Search Results : data data negara jepang

Strategydesk – Ekonomi global tidak sedang terancam resesi meski terjadi gejolak di pasar keuangan dunia dan adanya potensi perlambatan ekonomi China, menurut Goldman Sachs. Tapi hedge fund itu memangkas outlook saham global.

Goldman Sachs“Kejatuhan harga komoditas selama setahun terakhir dan gejolak pasar di China dan emerging markets lainnya tidak akan menjerumuskan ekonomi global ke dalam resesi,” analis dari bank investasi itu mengatakan dalam catatannya untuk klien, yang dikutip oleh Reuters.

Bank tersebut memangkas outlook jangka pendek bursa saham ke netral, tapi tetap overweight untuk enam sampai 12 bulan ke depan. Goldman Sachs menaikkan outlook jangka pendek saham AS menjadi netral dan menurunkan saham Eropa menjadi netral.

Goldman juga mempertahankan pandangannya bahwa komoditas tetap underperform. “Kami melihat pasar misiterpretasi kejatuhan harga minyak sebagai sinyal pertumbuhan negatif,” katanya. Menurutnya, kejatuhan harga minyak dan komoditas lainnya hanya mencerminkan pasokan berlebihan bukannya permintaan rendah.

Saham global sudah kehilangan $5 triliun nilainya sejak China mendevaluasi yuan, langkah yang memicu spekulasi perlambatan di negara itu lebih buruk dari yang diduga. Gejolak ini menimbulkan keraguan akan prospek ekonomi global ke depan. Bank itu memangkas target harga indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang sebesar 18% karena kekhawatiran soal pertumbuhan global.

“Guncangan pada ekspektasi pertumbuhan dan jatuhnya kepercayaan merupakan inti penyebab kandasnya saham regional. Secara hitoris pergerakan harga, masih ada penurunan 15% lagi. Katalis untuk rebound adalah data ekonomi yang bagus, terutama di China, yang baru keluar enam minggu lagi.

http://www.strategydesk.co.id/2015/08/goldman-tak-ada-ancaman-resesi-global/

premarket 3Indek acuan saham berjangka alami penurunan pada sore hari Kamis ini, mengikuti penurunan yang terjadi pada bursa saham mancanegara.

Musim earning Amerika akan kembali sampaikan berita-berita laporan earning pada malam hari ini. Dimana sebelum bursa saham di Amerika di buka akan ada laporan earning dari Time Warner Cable (TWC) dan Exxon Mobil. Sedangkan setelah pasar tutup pada esok pagi, akan ada laporan earning dari Expedia (EXPE), Linkedln (LNKD), dan Visa (V).

Untuk data ekonominya, pada malam hari ini pemerintah Amerika akan sampaikan laporan data tenaga kerja mingguan, yaitu Jobless Claims yang rilis pada pukul 19:30 WIB. Pemerintah Amerika pada malam hari ini juga akan sampaikan laporan data personal income dan spending yang rilis pada pukul 19:30 WIB.

Harga kontrak minyak mentah berjangka alami kenaikan sebesar 1 persen pada perdagangan elektronik dan berada pada harga diatas $59 per barrel. Harga acuan minyak mentah diperdagangkan pada level tertingginya untuk tahun ini, didukung oleh laporan inventori minyak Amerika yang rilis pada Rabu kemarin, dimana data tersebut tunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraannya.

Bursa saham di Eropa pada sore hari ini alami penurunan, dengan Indek CAC Prancis alami penurunan sebesar 0,8 persen. Harga saham perusahaan raksasa Minyak Shell alami kenaikan sebesar 1,7 persen di London didukung oleh laporan laba perusahaan untuk kuartal pertama yang berhasil lampaui perkiraan analis. Perusahaan peralatan telekomunikasi Nokia (NOK) sampaikan laporan keuangan yang mengecewakan para pelaku pasar, sehingga membuat harga sahamnya alami penurunan sebesar 9 persen.

Bursa saham di Asia, pada hari ini ditutup dengan alami penurunan. Nikkei Jepang alami penurunan sebesar 2,7 persen setelah Bank Sentral tidak keluarkan kebijakan apapun.

Bursa saham di Amerika pada hari Rabu kemarin alami pergerakan yang kurang menarik. Dow Jones industrial average turun 75 poin, sedangkan SP 500 turun 0,4 persen dan Nasdaq ditutup dengan penurunan sebesar 0,6 persen.

Walaupun demikian, kemungkinan besar indek-indek acuan saham Amerika untuk keseluruhan bulan April ditutup positip, walaupun dengan kenaikan kecil.

 

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/premarket-us-wall-street-berpeluang-ditutup-dengan-kenaikan-kecil-untuk-keseluruhan-april/

Strategydesk – China dan Jepang melaporkan data ekonomi yang di bawah harapan kemarin, menambah desakan ke para pemimpin kedua negara untuk menambah stimulus.

Japan EconomyDua survei manufaktur China menunjukkan angka rendah dan perusahaan memangkas tenaga kerja. Indeks PMI manufaktur versi pemerintah dan HSBC menyimpulkan aktivitas manufaktur masih lesu. Di Jepang, hasil survei Tankan dari BOJ menemukan perusahaan pesimis dengan prospek bisnis ke depan dan berencana mengurangi investasi. 2/3 dari 11 ribu perusahaan yang disurvei memperkirakan kondisi bisnis bakal memburuk.

Berkurangnya lapangan kerja di sektor manufaktur China menambah tantangan untuk para pemimpin yang ingin menggapai pertumbuhan berkesinambungan berdasarkan konsumsi domestik dan mencegah lonjakan pengangguran. Beijing sudah memangkas suku bunga dua kali sejak Nopember tahun lalu, namun masih menghindari stimulus skala besar mengingat dapat merusak upayanya mengurangi ketergantungan pada investasi.

Pertumbuhan ekonomi China melambat ke 7,3% di kuartal keempat tahun lalu, bahkan diperkirakan kuartal pertama tahun ini semakin melambat.  Perdana Menteri Li Keqiang menetapkan target pertumbuhan tahun ini hanya 7%, namun ia siap mengeluarkan stimulus bila pengangguran bertambah. Gubernur PBOC Zhou Xiaochuan belum lama mengatakan pihaknya siap melonggarkan kebijakannya lagi, yang diperkirakan berbentuk pemangkasan suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM), bila inflasi terus turun.

Berbeda dengan China, para pejabat Jepang belum terlihat ada tanda-tanda mau menambah stimulus. Media setempat berspekulasi adanya friksi antara bank sentral dan pemerintahan Shinzo Abe soal stimulus. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda mengatakan ekonomi masih dalam jalur pemulihan dan inflasi bisa naik lagi ketika harga minyak stabil kembali.

Sebaliknya pemerintah mengimbau BOJ untuk mengeluarkannya stimulus  moneter lagi, mengingat ruang fiskal sudah sempit.  Bahkan Abe mempertimbangkan menaikkan pajak untuk orang kaya, sebagai kompensasi atas dibatalkannya kenaikan pajak penjualan tahap kedua.

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/data-suram-china-jepang-tegaskan-perlunya-stimulus/

Strategydesk – Ekonomi global, yang sempat ditakutkan bakal semakin lesu tahun ini, mulai terlihat membaik dengan dukungan minyak murah dan bunga rendah.

Itulah pandangan optimis para ekonom dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Associated Press. Dalam survei itu, mereka tidak lagi melihat krisis finansial Eropa, sektor perumahan AS dan  kebuntuan kongres sebagai ancaman seperti tahun lalu. AP melakukan survei terhadap hampir tiga lusin perusahaan dan ekonom selama periode 19-25 Februari. Sebagian besar dari mereka mengatakan ekonomi Eropa dan Jepang akan diuntungkan oleh penurunan harga energi dan kebijakan moneter akomodatif.

” Ekonomi AS semakin bagus, dan kita mendapat banyak berita positif dari Eropa,” kata Nariman Behravesh, ekonom utama di IHS Global Insight. Menurutnya, ekonomi global mulai bangkit. Konsumen AS dianggap sebagai mesin penggerak, berkat penurunan harga BBM, pertumbuhan lapangan kerja yang pesat dan kenaikan upah. Pembelanjaan mereka diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan tahun ini, baik AS maupun global. Behravesh memproyeksikan peningkatan pembelanjaan di AS dapat membantu pertumbuhan gloobal.

Menurutnya pembelanjaan kolektif AS lebih besar dari ekonomi negara manapun. Peningkatan belanja ini tidak lepas dari penyerapan tenaga kerja AS yang tinggi. Selama tiga bulan terakhir, sebanyak 1 juta lapangan kerja baru tercipta. Selain itu, lebih dari 3,2 juta orang mendapat kenaikan upah bulan lalu.

Prospek yang lebih cerah ini dipandang sebagai titik balik dari awal tahun lalu, ketika ekonomi global dibayangi oleh konflik Ukraina, munculnya kelompok teroris ISIS. Keengganan ECB mengeluarkan stimulus turut menghambat pertumbuhan di Eropa.

Para ekonom memang tidak menampik adanya perlambatan ekonomi di China, yang  berdampak pada negara eksportir mulai dari Amerika Selatan sampai Australia. Namun mereka optimis China bisa menghindari hard landing. Dengan pemangkasan suku bunga dua kali berturut-turut dalam tiga bulan terakhir oleh bank sentralnya, diharapkan dapat menjaga pertumbuhan.

Di Eropa, Data minggu lalu menunjukkan optimisme mengenai prospek ekonomi. Penjualan ritel di zona euro selama Januari mengalami pertumbuhan terpesat dalam 1,5 tahun. Laporan terpisah dari Markit Economis menunjukkan aktivitas bisnis mencatat pertumbuhan terpesar dalam tujuh bulan.

http://www.strategydesk.co.id/2015/03/prospek-ekonomi-global-mulai-membaik/

Strategydesk – Secara teori, harga energi yang rendah bagus untuk pertumbuhan ekonomi karena bisa mengalihkan konsumsi ke barang lain. Namun, menurut Moody’s, penurunan harga minyak akan gagal memberi dorongan signifikan pada pertumbuhan selama dua tahun ke depan.

Oilfield 2Moody’s mengatakan dorongan yang datang dari harga minyak murah akan tertutupi oleh krisis ekonomi di Eropa dan perlambatan di China, Jepang dan Rusia. Alhasil, lembaga rating itu tidak akan merevisi proyeksi pertumbuhan negara G-20. Untuk ekonomi G-20, diperkirakan PDB tumbuh di bawah 3% baik di 2015 maupun di 2016,” katanya.

Marie Diron, Wakil Presiden Moody’s, yang juga penulis laporan itu, mengatakan penurunan harga minyak seharusnya memberi dorongan yang besar untuk pertumbuhan global. Namun, beragam faktor akan menutupi dampak positif yang didapat dari harga energi murah. ”Di zona euro, penurunan harga minyak datang di saat iklim ekonomi yang tidak kondusif, yaitu tingkat pengangguran yang tinggi, inflasi rendah atau negatif, dan ketidakpastian politik,” ujarnya.

Sedangkan di China, harga minyak murah tidak akan dapat menghentikan perlambatan ekonomi yang berjalan perlahan tapi semakin terlihat. Akibat penurunan harga minyak yang tajam, Moody’s memperkirakan Rusia, yang merupakan negara produsen, akan terus resesi sampai 2017.

Menurut Moody’s, satu-satunya negara yang mendapat dorongan besar dari penurunan harga minyak adalah AS. Harga energi yang murah benar-benar dirasakan baik oleh konsumen maupun bisnis, yang dapat meningkatkan belanja.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/minyak-murah-belum-tentu-bagus-untuk-pertumbuhan/

Strategydesk – Saham Asia berakhir variatif hari ini akibat masalah bailout Yunani dan data inflasi China yang menimbulkan kekhawatiran akan ancaman perlambatan.

Asian stocks 2Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengatakan pemerintah tidak akan meminta perpanjangan program bailout dan berencana membatalkan program penghematan. Di China, Inflasi naik 0,8% selama Januari dari tahun lalu, terendah dalam lima tahun, mengindikasikan ekonomi sedang melambat.

Dj Jepang, indeks Nikkei berakhir di zona merah hari ini di tengah mencuatnya kekhawatiran soal Yunani, yang menolak memperpanjang program bailout. Tapi Nissan berhasil menarik minat beli dengan proyeksinya yang cerah. Indeks Nikkei ditutup melemah 0,3% ke 17.652,68.

Di Korsel, indeks Kospi juga tertekan oleh isu Yunani, yang menggerus. Kekisruhan soal program bailout-nya menimbulkan kecemasan akan keluarnya negara itu dari zona euro. Selain itu,  data inflasi China turut menekan sentimen. Dua saham unggulan, yaitu Samsung Electronics dan Hyundai Motor tergelincir. Indeks Kospi melemah 0,57% ke 1.935,86.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng berhasil menghapus kejatuhan dan berakhir flat hari ini, berkat penguatan saham China. Bursa sahm daratan terangkat oleh ekspektasi Beijing akan meluncurkan stimulus baru untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Menurut analis, data ekonomi buruk selama dua hari terakhir menambah prospek tambahan  stimulus moneter dari bank sentral. Indeks Hang Seng ditutup flat di 24.528,10.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/saham-asia-tertekan-yunani-data-china/

Jakarta, Strategydesk – Rapat the Fed menjadi fokus pasar mata uang minggu ini, dengan isu utama prospek kenaikan suku bunga. Satu hal yang ingin diketahui apa yang akan disampaikan the Fed terkait prospek itu. Sebelum ke sana, perhatian pasar menuju data inflasi Inggris, yang dapat mempengaruhi persepsi pasar pada prospek kebijakan BOE. JPY 16-12-14

Performa ekonomi AS yang gemilang, mendukung pandangan the Fed bakal menjadi bank sentral negara maju pertama yang bisa menaikkan suku bunga. Dengan tingkat pertumbuhan lapangan kerja yang pesat, memperkuat harapan the Fed bakal menegaskan peluang kenaikan suku bunga di pertengahan tahun depan.

The Fed kemungkinan akan mengakui perkembangan ekonomi yang terlihat sejauh ini, seperti penciptaan lapangan kerja, aktivitas pembelanjaan konsumen atau  kondisi bisnis.. Kondisi ini diperkirakan banyak kalangan akan membuat the Fed menyesuaikan gaya bahasanya, dengan cenderung hawkish. The Fed diperkirakan bakal menghilangkan kalimat considerable time yang biasa digunakan untuk menggambarkan penerapan kebijakan akomodatif.

Namun, patut diwaspadai pandangan the Fed soal perlambatan global dan prospek inflasi. Ekonomi Eropa, Jepang dan China berpotensi menghambat pertumbuhan dunia. Dengan penurunan harga minyak yang tajam, berarti berkurangnya tekanan inflasi.  Situasi ini dapat menghalangi the Fed menyampaikan pernyataan soal opsi kenaikan suku bunga.

Untuk hari ini, pasar akan disuguhi data inflasi Inggris, yang diperkirakan semakin melambat. Inflasi tahunan selama Nopember diperkirakan melambat ke 1,2% dari 1,3%. Perlambatan inflasi bisa menambah keraguan BOE bisa menaikkan suku bunganya pertengahan  tahun depan. Di Eropa, ada data sentimen investor Jerman hasil survei ZEW, yang diperkirakan naik ke 20 di Desember dari 11,5 di Nopember.

EUR-USD
Masih bergerak di atas MA 25, EUR-USD rebound setelah jatuh kemarin. Pair ini berusaha menembus kejatuhan kemarin, peluang bullish terjaga bila berhasil ditutup di atas $1,2480. Bila akhirnya ditutup di bawah MA 25, pair ini terancam menuju ke $1,2360.

Rekomendasi harian
Dorongan buy masih bisa terjadi pada EUR-USD, dimana target buy di 1.2390 dengan target take profit 1.2451, dimana stop loss 1.2359. Buy break bisa dilakukan bila terjadi penembusan 1.2477 dengan target take profit 1.2522, dimana stop loss 1.2447.

Sementara itu, untuk sell ada 1.2527 dengan target take profit 1.2477, dimana stop loss 1.2557. Sedangkan posisi sell break bisa dilakukan di 1.2359 dengan peluang take profit di 1.2329 dan 1.2313, dimana stop loss ada penembusan kembali 1.2390.

USD-JPY
Semakin dalam kontraksi USD-JPY, kini melemah 0,2% ke 117,18. Menggunakan Fibonacci retracement, posisi pair ini sudah menembus 23,6% dari penguatan 15 Oktober-8 Desember, kini sedang menuju 38,2%. Penutupan di bawah 116,00 semakin memperbesar peluang ke sana.

Rekomendasi harian
Peluang buy USD-JPY di 116.02 dengan target take profit 116.79, dimana stop loss 115.72. Buy break-nya 117.96  dengan target take profit 118.35, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali ke 117.66.

Sedangkan posisi sell di area 118.47 dengan target take profit 117.97 dan 117.76, dimana stop loss 118.77. Sell break bila terjadi penembusan 116.97, dimana target take profit 116.40 dan 116.21 dengan area stop loss 117.27.

GBP-USD
Belum ada pergerakan besar pada GBP-USD setelah jatuh 0,4% kemarin. Bila jatuh ke bawah $1,5600, pair ini membentuk bearish continuation dengan target $1,5500. Ke atas, ada resistance di $1,5740, bila ditembus, pair ini mencoba bergerak ke $1,5800.

Rekomendasi harian
Pergerakan GBP-USD yang tertahan di resisten 1.5717, membuat GBP masih terus mencobanya. Bila terjadi penembusan area tersebut menjadi ruang untuk sell di 1.5747 dengan target take profit 1.5711 dan 1.5693, dimana stop loss 1.5777. Sedangkan sell break di 1.5594 dengan target take profit 1.5564 dan 1.5549, dimana stop loss bila ada pembalikan harga kembali ke 1.5629.

Buy 1.5533 dengan target take profit 1.5579, dimana stop loss 1.5503.

USD-CHF
Mengalami koreksi, USD-CHF sepertinya mulai menghapus penguatan kemarin. Masih bergerak di bawah MA 25, kondisi pair ini masih bearish. Penutupan di atas 0,9680 membuka peluang bullish dengan target selanjutnya di 0,9730-0,9750. Tapi bila terpuruk di bawah 0,9600, pair ini semakin bearish dengan target 0,9550.

Rekomendasi harian
Untuk USD-CHF buy 0.9597 dengan target take profit 0.9643, dimana stop loss 0.9567. Buy break 0.9658 dengan target take profit 0.9689 dan 0.9704, dimana stop loss ada pembalikan harga kembali ke 0.9628.

Sell 0.9704 dengan target take profit 0.9666, dimana stop loss 0.9734. Sell break 0.9582 dengan target take profit 0.9567 dan 0.9552, dimana stop loss ada penembusan kembali 0.9613.

AUD-USD
Tak banyak gerak, AUD-USD masih terjebak dekat level terendah dalam 4 tahun. Diperdagangkan di $0,8222, pair ini sempat ke low $0,8200. Bila ditutup di bawah $0,8170, pair ini terancam menuju 0,8100-0,8050. Ke atas, kalaupun berhasil menembus resistance $0,8300, pair ini masih sulit melampaui $0,8400.

Rekomendasi harian
Area 0.8255 menjadi target sell untuk AUD-USD, dengan take profit 0.8209, dimana stop loss 0.8285. Sell break ada penembusan kembali 0.8209 dengan target take profit 0.8179 dan 0.8163 , dimana stop loss 0.8239.

Buy 0.8148 dengan target take profit 0.8194, dimana stop loss 0.8118.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/rekomendasi-forex-sesi-eropa-as-16-desember-2014/

Tanggal April 15, 2013 / 5:06 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – EUR/JPY terus melemah hari ini, sampai ke bawah level psikologis 128 menyusul serangkaian data ekonomi dunia yang buruk.

Mata uang Jepang itu, yang dianggap safe haven dan cenderung menguat ketika ada gejolak ekonomi global meski kini semakin likuid, terangkat oleh data PDB China yang mengecewakan. Ekonomi terbesar kedua dunia itu tumbuh 7,7% di kuartal pertama dari periode sama tahun lalu, di bawah periode sebelumnya 7,9% dan prediksi 8,0%. Data itu menyusul data penjualan ritel dan sentimen konsumen AS yang juga buruk.

Yen juga menguat karena laporan Departemen Keuangan AS yang menyebutkan pihaknya akan mengawasi kebijakan Jepang untuk memastikan mereka tidak mendevaluasi mata uang untuk mengangkat daya saing. Pernyataan eksplisit AS itu datang menjelang pertemuan G-20 Kamis nanti. Pasa mulai khawatir negara lain juga akan mengeluh atau mengkritik kebijakan moneter Jepang.

Pada jam 17:00 WIB, EUR/JPY diperdagangkan di 128,00, setelah sempat jatuh ke low di 127,53. Dengan itu, pair ini suda di bawah 23,6% retracement penguatan 4-11 April di 128,12. Bila ditutup di bawah itu akan mencoba bergerak ke 38,2% di 126,54, kalau lanjut,  menuju 50% di 125,00.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/eurjpy-ke-bawah-128.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/eurjpy-ke-bawah-128.html

Tanggal February 21, 2013 / 4:06 pm. Oleh: Nanang Wahyudin

Jakarta, Strategydesk

•     Emas adalah komoditas yang selalu menarik perhatian siapapun juga.  Menarik untuk dibicarakan, menarik untuk dibeli.
•     Karena kebutuhan untuk emas lebih kerena konsumsi, kebutuhan emas lebih di dorong oleh kondisi ekonomi Dunia dan (terutama) negara-negara utama konsumen emas.

Konsumsi emas terbesar dilakukan oleh  India dan China. Konsumsi emas dari kedua negara ini  dalam beberapa tahun terakhir ini melemah akibat menurunnya pertumbuhan ekonomi dari negara-negara tersebut.
•     Data dari Bank Dunia dan IMF menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2013 bakal lebih baik dari 2012.  Konsumsi dari emas diharapkan meningkat seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi dunia.
•     Pertumbuhan ekonomi ini, membuat sebagian besar analis masih bullish terhadap harga emas.  Dari pantauan kami di Bloomberg, rata-rata harga konsensus untuk emas ada di level US$1822 dan akan tercapai pada 4Q2013.
•     Akan tetapi, untuk jangka pendek, harga emas terlihat terus menurun semenjak awal tahun.  Koreksi ini sepertinya disebabkan oleh berkurangnya demand akan emas dari produk ETF Emas.  Beberapa investor besar seperti Soros Fund Manageent dan Moore Capital bahkan dikabarkan mengurangi posisinya pada ETF berbasis emas.
•     Untuk trend jangka pendek, harga emas diperkirakan masih akan melakukan pengujian atas suport dari trend flat jangka menengah di kisaran US$1520 – US$1580 per troy ounces.  Posisi harga emas yang berada di kisaran suport jangka panjang ini membuat kami memberikan rekomendasi BELI untuk komoditas ini dengan potensi kenaikan hingga US$ 1750 – US$1810 untuk jangka panjang. Stoploss jika supor US$1500 gagal bertahan.

Emas : Daya tarik ‘kilauan’ yang tidak pernah pudar
Emas. Siapa yang tidak kenal komoditas
ini.  Wikipedia mendefinisikannya sebagai a dense, soft, shiny, malleable
and ductile metal. Logam yang padat,
lembut, mengkilat, mudah ditempa, dan ulet.  Wikipedia mungkin lupa bahwa warna kuning berkilau, serta nilainya yang selalu terasa ‘mahal’ pada jaman apapun juga, adalah daya tarik logam bagi ini bagi
semua orang. Terutama dalam millennium
ini, dimana harga emas, cenderung terus bergerak naik semenjak tahun 2000 silam. Harga emas yang di awal tahun 2000
hanya berada di level US$289 per troy ounce, pada tahun 2010 lalu sudah sempat mencapai level tertingi di US$1,921.27.  Banyak alasan yang telah
mendorong kenaikan harga emas tersebut. Mulia dari permintaan emas untuk dibuat perhisan, fungsinya sebagai safe heaven/asset class, lindung nilai terhadap inflasi, lindung nilai terhadap melemahnya mata uang, permintaan untuk investasi, supply yang terbatas, permintaan dari bank sentral, kebijakan Pemerintah China yang menyarankan warga negaranya untuk membeli emas.

Akan tetapi, harga emas tidak selamanya menguat. Sejak puncak harga emas yang terjadi pada tahun 2010 di US$1921.27 per troy ounce, harga emas terlihat selalu gagal dalam usahanya untuk kembali mendekati level psikologis US$2,000.  Sejak tahun 2010, harga emas terlihat hanya bergerak flat pada kisaran lebar US$1535—US$1790.  Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti krisis di Eropa dan perlambatan pertumbuhan dari China dan India yang merupakan konsumen terbesar dari Emas, serta masih banyak lagi faktor yang lain.

Di awal tahun 2013 ini, harga emas terihat masih cenderung merosot seiring dengan berkurangnya minat dari pelaku pasar terhadap ETF berbasis emas.  Dari Total of
Gold ETF, dapat kita lihat bahwa sejak awal tahun 2013 tidak terdapat lagi pembelian yang signifikan terhadap Gold ETF.  Berita terahir dari www.mineweb.com pada tanggal 15 Februari 2013 lalu menyebutkan bahkan Soros Fund Management dan Moore Capital telah melakukan penjualan atas ETF berbasis emas
pada jumlah yang signifikan selama 4Q2012.  Soros Fund Management adalah perusahaan yang dimiliki oleh
George Soros, sedangkan Moore Capital adalah perusahaan investasi milik milyarder Louis Moore Bacon.

Emas dalam Currency War
Currency war dikenal pula dengan nama persaingan devaluasi, yaitu kondisi suatu hubungan internasional dimana negara saling bersaing satu sama lain untuk merendahkan atau melemahkan nilai tukar mata uang mereka.  Pelemahan nilai tukar ini, tujuanya untuk menaikkan daya saing ekspor, sehingga ekonomi dari negara yang melakukan pelemahan mata uang, diharapkan bisa tumbuh. Currency war mulai didengungkan oleh menteri keuangan Brazil pada 27 September 2010. Isu ini kembali mencuat setelah Jepang dituding melakukan currency war untuk melemahkan mata uangnya. Untuk mengatasi deflasi, pemerintah baru Jepang Shinzo Abe menerapkan kebijakan stimulus secara agresif melalui BoJ. Hingga Januari 2013, Bank Sentral Jepang tersebut telah melakukan pembelian asset sebesar 101 triliun yen. Usaha pemerintah Jepang untuk mengatasi deflasi tersebut ternyata berdampak pada pelemahan yen, yang kemudian memicu protes negara lain karena kalah bersaing ekspor. Memanasnya isu currecy war ini kemudian dibawa dalam pertemuan G-20 minggu lalu. Dalam pertemuan tersebut Jepang akhirnya terbebas dari tudingan currency war terseut. Pada dasarnya, devaluasi mata uang yang tidak terkontrol dan terukur pada akhirnya bisa
memicu currency war.  Emas cenderung bergerak naik dengan adanya currency war ini. Rendahnya nilai tukar mata uang membuat investor melirik emas sebagai investasi alternatif. Ketika bank-bank sentral mendevaluasi mata uangnya dengan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah, maka nilai tukar mata uang tersebut akan jatuh. Untuk itu, investor akan  mencari investasi alternatif, salah satunya emas.

Membaiknya prospek Pertumbuhan Ekonomi Dunia di tahun 2013 membuat harga emas masih bakal terus meningkat
Permintaan akan emas untuk perhiasan, sangat di tentukan oleh pertumbuhan ekonomi dunia, terutama dari dua negara  terbesar konsumen emas, yaitu China dan India.  Data dari Bank Dunia yang dipublikasikan oleh
Bank Dunia pada bulan Januari 2013 kemarin menunjukkan bahwa secara rata-rata ekonomi dunia masih bakal tumbuh 2,4 persen pada tahun 2013 dan 3,2 persen untuk tahun 2014. Data dari IMF yang dipublikasikan sebelumnya pada bulan Oktober 2012 juga menunjukkan bahwa ekonomi China dan India yang pada tahun 2012 hanya tumbuh 7,8 persen dan 4,9 persen, masing-masing masih akan tumbuh  8,2 persen dan 6,2 persen di tahun 2013. Artinya: pertumbuhan ekonomi Dunia untuk tahun 2013 dan 2014 diperkirakan masih akan terus membaik.  Dan, kondisi perekonomian dunia di tahun 2013, bakal lebih baik dibandingkan dengan 2012.
Membaiknya kondisi perekonomian dunia, dan terutama kedua negara konsumen emas terbesar ini, membuat konsensus analis yang kami pantau dari Bloomberg terlihat masih tetap bullish terhadap outlook harga emas di tahun 2013 ini.  Dari 26 analis yang dipantau oleh Bloomberg, rata-rata masih memprediksikan harga emas bakal berada di level US$1734 untuk 1Q2013, US$1774 untuk 2Q2013, US$1799 untuk 3Q2013 dan US$1822 untuk 4Q2014.  Rata-rata analis masih memprediksikan bahwa harga emas masih bisa mencapai lebih dari US$1800 untuk tahun 2013 ini.

Technically Speaking :
Saatnya mencari peluang ketika harga di kisaran suport

Setelah bergerak turun dari rekor tertinggi US$1921,17 per troy ounces yang tercatat pada tanggal 9 Juni 2011, trend jangka panjang untuk harga emas adalah sebuah trend mendatar (flat) pada sebuah kisaran yang lebar, diantara suport di 1535 dan resisten di 1790. Setidaknya, sudah tiga kali harga emas mencoba melakukan penembusan atas kisran suport dan resisten tersebut, tapi terlihat gagal untuk dilakukan.  Usaha penembusan resisten pernah dilakukan pada bulan November 2011, Februari 2012, dan Oktober 2012.  Disisi lain, suport di level 1535 telah menahan penurunan harga di bulan
September 2011, Desember 2011, dan Mei – Juni 2012.

Gambar di bawah ini juga menunjukkan trend jangka menengah dari komoditas ini berupa trend turun. Sejauh ini, suport dari trend jangka panjang di 1535 diperkirakan bakal menahan potensi koreksi lanjutan dari trend jangka menengah ini.

Untuk jangka pendek, pergerakan harga emas terlihat tengah mengalami perubahan trend, dari sebuah trend flat yang terjadi pada periode Desember 2012 – Februari
2013, menjadi trend turun yang cukup dahsyat.  Dengan
kisaran flat diantara suport 1635 dan resisten di 1695, penembusan atas suport di 1635 bakal membuka potensi koreksi menuju kisaran 1575 – 1585.  Pada hari Jumat, 15 Februari 2013 kemarin, level ini sudah hampir tercapai.  Kisaran suport tersebut diperkirakan bakal tercapai pada minggu ketiga di bulan Februari ini.

Rekomendasi Strategi :
Dalam sebuah trend flat, strategi yang bisa dilakukan oleh seorang trader adalah melakukan posisi beli ketika harga memasuki kisaran suport, dan melakukan posisi jual ketika harga memasuki kisaran resisten.  Dengan adanya trend jangka panjang dari emas yang merupakan trend flat, posisi beli bisa dilakukan ketika harga mencapai kisaran 1520 – 1580, yang merupakan kisaran suport, dan posisi jual bisa dilakukan ketika harga berada di kisaran 1750 – 1810, yang merupakan kisaran resisten.  Adanya potensi koreksi dari trend turun jangka pendek dari komoditas ini, memberikan pemodal kesempatan untuk melakukan akumulasi ketika harga berada dekat di kisaran suport, 1520 – 1580.

Pembatasan resiko :
Ketika melakukan pembasan arah pergerakan harga emas untuk trend jangka pendek, kita bisa melihat bahwa dalam sebuah trend harga yang flat, jika suport dar kisaran flat itu ditembus, maka potensi koreksi yang ada adalah sebesar lebar dari trend yang terjadi sebelumnya.  Trend flat kisaran 1635 – 1695, ketika suport di 1635 ditembus, berarti potensi koreksinya adalah sebesar US$60 jika dihitung dari suport 1635, atau 1635 – 60 = 1575. Jika anda melakukan posisi beli pada kisaran 1520 – 1580, posisi stoploss sebaiknya dilakukan jika suport psikologis 1500 gagal bertahan karena potensi koreksi penembusan atas suport ini, bisa mencapai kisaran US$1250 – US$1300.

 

 

Disclaimer :
Informasi yang terkandung dalam laporan ini telah disusun dari sumber-sumber yang menurut kami terbaik dan dapat diandalkan.  Website www.strategydesk.co.id dan/atau perusahaan afiliasinya dan/atau masing-masing karyawan dan/atau agen penjual tidak menjamin keakurasian dan kelengkapan informasi. Kami tidak bertanggung jawab atas hasil dari transaksi yang dilakukan dengan berdasarkan atas informasi yang ada pada laporan ini. Semua pendapat, prediksi, perkiraan, dan proyeksi yang ada pada laporan ini adalah merupakan pendapat terbaik yang kami buat, berdasarkan informasi yang kami miliki, pada tanggal laporan ini dibuat, dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan tidak mengikat.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/summary-for-gold.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/summary-for-gold.html

Tanggal January 30, 2013 / 6:39 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – EUR/GBP semakin melaju, meraih level tertinggi dalam 13 bulan terakhir, didorong oleh minat beli yang tinggi atas euro dan pelemahan sterling.

Pamor mata uang tunggal Eropa itu meningkat setelah serangkaian data ekonomi yang mengindikaskan benua itu dalam jalur pemulihan dan indikasi stabilisasi perbankan Eropa menyusul pembayaran pinjaman murah ECB. Kondisi ini menambah optimisme kondisi terburuk krisis utang sudah lewat. Momentum positif euro ini membuat investor mengabaikan data buruk Spanyol hari ini, yang menunjukkan kontraksi ekonomi.

Investor, terutama dari Jepang, terus mengalirkan dana ke aset zona euro, mendorong mata uang itu. Menurut analis, inisiatif kebijakan di Eropa untuk menstabilkan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan akhirnya membuahkan hasil, sembari menambahkan penguatan euro akan terlihat pada cross. Namun beberapa analis memperingatkan apresiasi euro bisa terhenti kecuali diiringi dengan data baru.

Sebaliknya, sentimen pasar terhadap mata uang Inggris tetap negatif, menyusul data yang menunjukkan negara itu terancam menuju triple dip recession. Data bulan ini menunjukkan ekonomi Inggris mengalami kontraksi di kuartal keempat. Kondisi ini dapat memaksa BOE untuk melanjutkan program Quantitative Easing (QE). Tekanan juga datang setelah muncul wacana referendum keanggotaan Inggris dalam Uni Eropa. Pernyataan anggota dewan BOE bahwa ekonomi Inggris bisa membaik tidak banyak berpengaruh pada mata uangnya.

Pada jam 17:45 WIB, EUR/GBP diperdagangkan di 0,8594, setelah berhasil menyentuh 0,8605, tertinggi sejak Desember 2011. Pair ini sedang menuju penguatan mingguan empat kali berturut-turut. Beberapa indikator menunjukkan kondisi jenuh beli, seperti RSI (14) yang berada 83, jauh di atas batas 70, dan Stochastc (14,3,3), yang berada di 96, di atas ambang batas 80. Namun harga belum menyentuh garis atas Bollinger Bands (14) yang berada di 0,8629. Selain itu, MACD (12,26,9) belum menunjukkan divergence.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/eurgbp-tembus-086.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/eurgbp-tembus-086.html

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha