Search Results : dampak kenaikan dollar

Jakarta, Strategydesk – Dollar stabil hari ini setelah melanjutkan penguatannya kemarin berkat data pertumbuhan yang mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed. Sedangkan aussie jatuh ke level terendah dalam enam tahun di tengah perlambatan China dan perbedaan kebijakan moneter.

Data semalam menunjukkan PDB AS tumbuh 2,3% selama kuartal kedua, di bawah prediksi 2,5%. Tapi angka kuartal pertama di revisi naik menjadi tumbuh 0,6% dari sebelumnya kontraksi 0,2%. Data itu juga menunjukkan konsumsi tinggi dan kenaikan inflasi selama kuartal kedua.

Meski angkanya tidak sesuai harapan, data ini dianggap mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed. Data itu menyusul pandangan optimis namun hati-hati the Fed mengenai ekonomi AS, yang dipandang pasar bullish untuk dollar. Menurut konsensus yang beredar, the Fed bisa menaikkan suku bunga pada September atau Desember. Prospek kenaikan rate ini mendorong yield obligasi AS tenor 10 tahun ke 2,27%.

Indeks dollar berada di 97,36 setelah sempat menyentuh 97,85 kemarin. Penutupan di atas 97,65 menjaga momentum bullish. Tapi bila jatuh ke bawah 97,00, indeks terancam ke 96,80-96,50. Terhadap yen, dollar melemah 0,2% ke 124,00 setelah sempat menyentuh 124,60.

Beralih ke aussie, mata uang itu jatuh ke level terendah dalam enam tahun  kemarin akibat prospek kenaikan suku bunga the Fed. Di saat yang sama, prospek ekonomi Australia terlihat suram di tengah perlambatan ekonomi China dan merosotnya harga komoditas. Untuk menutup dampak keduanya, RBA melihat mata uang perlu melemah lagi. Aussie diperdagangkan di $0,7300, dengan sempat jatuh ke $0,7255  kemarin, terendah sejak 2009. Penutupan di atas $0,7330-0,7350 membuka peluang reversal dengan tujuan $0,7400.

Sementara itu, euro tertekan karena laporan dari Financial Times yang menyebutkan IMF tidak bisa secara resmi gabung dalam pembicaraan bailout dengan Yunani sampai Athena setuju melakukan reformasi komprehensif. Pergerakan euro juga akan dipengaruhi oleh data inflasi. Euro diperdagangkan di $1,0945 setelah jatuh 0,8% kemarin.

Rekomendasi
EUR-USD
EUR SIGNAL 31-07-15

USD-JPY
JPY SIGNAL 31-07-15

GBP-USD
GBP SIGNAL 31-07-15

USD-CHF
CHF SIGNAL 31-07-15

AUD-USD
AUD SIGNAL 31-07-15

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/data-pdb-as-jaga-laju-dollar/

Strategydesk – Rupiah berakhir flat hari ini namun sempat menyentuh level terendah sejak 1998 di saat pasar mata uang dunia menunggu hasil rapat the Fed.

RupiahSalah satu faktor yang melambungkan dollar akhir-akhir ini adalah adanya prospek kenaikan suku bunga September nanti. The Fed mulai menggelar rapat malam nanti dan selesai Kamis dini hari. Hampir dipastikan tidak akan ada keputusan baru, tapi pasar akan menyimak pernyataan sang ketua Janet Yellen terkait kondisi ekonomi dan inflasi terkini, serta opsi kebijakan yang tersedia.

Ada ekspektasi, seiring dengan perbaikan ekonomi dan lapangan kerja di AS, dan kenaikan inflasi mendekati target, the Fed bisa memberi petunjuk bahwa mereka semakin dekat dengan kenaikan rate. Tapi kejatuhan bursa saham China akhir-akhir ini menimbulkan pemikiran the Fed akan berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu mengingat kondisi global yang tak menentu.

Tekanan atas rupiah juga datang di saat mata uang emerging markets bertumbangan. Mata uang Brazil, Turki, Meksiko dan Afrika Selatan anjlok ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir di saat investor keluar dari negara itu dan harga komoditas merosot. Banyak negara berkembang yang sumber pendapatannya datang dari ekspor komoditas, seperti Indonesia. Ditambah dengan perlambatan ekonomi China, yang merupakan konsumen terbesar beberapa produk komoditas, menambah derita ekonomi tersebut.

Di saat yang sama, permintaan dollar masih tinggi untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri. Meski pemerintah dan BI sudah mengeluarkan kebijakan, seperti menaikkan bea masuk impor dan menerapkan kewajiban penggunaan rupiah, diperlukan waktu agar kebijakan itu terlihat dampaknya. Perbaikan ekonomi, baik domestik maupun global, diperlukan agar rupiah bisa pulih.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,02% ke Rp13.465,50 per dollar, dengan rentang pergerakan Rp13.449,80-13.481,00. Level low itu merupakan yang terendah sejak 1998. Untuk besok, karena pasar masih menunggu hasil rapat the Fed, rupiah diperkirakan flat dengan kecenderungan masih bearish. Kisaran pergerakan masih di Rp13.400-13.500.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/rupiah-ke-level-terendah-sejak-1998/

Jakarta, Strategydesk
Nikkei
Indeks Nikkei catat reli perdagangan awal minggu ini, Nikke kembali menapaki level psikologisnya 20.000, di tengah berkurangnya kekhawatiran krisis utang Yunani dan volatilitas saham China. Selain itu, pelemahan yen terhadap dollar makin mendorong kinerja saham berbasis ekspor. Indeks Nikkei ditutup menguat 290,78 poin, atau 1,45%, ke posisi 20.380,55.

Indeks Nikkei diperkirakan akan mengikuti jejak Wall Street, bersamaan dengan lemahnya. Kabar baik dari Yunani dengan mengamankan kesepakatan bailout dan bursa saham China menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Namun Yunani belumlah aman karena bailout yang rencananya senilai 86 miliar euro itu diikat dengan persyaratan ketat, pemotongan pension dan kenaikan pajak. Fokus kini rapat regular Bank Sentral Jepang. Kebijakan baru BOJ akan menjadi penentu arah Nikkei selanjutnya.

Rekomendasi
NKI SIGNAL 15-07-15

Kospi
Indeks Kospi catat penguatan harian terbesarnya dalam tiga bulan terakhir kemarin, berkat menguatnya bursa China yang menjadi motor penggerak bursa Asia lainnya.  Indeks Kospi ditutup turun 2,08 poin, atau 0,10%, ke posisi 2.059,44, merupakan persentase penguatan harian terbesar sejak 17 Maret.

Wall Street dan Eropa catat penguatan semalam, diperkirakan akan memberi energi positif bagi indeks Kospi kali ini. Harapan adanya kesepakatan baru Yunani dengan krediturnya angkat sentimen. Namun investor tengah dibayangi keraguan, hasil negoisasi itu sesuai tidak dengan harapan. Waspadai aksi profit taking dari kenaikan sebelumnya karena volatilitas saham belakangan ini masih rentan.

Rekomendasi
KSI SIGNAL 15-07-15

Hang Seng
Indeks Hang Seng terkoreksi perdagangan kemarin setelah mengalami penguatan sebelumnya. Namun aksi bargain hunting dapat terpicu kembali dimana valuasi saham yang rendah setelah merosot tajam. Selain itu, langkah pemerintah China dengan menelurkan stimulus untuk meredam kejatuhan karena kecemasan dampak dari margin trading. Indeks Hang Seng ditutup menguat 322,73 poin,  atau 1,30%, ke posisi 25.224,01.

Indeks Hang Seng berpotensi melanjutkan kenaikannya hari ini seiring  dengan sentimen positif dari Eropa dan AS. Hal ini ditenggarai negoisasi Yunani dengan kreditur, dimana persyaratan bailout harus adanya persetujuan parlemen Yunani. Namun, koreksi indeks kemarin bisa dikatakan normal pasca reli. Laju indeks kali ini di dukung data ekonomi PDB kuartal kedua yang tumbuh 7,0% dari perkiraan melambat 6,9%.

Rekomendasi
HSI SIGNAL 15-07-15

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/data-china-fluktuasikan-asia/

Strategydesk – Rupiah kembali melemah hari ini di tengah kekhawatiran mengenai krisis Yunani, yang menekan performa mata uang emerging markets.

Rupiah 2Krisis Yunani dan kejatuhan bursa China mendorong permintaan safe haven yen. Mata uang Jepang itu menjadi primadona di saat pasar tidak hanya risau dengan masa depan Yunani, tapi resah dengan kejatuhan saham di China. Krisis Yunani dan kejatuhan saham China menimbulkan kepanikan di pasar. Krisis Yunani membuat pasar khawatir akan masa depan neghara itu dalam zona euro, sedangkan kejatuhan bursa China ditakutkan dapat berdampak pada ekonomi.

Selain itu, tekanan atas rupiah juga datang setelah Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi RI. Dalam proyeksi terbarunya, PDB Indonesia diperkirakan hanya tumbuh 4,7% tahun ini, terendah sejak 2009. Menurutnya, perlambatan ini akibat penurunan harga komoditas dan merosotnya pembelanjaan konsumen.

Rupiah masih dibayangi oleh persepsi buruknya kondisi ekonomi RI. Agar rupiah bisa mengubah tren penurunannya diperlukan perbaikan kondisi fundamental. Pemulihan rupiah jangka panjang bergantung pada upaya pemerintah memperbaiki kondisi ekonomi, termasuk mengurangi defisit transaksi berjalan, menjalankan proyek infrastrukturnya dan meningkatkan investasi.

Pasar kini menantikan FOMC Minutes, yang diharapkan memberi petunjuk soal prospek kebijakan the Fed. Para pengamat mengatakan Minutes itu mungkin bisa memaparkan bagaimana pandangan para pejabat mengenai kondisi ekonomi terkini dan apa saja opsi yang tersedia. Namun, bila tidak ada kejelasan soal kenaikan suku bunga tahun ini, pasar akan meresponnya dengan mengkoreksi dollar.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,2% ke Rp13.356 per dollar, setelah bergerak dalam rentang Rp13.333-13.366. Untuk besok, pergerakan tidak jauh berbeda, masih dalam kisaran Rp13.300-13.400.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/rupiah-belum-beranjak-dari-rp13-300an/

Strategydesk – Rupiah berakhir melemah hari ini mengikuti mata uang Asia, terkena dampak hasil referendum Yunani yang menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

Rupiah 2Dalam referendum penentuan kemarin, 62% pemilih menolak tuntutan penghematan dari kreditor, yang mencakup kenaikan pajak dan pemotongan gaji. Bagi Yunani, ini merupakan kemenangan. Namun, sebagian kalangan di pasar melihat hal ini menambah kemungkinan Yunani keluar dari zona euro. Ketidakpastian yang tinggi memberi tekanan ke mata uang berisiko.

Dalam beberapa hari ke depan, pasar akan diliputi tingkat ketidakpastian tinggi, masih misteri apa yang akan dilakukan Eropa dan bagaimana dampak selanjutnya. Jerman dan Perancis berencana menggelar pertemuan darurat zona euro untuk membahas hasil itu. Pasar ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Eropa terhadap Yunani, melunak atau justru bersikap tegas.

Merespon hasil itu, Bank Indonesia (BI) mengatakan akan meningkatkan pemantau terhadap pergerakan rupiah. Menurut Direktur Departemen Komunikasi Meter Jacobs, bila crisis Yunani memberi tekanan ke rupiah, pihaknya siap melakukan intervensi, meski tidak hanya berbentuk menggunakan cadangan devisa. Menurutnya, BI punya bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,20% ke Rp13.347 per dollar, setelah bergerak dalam rentang Rp13.340-13,365. Untuk besok, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam kisaran Rp13.300-13.400.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/rupiahpun-kena-imbas-yunani/

Jakarta, Strategydesk – Dollar tertahan hari ini setelah reli kemarin berkat data yang menunjukkan solidnya pertumbuhan lapangan kerja swasta. Perhatian pasar kini tertuju ke payroll, yang dapat mempengaruhi persepsi mengenai prospek kebijakan moneter the Fed.

Data dari ADP Employment Change semalam memperlihatkan lapangan kerja swasta tumbuh 237.000 selama Juni, di atas prediksi 218.000 dan yang tertinggi sejak Desember.  Selain itu, angka di atas 200 ribu selalu dianggap  pertumbuhan yang sehat. Pasar juga menyambut baik data manufaktur AS, di mana indeks ISM naik ke 53,5 di Juni dari 52,8 di Mei.

Data ADP menambah optimisme angka payroll nanti malam juga akan bagus. Perbaikan lapangan kerja mendukung prospek kenaikan suku bunga tahun ini. Menurut proyeksi, data payroll akan menunjukkan pertumbuhan 230.000 selama Juni yang membuat tingkat pengangguran turun 0,1% ke 5,4%. Hal yang tidak kalah penting dari data payroll adalah pertumbuhan upah. Bila ada peningkatan, maka semakin mendukung prospek kenaikan rate.

Indeks dollar berada di 96,16 setelah naik 0,6% kemarin. Indeks masih belum mampu menetap di atas 96,50. Penutupan di atas itu hari ini membuka jalan menuju 96,80-97,00. Tapi bila jatuh ke bawah 95,70, indeks ini terancam kembali ke 95,30. Terhadap yen, dollar melanjutkan penguatan, dengan naik 0,2% ke 123,25. Namun masih belum mampu menembus resistance 123,80.

Beralih ke euro, mata uang tunggal Eropa itu kembali tertekan setelah optimisme mengenai adanya negosiasi kembali runtuh karena kreditor membantahnya. Tekanan juga datang dari spekulasi ECB akan menambah program pembelian obligasinya untuk mengantisipasi dampak default Yunani, namun belum ada konfirmasi. Euro diperdagangkan di $1,1075 setelah jatuh 0,5% kemarin.

Setelah default Yunani, pasar masih diliputi ketidakpastian. Hal yang masih misteri di antaranya adalah apakah default ini menyebabkan Yunani keluar dari zona euro atau bagaimana hasil referendum nantinya. Pasar tidak hanya mempertanyakan masa depan Yunani dalam zona euro, tapi juga prospek blok mata uang itu sendiri.

Rekomendasi
EUR-USD
EUR SIGNAL 02-07-15

USD-JPY
JPY SIGNAL 02-07-15

GBP-USD
GBP SIGNAL 02-07-15

USD-CHF
CHF SIGNAL 02-07-15

AUD-USD
AUD SIGNAL 02-07-15

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/data-adp-angkat-dollar-fokus-ke-payroll/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas jatuh ke bawah $1170 hari ini karena penguatan dollar setelah krisis utang Yunani menekan euro. Fokus pasar tertuju pada serangkaian data ekonomi AS, yang akan memberi arahan pergerakan harga selanjutnya.
Harga emas bergerak di kisaran $1168, setelah anjlok sekitar 1% dalam dua sesi perdagangan terakhirnya. Emas tertekan karena penguatan dollar, yang kini diperdagangkan dekat level tertinggi tiga minggunya. Dollar menguat kemarin berkat data yang menunjukkan solidnya pertumbuhan lapangan kerja swasta. Data dari ADP Employment Change semalam memperlihatkan lapangan kerja swasta tumbuh 237.000 selama Juni, di atas prediksi 218.000 dan yang tertinggi sejak Desember. Sementara mata uang euro terus tertekan setelah Yunani dinyatakan default karena tidak bisa melunasi utangnya kepada IMF.
Setelah Yunani, fokus pasar selanjutnya adalah data-data ekonomi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, dinataranya nonfarm payroll dan durable goods. Data-data tersebut akan memberi petunjuk mengenai sejauh mana kekuatan ekonomi AS dan dampaknya pada prospek kebijakan moneter the Fed. Data ekonomi AS yang kuat akan semakin mendukung prospek kenaikan suku bunga the Fed. Harga emas tertekan karena adanya prospek kenaikan suku bunga AS, bahkan krisis utang Yunani gagal mengangkat perannya sebagai safe haven.
Dari sisi teknikal, harga bergerak bearish dan mulai mendekati kisaran support-nya di $1162. Indikator stochastic juga mulai menunjukkan sinyal oversold, indikasi penurunan selanjutnya mulai terbatas. Jika support bertahan, berpeluang rebound untuk menguji area MA 10 di kisaran $1177. Trend bearish jangka pendek bisa berakhir jika harga mampu bertahan di atas resistance tersebut.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/dollar-menguat-emas-jatuh-ke-bawah-1170/

Strategydesk – Rupiah terus melemah hari ini, masih merana di tengah lesunya ekonomi RI. Selain terfokus ke the Fed, pasar juga menantikan rapat BI besok.

RupiahIsu utama yang menjadi perhatian dari rapat ini adalah apakah the Fed memberikan sinyal jelas soal wacana kenaikan suku bunga. Banyak kalangan yang meyakini the Fed akan mulai menaikkan suku bunga September nanti, dan mereka berharap ada petunjuk lebih lanjut soal itu.

Setelah the Fed, pasar akan mencermati Rapat Dewan Gubernur BI. Namun kemungkinan besar suku bunga tetap di 7,5%. Pada dasarnya, BI bisa dikatakan tak punya ruang untuk menyesuaikan kebijakannya. Memangkas suku bunga mungkin bisa membantu pertumbuhan yang sedang lesu, tapi berdampak buruk pada rupiah, Di sisi lain, menaikkan suku bunga justru bisa menekan pertumbuhan, bahkan belum tentu mengangkat rupiah signifikan.

Alhasil, kebijakan fiskal yang bisa diandalkan untuk memulihkan rupiah. Di tengah lesunya ekonomi RI dan permintaan dollar yang tinggi di dalam negeri, sulit bagi rupiah untuk lepas dari tekanan. Pemulihan rupiah jangka panjang bergantung pada upaya pemerintah memperbaiki kondisi ekonomi, termasuk mengurangi defisit transaksi berjalan, menjalankan proyek infrastrukturnya dan meningkatkan investasi.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berakhir flat di Rp13.348 per dollar, setelah bergerak dalam range Rp13.333-13.373. Untuk besok, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam kisaran Rp13.300-13.400 per dollar.

http://www.strategydesk.co.id/2015/06/rupiah-masih-merana-jelang-rdg-bi/

Strategydesk – USD/CAD berkonsolidasi di kisaran $1,2100 menjelang data ketenagakerjaan AS dan Kanada, yang dapat memberi gambaran mengenai prospek kebijakan moneter kedua negara.

LoonieUSD/CAD berhasil rebound berkat data klaim pengangguran yang mengesankan. Initial jobless claims memang naik 3000 minggu lalu menjadi 265.000, tapi secara rata-rata empat minggu berada di level terendah dalam 15 tahun. Ini menimbulkan ekspektasi positif mengenai data payroll nanti malam. Menurut konsesus, payroll tumbuh 230.000 selama April, membaik dari bulan sebelumnya yang hanya 126.000. Sedangkan tingkat pengangguran turun 0,1% ke 5,4%.

Data payroll berhubungan erat dengan prospek kebijakan moneter the Fed. Dalam berbagai kesempatan, the Fed mengisyaratkan data lapangan kerja sebagai salah satu pertimbangan dalam menetapkan arah kebijakan. Bila angka payroll di bawah prediksi atau bahkan 200 ribu, maka bisa mengurangi kemungkinan ada kenaikan suku bunga Juni nanti.

Kanada juga akan mengumumkan data ketenagakerjaan malam ini, namun diproyeksikan memburuk. Lapangan kerja selama April berkurang 5000, setelah tumbuh 28.700 bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran diperkirakan naik 0,1% ke 6,9%. Dollar Kanada, atau loonie, sempat menguat berkat kenaikan harga minyak dan koreksi dollar. Turunnya harga minyak selama Juli 2014-Maret 2015 berdampak pada performa loonie, yang jatuh ke level terendah dalam enam tahun Maret lalu.

USD/CAD diperdagangkan di $1,2110 hari ini, setelah menguat 0,3% kemarin. Pola hammer yang terbentuk pada Rabu dan kemudian dilanjutkan dengan rebound kemarin mengkonfirmasi peluang reversal. Kemudan pair ini sudah menembus MA 10, namun masih jauh di bawah MA 25. Stochatic (14,3,3) bagian slow naik dari 31 ke 35. Resistance terdekat ada di 23,6% retracement dari kejatuhan 18 Maret-6 Mei di 1,2150, bila ditembus akan mencoba ke 38,2% di 1,2280. Ke bawah, ada support di 1,1951 tapi bila ditembus, target selanjutnya di 1,1900.

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/usdcad-konsolidasi-jelang-data-ketenagakerjaan/

Strategydesk – Meski mengakui perlambatan yang terjadi di awal tahun ini, the Fed optimis ekonomi bisa membaik dan tetap tumbuh moderat, tetap menjaga opsi penyesuaian kebijakan bila diperlukan.

F“Meski pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja rendah selama kuartal pertama, komite tetap yakin, dengan akomodasi kebijakan yang tepat, aktivitas ekonomi tetap tumbuh moderat, dengan indikator tenaga kerja terus mendekati level yang sesuai dengan mandate kami,” katanya dalam pernyataan resmi.

Para pejabat melihat perlambatan terjadi akibat faktor musiman, yaitu cuaca dingin ekstrim dan menegaskan keyakinan pertumbuhan akan membaik. Tapi the Fed juga melihat untuk pertama kalinya “impor non energi” menekan inflasi tetap di bawah target, mengacu pada dampak apresiasi dollar. Oleh karena itu, the Fed ingin yakin dulu bahwa inflasi bisa mendekati target sebelum menaikkan suku bunga.

Sebelum pengumuman the Fed, data menunjukkan PDB hanya tumbuh 0,2% selama kuartal pertama, lebih rendah dari prediksi 1% dan yang terendah dalam setahun. Rendahnya pertumbuhan ini disebut terjadi akibat cuaca dingin ekstrim. Tapi rendahnya ekspor dan investasi bisnis juga turut berperan.

Sebagian pengamat berpandangan optimisme the Fed mengenai prospek ekonomi itu sebagai pertanda prospek kenaikan rate masih ada. David Jones, ekonom yang sudah menulis beberapa buku, mengatakan kenaikan rate tidak akan terjadi Sampai September. “Saya rasa the Fed meyakini perlambatan hanya sementara dan pertumbuhan akan kembali pesat, maka itu saya memperkirakan kenaikan pada September,” katanya.

Sedangkan Paul Ashworth, ekonom dari Capital Economics, mengatakan pernyataan itu memang jelas the Fed memperkirakan ekonomi membaik, tapi sampai itu terjadi, yang membutuhkan waktu beberapa bulan, mereka tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.

 

http://www.strategydesk.co.id/2015/04/optimis-kondisi-membaik-the-fed-tetap-jaga-opsi-kebijakan/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha