekhawatiran mengenai ekonomi China. Pound turut menjadi sasaran aksi jual di saat pasar resah perlambatan ekonomi China dapat berdampak besar pada ekonomi global. Meski masalah ekonomi China belum tentu sampai menyebabkan
Tekanan atas pound sudah datang sejak pertengahan bulan lalu setelah Gubernur BOE Mark Carney mengindikasikan tidak akan ada kenaikan suku bunga mengikuti the Fed. Ia mengatakan kenaikan suku bunga the Fed bukan berarti BOE harus mengikuti. Padahal, sejak pertengahan tahun lalu, ada ekspektasi BOE bakal menjadi bank sentral negara maju kedua setelah the Fed yang menaikkan suku bunga.
Hal ini berdasar pada performa ekonomi Inggris yang cukup memuaskan sepanjang semester pertama 2015. Di kuartal kedua, PDB tumbuh di atas 3%. Inflasi menunjukkan tren kenaikan. BOE juga sudah menyelesaikan program pembelian obligasinya. Memasuki akhir tahun lalu, kondisi ternyata tidak secerah harapan. Inflasi hanya naik 1,2% , masih di bawah target 2%.
Namun memasuki akhir tahun lalu, kinerja ekonomi melambat dan inflasi masih jauh dari target. Kondisi menimbulkan keraguan di kalangan pasar bahwa BOE bisa menaikkan suku bunganya di awal tahun. Prospek itu semakin meredup setelah para pejabatnya menyampaikan pernyataan yang dovish.
Faktor lain yang menjadi tantangan ekonomi Inggris antara lain, penghematan fiskal dan ketidakpastian masa depan di Uni Eropa. Tahun ini Inggris berencana menggelar referendum untuk menentukan apakah keluar dari Uni Eropa. Sebelum awal tahun, BOE memperkirakan inflasi bisa naik di 2016 seiring membaiknya harga minyak. Namun harga komoditas tetap rendah dan meski ada pertumbuhan lapangan kerja dan kredit, inflasi inti tetap rendah.
Even dari Inggris baru datang besok, di mana ada data output industri dan pidato Gubernur BOE Mark Carney. Pasar ingin mendengar petunjuk terkait arah kebijakan BOE dan komentar soal gejolak pasar keuangan akhir-akhir ini serta pengaruhnya pada ekonomi.
Pada jam 15:20 WIB, GBP/USD rebound 0,1% ke $1,4557 setelah sempat ke low $1,4495 atau terendah sejak Juni 2010. Sebelum rebound ini, pair tersebut sudah jatuh selama enam sesi. Peluang rebound terbuka, namun itu diperkirakan hanya sekedar penyesuaian. Pada dasarnya, tren belum berubah. Penutupan di bawah $1,4465 membuka jalan menuju $1,4400. Bila berhasil di atas $1,4580, ada peluang untuk melanjutkan ke $1,4620-1,4650. Namun dibutuhkan dorongan kuat untuk bisa melampaui itu.

GBPUSD 11 Jan

http://www.strategydesk.co.id/2016/01/terendah-5-tahun-gbpusd-sudah-bottom/

Weekly OutlookSetelah alami pergerakan yang luar biasa buruk pada minggu lalu akibat data ekonomi China yang memburuk serta harga minyak mentah yang alami tekanan turun, bursa saham Amerika pada minggu ini tidak hanya akan dipengaruhi oleh informasi seputar ekonomi China dan pergerakan harga minyak mentah, tetapi juga akan di pengaruhi oleh laporan earning dari perusahaan-perusahaan raksasa Amerika. Pada minggu ini musim earning kuartal keempat 2015 akan dimulai.

Wall Street awali pergerakan mingguan untuk tahun 2016 dengan penurunan besar sepanjang sejarah. SP 500 alami penurunan sebesar 6 persen yang merupakan penurunan mingguan terbesar sejak 2011 dan menyebabkan penurunan kapitalisasi pasar senilai lebih dari $1 trilliun. SP 500 pada minggu lalu ditutup pada level harga 1.922 dan saat ini telah turun sebesar 10 persen dari rekor harga tertingginya yang terbentuk pada bulan Mei tahun lalu. Dow juga terlihat alami penurunan besar pada minggu lalu, dengan besar penurunan lebih dari 10 persen, atau lebih dari 1000 poin menjadi 16.346. Sedangkan Nasdaq turun 7,2 persen menjadi 4.643.

Diluar adanya pengaruh dari ketegangan politik Timur Tengah antara Saudi Arabia dan Iran yang merupakan dua negara produsen minyak terbesar OPEC, harga minyak mentah pada minggu lalu tetap terlihat alami penurunan, dengan penurunan sebesar 10 persen akibat kekhawatiran akan kondisi “over Supply”. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate alami penurunan hingga mencapai level harga $33,16 per barrel.

Saat ini mencul kekhawatiran bahwa harga minyak mentah memiliki peluang untuk jatuh menuju kisaran harga $20 an per barrel.

Pada minggu lalu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi China telah memicu penurunan besar-besara pada bursa saham di negara tersebut. Shanghai Stock Exchange pada minggu lalu sempat alami penutupan bursa lebih awal sebanyak dua kali pada hari yang berbeda akibat terjadinya penurunan lebih dari 7 persen. Mata uang Yuan China juga terlihat alami pelemahan yang cukup besar, sehingga memicu kekhawatiran akan adanya kebijakan devaluasi mata uang negara eksportir Asia lainnya terkait persaingan ekspor di Asia. China pada Jum’at minggu lalu menyatakan akan menaikkan nilai tukar mata uang mereka sehingga membuat bursa saham kembali alami stabilitas.

Pada hari Jum’at minggu lalu, awal pembukaan pasar saham sempat alami kenaikan didukung oleh data tenaga kerja non-farm payrolls yang kuat, dimana ada penambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 292.000 tenaga kerja untuk periode Desember, tetapi kemudian sentimen jual kembali terjadi hingga penutupan pasar, dan kondisi inilah yang harus diwaspadai karena kemungkinan besar sentimen jual masih akan berikan pengaruhnya pada perdagangan saham minggu ini.

Laporan earning akan menjadi ujian selanjutnya bagi pasar, dan berdasarkan perkiraan earning yang disampaikan oleh para analis terlihat adanya antisipasi penurunan laporan earning baik dari sisi laba perusahaan maupun dari sisi revenue. SP 500 diperkirakan akan alami penurunan laba kuartal keempat 2015 sebesar 4,2 persen dan penurunan revenue 3,2 persen. Informasi tersebut diperoleh dari data Thomson Reuters. Khusus sektor energi, diperkirakan akan alami penurunan laba sebesar 68 persen.

Laporan earning Alcoa akan mengawali laporan earning tersebut, dimana perusahaan ini di jadwalkan akan sampaikan laporan earning pada hari Senin dan diikuti oleh laporan earning JP Morgan, Citigroup, CSX, dan Intel juga akan dirilis. Data inflasi China, data kredit juga akan dirilis pada minggu ini. Data retail sales Amerika akan menjadi data kunci pada minggu ini, dimana data tersebut di jadwalkan akan dirilis pada hari Jum’at bersamaan dengan data lainnya, yaitu data PPI, industrial production, dan consumer sentiment. Pada minggu ini juga di jadwalkan adanya sejumlah petinggi FED yang akan sampaikan testimoninya.

Nilai tukar dollar Amerika pada minggu lalu terlihat alami penguatan terhadap mata uang negara-negara berkembang, tetapi alami penurunan jika dibandingkan dengan yen dan euro. Kunci stabilitas pasar mata uang negara berkembang ada di China, jika China mulai tunjukkan kesetabilan, maka fokus perhatian pasar akan kembali tertuju pada fundamental ekonomi Amerika.

Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan pada minggu ini:

Senin

Earnings: Alcoa, A. Schulman, Apollo Education

Selasa

00:40 WIB: Atlanta Fed President Dennis Lockhart

07:50 WIB: Dallas Fed President Robert Kaplan

Earnings: CSX, Progress Software

17:30 WIB: Fed Vice Chairman Stan Fischer on policy and rates

18:00 WIB: NFIB survey

22:00 WIB: JOLTs

Rabu

01:00 WIB: $24 billion three-year note auction

03:15 WIB: Richmond Fed President Jeffrey Lacker

Earnings: Infosys, Supervalu

20:00 WIB: Boston Fed President Eric Rosengren

Kamis

00:30 WIB: Chicago Fed President Charles Evans

01:00 WIB: $21 billion 10-year note auction

02:00 WIB: Federal budget, Beige book

Earnings: JPMorgan Chase, Intel, First Republic Bank, Shaw Comm

20:15 WIB: St. Louis Fed President James Bullard

20:30 WIB: Initial claims, import prices

Jum’at

01:00 WIB: $13 billion 30-year bond auction

Earnings: BlackRock, Citigroup, US Bancorp, Wells Fargo, PNC Financial Services, Fastenal

20:30 WIB: Retail sales, PPI, Empire state survey

21:00 WIB: New York Fed President William Dudley

21:15 WIB: Industrial production

22:00 WIB: Consumer sentiment, business inventories

http://www.strategydesk.co.id/2016/01/weekly-outlook-musim-earning-perusahaan-amerika-q4-2015-dimulai-minggu-ini/

Jakarta, Strategydesk – Dollar stabil hari ini setelah rebound kemarin berka data inflasi yang memperlihatkan kenaikan. Sedangkan euro terjungkal setelah pejabat ECB membuka kemungkinan menambahkan stimulus moneter.
Data semalam menunjukkan inflasi inti, yang tidak mencakup harga pangan dan energi, naik 1,9% selama September dari tahun lalu, mendekati target 2% the Fed. Para pejabat memang mengatakan waktu kenaikan bergantung pada data ekonomi terkini. Para pejabat sepakat mereka ingin yakin dulu inflasi menuju target sebelum mulai menaikkan suku bunga.
Namun di luar itu, ternyata masih ada hal yang menjadi pertimbangan, yaitu faktor eksternal. Timbul pertanyaan di pasar bagaimana mungkin the Fed menaikkan suku bunganya di saat kondisi global masih lesu, di mana banyak negara yang ekonominya melambat bahkan resesi. The Fed hanya punya dua rapat tersisa tahun ini, akhir Oktober dan pertengahan Desember.
Alhasil, data ini sebenarnya tidak serta merta mengembalikan optimisme pasar akan terjadi kenaikan suku bunga tahun ini. Apalagi pejabat the Fed semalam masih menyampaikan hal yang agak dovish. Presiden distrik New York William Dudley mengatakan kenaikan rate tahun ini masih terbuka, tapi perkembangan global tetap diwaspadai.
Namun data itu cukup untuk mengangkat dollar dari kejatuhan di level terendah dalam tiga minggu. Untuk nanti malam, ada data sentimen konsumen versi University of Michigan. Indeks dollar berada di 94,48 setelah naik 0,7% kemarin. Penutupan di atas 94,50 mungkin bisa menjaga penguatan dengan target selanjutnya di 95,00. Terhadap yen, dollar menguat 0,3% ke 119,20 setelah sempat jatuh sampai 118,00 kemarin.
Beralih ke euro, mata uang tunggal Eropa itu sedang stabil setelah jatuh akibat pernyataan pejabat ECB. Anggota dewan Ewald Nowotny mengatakan diperlukan instrumen baru untuk mendorong pertumbuhan dan inflasi di zona euro. Menurutnya, inflasi masih jauh di bawah target, oleh karena itu instrumen baru penting.
Untuk hari ini, ada data inflasi final zona euro untuk September dan diperkirakan tidak akan ada perubahan. Inflasi inti tahunan naik 0,9% selama bulan itu. Euro stabil di $1,1375 setelah jatuh 0,8% kemarin. Euro sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan kemarin.
Rekomendasi
EUR
Eur
JPY
JPY
GBP
GBP
CHF
CHF
AUD
AUD

http://www.strategydesk.co.id/2015/10/dollar-rebound-berkat-data-inflasi-as/

Strategydesk – Rupiah berakhir flat hari ini namun sempat menyentuh level terendah sejak 1998 di saat pasar mata uang dunia menunggu hasil rapat the Fed.

RupiahSalah satu faktor yang melambungkan dollar akhir-akhir ini adalah adanya prospek kenaikan suku bunga September nanti. The Fed mulai menggelar rapat malam nanti dan selesai Kamis dini hari. Hampir dipastikan tidak akan ada keputusan baru, tapi pasar akan menyimak pernyataan sang ketua Janet Yellen terkait kondisi ekonomi dan inflasi terkini, serta opsi kebijakan yang tersedia.

Ada ekspektasi, seiring dengan perbaikan ekonomi dan lapangan kerja di AS, dan kenaikan inflasi mendekati target, the Fed bisa memberi petunjuk bahwa mereka semakin dekat dengan kenaikan rate. Tapi kejatuhan bursa saham China akhir-akhir ini menimbulkan pemikiran the Fed akan berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu mengingat kondisi global yang tak menentu.

Tekanan atas rupiah juga datang di saat mata uang emerging markets bertumbangan. Mata uang Brazil, Turki, Meksiko dan Afrika Selatan anjlok ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir di saat investor keluar dari negara itu dan harga komoditas merosot. Banyak negara berkembang yang sumber pendapatannya datang dari ekspor komoditas, seperti Indonesia. Ditambah dengan perlambatan ekonomi China, yang merupakan konsumen terbesar beberapa produk komoditas, menambah derita ekonomi tersebut.

Di saat yang sama, permintaan dollar masih tinggi untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri. Meski pemerintah dan BI sudah mengeluarkan kebijakan, seperti menaikkan bea masuk impor dan menerapkan kewajiban penggunaan rupiah, diperlukan waktu agar kebijakan itu terlihat dampaknya. Perbaikan ekonomi, baik domestik maupun global, diperlukan agar rupiah bisa pulih.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,02% ke Rp13.465,50 per dollar, dengan rentang pergerakan Rp13.449,80-13.481,00. Level low itu merupakan yang terendah sejak 1998. Untuk besok, karena pasar masih menunggu hasil rapat the Fed, rupiah diperkirakan flat dengan kecenderungan masih bearish. Kisaran pergerakan masih di Rp13.400-13.500.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/rupiah-ke-level-terendah-sejak-1998/

Strategydesk – Rupiah terkapar hari ini, terus tertekan di tengah kejatuhan mata uang emerging markets akibat prospek kenaikan suku bunga the Fed. Selain itu, perlambatan ekonomi China dan kejatuhan harga komoditas turut berperan.

RupiahFOMC menggelar rapat dua hari mulai besok, yang menjadi menu utama pasar keuangan dunia minggu ini. Memang, bank sentral AS itu hampir dipastikan tidak akan mengumumkan keputusan baru. Tapi isi pernyataan pasca rapat itulah yang menjadi sorotan pasar. Pasar ingin mengetahui apa yang akan disampaikan sang ketua Janet Yellen mengenai prospek ekonomi dan inflasi dan pengaruhnya terhadap kebijakan moneter.

Yellen memang pernah mengatakan ada peluang untuk menaikkan suku bunga sebelum 2016. Beberapa pejabat lainnya juga melihat potensi ke arah sana tahun ini. Namun, sebagian kalangan ingin melihat apakah the Fed mengabaikan kondisi global terkini, di mana banyak negara sedang lesu dan bursa saham bertumbangan demi normalisasi kebijakan.

Tekanan atas rupiah juga datang di saat mata uang emerging markets bertumbangan. Mata uang Brazil, Turki, Meksiko dan Afrika Selatan anjlok ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir di saat investor keluar dari negara itu dan harga komoditas merosot. Banyak negara berkembang yang sumber pendapatannya datang dari ekspor komoditas, seperti Indonesia. Ditambah dengan perlambatan ekonomi China, yang merupakan konsumen terbesar beberapa produk komoditas, menambah derita ekonomi tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,12% ke Rp13.462,50 per dollar, setelah bergerak dalam rentang Rp13.443-13.480. Untuk besok, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam kisaran Rp13.400-13.500.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/rupiah-masih-terpuruk-makin-dekati-rp13-500/

Strategydesk – Presiden ECB Mario Draghi mengatakan pertumbuhan terlalu rendah di seluruh 19 negara zona euro meski ada pemulihan.

DraghiDraghi membuat pernyataan lantang itu ketika membuka konferensi bertajuk Inflasi dan Pengangguran Eropa di Portugal, semalam. “Akhir-akhir ini, kondisi ekonomi sedikit membaik di Eropa, tapi pertumbuhan masih terlalu rendah di mana-mana,” katanya. Menurutnya, inflasi juga terlalu rendah, pertanda lemahnya ekonomi, dan orang semakin frustasi dengan lesunya ekonomi yang mereka lihat beberapa tahun ini.

Pernyataan Draghi datang setelah zona euro menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ekonomi tumbuh 0,4% di kuartal pertama dan pertumbuhan tahun ini diperkirakan cukup kuat untuk menurunkan tingkat pengangguran yang saat ini 11,3%, menurut ekonom. Tapi, diperlukan bertahun-tahun untuk mengurangi secara signifikan tingkat pengangguran, yang sangat tinggi di negara krisis. Pengangguran muda mencapai 50% baik di Spanyol maupun Yunani.

Zona euro diterpa krisis utang sejak pada 2009 ketika Yunani melaporkan defisit tak terkendali. Zona euro akhirnya bertindak dengan mengucurkan bailout untuk Yunani. Krisis kemudian menyebar ke Portugal, Irlandia, Siprus dan Spanyol, dan semua negara itu akhirnya turut di-bailout. Meski tidak diterpa krisis, negara lain harus menderita pertumbuhan rendah. Negara seperti Perancis dan Italia harus membuat ekonomi mereka lebih ramah bisnis.

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/draghi-pertumbuhan-eropa-terlalu-rendah/

Strategydesk – Secara teori, harga energi yang rendah bagus untuk pertumbuhan ekonomi karena bisa mengalihkan konsumsi ke barang lain. Namun, menurut Moody’s, penurunan harga minyak akan gagal memberi dorongan signifikan pada pertumbuhan selama dua tahun ke depan.

Oilfield 2Moody’s mengatakan dorongan yang datang dari harga minyak murah akan tertutupi oleh krisis ekonomi di Eropa dan perlambatan di China, Jepang dan Rusia. Alhasil, lembaga rating itu tidak akan merevisi proyeksi pertumbuhan negara G-20. Untuk ekonomi G-20, diperkirakan PDB tumbuh di bawah 3% baik di 2015 maupun di 2016,” katanya.

Marie Diron, Wakil Presiden Moody’s, yang juga penulis laporan itu, mengatakan penurunan harga minyak seharusnya memberi dorongan yang besar untuk pertumbuhan global. Namun, beragam faktor akan menutupi dampak positif yang didapat dari harga energi murah. ”Di zona euro, penurunan harga minyak datang di saat iklim ekonomi yang tidak kondusif, yaitu tingkat pengangguran yang tinggi, inflasi rendah atau negatif, dan ketidakpastian politik,” ujarnya.

Sedangkan di China, harga minyak murah tidak akan dapat menghentikan perlambatan ekonomi yang berjalan perlahan tapi semakin terlihat. Akibat penurunan harga minyak yang tajam, Moody’s memperkirakan Rusia, yang merupakan negara produsen, akan terus resesi sampai 2017.

Menurut Moody’s, satu-satunya negara yang mendapat dorongan besar dari penurunan harga minyak adalah AS. Harga energi yang murah benar-benar dirasakan baik oleh konsumen maupun bisnis, yang dapat meningkatkan belanja.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/minyak-murah-belum-tentu-bagus-untuk-pertumbuhan/

Jakarta, Strategydesk – Rapat the Fed menjadi fokus pasar mata uang minggu ini, dengan isu utama prospek kenaikan suku bunga. Satu hal yang ingin diketahui apa yang akan disampaikan the Fed terkait prospek itu. Sebelum ke sana, perhatian pasar menuju data inflasi Inggris, yang dapat mempengaruhi persepsi pasar pada prospek kebijakan BOE. JPY 16-12-14

Performa ekonomi AS yang gemilang, mendukung pandangan the Fed bakal menjadi bank sentral negara maju pertama yang bisa menaikkan suku bunga. Dengan tingkat pertumbuhan lapangan kerja yang pesat, memperkuat harapan the Fed bakal menegaskan peluang kenaikan suku bunga di pertengahan tahun depan.

The Fed kemungkinan akan mengakui perkembangan ekonomi yang terlihat sejauh ini, seperti penciptaan lapangan kerja, aktivitas pembelanjaan konsumen atau  kondisi bisnis.. Kondisi ini diperkirakan banyak kalangan akan membuat the Fed menyesuaikan gaya bahasanya, dengan cenderung hawkish. The Fed diperkirakan bakal menghilangkan kalimat considerable time yang biasa digunakan untuk menggambarkan penerapan kebijakan akomodatif.

Namun, patut diwaspadai pandangan the Fed soal perlambatan global dan prospek inflasi. Ekonomi Eropa, Jepang dan China berpotensi menghambat pertumbuhan dunia. Dengan penurunan harga minyak yang tajam, berarti berkurangnya tekanan inflasi.  Situasi ini dapat menghalangi the Fed menyampaikan pernyataan soal opsi kenaikan suku bunga.

Untuk hari ini, pasar akan disuguhi data inflasi Inggris, yang diperkirakan semakin melambat. Inflasi tahunan selama Nopember diperkirakan melambat ke 1,2% dari 1,3%. Perlambatan inflasi bisa menambah keraguan BOE bisa menaikkan suku bunganya pertengahan  tahun depan. Di Eropa, ada data sentimen investor Jerman hasil survei ZEW, yang diperkirakan naik ke 20 di Desember dari 11,5 di Nopember.

EUR-USD
Masih bergerak di atas MA 25, EUR-USD rebound setelah jatuh kemarin. Pair ini berusaha menembus kejatuhan kemarin, peluang bullish terjaga bila berhasil ditutup di atas $1,2480. Bila akhirnya ditutup di bawah MA 25, pair ini terancam menuju ke $1,2360.

Rekomendasi harian
Dorongan buy masih bisa terjadi pada EUR-USD, dimana target buy di 1.2390 dengan target take profit 1.2451, dimana stop loss 1.2359. Buy break bisa dilakukan bila terjadi penembusan 1.2477 dengan target take profit 1.2522, dimana stop loss 1.2447.

Sementara itu, untuk sell ada 1.2527 dengan target take profit 1.2477, dimana stop loss 1.2557. Sedangkan posisi sell break bisa dilakukan di 1.2359 dengan peluang take profit di 1.2329 dan 1.2313, dimana stop loss ada penembusan kembali 1.2390.

USD-JPY
Semakin dalam kontraksi USD-JPY, kini melemah 0,2% ke 117,18. Menggunakan Fibonacci retracement, posisi pair ini sudah menembus 23,6% dari penguatan 15 Oktober-8 Desember, kini sedang menuju 38,2%. Penutupan di bawah 116,00 semakin memperbesar peluang ke sana.

Rekomendasi harian
Peluang buy USD-JPY di 116.02 dengan target take profit 116.79, dimana stop loss 115.72. Buy break-nya 117.96  dengan target take profit 118.35, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali ke 117.66.

Sedangkan posisi sell di area 118.47 dengan target take profit 117.97 dan 117.76, dimana stop loss 118.77. Sell break bila terjadi penembusan 116.97, dimana target take profit 116.40 dan 116.21 dengan area stop loss 117.27.

GBP-USD
Belum ada pergerakan besar pada GBP-USD setelah jatuh 0,4% kemarin. Bila jatuh ke bawah $1,5600, pair ini membentuk bearish continuation dengan target $1,5500. Ke atas, ada resistance di $1,5740, bila ditembus, pair ini mencoba bergerak ke $1,5800.

Rekomendasi harian
Pergerakan GBP-USD yang tertahan di resisten 1.5717, membuat GBP masih terus mencobanya. Bila terjadi penembusan area tersebut menjadi ruang untuk sell di 1.5747 dengan target take profit 1.5711 dan 1.5693, dimana stop loss 1.5777. Sedangkan sell break di 1.5594 dengan target take profit 1.5564 dan 1.5549, dimana stop loss bila ada pembalikan harga kembali ke 1.5629.

Buy 1.5533 dengan target take profit 1.5579, dimana stop loss 1.5503.

USD-CHF
Mengalami koreksi, USD-CHF sepertinya mulai menghapus penguatan kemarin. Masih bergerak di bawah MA 25, kondisi pair ini masih bearish. Penutupan di atas 0,9680 membuka peluang bullish dengan target selanjutnya di 0,9730-0,9750. Tapi bila terpuruk di bawah 0,9600, pair ini semakin bearish dengan target 0,9550.

Rekomendasi harian
Untuk USD-CHF buy 0.9597 dengan target take profit 0.9643, dimana stop loss 0.9567. Buy break 0.9658 dengan target take profit 0.9689 dan 0.9704, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali ke 0.9628.

Sell 0.9704 dengan target take profit 0.9666, dimana stop loss 0.9734. Sell break 0.9582 dengan target take profit 0.9567 dan 0.9552, dimana stop loss ada penembusan kembali 0.9613.

AUD-USD
Tak banyak gerak, AUD-USD masih terjebak dekat level terendah dalam 4 tahun. Diperdagangkan di $0,8222, pair ini sempat ke low $0,8200. Bila ditutup di bawah $0,8170, pair ini terancam menuju 0,8100-0,8050. Ke atas, kalaupun berhasil menembus resistance $0,8300, pair ini masih sulit melampaui $0,8400.

Rekomendasi harian
Area 0.8255 menjadi target sell untuk AUD-USD, dengan take profit 0.8209, dimana stop loss 0.8285. Sell break ada penembusan kembali 0.8209 dengan target take profit 0.8179 dan 0.8163 , dimana stop loss 0.8239.

Buy 0.8148 dengan target take profit 0.8194, dimana stop loss 0.8118.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/rekomendasi-forex-sesi-eropa-as-16-desember-2014/

Tanggal March 15, 2013 / 5:15 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – Minyak naik di Asia hari ini seiring dengan pelemahan dollar AS, yang membuat harga menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Aksi ambil untung mengakhiri reli dollar setelah sempat diburu para investor menyusul data ekonomi AS yang menunjukkan pemulihan ekonomi. Reli dollar juga terhenti setelah Uni Eropa mengimbau fokus ke pertumbuhan dan mengurangi penghematan, seruan yang berhasil mengangkat euro. Dalam pertemuan kemarin, Perancis menyarankan fleksibilitas anggaran agar negara anggota bisa menumbukan kembali ekonomi dan membawa zona euro ke pemulihan.

Minyak juga naik berkat data tunjangan pengangguran. Data semalam menunjukkan initial jobless claims turun 10.000 jadi 332.000 minggu lalu, terendah dalam lima tahun terakhir. Daat ini mengangkat sentimen dan menimbulkan harapan prospek permintaan akan semakin cerah di konsumen minyak terbesar dunia itu.

Minyak juga naik menjelang data output industri dan manufaktur AS yang diperkirakan akan menunjukkan perbaikan ekonomi. Pasar memperkirakan adanya pertumbuhan produksi industrial AS bulan lalu. Selain itu, pasar juga memprediksikan inflasi tidak naik signifikan. Data AS terjadwal hari ini antara lain inflasi, indeks sentimen konsumen dan indeks manufaktur New York.

Pada jam 17:00 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman April naik 14 sen ke $93,17 per barel.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/pelemahan-dollar-angkat-minyak.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/pelemahan-dollar-angkat-minyak.html

Tanggal February 21, 2013 / 4:06 pm. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk

•     Emas adalah komoditas yang selalu menarik perhatian siapapun juga.  Menarik untuk dibicarakan, menarik untuk dibeli.
•     Karena kebutuhan untuk emas lebih kerena konsumsi, kebutuhan emas lebih di dorong oleh kondisi ekonomi Dunia dan (terutama) negara-negara utama konsumen emas.

Konsumsi emas terbesar dilakukan oleh  India dan China. Konsumsi emas dari kedua negara ini  dalam beberapa tahun terakhir ini melemah akibat menurunnya pertumbuhan ekonomi dari negara-negara tersebut.
•     Data dari Bank Dunia dan IMF menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2013 bakal lebih baik dari 2012.  Konsumsi dari emas diharapkan meningkat seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dunia.
•     Pertumbuhan ekonomi ini, membuat sebagian besar analis masih bullish terhadap harga emas.  Dari pantauan kami di Bloomberg, rata-rata harga konsensus untuk emas ada di level US$1822 dan akan tercapai pada 4Q2013.
•     Akan tetapi, untuk jangka pendek, harga emas terlihat terus menurun semenjak awal tahun.  Koreksi ini sepertinya disebabkan oleh berkurangnya demand akan emas dari produk ETF Emas.  Beberapa investor besar seperti Soros Fund Manageent dan Moore Capital bahkan dikabarkan mengurangi posisinya pada ETF berbasis emas.
•     Untuk trend jangka pendek, harga emas diperkirakan masih akan melakukan pengujian atas suport dari trend flat jangka menengah di kisaran US$1520 – US$1580 per troy ounces.  Posisi harga emas yang berada di kisaran suport jangka panjang ini membuat kami memberikan rekomendasi BELI untuk komoditas ini dengan potensi kenaikan hingga US$ 1750 – US$1810 untuk jangka panjang. Stoploss jika supor US$1500 gagal bertahan.

Emas : Daya tarik ‘kilauan’ yang tidak pernah pudar
Emas. Siapa yang tidak kenal komoditas
ini.  Wikipedia mendefinisikannya sebagai a dense, soft, shiny, malleable
and ductile metal. Logam yang padat,
lembut, mengkilat, mudah ditempa, dan ulet.  Wikipedia mungkin lupa bahwa warna kuning berkilau, serta nilainya yang selalu terasa ‘mahal’ pada jaman apapun juga, adalah daya tarik logam bagi ini bagi
semua orang. Terutama dalam millennium
ini, dimana harga emas, cenderung terus bergerak naik semenjak tahun 2000 silam. Harga emas yang di awal tahun 2000
hanya berada di level US$289 per troy ounce, pada tahun 2010 lalu sudah sempat mencapai level tertingi di US$1,921.27.  Banyak alasan yang telah
mendorong kenaikan harga emas tersebut. Mulia dari permintaan emas untuk dibuat perhisan, fungsinya sebagai safe heaven/asset class, lindung nilai terhadap inflasi, lindung nilai terhadap melemahnya mata uang, permintaan untuk investasi, supply yang terbatas, permintaan dari bank sentral, kebijakan Pemerintah China yang menyarankan warga negaranya untuk membeli emas.

Akan tetapi, harga emas tidak selamanya menguat. Sejak puncak harga emas yang terjadi pada tahun 2010 di US$1921.27 per troy ounce, harga emas terlihat selalu gagal dalam usahanya untuk kembali mendekati level psikologis US$2,000.  Sejak tahun 2010, harga emas terlihat hanya bergerak flat pada kisaran lebar US$1535—US$1790.  Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti krisis di Eropa dan perlambatan pertumbuhan dari China dan India yang merupakan konsumen terbesar dari Emas, serta masih banyak lagi faktor yang lain.

Di awal tahun 2013 ini, harga emas terihat masih cenderung merosot seiring dengan berkurangnya minat dari pelaku pasar terhadap ETF berbasis emas.  Dari Total of
Gold ETF, dapat kita lihat bahwa sejak awal tahun 2013 tidak terdapat lagi pembelian yang signifikan terhadap Gold ETF.  Berita terahir dari www.mineweb.com pada tanggal 15 Februari 2013 lalu menyebutkan bahkan Soros Fund Management dan Moore Capital telah melakukan penjualan atas ETF berbasis emas
pada jumlah yang signifikan selama 4Q2012.  Soros Fund Management adalah perusahaan yang dimiliki oleh
George Soros, sedangkan Moore Capital adalah perusahaan investasi milik milyarder Louis Moore Bacon.

Emas dalam Currency War
Currency war dikenal pula dengan nama persaingan devaluasi, yaitu kondisi suatu hubungan internasional dimana negara saling bersaing satu sama lain untuk merendahkan atau melemahkan nilai tukar mata uang mereka.  Pelemahan nilai tukar ini, tujuanya untuk menaikkan daya saing ekspor, sehingga ekonomi dari negara yang melakukan pelemahan mata uang, diharapkan bisa tumbuh. Currency war mulai didengungkan oleh menteri keuangan Brazil pada 27 September 2010. Isu ini kembali mencuat setelah Jepang dituding melakukan currency war untuk melemahkan mata uangnya. Untuk mengatasi deflasi, pemerintah baru Jepang Shinzo Abe menerapkan kebijakan stimulus secara agresif melalui BoJ. Hingga Januari 2013, Bank Sentral Jepang tersebut telah melakukan pembelian asset sebesar 101 triliun yen. Usaha pemerintah Jepang untuk mengatasi deflasi tersebut ternyata berdampak pada pelemahan yen, yang kemudian memicu protes negara lain karena kalah bersaing ekspor. Memanasnya isu currecy war ini kemudian dibawa dalam pertemuan G-20 minggu lalu. Dalam pertemuan tersebut Jepang akhirnya terbebas dari tudingan currency war terseut. Pada dasarnya, devaluasi mata uang yang tidak terkontrol dan terukur pada akhirnya bisa
memicu currency war.  Emas cenderung bergerak naik dengan adanya currency war ini. Rendahnya nilai tukar mata uang membuat investor melirik emas sebagai investasi alternatif. Ketika bank-bank sentral mendevaluasi mata uangnya dengan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah, maka nilai tukar mata uang tersebut akan jatuh. Untuk itu, investor akan  mencari investasi alternatif, salah satunya emas.

Membaiknya prospek Pertumbuhan Ekonomi Dunia di tahun 2013 membuat harga emas masih bakal terus meningkat
Permintaan akan emas untuk perhiasan, sangat di tentukan oleh pertumbuhan ekonomi dunia, terutama dari dua negara  terbesar konsumen emas, yaitu China dan India.  Data dari Bank Dunia yang dipublikasikan oleh
Bank Dunia pada bulan Januari 2013 kemarin menunjukkan bahwa secara rata-rata ekonomi dunia masih bakal tumbuh 2,4 persen pada tahun 2013 dan 3,2 persen untuk tahun 2014. Data dari IMF yang dipublikasikan sebelumnya pada bulan Oktober 2012 juga menunjukkan bahwa ekonomi China dan India yang pada tahun 2012 hanya tumbuh 7,8 persen dan 4,9 persen, masing-masing masih akan tumbuh  8,2 persen dan 6,2 persen di tahun 2013. Artinya: pertumbuhan ekonomi Dunia untuk tahun 2013 dan 2014 diperkirakan masih akan terus membaik.  Dan, kondisi perekonomian dunia di tahun 2013, bakal lebih baik dibandingkan dengan 2012.
Membaiknya kondisi perekonomian dunia, dan terutama kedua negara konsumen emas terbesar ini, membuat konsensus analis yang kami pantau dari Bloomberg terlihat masih tetap bullish terhadap outlook harga emas di tahun 2013 ini.  Dari 26 analis yang dipantau oleh Bloomberg, rata-rata masih memprediksikan harga emas bakal berada di level US$1734 untuk 1Q2013, US$1774 untuk 2Q2013, US$1799 untuk 3Q2013 dan US$1822 untuk 4Q2014.  Rata-rata analis masih memprediksikan bahwa harga emas masih bisa mencapai lebih dari US$1800 untuk tahun 2013 ini.

Technically Speaking :
Saatnya mencari peluang ketika harga di kisaran suport

Setelah bergerak turun dari rekor tertinggi US$1921,17 per troy ounces yang tercatat pada tanggal 9 Juni 2011, trend jangka panjang untuk harga emas adalah sebuah trend mendatar (flat) pada sebuah kisaran yang lebar, diantara suport di 1535 dan resisten di 1790. Setidaknya, sudah tiga kali harga emas mencoba melakukan penembusan atas kisran suport dan resisten tersebut, tapi terlihat gagal untuk dilakukan.  Usaha penembusan resisten pernah dilakukan pada bulan November 2011, Februari 2012, dan Oktober 2012.  Disisi lain, suport di level 1535 telah menahan penurunan harga di bulan
September 2011, Desember 2011, dan Mei – Juni 2012.

Gambar di bawah ini juga menunjukkan trend jangka menengah dari komoditas ini berupa trend turun. Sejauh ini, suport dari trend jangka panjang di 1535 diperkirakan bakal menahan potensi koreksi lanjutan dari trend jangka menengah ini.

Untuk jangka pendek, pergerakan harga emas terlihat tengah mengalami perubahan trend, dari sebuah trend flat yang terjadi pada periode Desember 2012 – Februari
2013, menjadi trend turun yang cukup dahsyat.  Dengan
kisaran flat diantara suport 1635 dan resisten di 1695, penembusan atas suport di 1635 bakal membuka potensi koreksi menuju kisaran 1575 – 1585.  Pada hari Jumat, 15 Februari 2013 kemarin, level ini sudah hampir tercapai.  Kisaran suport tersebut diperkirakan bakal tercapai pada minggu ketiga di bulan Februari ini.

Rekomendasi Strategi :
Dalam sebuah trend flat, strategi yang bisa dilakukan oleh seorang trader adalah melakukan posisi beli ketika harga memasuki kisaran suport, dan melakukan posisi jual ketika harga memasuki kisaran resisten.  Dengan adanya trend jangka panjang dari emas yang merupakan trend flat, posisi beli bisa dilakukan ketika harga mencapai kisaran 1520 – 1580, yang merupakan kisaran suport, dan posisi jual bisa dilakukan ketika harga berada di kisaran 1750 – 1810, yang merupakan kisaran resisten.  Adanya potensi koreksi dari trend turun jangka pendek dari komoditas ini, memberikan pemodal kesempatan untuk melakukan akumulasi ketika harga berada dekat di kisaran suport, 1520 – 1580.

Pembatasan resiko :
Ketika melakukan pembasan arah pergerakan harga emas untuk trend jangka pendek, kita bisa melihat bahwa dalam sebuah trend harga yang flat, jika suport dar kisaran flat itu ditembus, maka potensi koreksi yang ada adalah sebesar lebar dari trend yang terjadi sebelumnya.  Trend flat kisaran 1635 – 1695, ketika suport di 1635 ditembus, berarti potensi koreksinya adalah sebesar US$60 jika dihitung dari suport 1635, atau 1635 – 60 = 1575. Jika anda melakukan posisi beli pada kisaran 1520 – 1580, posisi stoploss sebaiknya dilakukan jika suport psikologis 1500 gagal bertahan karena potensi koreksi penembusan atas suport ini, bisa mencapai kisaran US$1250 – US$1300.

 

 

Disclaimer :
Informasi yang terkandung dalam laporan ini telah disusun dari sumber-sumber yang menurut kami terbaik dan dapat diandalkan.  Website www.strategydesk.co.id dan/atau perusahaan afiliasinya dan/atau masing-masing karyawan dan/atau agen penjual tidak menjamin keakurasian dan kelengkapan informasi. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil dari transaksi yang dilakukan dengan berdasarkan atas informasi yang ada pada laporan ini. Semua pendapat, prediksi, perkiraan, dan proyeksi yang ada pada laporan ini adalah merupakan pendapat terbaik yang kami buat, berdasarkan informasi yang kami miliki, pada tanggal laporan ini dibuat, dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan tidak mengikat.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/summary-for-gold.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/summary-for-gold.html

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha