Search Results : berapa tingkat inflasi

Jakarta, Strategydesk – Harga emas masih diperdagangkan dekat level tereendah sejak Maret 2010 dan sedang menuju penurunan terbesarnya dalam sembilan bulan, dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga.
Emas turun tajam di minggu ini menyusul kejatuhan 3,3% di hari Senin, penurunan terbesar sejak September 2013. Penurunan terjadi setelah para pejabat the Fed mengindikasikan akan adanya kenaikan suku bunganya di tahun ini, kenaikan pertama dalam satu dekade terakhir. Ketua the Fed Janet Yellen minggu lalu mengatakan kenaikan suku bunga bisa terjadi sebelum 2016. Ekspektasi rate semakin kuat setelah setelah Presiden the Fed distrik St. Louis James Bullard mengatakan ada probabilitas 50% kenaikan suku bunga terjadi di September nanti bila inflasi semakin mendekati target dan tingkat pengangguran ke bawah 5%.
Ekspektasi kenaikan suku bunga ini kemudian didukung oleh data yang menunjukkan Jobless claim turun ke level terendah dalam empat dekade. Beberapa analis memperkirakan the Fed sepertinya akan menaikkan suku bunganya pada bulan September, kemudian akan berlanjut pada bulan Desember, menunjukkan risiko penurunan bagi emas masih bisa berlanjut.
Menunjukkan masih rendahnya sentimen, cadangan di SPDR Gold Trust, turun untuk keenam kalinya di hari Kamis menjadi 22,01 juta ons, terendah sejak Agustus 2008.
Dari sisi teknikal, trend bearish, candlestick pun masih menunjukkan potensi bearish, meski indikator stochastic mulai oversold. Penurunan sepertinya masih bisa berlanjut untuk menguji area support $1062. Sementara itu, sinyal positif akan muncul jika harga mampu bergerak di atas resistance terdekatnya di 1109,89.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/kekhawatiran-kenaikan-rate-masih-tekan-emas/

Strategydesk – Rupiah berakhir flat hari ini, tak mampu memanfaatkan koreksi dollar atas mata uang utama dunia. Rupiah masih terjebak dalam range yang sama di tengah lesunya ekonomi RI.

RupiahTidak ada alasan jelas penyebab dollar koreksi yang terjadi bersamaan dengan penurunan yield obligasi AS dan saham. Namun, koreksi ini datang setelah reli selama empat minggu terakhir, kondisi yang mengundang aksi ambil untung. Meski demikian, para analis melihat kondisi fundamental mendukung tren dollar mengingat masih ada prospek kenaikan suku bunga the Fed tahun ini.

Dollar melambung setelah Ketua the Fed Janet Yellen minggu lalu mengatakan kenaikan bisa terjadi sebelum 2016. Reli semakin tajam setelah Presiden the Fed distrik St. Louis James Bullard mengatakan pihaknya kemungkinan menaikkan suku bunga di September nanti bila inflasi mendekati target dan tingkat pengangguran ke bawah 5%. Hal ini menunjukkan prospek kenaikan September tetap ada meski terjadi krisis Yunani.

Gubernur BI Agus Martowardjojo mengatakan rupiah berada di bawah nilai standarnya, sudah undervalue dibanding dengan mata uang negara lain. Menurutnya, berdasarkan Real Effective Exchange Rate (REER), rupiah sudah berada di bawah 100. Di saat yang sama, Deputi Gubernur Mirza Adityaswara rupiah sudah undervalue sejak 2013 dan agar tidak semakin liar, pihaknya siap melakukan intervensi.

Di tengah bayang-bayang kenaikan suku bunga the Fed, rupiah sulit lepas dari range-nya. Ditambah dengan kondisi fundamental yang kurang menggembirakan. Jatuhnya harga beberapa komoditas penting menekan perekonomian Indonesia. Di saat yang sama, pemerintah memberlakukan larangan ekspor bahan mentah (raw material). Kondisi ini memaksa BI memangks proyeksi PDB RI tahun ini. Untuk semester kedua, PDB berkisar di 5,0-5,2%, turun dari 5,3-5,4%.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,01% ke Rp13.375 per dollar, dengan range pergerakan Rp13.351-13.392,50. Untuk besok, rupiah masih bergerak dalam range Rp13.300-13.400.

http://www.strategydesk.co.id/2015/07/koreksi-dollar-tak-angkat-rupiah/

Strategydesk – Presiden ECB Mario Draghi mengatakan pertumbuhan terlalu rendah di seluruh 19 negara zona euro meski ada pemulihan.

DraghiDraghi membuat pernyataan lantang itu ketika membuka konferensi bertajuk Inflasi dan Pengangguran Eropa di Portugal, semalam. “Akhir-akhir ini, kondisi ekonomi sedikit membaik di Eropa, tapi pertumbuhan masih terlalu rendah di mana-mana,” katanya. Menurutnya, inflasi juga terlalu rendah, pertanda lemahnya ekonomi, dan orang semakin frustasi dengan lesunya ekonomi yang mereka lihat beberapa tahun ini.

Pernyataan Draghi datang setelah zona euro menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ekonomi tumbuh 0,4% di kuartal pertama dan pertumbuhan tahun ini diperkirakan cukup kuat untuk menurunkan tingkat pengangguran yang saat ini 11,3%, menurut ekonom. Tapi, diperlukan bertahun-tahun untuk mengurangi secara signifikan tingkat pengangguran, yang sangat tinggi di negara krisis. Pengangguran muda mencapai 50% baik di Spanyol maupun Yunani.

Zona euro diterpa krisis utang sejak pada 2009 ketika Yunani melaporkan defisit tak terkendali. Zona euro akhirnya bertindak dengan mengucurkan bailout untuk Yunani. Krisis kemudian menyebar ke Portugal, Irlandia, Siprus dan Spanyol, dan semua negara itu akhirnya turut di-bailout. Meski tidak diterpa krisis, negara lain harus menderita pertumbuhan rendah. Negara seperti Perancis dan Italia harus membuat ekonomi mereka lebih ramah bisnis.

http://www.strategydesk.co.id/2015/05/draghi-pertumbuhan-eropa-terlalu-rendah/

Strategydesk – Setidaknya sudah 14 bank sentral yang memangkas suku bunga dan melakukan pelonggaran kebijakan lainnya sejak awal tahun ini, mengindikasikan betapa rapuhnya kondisi ekonomi global.

interest-rate-cutPelonggaran kebijakan moneter dilakukan oleh bank sentral baik di negara berkembang maupun maju. Semua bank sentral yang merepresentasikan 60% ekonomi global itu memangkas suku bunga, atau menggunakan alat lain menyuntikkan likuiditas dalam sistem keuangan.

Denmark merupakan negara terakhir yang memangkas suku bunganya minggu ini, Negara Skandinavia itu memangkas rate-nya menjadi -0,75%. Bank Sentral Australia (RBA) memotong suku bunganya 25 bps menjadi 2,25% Selasa lalu. Negara lainnya antara lain Kanada, Swiss, Rusia, Polandia, Meksiko, Kenya dan India.  Bahkan Polandia sudah memangkasnya dua kali.

Beberapa negara lain melakukan bentuk pelonggaran berbeda, seperti zona euro yang menerapkan program pembelian obligasi, dan China yang memangkas rasio kecukupan modal perbankan atau Giro Wajib Minimum (GWM). China, yang terakhir memangkas suku bunganya akhir tahun lalu, diperkirakan bakal memangkasnya lagi dalam waktu dekat.

Pelonggaran yang dilakukan banyak negara ini mendukung pandangan bahwa dunia memasuki babak baru stimulus moneter. Langkah jor-joran bank sentral ini mencerminkan kekhawatiran mengenai rendahnya pertumbuhan dan inflasi, seperti yang terjadi di zona euro.

Bank sentral mengambil tindakan demi merangsang pertumbuhan ekonomi dan mencegah deflasi. Bank of America Merril Lynch dalam catatan risetnya mengatakan tingkat inflasi merosot secara global, memaksa bank sentral untuk melakukan hal yang tidak disangka-sangka.

Pemangkasan suku bunga dan pelonggaran lainnya ditujukan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan inflasi dengan menggairahkan perkreditan. Langkah itu juga dapat melemahkan mata uang, yang kemudian mendorong ekspor. Masalahnya, bila semua negara mengatasi deflasi dengan cara mendevaluasi mata uang, maka tidak ada yang menang.

Perang pelonggaran kebijakan di antara bank sentral ini bisa menciptakan masalah baru, salah satunya mendorong secara artifisial harga saham dan properti. Semakin lama berlangsung, semakin tinggi harga aset dan rentan terhadap koreksi.

http://www.strategydesk.co.id/2015/02/14-bank-sentral-sudah-pangkas-rate-tahun-ini/

Strategydesk – BOJ mempertahankan kebijakannya dalam rapat terakhirnya tahun ini, sesuai perkiraan. Tapi menaikkan penilaian ekonominya, dengan alasan meningkatnya ekspor.

Bank of Japan Governor Kuroda attends a news conference after his first monetary policy meeting in TokyoBaru saja menambah stimulus tujuh minggu lalu, BOJ mengulang janjinya untuk menambah jumlah urang beredar 80 triliun per tahun melalui pembelian aset asecara agresif. BOJ melihat ekonomi semakin pulih secara perlahan. “Ekonomi terus pulih bertahap dari dampak kenaikan penjualan April lalu, dengan tingkat konsumsi membaik,” kata BOJ lewat pernyataan resminya.

Dalam jumpa pers, sang gubernur Haruhiko Kuroda tetap optimis target inflasi 2% bisa tetap tercapai, dengan perkiraaan secepatnya April 2015. “Kami membuat kemajuan mengubah pola pikir deflasi publik. Tak ada perubahan proyeksi bahwa target inflasi tercapai di tahun fiskal 2015,” katanya.

BOJ juga menaikkan penilaiannya soal ekspor dan produksi sebagai tanda keyakinan ekonomi bisa bangkit dari resesi. Hasil poling Reuters menunjukkan banyak analis sepakat dengan pandangan BOJ, namun mereka memperkirakan BOJ bakal melonggarkan kebijakannya lagi di semester kedua tahun depan karena inflasi belum mencapai target.

Meski BOJ mengindikasikan tidak ada stimulus lagi dalam waktu dekat, beberapa pengamat meragukan target inflasi 2% bisa tercapai mengingat harga minyak merosot tajam. Sepanjang tahun ini, harga minyak sudah anjlok lebih dari 50%. Selama Oktober, inflasi inti Jepang, yang di luar harga makanan, turun ke 0,9%.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/pertahankan-kebijakan-boj-tetap-optimis-pada-ekonomi/

Strategydesk – Kondisi ekonomi global beragam tahun ini, diwarnai dengan pesatnya pemulihan ekonomi AS yang berhasil menutupi perlambatan di Eropa, Jepang dan China. Selanjutnya, bagaimana prospek ekonomi di 2015?

Fundamental positif diperkirakan masih menyertai momentum perbaikan ekonomi global di 2015. Menurut proyeksi dari IHS, pertumbuhan global akan naik menjadi 3% dari estimasi 2,7% untuk tahun ini. Seperti dikutip oleh CNBC, berikut 10 prediksi ekonomi dari IHS

US Economy1.    Ekonomi AS masih unggul
Ekonomi terbesar dunia ini akan terus mengungguli negara maju lainnya, didukung oleh permintaan domestik, terutama pembelanjaan konsumen. Faktor yang mendukung pembelanjaan konsumen, yang merupakan 70% aktivitas ekonomi, masih positif, termasuk pertumbuhan lapangan kerja dan harga energi rendah. IHS memprediksikan ekonomi akan tumbuh antara 2,5% dan 3,0% tahun depan.

2.    Eropa masih memprihatinkan
Ekonomi Eropa masih berjuang dengan rendahnya lapangan kerja. Tapi kombinasi penurunan harga minyak, depresiasi euro dan perbaikan fiskal, dan kebijakan moneter akomodatif mungkin bisa membantu pertumbuhan. Menurut IHS, ekonomi blok mata uang itu akan tumbuh 1,4% di 2015, perkembangan dari 0,8% tahun ini.

3.    Jepang pulih dari resesi
Setelah resesi keempat dalam enam tahun, ekonomi Jepang akan bangkit di 2015, meski hanya sekitar 1%. Menurut IHS, pelonggaran dari BOJ dan stimulus pemerintah, ditambah dengan harga energi rendah akan membawa pertumbuhan kembali positif.

4.    China masih melambat
Pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal kemungkinan belum cukup untuk mencegah pertumbuhan semakin melambat, dengan perkiraan HIS bisa menuju ke 6,5% tahun depan. Meski masih jauh di atas rata-rata negara dunia, tingkat pertumbuhan itu dianggap rendah dalam standar Beijing.

5.    Ekonomi Emerging Markets Variatif
Sebagian besar negara berkembang akan membaik di 2014, berkat harga minyak yang rndah, likuiditas global dan pertumbuhan di AS. Emerging market di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun khusus Rusia, ekonominya menderita karena sanksi, penurunan harga minyak dan arus modal keluar.

 

6.    Harga komoditas masih merosot
Minyak sudah anjlok 40% sejak musim panas lalu di tengah merosotnya permintaan dan berlimpahkan pasokan. Menurut HIS, China masih menjadi kunci permintaan, maksudnya bila ekonominya semakin melambat berarti harga terancam semakin turun. Lembaga itu memperkirakan harga komoditas akan turun 10% tahun depan.

7.    Ancaman disinflasi
Tekanan disinflasi lebih terlihat di negara maju, sebagai akibat penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi. Keculi di negara berkembang, seperti Rusia, yang nilai tukarnya anjlok, menyebabkan inflasi.

8.    The Fed yang pertama menaikkan suku bunga
The Fed, Bank of England (BOE) dan Bank of Canada (BOC) merupakan negara maju yang menaikkan suku bunganya di 2015. Tapi the Fed lebih dulu, dengan kemungkinan menaikkannya pada Juni.  Kemudian diikuti oleh BOE di Agustus dan BOE pada Oktober. Sebaliknya, ECB dan BOJ, PBOC justru melakukan pelonggaran lanjutan, melalui pemangkasan suku bunga atau menyediakan likuiditas melalui pembelian aset.

9.    Dollar masih raja
Dollar masih melanjutkan dominasinya yang didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga. Selain itu, antisipasi akan kemungkinan stimulus tambahan dari ECB dan BOE, berarti euro dan yen akan terus depresiasi di 2015. Menurut HIS, nilai tukar euro akan jatuh ke $1,15-1,20 pada musim gugur 2015, dengan dollar/yen diperdagangkan di kisaran 120-125.

10.    Berkurangnya risiko penurunan (downside risk)
Pemulihan ekonomi global selama ini terganggung oleh banyak kutukan, termasuk besarnya utang di sektor publik maupun swasta, yang memaksa banyak pemerintah dan perusahaan deleveraging. Tapi di beberapa negara masalah ini tidak lagi menghambat pertumbuhan, terutama di AS dan Inggris, tercermin dari angka PDB-nya.

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/10-prediksi-ekonomi-2015-apa-saja/

Jakarta, Strategydesk – Emas sedang menuju penguatan terbaiknya dalam 10 bulan setelah rebound harga minyak mengangkat pamor emas sebagai lindung nilai inflasi. Meski begitu, investor masih waspada menjelang data ketenagakerjaan AS.
Hari ini di Asia, harga emas masih diperdagangkan pada kisaran sempit setelah semalam mengalami koreksi 0,3%. Di minggu ini, emas telah mengalami kenaikan sekitar 3%, kenaikan terbesar sejak Februari.
Pelaku pasar akan mencermati data nonfarm Payroll AS yang akan dirilis malam nanti. Data tersebut akan mengukur sejauh mana kekuatan ekonomi AS serta prospek kebijakan the Fed. Data tersebut diperkirakan adanya penambahan tenaga kerja baru 230.000 di bulan lalu dan tingkat pengangguran tetap bertahan di 5,8%.
Jika data tersebut lebih baik dari perkiraan, maka bisa memunculkan spekulasi kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan. Kenaikan suku bunga akan menguragi daya tarik emas sebagai investasi alternatif. Namun jika ternyata data tersebut lebih buruk dari perkiraan, maka pamor safe haven emas bisa kembali terangkat. Dalam beberapa bulan terakhir, solidnya data-data ekonomi AS dan penguatan dollar telah menekan harga.
Sementara dari sisi teknikal, belum terlihat adanya perubahan trend secara signikan. Harga masih bergerak di atas MA 10, indikasi trend jangka pendek masih bullish. Namun begitu, perlu diwaspadai bahwa indikator stochastic sudah overbought, menunjukkan penguatan mulai terbatas. Harga juga gagal bertahan di atas resistance  $1215. Hal ini membuka potensi koreksi lanjutan untuk menguji kembali area support di $1.185 – $1.192. Trend bullish jangka pendek berakhir jika kemudian support tersebut ditembus.

Rekomendasi
rekom

http://www.strategydesk.co.id/2014/12/jelang-payroll-emas-koreksi-tipis/

Strategydesk – Bank Sentral Australia (RBA) hari ini mempertahankan masih suku bunganya, sembari mengatakan kebijakan itu masih tepat mengingat pertumbuhan masih di bawah normal meski terjadi peningkatan konsumsi.
Lewat rapatnya hari ini, RBA memutuskan suku bunga masih 2,50%, level yang sama selama 14 bulan berturut-turut.

RBADalam pernyataan resminya, Gubernur Glenn Stevens mengatakan pertumbuhan diperkirakan masih di bawah tren untuk beberapa kuartal ke depan. Oleh karena itu, kebijakan moneter yang diterapkan saat ini cocok untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Menurut Stevens, pertumbuhan ekonomi global masih moderat, dengan China masih sesuai perkiraan meski melambat. Kondisi finansial global masih tetap akomodatif dan pasar masih melihat probabilitas rendah kenaikan suku bunga. Soal nilai tukar, ia mengakui dollar Australia terus melemah di tengah apresiasi dollar, namun masih masih di atas nilai fundamentalnya, terutama di tengah penurunan harga komoditas beberapa bulan terakhir.

Tapi RBA tidak menyebut kekhawatiran soal inflasi atau mengenai harga rumah di beberapa kota besar. Dewan juga mengatakan meski indikator ketenagakerjaan terus positif tahun ini, penyerapan tenaga kerja belum maksimal dan diperlukan waktu untuk mengurangi tingkat pengangguran secara konsisten.

Suku bunga rendah memang berhasil mendorong konsumsi dan pembangunan perumahan. Pembelanjaan rite, naik 1,2% selama September, kenaikan terbesar sejzak 2013. Tapi masih perlu dibuktikan untuk menutup dampak penurunan investasi sektor pertambangan, salah saru mesin pertumbuhan ekonomi Australia.

http://www.strategydesk.co.id/2014/11/14-bulan-rba-tahan-rate-di-250/

Tanggal April 16, 2013 / 4:15 pm. Oleh: Nanang Wahyudin

Strategydesk – Rentetan peristiwa yang terjadi selama dua hari terjadi memicu aksi jual panik di pasar keuangan dunia, yang mempengaruhi pergerakan sebagian mata uang.
Dimulai dari data ekonomi China, yang menunjukkan perlambatan, menambah keraguan akan tingkat pemulihan ekonomi global. Data ini menyusul data ekonomi AS, dimana juga buruk. Kemudian aksi jual komoditas, di mana emas mencapai level terendahnya dalam dua tahun terakhir.
Sentimen pasar semakin jatuh menyusul ledakan bom di Boston. Kepolisian setempat menyebut ledakan itu menewaskan dua orang dan melukai 23 lainnya. Penyebab ledakan itu belum jelas, tapi memicu kekhawatiran itu tindakan terorisme, inilah faktor yang menambah aksi jual panik.
Seiring dengan mulai tenangnya pasar, ada sedikit pergerakan naik di beberapa mata uang. Namun, sentiment pasar masih bearish, jadi masih rentan akan gejolak lanjutan. Bila 1-2 hari ke depan absen berita buruk, pasar minimal bisa stabil, atau paling tidak berkurang kejatuhannya. Namun beberapa mata uang masih dihinggapi sentiment bearish, terkait dengan kondisi fundamental terkait.

 

EUR-USD

Berhasil menyentuh high di $1,3083, EUR-USD melorot lagi, terlihat masih bearish. Pair ini masih bergerak di kisaran $1,30. Data sentimen investor Jerman menjadi penentu apakah bisa pair ini bertahan di kisaran itu. Selain itu, Presiden ECB Mario Draghi akan berpidato malam nanti. Posisi pair ini ada di 23,6% retracement  penguatan 4-11 April di $1,3043. Bila gagal bertahan di $1,30, akan mencoba menuju ke 38,2% di $1,2987.

Rekomendasi harian :

Peluang buy EUR-USD di 1.3031 dengan target take profit 1.3122, dimana stop loss 1.3005. Peluang buy berikutnya 1.2970 dengan target take profit 1.3061, dimana stop loss bila penutupan harian dibawah 1.3000. Buy break 1.3122 dengan target take profit 1.3199, dimana stop loss 1.3092.

Sell bila di 1.3214 dengan target take profit 1.3122, dimana stop loss 1.3244. Sell break 1.2939 dengan target take profit 1.2878, dimana stop loss 1.2970.

USD-JPY
Pasca mengalami kejatuhan tajam karena aksi jual panik, USd-JPY berhasil menanjak kembali. Namun rebound ini rentan menjelang pertemuan G-20, di mana bisa menjadi forum untuk mengkritik Jepang atas kebijakannya. Bila ternyata Jepang lolos dari kritik, tren penguatan bisa berlanjut, untuk target jangka pendek di 98-99.

Rekomendasi harian :
Peluang buy USD-JPY di 96.87 dengan target take profit 97.65, dimana stop loss 96.60. Peluang buy kembali 96.48 dengan target take profit 97.35, dimana stop loss 96.09.

Peluang untuk sell 98.04 dengan target take profit 97.26, dimana stop loss bila penembusan 98.43. Gagal tembus 98.88 bisa dilakukan aksi sell dengan kisaran bawahnya 98.63, dimana take profit 97.94, stop loss penutupan harian diatas 98.88.

GBP-USD
GBP-USD masih stabil hari ini menyusul data inflasi Inggris yang menunjukan stabilitas harga. mengindikasikan pasar masih ragu mengangkatnya ke atas, tapi juga belum ada alasan baru untuk menjatuhkannya lagi. Pair ini bertengger di $1,5296, berusaha kembali ke $1,5300. Pair ini sedang berada di 23,6% retracement 10 Maret-7 April di $1,5272, bila ditutup di bawah itu akan mencoba ke  38,2% di $1,5183.

Rekomendasi harian :
GBP-USD ada peluang buy di 1.5258 dengan target take profit 1.5350, dimana stop loss 1.5230. Buy break 1.5380 dengan target take profit 1.5456, dimana stop loss penutupan harian dibawah 1.5380.

Sell break 1.5212 dengan target take profit 1.5136, dimana stop loss 1.5243. Sell 1.5365 dengan target take profit 1.5289, dimana stop loss bila ada penembusan 1.5380-nya.

USD-CHF
Berhasil kembali ke atas 0,9300, USD-CHF melanjutkan rebound-nya dari level terendah dalam 2 bulan. Namun, rebound ini masih rentan, terlihat dari kegagalannya mempertahankan high 0,9327. Belum ada faktor yang cukup kuat untuk mengangkatnya. Target terdekat adalah level 0,9340.

Rekomendasi harian :
Peluang buy di USD-CHF 0.9248 dengan target take profit 0.9307, dimana stop loss 0.9224. Buy 0.9216 dengan target take profit 0.9277, dimana stop loss 0.9185.

Sell 0.9338 dengan target take profit 0.9285, dimana stop loss 0.9361.Sell 0.9384 dengan target take profit 0.9338, dimana stop loss 0.9414.

AUD-USD
Berusaha bangkit dari kejatuhan dalam, AUD-USD menyentuh high di $1,0378, tapi sayang melorot lagi di sesi Eropa ke $1,0352. Ada beberapa faktor yang membenamkannya, satu-satunya RBA Minutes yang buka peluang pangkas rate. Penting bagi pair ini untuk bisa ditutup di atas Moving Average 200 hari $1,0394 untuk bisa melanjutkan rebound-nya.

Rekomendasi harian :
Peluang buy 1.0299 dengan target take profit 1.0376, dimana stop loss penutupan dibawah 1.0284. Buy break 1.0376 dengan target take profit 1.0437, dimana stop loss 1.0345.

Sell 1.0437 dengan target take profit 1.0376, dimana stop loss penutupan diatas 1.0437.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/rekomendasi-trading-forex-sesi-eropa-as-16-april-2013.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/rekomendasi-trading-forex-sesi-eropa-as-16-april-2013.html

Tanggal March 21, 2013 / 11:26 am. Oleh: Nizar Hilmy

Strategydesk – The Fed memutuskan untuk terus menyuntikkan likuiditas ke ekonomi dan mempertahankan suku bunga rendahnya meski di tengah tanda-tanda adanya perbaikan ekonomi.

Keputusan the Fed mempertahankan kebijakannya mengindikasikan pandangan ekonomi masih membutuhkan bantuan meski ada perbaikan. Dalam pernyatannya, the Fed mengatakan ekonomi kembali tumbuh moderat dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan pajak belum menganggu pembelanjaan konsumen, dan bursa saham terus mencetak  rekor. Selain itu, the Fed mengakui pasar perumahan menggeliat kembali dan pertumbuhan lapangan kerja ternyata cukup pesat.

Pada dasarnya Komite Kebijakan mengakui kondisi ekonomi yang lebih baik. Sebagian besar anggota melihat Quantitative Easing (QE), atau program pembelian obligasinya, berhasil menurunkan bunga dan menyediakan bantuan penting dalam pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.  Namun, mereka juga sepakat alat moneter itu tidak bisa secara sendirian menyelesaikan masalah ekonomi yang mungkin timbul akibat pengetatan fiskal atau gejolak finansial global.

Ketua Ben Bernanke juga  mengatakan ia belum melihat perubahan berarti dalam kondisi lapangan kerja, dan menyebutkan kebijakan fiskal yang ketat menjadi salah satu alasan kenapa pihak begitu agresif. Bernanke pun mengatakan pihaknya bisa saja mengurangi pembelian obligasi tapi itu hanya terjadi kalau kondisi lapangan kerja semakin membaik di bulan-bulan mendatang.

Dalam pernyatannya, the Fed menegaskan tetap menerapkan suku bunga hampir nol persen dan melakukan pembelian obligasi $85 miliar per bulan sampai tingkat pengangguran turun ke 6,5% selama inflasi tidak melebihi 2,5% dalam rentang 1-2 tahun. The Fed sudah memberlakukan rate 0 sejak 2008 dan membeli lebih dari $2,5 triliun obligasi untuk mendorong konsumsi, investasi dan lapangan kerja.

Dalam kesempatan itu, the Fed juga mengumumkan proyeksi ekonomi terbarunya. The Fed kini memproyeksikan ekonomi AS tumbuh 2,3-2,8% tahun ini, turun dari prediksi sebelumnya yang 2,3-3,0%. The Fed juga memproyeksikan tingkat pengangguran tidak akan turun ke 6,5% sampai 2015.

<!–

/* * * CONFIGURATION VARIABLES: EDIT BEFORE PASTING INTO YOUR WEBPAGE * * */
var disqus_shortname = ‘strategydesk’; // required: replace example with your forum shortname

// The following are highly recommended additional parameters. Remove the slashes in front to use.
// var disqus_identifier = ‘unique_dynamic_id_1234′;
var disqus_url = ‘http://www.strategydesk.co.id/read/the-fed-tahan-stimulus-rate.html’;

/* * * DON’T EDIT BELOW THIS LINE * * */
(function() {
var dsq = document.createElement(‘script’); dsq.type = ‘text/javascript’; dsq.async = true;
dsq.src = ‘http://’ + disqus_shortname + ‘.disqus.com/embed.js’;
(document.getElementsByTagName(‘head’)[0] || document.getElementsByTagName(‘body’)[0]).appendChild(dsq);
})();

–>
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.
<!–blog comments powered by Disqus–>

http://www.strategydesk.co.id/read/the-fed-tahan-stimulus-rate.html

© 2014 FXCL Suffusion theme by Sayontan Sinha