Search Results : berapa tingkat inflasi

Jakarta, Strategydesk – Emas sedikit rebound hari ini namun masih dekat level terendah dalam tiga bulan di tengah prospek kenaikan suku bunga the Fed.
Koreksi dollar ternyata tidak mampu memberi dorongan ke emas, bahkan jatuh ke level terendah dalam tiga bulan. Meski terkoreksi, tren dollar masih terjaga oleh prospek kenaikan suku bunga the Fed. Selain didukung oleh data payroll, prospek itu diperkuat oleh pernyataan pejabat the Fed. Belum lama, Presiden the Fed distrik New York John Williams mengatakan ada kemungkinan kenaikan terjadi bulan depa bila didukung data.
Malam nanti, beberapa pejabat the Fed akan berbicara termasuk sang ketua Janet Yellen dan wakil Stanley Fisher. Keduanya menghadiri acara konferensi soal kebijakan moneter. Selain itu, pejabat lain yang juga tampil di publik antara lain Charles Evans, Jeffrey Lacker dan William Dudley. Pasar akan mencermati apa yang disampaikan mereka terkait arah kebijakan, apakah ada penegasan soal kenaikan suku bunga pada Desember.
Sejak mencuatnya kembali prospek kenaikan suklu bunga the Fed, emas terus terpuruk. Emas adalah instrumen yang berperan sebagai lindung nilai, safe haven dan anti mata uang. Kenaikan suku bunga menjadi momok bagi logam mulia itu. Alhasil, dengan semakin kuatnya prospek kenaikan suku bunga, harga terus jatuh. Faktor lain yang mengurangi minat pada emas, terutama di AS, adalah fakta yield obligasi di sana masih lebih tinggi dari inflasi. Yield obligasi tenor 10 tahun berada di 2,22%, sedangkan tingkat inflasi AS masih 1,9%.
Dari sisi teknikal, indikator stochastic memang sudah oversold, memungkinkan adanya rebound. Namun, selama harga gagal bertahan di atas resistance $1093, trend masih bearish dan berpeluang untuk turun lebih jauh menuju support $1077.
Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/dibayangi-isu-rate-emas-ke-terendah-3-bulan/

Strategydesk – Dollar stabil hari ini, masih bergerak dekat level tertinggi dalam dua bulan yang dicapai menyusul pernyaan pejabat the Fed soal prospek kenaikan suku bunga. Fokus kini tertuju ke data non-farm payroll, yang menjadi tolok ukur prospek tersebut.
Pernyataan dari Ketua the Fed Janet Yellen dan Presiden distrik New York William Dudle Rabu soal kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember menjadi faktor yang melambungkan dollar. Efeknya masih terasa sampai kemarin, membawa dollar ke level tertinggi sejak Agustus. Kedua pejabat memberi sinyal kenaikan rate bila data ekonomi mendukung.
Kini pasar ingin membuktikan prospek itu lewat data ketenagakerjaan. Data payroll malam nanti krusial untuk menentukan apakah kenaikan suku bunga bisa terjadi bulan depan. Menurut proyeksi, non-farm payroll tumbuh 180.000 selama Oktober, di bawah standar 200 ribu yang dianggap angka sehat untuk mengurangi pengangguran. Pasar juga akan mengamati tingkat pengangguran, yang diperkirakan turun 0,1% ke 5,0%. Data pertumbuhan upah juga menjadi sorotan, untuk mengukur kondisi inflasi.
Perlu dilihat bahwa posisi dollar sudah cukup tinggi melalui rentetan penguatan dalam beberapa minggu terakhir. Pada dasarnya, rentetan penguatan itu mencerminkan ekspektasi pasar soal prospek rate.Data payroll yang buruk berpotensi dijadikan alasan untuk mengkoreksi posisinya.
Indeks dollar berada di 97,92 tak jauh dari dari penutupan kemarin 97,95. Pola doji yang terbentuk kemarin mengindikasikan berkurangnya momentum beli setelah penguatan tajam di sesi sebelumnya. Bila jatuh ke bawah 97,60, ada potensi untuk menuju 97,20-97,00. Bila level itu ditembus, indeks terancam ke 96,80. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 121,64 setelah naik selama empat sesi terakhir yang membawanya ke level tertinggi sejak 24 Agustus.
Sementara itu, sterling menjadi mata uang berperforma terburuk kemarin menyusul pernyataan BOE yang dovish. BOE kemarin mengatakan target inflasi 2% sulit tercapai dalam dua tahun depan, di tengah penurunan harga komoditas dan apresiasi pound. Ini mengindikasikan BOE tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Untuk hari ini, ada data output industri Inggris. Pound diperdagangkan di $1,5212 setelah anjlok 1,2% kemarin. Penutupan di bawah $1,5200 membuka jalan ke $1,5150.

EUR-USD

Sinyal EURUSD 6 Nop

USD-JPY

Sinyal USDJPY 6 Nop

GBP-USD

Sinyal GBPUSD 6 Nop

USD-CHF

Sinyal USDCHF 6 Nop

AUD-USD

Sinyal AUDUSD 6 Nop

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/dollar-stabil-jelang-payroll/

Strategydesk – Keputusan the Fed menaikkan suku bunganya bulan depan kemungkinan bergantung pada seberapa banyak lapangan kerja tercipta selama Oktober. Data ketenagakerjaan AS dan komponennya menjadi penentu arah kebijakan the Fed.

FederalReserveMemang, prospek kenaikan suku bunga meningkat kembali minggu ini setelah Ketua the Fed Janet Yellen mengatakan kenaikan suku bunga masih bisa terjadi bulan depan bila data ekonomi mendukung itu. Namun satu hal yang patut disorot adalah ketika ia mengatakan kalau data ekonomi mendukung.

Oleh karena itu pasar menunggu data non-farm payroll malam nanti. Menurut proyeksi, lapangan kerja tumbuh 184.000 selama Oktober dan tingkat pengangguran turun 0,1% ke 5,0% di bulan itu, terendah dalam tujuh tahun. Pertumbuhan lapangan kerja melambat selama Agustus-September, di mana Agustus mencatat 136.000 dan September sebesar 142.000.

Sebelum kedua bulan itu, lapangan kerja selalu tumbuh di atas 200 ribu, angka yang dianggap sehat untuk memangkas tingkat pengangguran secara signifikan. Para pengamat sepakat bahwa pertumbuhan lapangan kerja di atas 200 irbu penting untuk menjaga peluang kenaikan suku bunga bulan depan. Angka di bawah 200 ribu sepertinya sulit untuk menjaga optimisme pada prospek kenaikan suku bunga.

Angka pertumbuhan lapangan kerja memang penting untuk mengukur prospek kenaikan suku bunga. Namun itu bukanlah satu-satunya bahan pertimbangan, karena the Fed juga harus melihat kondisi inflasi. Pada dasarnya, the Fed punya dua mandat, yaitu ketenagakerjaan maksimal dan stabilitas harga. Jadi, keduanya harus berjalan selaras.

Untuk melihat gambaran prospek inflasi, salah satu komponen data payroll, yaitu pertumbuhan upah, juga akan disorot. Menurut konsensus, pertumbuhan upah rata-rata per jam (average hourly earnings) sebesar 2,3% selama Oktober, naik dari bulan sebelumnya yang 2,2%. Tanpa didukung pertumbuhan upah, sulit menambah optimisme pada prospek kenaikan suku bunga the Fed.

http://www.strategydesk.co.id/2015/11/data-payroll-penentu-arah-kebijakan-the-fed/

Strategydesk – Prospek kenaikan suku bunga the Fed tahun ini semakin redup di tengah menurunkan aktivitas ekonomi, perkembangan mengecewakan bagi pejabat bank sentral yang berharap dapat bertindak tahun ini setelah menerapkan kebijakan longgar yang panjang.

Angka pertumbuhan lapangan kerja, inflasi dan penjualan ritel yang rendah memupuskan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini. Inflasi konsumen (CPI) terus di bawah target 2% the Fed selama lebih dari tiga tahun. Data terbaru menunjukkan indeks harga produsen turun bulan lalu, indikasi adanya deflasi.

Sudah ada dua pejabat the Fed yang menyatakan keraguan mengenai kenaikan suku bunga tahun ini. Lael Brainard dan Daniel Tarullo memandang penurunan tingkat pengangguran bukan indikator yang tepat untuk mengukur inflasi masa depan dan makanya tidak tepat dijadikan dasar utama untuk menaikkan suku bunga. Oleh karena itu, mereka menyarankan sebaiknya menunggu dulu.

Para pejabat memang mengatakan waktu kenaikan bergantung pada data ekonomi terkini. Para pejabat sepakat mereka ingin yakin dulu inflasi menuju target sebelum mulai menaikkan suku bunga. The Fed hanya punya dua rapat tersisa tahun ini, akhir Oktober dan pertengahan Desember.

The Fed sebenarnya masih cukup optimis dengan prospek ekonomi, namun punya beberapa kekhawatiran, yaitu penguatan dollar dan perlambatan China. Dalam laporan itu disebutkan bahwa apresiasi dollar menghambat pertumbuhan ekonomi dan menekan sektor manufaktur. Laporan itu juga menyebutkan bahwa pertumbuhan upah tetap rendah bahkan stagnan di sebagian besar distrik. Laporan ini datang menjelang rapat reguler 28-29 Oktober nanti.

Futures Fund rate memperkirakan hampir tidak ada kemungkinan kenaikan bulan ini dan hanya 1 dari 3 trader yang mengatakan ada peluang di akhir tahun. Trader menempatkan hanya 2,3% probabilitas kenaikan terjadi bulan ini. Untuk Desember, probabilitasnya 33%, menurut hasil kompilasi Chicago Mercantile Exchange.

http://www.strategydesk.co.id/2015/10/prospek-rate-semakin-redup/

Jakarta, Strategydesk – Harga emas masih diperdagangkan dekat level tereendah sejak Maret 2010 dan sedang menuju penurunan terbesarnya dalam sembilan bulan, dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga.
Emas turun tajam di minggu ini menyusul kejatuhan 3,3% di hari Senin, penurunan terbesar sejak September 2013. Penurunan terjadi setelah para pejabat the Fed mengindikasikan akan adanya kenaikan suku bunganya di tahun ini, kenaikan pertama dalam satu dekade terakhir. Ketua the Fed Janet Yellen minggu lalu mengatakan kenaikan suku bunga bisa terjadi sebelum 2016. Ekspektasi rate semakin kuat setelah setelah Presiden the Fed distrik St. Louis James Bullard mengatakan ada probabilitas 50% kenaikan suku bunga terjadi di September nanti bila inflasi semakin mendekati target dan tingkat pengangguran ke bawah 5%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga ini kemudian didukung oleh data yang menunjukkan Jobless claim turun ke level terendah dalam empat dekade. Beberapa analis memperkirakan the Fed sepertinya akan menaikkan suku bunganya pada bulan September, kemudian akan berlanjut pada bulan Desember, menunjukkan risiko penurunan bagi emas masih bisa berlanjut.
Menunjukkan masih rendahnya sentimen, cadangan di SPDR Gold Trust, turun untuk keenam kalinya di hari Kamis menjadi 22,01 juta ons, terendah sejak Agustus 2008.
Dari sisi teknikal, trend bearish, candlestick pun masih menunjukkan potensi bearish, meski indikator stochastic mulai oversold. Penurunan sepertinya masih bisa berlanjut untuk menguji area support $1062. Sementara itu, sinyal positif akan muncul jika harga mampu bergerak di atas resistance terdekatnya di 1109,89.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/kekhawatiran-kenaikan-rate-masih-tekan-emas/

Strategydesk – Rupiah berakhir flat hari ini, tak mampu memanfaatkan koreksi dollar atas mata uang utama dunia. Rupiah masih terjebak dalam range yang sama di tengah lesunya ekonomi RI.

RupiahTidak ada alasan jelas penyebab dollar koreksi yang terjadi bersamaan dengan penurunan yield obligasi AS dan saham. Namun, koreksi ini datang setelah reli selama empat minggu terakhir, kondisi yang mengundang aksi ambil untung. Meski demikian, para analis melihat kondisi fundamental mendukung tren dollar mengingat masih ada prospek kenaikan suku bunga the Fed tahun ini.

Dollar melambung setelah Ketua the Fed Janet Yellen minggu lalu mengatakan kenaikan bisa terjadi sebelum 2016. Reli semakin tajam setelah Presiden the Fed distrik St. Louis James Bullard mengatakan pihaknya kemungkinan menaikkan suku bunga di September nanti bila inflasi mendekati target dan tingkat pengangguran ke bawah 5%. Hal ini menunjukkan prospek kenaikan September tetap ada meski terjadi krisis Yunani.

Gubernur BI Agus Martowardjojo mengatakan rupiah berada di bawah nilai standarnya, sudah undervalue dibanding dengan mata uang negara lain. Menurutnya, berdasarkan Real Effective Exchange Rate (REER), rupiah sudah berada di bawah 100. Di saat yang sama, Deputi Gubernur Mirza Adityaswara rupiah sudah undervalue sejak 2013 dan agar tidak semakin liar, pihaknya siap melakukan intervensi.

Di tengah bayang-bayang kenaikan suku bunga the Fed, rupiah sulit lepas dari range-nya. Ditambah dengan kondisi fundamental yang kurang menggembirakan. Jatuhnya harga beberapa komoditas penting menekan perekonomian Indonesia. Di saat yang sama, pemerintah memberlakukan larangan ekspor bahan mentah (raw material). Kondisi ini memaksa BI memangks proyeksi PDB RI tahun ini. Untuk semester kedua, PDB berkisar di 5,0-5,2%, turun dari 5,3-5,4%.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,01% ke Rp13.375 per dollar, dengan range pergerakan Rp13.351-13.392,50. Untuk besok, rupiah masih bergerak dalam range Rp13.300-13.400.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/koreksi-dollar-tak-angkat-rupiah/

Strategydesk – Presiden ECB Mario Draghi mengatakan pertumbuhan terlalu rendah di seluruh 19 negara zona euro meski ada pemulihan.

DraghiDraghi membuat pernyataan lantang itu ketika membuka konferensi bertajuk Inflasi dan Pengangguran Eropa di Portugal, semalam. “Akhir-akhir ini, kondisi ekonomi sedikit membaik di Eropa, tapi pertumbuhan masih terlalu rendah di mana-mana,” katanya. Menurutnya, inflasi juga terlalu rendah, pertanda lemahnya ekonomi, dan orang semakin frustasi dengan lesunya ekonomi yang mereka lihat beberapa tahun ini.

Pernyataan Draghi datang setelah zona euro menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ekonomi tumbuh 0,4% di kuartal pertama dan pertumbuhan tahun ini diperkirakan cukup kuat untuk menurunkan tingkat pengangguran yang saat ini 11,3%, menurut ekonom. Tapi, diperlukan bertahun-tahun untuk mengurangi secara signifikan tingkat pengangguran, yang sangat tinggi di negara krisis. Pengangguran muda mencapai 50% baik di Spanyol maupun Yunani.

Zona euro diterpa krisis utang sejak pada 2009 ketika Yunani melaporkan defisit tak terkendali. Zona euro akhirnya bertindak dengan mengucurkan bailout untuk Yunani. Krisis kemudian menyebar ke Portugal, Irlandia, Siprus dan Spanyol, dan semua negara itu akhirnya turut di-bailout. Meski tidak diterpa krisis, negara lain harus menderita pertumbuhan rendah. Negara seperti Perancis dan Italia harus membuat ekonomi mereka lebih ramah bisnis.

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/draghi-pertumbuhan-eropa-terlalu-rendah/

Strategydesk – Setidaknya sudah 14 bank sentral yang memangkas suku bunga dan melakukan pelonggaran kebijakan lainnya sejak awal tahun ini, mengindikasikan betapa rapuhnya kondisi ekonomi global.

interest-rate-cutPelonggaran kebijakan moneter dilakukan oleh bank sentral baik di negara berkembang maupun maju. Semua bank sentral yang merepresentasikan 60% ekonomi global itu memangkas suku bunga, atau menggunakan alat lain menyuntikkan likuiditas dalam sistem keuangan.

Denmark merupakan negara terakhir yang memangkas suku bunganya minggu ini, Negara Skandinavia itu memangkas rate-nya menjadi -0,75%. Bank Sentral Australia (RBA) memotong suku bunganya 25 bps menjadi 2,25% Selasa lalu. Negara lainnya antara lain Kanada, Swiss, Rusia, Polandia, Meksiko, Kenya dan India.  Bahkan Polandia sudah memangkasnya dua kali.

Beberapa negara lain melakukan bentuk pelonggaran berbeda, seperti zona euro yang menerapkan program pembelian obligasi, dan China yang memangkas rasio kecukupan modal perbankan atau Giro Wajib Minimum (GWM). China, yang terakhir memangkas suku bunganya akhir tahun lalu, diperkirakan bakal memangkasnya lagi dalam waktu dekat.

Pelonggaran yang dilakukan banyak negara ini mendukung pandangan bahwa dunia memasuki babak baru stimulus moneter. Langkah jor-joran bank sentral ini mencerminkan kekhawatiran mengenai rendahnya pertumbuhan dan inflasi, seperti yang terjadi di zona euro.

Bank sentral mengambil tindakan demi merangsang pertumbuhan ekonomi dan mencegah deflasi. Bank of America Merril Lynch dalam catatan risetnya mengatakan tingkat inflasi merosot secara global, memaksa bank sentral untuk melakukan hal yang tidak disangka-sangka.

Pemangkasan suku bunga dan pelonggaran lainnya ditujukan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan inflasi dengan menggairahkan perkreditan. Langkah itu juga dapat melemahkan mata uang, yang kemudian mendorong ekspor. Masalahnya, bila semua negara mengatasi deflasi dengan cara mendevaluasi mata uang, maka tidak ada yang menang.

Perang pelonggaran kebijakan di antara bank sentral ini bisa menciptakan masalah baru, salah satunya mendorong secara artifisial harga saham dan properti. Semakin lama berlangsung, semakin tinggi harga aset dan rentan terhadap koreksi.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/14-bank-sentral-sudah-pangkas-rate-tahun-ini/

Strategydesk – BOJ mempertahankan kebijakannya dalam rapat terakhirnya tahun ini, sesuai perkiraan. Tapi menaikkan penilaian ekonominya, dengan alasan meningkatnya ekspor.

Bank of Japan Governor Kuroda attends a news conference after his first monetary policy meeting in TokyoBaru saja menambah stimulus tujuh minggu lalu, BOJ mengulang janjinya untuk menambah jumlah urang beredar 80 triliun per tahun melalui pembelian aset asecara agresif. BOJ melihat ekonomi semakin pulih secara perlahan. “Ekonomi terus pulih bertahap dari dampak kenaikan penjualan April lalu, dengan tingkat konsumsi membaik,” kata BOJ lewat pernyataan resminya.

Dalam jumpa pers, sang gubernur Haruhiko Kuroda tetap optimis target inflasi 2% bisa tetap tercapai, dengan perkiraaan secepatnya April 2015. “Kami membuat kemajuan mengubah pola pikir deflasi publik. Tak ada perubahan proyeksi bahwa target inflasi tercapai di tahun fiskal 2015,” katanya.

BOJ juga menaikkan penilaiannya soal ekspor dan produksi sebagai tanda keyakinan ekonomi bisa bangkit dari resesi. Hasil poling Reuters menunjukkan banyak analis sepakat dengan pandangan BOJ, namun mereka memperkirakan BOJ bakal melonggarkan kebijakannya lagi di semester kedua tahun depan karena inflasi belum mencapai target.

Meski BOJ mengindikasikan tidak ada stimulus lagi dalam waktu dekat, beberapa pengamat meragukan target inflasi 2% bisa tercapai mengingat harga minyak merosot tajam. Sepanjang tahun ini, harga minyak sudah anjlok lebih dari 50%. Selama Oktober, inflasi inti Jepang, yang di luar harga makanan, turun ke 0,9%.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/pertahankan-kebijakan-boj-tetap-optimis-pada-ekonomi/

Strategydesk – Kondisi ekonomi global beragam tahun ini, diwarnai dengan pesatnya pemulihan ekonomi AS yang berhasil menutupi perlambatan di Eropa, Jepang dan China. Selanjutnya, bagaimana prospek ekonomi di 2015?

Fundamental positif diperkirakan masih menyertai momentum perbaikan ekonomi global di 2015. Menurut proyeksi dari IHS, pertumbuhan global akan naik menjadi 3% dari estimasi 2,7% untuk tahun ini. Seperti dikutip oleh CNBC, berikut 10 prediksi ekonomi dari IHS

US Economy1.    Ekonomi AS masih unggul
Ekonomi terbesar dunia ini akan terus mengungguli negara maju lainnya, didukung oleh permintaan domestik, terutama pembelanjaan konsumen. Faktor yang mendukung pembelanjaan konsumen, yang merupakan 70% aktivitas ekonomi, masih positif, termasuk pertumbuhan lapangan kerja dan harga energi rendah. IHS memprediksikan ekonomi akan tumbuh antara 2,5% dan 3,0% tahun depan.

2.    Eropa masih memprihatinkan
Ekonomi Eropa masih berjuang dengan rendahnya lapangan kerja. Tapi kombinasi penurunan harga minyak, depresiasi euro dan perbaikan fiskal, dan kebijakan moneter akomodatif mungkin bisa membantu pertumbuhan. Menurut IHS, ekonomi blok mata uang itu akan tumbuh 1,4% di 2015, perkembangan dari 0,8% tahun ini.

3.    Jepang pulih dari resesi
Setelah resesi keempat dalam enam tahun, ekonomi Jepang akan bangkit di 2015, meski hanya sekitar 1%. Menurut IHS, pelonggaran dari BOJ dan stimulus pemerintah, ditambah dengan harga energi rendah akan membawa pertumbuhan kembali positif.

4.    China masih melambat
Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal kemungkinan belum cukup untuk mencegah pertumbuhan semakin melambat, dengan perkiraan HIS bisa menuju ke 6,5% tahun depan. Meski masih jauh di atas rata-rata negara dunia, tingkat pertumbuhan itu dianggap rendah dalam standar Beijing.

5.    Ekonomi Emerging Markets Variatif
Sebagian besar negara berkembang akan membaik di 2014, berkat harga minyak yang rndah, likuiditas global dan pertumbuhan di AS. Emerging market di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun khusus Rusia, ekonominya menderita karena sanksi, penurunan harga minyak dan arus modal keluar.

 

6.    Harga komoditas masih merosot
Minyak sudah anjlok 40% sejak musim panas lalu di tengah merosotnya permintaan dan berlimpahkan pasokan. Menurut HIS, China masih menjadi kunci permintaan, maksudnya bila ekonominya semakin melambat berarti harga terancam semakin turun. Lembaga itu memperkirakan harga komoditas akan turun 10% tahun depan.

7.    Ancaman disinflasi
Tekanan disinflasi lebih terlihat di negara maju, sebagai akibat penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi. Keculi di negara berkembang, seperti Rusia, yang nilai tukarnya anjlok, menyebabkan inflasi.

8.    The Fed yang pertama menaikkan suku bunga
The Fed, Bank of England (BOE) dan Bank of Canada (BOC) merupakan negara maju yang menaikkan suku bunganya di 2015. Tapi the Fed lebih dulu, dengan kemungkinan menaikkannya pada Juni.  Kemudian diikuti oleh BOE di Agustus dan BOE pada Oktober. Sebaliknya, ECB dan BOJ, PBOC justru melakukan pelonggaran lanjutan, melalui pemangkasan suku bunga atau menyediakan likuiditas melalui pembelian aset.

9.    Dollar masih raja
Dollar masih melanjutkan dominasinya yang didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga. Selain itu, antisipasi akan kemungkinan stimulus tambahan dari ECB dan BOE, berarti euro dan yen akan terus depresiasi di 2015. Menurut HIS, nilai tukar euro akan jatuh ke $1,15-1,20 pada musim gugur 2015, dengan dollar/yen diperdagangkan di kisaran 120-125.

10.    Berkurangnya risiko penurunan (downside risk)
Pemulihan ekonomi global selama ini terganggung oleh banyak kutukan, termasuk besarnya utang di sektor publik maupun swasta, yang memaksa banyak pemerintah dan perusahaan deleveraging. Tapi di beberapa negara masalah ini tidak lagi menghambat pertumbuhan, terutama di AS dan Inggris, tercermin dari angka PDB-nya.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/10-prediksi-ekonomi-2015-apa-saja/

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha