Search Results : dampak kenaikan dollar

Strategydesk – Rupiah berhasil menguat hari ini setelah hasil rapat the Fed yang mempertahankan kebijakannya dan serangkaian faktor dari dalam negeri.

Rupiah 2Dalam rapat semalam, the Fed tidak mengubah suku bunganya di 0,5%. Menyikapi kondisi terkini, the Fed mengatakan akan terus mengamati perkembangan ekonomi dan finansial global untuk menilai dampaknya pada ekonomi AS. Hal ini mengindikasikan the Fed mengakui gejolak global yang terjadi akhir-akhir ini dan ini menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan.

Meski demikian, the Fed tidak sepenuhnya menutup kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Intinya, pernyataan the Fed itu mencerminkan kehati-hatian di tengah kondisi global yang masih rawan guncangan. Sikap itulah yang dianggap pasar the Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunganya lagi.

Penguatan rupiah juga datang berkat pernyataan Gubernur BI Agus Marto, dimana ia optimis nilai tukar akan terus menguat tahun ini meski Bank Dunia menurunkan proyeksi harga minyak. Menurutnya, kondisi fundamental akan membaik di semester kedua dan itu akan tercermin dari mata uang. Ia optimis rupiah bisa menguat karena adanya peningkatan kepercayaan pasar terhadap Indonesia dan membaiknya harga komoditas.

Rupiah juga terangkat setelah pemerintah mengumumkan paket kebijakan IX kemarin, di mana salah satu poinnya adalah mewajibkan penggunaan rupiah dalam transaksi di kegiatan transportasi. Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution aturan itu bertujuan agar ada kepastian tarif dalam bentuk rupiah.

Untuk besok ada data PDB AS, yang diperkirakan akan menunjukkan bahwa ekonomi melambat di kuartal keempat. Perlambatan PDB AS berpotensi mengurangi prospek kenaikan suku bunga, yang kemudian mengangkat rupiah. Tapi, kalaupun datanya bagus, rupiah sepertinya masih mampu bertahan di bawah 14.000. Meski demikian, dalam jangka pendek ini, rupiah sepertinya masih belum mampu melewati ke bawah 13.700.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,02% ke Rp13.873 per dollar, setelah bergerak dalam rentang Rp13.839-13.915. Besok, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp13830-13900

http://www.strategydesk.co.id/2016/01/sempat-tertekan-rupiah-berakhir-di-rp13870/

Strategydesk – Dollar mendulang penguatan signifikan setelah the Fed menaikkan suku bunganya untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun dan pernyataan sang ketua Janet Yellen mengenai arah kebijakan. ‘
Dalam rapat yang berakhir semalam, the Fed menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps menjadi 0,5%. Secara bulat para anggota komite menetapkan federal fund rate berada pada 0,25-0,50%, naik dari sebelumnya 0-0,25%. Dalam jumpa pers, Yellen mengatakan komite menyimpulkan bahwa dengan penyesuaian bertahap kebijakan moneter, aktivitas ekonomi akan terus tumbuh moderat dan indikator ketenagakerjaan terus meningkat. Namun ia juga mengatakan keputusan selanjutnya akan tetap bergantung pada data ekonomi.
Secara terpisah, muncul proyeksi dari the Fed mengenai proyeksi kenaikan suku bunga. Dalam proyeksi itu, tersaji dalam chart yang disebut dengan dot plot, terlihat bahwa suku bunga diperkirakan mencapai 1,375% di akhir tahun depan, yang artinya bakal ada empat kali kenaikan sepanjang tahun itu. Proyeksi inilah yang menyebabkan dollar menguat atas major currencies pasca kenaikan suku bunga.
Secara historis, dollar selalu melemah setelah the Fed menaikkan suku bunga. Itu terjadi dalam tiga kali siklus pengetatan. Sebelum ini, the Fed menaikkan suku bunganya pada 2006. Selain itu, dollar biasanya didera aksi ambil untung di tahap awal siklus pengetatan. Di sisi lain, secara historis, dollar biasanya menguat di akhir tahun.
Indeks dollar menguat 0,4% ke 98,80 dengan sempat menyentuh high 98,95. bila ditutup di atas 99,00 , indeks berpeluang menuju 99,30. Terhadap yen, dollar menguat 0,2% ke 122,48 setelah menguat 0,4% kemarin. Dollar sudah menguat selama empat sesi berturut-turut dan sedang menguji resistance 122,70. bila level itu ditembus, dollar berpoyensi menuju 123,00.
Mengenai mata uang lain, euro, sterling dan aussie terkena dampak penguatan dollar. Euro melanjutkan penurunannya menjadi tiga sesi berturut-turut, dengan posisinya kini di $1,0853 atau melemah 0,3% dari posisi kemarin. Sterling juga turut tertekan, jatuh 0,2% ke $1,4953. Aussie lebih merana, menjadi mata uang performa terburuk hari ini, dengan jatuh hampir 1% ke $0,7174.

Dollar Index 17 Des

EUR-USD
Buy: $1,0770-1,0800. Stop Loss $1,0740 Take Profit $1,0865
Sell: $1,0950-1,0925 Stop Loss $1,0980 Take Profit $1,0850

USD-JPY
Buy: 121,80-122,00 Stop Loss 121,60 Take Profit 122,50
Sell: 122,80-122,60 Stop Loss 123,00 Take Profit 122,00

GBP-USD
Buy: $1,4860-1,4890 Stop Loss $1,4830 Take Profit $1,4920
Sell: $1,5050-1,5000 Stop Loss $1,5080 Take Profit $1,4950

USD-CHF
Buy: 0,9820-0,9850 Stop Loss 0,9800 Take Profit 0,9900
Sell: 1,0030-1,0000 Stop Loss 1,0070 Take Profit 0,9920

AUD-USD
Buy: $0,7140-0,7160 Stop Loss $0,7120 Take Profit $0,7180
Sell: $0,7260-0,7240 Stop Loss $0,7270 Take Profit $0,7200

http://www.strategydesk.co.id/2015/12/dollar-lanjutkan-gain-pasca-kenaikan-rate-the-fed/

Jakarta, Strategydesk – Dollar melanjutkan koreksi atas major currencies karena investor melakukan aksi ambil untung dari penguatannya. Tapi dalam jangka menengah sampai panjang dianggap masih bullish karena didukung oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed.
Koreksi dollar datang setelah Ketua the Fed Janet Yellen tidak menyinggung soal ekonomi atau arah kebijakan moneter. Ia hanya berbicara soal dampak implementasi kebijakan moneter dalam dunia pasca krisis. Dalam pidatonya, Yellen seperti menghindari isu opsi kebijakan. Ia tidak mengatakan apapun soal wacana kenaikan suku bunga.
Padahal beberapa pejabat lain mendukung kenaikan suku bunga bulan depan. Presiden the Fed distrik New York Wiliam Dudley mengatakan mungkin sekali normalisasi kebijakan dilakukan segera. Presiden distrik Richmond Jeffrey Lacker menegaskan adanya ruang untuk penyesuaian kebijakan. Presiden distrik  Chicago Charles Evans mengindikasikan pentingnya kenaikan dilakukan secara bertahap.
Koreksi dollar terjadi hanya karena Yellen tidak memberi petunjuk soal kenaikan suku bunga. Namun pengamat melihat hal ini hanyalah sekedar koreksi dari rentetan penguatan di minggu-minggu sebelumnya. Satu hal yang patut dicatat adalah tren dollar masih terjaga selama prospek kenaikan suku bunga masih ada. Untuk nanti malam, ada beberapa data ekonomi AS yang layak disimak, antara lain, penjualan ritel dan sentimen konsumen.
Indeks dollar terpantau rebound 0,1% ke 98,62 setelah jatuh 0,7% kemarin. Penutupan di bawah 98,40 membuka jalan menuju 98,00. Dari sana, indeks terancam menuju 97,60. Ke atas, sepertinya indeks masih tertahan di bawah 99,20. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 122,62 setelah melemah 0,2% kemarin. Setelah mencatat penguatan minggu terbesar dalam tujuh bulan terakhir minggu lalu, dollar koreksi sepanjang minggu ini. Penutupan di bawah 122,20, membuka jalan menuju 121,80.
Sementara itu, euro gagal melanjutkan penguatannya yang diraih kemarin. Penguatan euro lebih disebabkan oleh kejatuhan dollar. Pasalnya kemarin Presiden ECB Mario Draghi mengatakan siap menambah stimulus bila diperlukan, membuka opsi pelonggaran lanjutan di masa mendatang. Hari ini, ada data PDB Jerman dan zona euro. Data yang menunjukkan perbaikan pertumbuhan mungkin bisa menjaga penguatan euro. Euro terpantau melemah 0,1% ke $1,0790 setelah menguat 0,6% kemarin.
Rekomendasi
EUR
Eur
JPY
JPY
GBP
GBP
CHF
CHF
AUD
AUD

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/meski-koreksi-dollar-masih-bullish/

Jakarta, Strategydesk – Dollar sedang dalam fase koreksi akibat aksi ambil untung yang memafaatkan penguatannya. Namun hal itu tidak melepaskan tekanan dari emas, yang masih dekat level terendah dalam empat bulan.
Koreksi dollar datang setelah Ketua the Fed Janet Yellen tidak menyinggung soal ekonomi atau arah kebijakan moneter. Ia hanya berbicara soal dampak implementasi kebijakan moneter dalam dunia pasca krisis. Dalam pidatonya, Yellen seperti menghindari isu opsi kebijakan. Ia tidak mengatakan apapun soal wacana kenaikan suku bunga.
Namun beberapa pejabat lainnya tetap mendukung prospek kenaikan suku bunga bulan depan. Salah satunya William Dudley, yang mengatakan Tren dollar terjaga selama prospek kenaikan suku bunga the Fed masih ada. Banyak kalangan yang masih meyakini the Fed akan menaikkan suku bunganya dalam rapat 16-17 Desember.
Harga emas tetap tertekan meski di saat yang sama saham bertumbangan. Harga emas terus tertekan di tengah prospek kenaikan suku bunga the Fed. Emas adalah instrumen yang berperan sebagai lindung nilai (inflation hedge), safe haven dan anti mata uang. Kenaikan suku bunga menjadi momok bagi logam mulia itu.
Tapi permintaan fisik terus membaik di tengah penurunan harga. Dewan Emas Dunia (WGC) mengatakan permintaan emas di AS melonjak 200% di kuartal ketiga tahun ini. Lembaga itu mengatakan kenaikan sebesar itu belum pernah terjadi sejak krisis 2008.
Dari sisi teknikal, belum terlihat adanya perubahan trend secara signifikan. Namun saat ini harga sedang bergerak di atas support $1077, low yang terbentuk tiga bulan lalu. Indikator stochastic oversold, berpeluang terjadi rebound. Namun selama di bawah resistance $1093, trend masih bearish.
Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/emas-tetap-tertekan-meski-dollar-jatuh/

Strategydesk – Nilai tukar rupiah jatuh atas dollar AS menyusul data ketenagakerjaan yang mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed.

RupiahData Jumat lalu menunjukkan lapangan kerja di AS tumbuh 271.000 selama Oktober, jauh di atas prediksi 180.000. Pertumbuhan lapangan kerja yang besar itu membuat tingkat pengangguran turun 0,1% ke 5,0%, yang menjadi terendah dalam tujuh tahun. Menyusul laporan itu, CME Group menyebutkan interest rate futures menempatkan probabilitas 70% kenaikan suku bunga bulan depan, naik dari survey minggu lalu yang 52%.

Yield obligasi AS naik berkat laporan payroll itu, dengan tenor 2 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 5,5 tahun. Untuk tenor 10 tahun naik ke 2,332%, tertinggi sejak 21 Juli. Yield obligasi AS dianggap yang tertinggi di antara negara maju, ditambah dengan posisinya yang masih lebih tinggi dari tingkat inflasi.

Pelemahan rupiah terjadi di saat mata uang Asia juga tergelincir. Pertumbuhan lapangan kerja yang besar mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed, yang mengangkat pamor dolar. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,6% ke Rp13.644,00 per dollar setelah bergerak dalam rentang Rp13.633-13.730. Untuk besok, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp13.600-13.700.

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/dampak-payroll-as-rupiah-anjlok/

Jakarta, Strategydesk – Emas rebound hari ini, mencoba bangkit dari kejatuhan yang dipicu oleh pernyataan the Fed dan penguatan dollar.
Pasca rapatnya, the Fed memutuskan mempertahankan suku bunga, seperti yang sudah diperkirakan banyak kalangan. Namun ternyata the Fed tetap membuka peluang kenaikan pada Desember. Tidak hanya itu, the Fed juga kini tidak terlalu mencemaskan kondisi global. Mereka tidak menyinggung soal dampak perlambatan di China dan gejolak pasar global.
Mereka hanya mengatakan tetap memantau perkembangan ekonomi dan finansial global.
Pasar menganggap ini sebagai pertanda the Fed mulai optimis kembali. Namun prospek kenaikan suku bunga Desember harus didukung oleh data ekonomi AS. Masih perlu dibuktikan apakah kondisi ekonomi layak untuk kenaikan.
Oleh karena itu, pasar akan memantau data inflasi dan ketenagakerjaan selama Oktober-Nopember. Fokus terdekat adalah data PDB AS nanti malam, yang diperkirakan hanya tumbuh 1,6% selama kuartal ketiga, lebih rendah dari kuartal sebelumnya 3,9%. Namun ada spekulasi angkanya lebih baik dari itu berkat kinerja perdagangan AS yang gemilang.
Dari sisi teknikal, harga sempat menembus resistance MA 10, namun kemudian ditutup di bawah resistance tersebut. Indikasi trend jangka pendek masih bearish. Candlestick serta indikator stochastic masih menunjukkan sinyal bearish. Untuk itu, potensi penurunan bisa berlanjut, dengan support terdekat di $1152. Penembusan support akan membuka potensi penurunan lanjutan menuju support MA 55 di kisaran $1140.
Sinyal positif hanya akan muncul jika harga bergerak di atas $1167.
Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/10/jatuh-pasca-the-fed-emas-coba-bangkit/

Strategydesk – Rupiah melanjutkan penguatannya di tengah kejatuhan dollar atas mata uang dunia akibat berkurangnya prospek kenaikan suku bunga the Fed.

Rupiah 2Defisit AS membengkak, menurut data semalam. Defisit perdagangan mencapai $48,33 miliar selama Agustus dari $41,81 bulan sebelumnya. Bertambahnya defisit perdagangan ini disebut sebagai dampak dari apresiasi dollar dan lesunya beberapa ekonomi negara mitra.

Serangkaian data ekonomi AS yang buruk menambah ekspektasi the Fed sepertinya sulit menaikkan suku bunganya tahun ini. Pasar juga ragu hal itu bisa terwujud di tengah masih rentannya ekonomi dan pasar global. Banyak kalangan yang mengimbau the Fed agar menunda kenaikan suku bunganya, di antaranya IMF dan Bank Dunia.

Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, penguatan rupiah ini juga terjadi berkat kepercayaan pasar dengan kebijakan yang diterapkan pemerintah. Ia juga memandang depresiasi rupiah selama ini bukan karena fundamental ekonomi RI yang buruk, tapi lebih karena faktor prospek kenaikan suku bunga the Fed. Dengan berkurangnya prospek itu, menurutnya, pelaku pasar melihat Indonesia sebagai tempat investasi yang menarik.

Rupiah juga menguat jelang pengumuman paket kebijakan ekonomi III yang diharapkan bakal lebih merangsang pertumbuhan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 2,95% ke Rp13.821 per dollar, dengan sempat menyentuh Rp13.711, tertinggi dalam sebulan. Rupiah berpeluang melanjutkan penguatannya, dengan range besok di Rp13.650-13.750 per dollar.

http://www.strategydesk.co.id/2015/10/rupiah-teruskan-lajunya-jelang-paket-ekonomi-iii/

Strategydesk – Minyak mencatat penguatan hari ini menyusul data yang memperlihatkan cadangan minyak AS berkurang. Namun data manufaktur China yang buruk membatasi lajunya.

Oilfield 3Dorongan ke harga datang dari American Petroleum Institute (API) yang semalam melaporkan stok minyak AS turun 3,7 juta barel minggu lalu. Laporan ini menimbulkan harapan data versi Energy Information Administration (EIA) juga memperlihatkan penurunan besar. Penurunan cadangan minyak AS dianggap penting untuk mendongkrak harga, meski hanya dalam jangka pendek.

Sayangnya, laju harga terhambat oleh data manufaktur China. Indeks PMI manufaktur China versi Caixin turun ke 47,3 di September dari 47,3 di bulan sebelumnya. Angka itu lebih rendah dari proyeksi 47,6 dan yang terendah sejak Maret 2009. Dengan ini, sektor manufaktur China sudah kontraksi selama tujuh bulan berturut-turut dan menjadi pertanda kinerja pertumbuhan di kuartal ketiga akan semakin melambat.

Para analis mengatakan prospek harga jangka panjang tetap suram, mengingat konsisi yang masih oversupply. Negara yang terganbung dalam OPEC masih berproduksi dengan kapasitas penuh. Selain masalah pasokan yang berlimpah, pasar juga dihadapkan dengan masalah merosotnya permintaan. Perlambatan ekonomi di China ditakutkan dapat menggerus permintaan di konsumen terbesar dunia itu.

Tekanan ke harga juga datang dari penguatan dollar, yang kembali terangkat oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed. Minyak merupakan salah satu komoditas yang terkena dampak apresiasi dollar dan merosotnya permintaan. Tapi kalaupun dollar terkoreksi, itu juga hanya memberi dorongan jangka pendek. Selama pasokan masih berlimpah sulit bagi harga mengubah tren jangka panjang.

Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Oktober naik 58 sen ke $46,80 per barel. Penutupan di atas $47,00 menjaga momentum bullish dengan target $47,70-48,00. Ke bawah, harga mendapat support di $45,30, di bawah itu ada $44,50.

http://www.strategydesk.co.id/2015/09/minyak-naik-terhambat-data-china/

Strategydesk – Minyak naik tipis hari ini berkat laporan yang menyebutkan aktivitas pengeboran di AS menurun, setelah harga jatuh akhir pekan lalu akibat penguatan dollar.

OilHarga naik setelah ada laporan dari Baker Hughes yang menunjukkan perusahaan pengeboran mengurangi operasi selama tiga minggu berturut-turut karena harga yang rendah. Kilang pengeboran turun 8 menjadi 644 minggu lalu. Para analis mengestimasi bahwa rencana investasi di AS senilai $1,5 triliun tidak akan layak bila harga terus di bawah $50 per barel. Harga anjlok 50$ sejak Juni 2014, ketika produksi global terus bertambah dan permintaan tidak mampu menyerapnya. Menurut mereka, harga rendah berdampak lebih besar dalam jangka panjang karena produsen berusaha mengurangi biaya.

Kenaikan ini belum mampu menutupi kejatuhan di sesi sebelumnya karena penguatan dollar. Fakta bahwa pasokan minyak tetap berlimpah membuat harga sulit mengubah tren jangka panjangnya, meski terjadi kenaikan. Faktor pasokan berlimpah turut mempersulit harga untuk bangkit. Beberapa bank menyebut prospek jangka pendek masih bearish. Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak bisa jatuh sampai $20 per barel karena pasokan berlimpah.

Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Oktober naik 46 sen ke $45,36 per barel, setelah anjlopk $1,89 akhir pekan lalu. Bearish continuation terbentuk bila ditutup di bawah $43,75. Dari sana, harga terancam ke $43,00. Ke atas, harga mendapat resistance di $46,80.

http://www.strategydesk.co.id/2015/09/pengeboran-di-as-berkurang-minyak-naik-tipis/

Jakarta, Strategydesk – Dollar stabil hari ini setelah melanjutkan penguatannya kemarin berkat data pertumbuhan yang mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed. Sedangkan aussie jatuh ke level terendah dalam enam tahun di tengah perlambatan China dan perbedaan kebijakan moneter.

Data semalam menunjukkan PDB AS tumbuh 2,3% selama kuartal kedua, di bawah prediksi 2,5%. Tapi angka kuartal pertama di revisi naik menjadi tumbuh 0,6% dari sebelumnya kontraksi 0,2%. Data itu juga menunjukkan konsumsi tinggi dan kenaikan inflasi selama kuartal kedua.

Meski angkanya tidak sesuai harapan, data ini dianggap mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed. Data itu menyusul pandangan optimis namun hati-hati the Fed mengenai ekonomi AS, yang dipandang pasar bullish untuk dollar. Menurut konsensus yang beredar, the Fed bisa menaikkan suku bunga pada September atau Desember. Prospek kenaikan rate ini mendorong yield obligasi AS tenor 10 tahun ke 2,27%.

Indeks dollar berada di 97,36 setelah sempat menyentuh 97,85 kemarin. Penutupan di atas 97,65 menjaga momentum bullish. Tapi bila jatuh ke bawah 97,00, indeks terancam ke 96,80-96,50. Terhadap yen, dollar melemah 0,2% ke 124,00 setelah sempat menyentuh 124,60.

Beralih ke aussie, mata uang itu jatuh ke level terendah dalam enam tahun  kemarin akibat prospek kenaikan suku bunga the Fed. Di saat yang sama, prospek ekonomi Australia terlihat suram di tengah perlambatan ekonomi China dan merosotnya harga komoditas. Untuk menutup dampak keduanya, RBA melihat mata uang perlu melemah lagi. Aussie diperdagangkan di $0,7300, dengan sempat jatuh ke $0,7255  kemarin, terendah sejak 2009. Penutupan di atas $0,7330-0,7350 membuka peluang reversal dengan tujuan $0,7400.

Sementara itu, euro tertekan karena laporan dari Financial Times yang menyebutkan IMF tidak bisa secara resmi gabung dalam pembicaraan bailout dengan Yunani sampai Athena setuju melakukan reformasi komprehensif. Pergerakan euro juga akan dipengaruhi oleh data inflasi. Euro diperdagangkan di $1,0945 setelah jatuh 0,8% kemarin.

Rekomendasi
EUR-USD
EUR SIGNAL 31-07-15

USD-JPY
JPY SIGNAL 31-07-15

GBP-USD
GBP SIGNAL 31-07-15

USD-CHF
CHF SIGNAL 31-07-15

AUD-USD
AUD SIGNAL 31-07-15

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/data-pdb-as-jaga-laju-dollar/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha